Mengabdi Dua Tuan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 6 September 2016

Markoz adalah salah seorang dari sekian banyak remaja yang sangat rajin ke gereja. Ia tak pernah melewati hari minggu tanpa ke gereja. Baginya gereja, selain tempat beribadah, adalah juga tempat menimba ilmu pengetahuan.

Hari itu, hari minggu. Ia dan teman-temannya baru saja pulang beribadah. Sepanjang perjalanan, mereka berbincang-bincang mengenai inti khotbah dan model tanda tangan pastor yang melumuri buku catatan mingguan mereka.

Buku yang dilengkapi dengan tanda tangan pastor itu menjadi suatu bukti bahwa mereka telah menghadiri misa dan mengikuti perayaan Ekaristi. Nanti, buku itu akan ditunjukan kepada guru agama bilamana mereka kembali ke sekolah.

Baru saja tiba di rumah, Markoz ingin sekali bermain layang-layang. Ia lalu meraih layang-layangnya yang menggantung di samping pintu kamar dan segera berlari ke lapangan bola kaki tak jauh dari rumahnya. Di sana, di bawah teduhan pohon mangga, Gradus, salah seorang temannya, sedang menyendiri.

Setelah layang-layang itu mengangkasa, ia segera bergabung dengan Gradus.

“Dus, rencanamu bikin apa hari ini?” Demikian Markoz membuka diskusi di bawah teduhan pohon ampupu itu sambil menarik-narik benang layang-layangnya.
“Biasa…! Sebentar lagi main bola kaki kan. Setelah itu makan. Dan, setelah itu istirahat siang. Kata mama, aku harus tidur setelah makan supaya sehat.”

Sepontan Gradus menjawab sambil mengutak-atik jempolnya di atas tombol handphone tua miliknya dan sedang memerhatikan tubuh ular mainan yang hampir saja memenuhi layar kusam itu. Ia lalu balik bertanya “Kalau kau?”

Perlahan, sambil terus menggulung-gulung benang layang-layangnya, Markoz menjawab dengan sedikit suara mengeluh, mungkin karena usianya berlalu begitu cepat “Aku pingin sekali bermain layang-layang, tapi mama selalu bilang ‘kau sudah SMP. Kalau sudah SMP, itu artinya kau sudah besar. Jadi, layang-layang itu harus dibakar minggu ini.’ Memang begitulah kenyataannya kawan, aku tak bisa menyangkal. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, sudah banyak yang berubah. Apa yang dulunya kecil, sekarang semakin “membengkak”. Tapi, kalau dipikir-pikir, apa sih hubungan usia dengan layang-layang? Kan mainan. Tidak lebih dari itu. Seorang kakek saja, kalau dia mau berlari dengan layang-layang, dia juga bisa memainkannya bukan?”

“Ya sudahlah, begitulah orangtua kawan. Mereka itu seperti Tuhan di dunia. Apalah jadinya dunia ini jika tidak ada orangtua. Sehingga ada anggapan, kita melawan orangtua sama dengan melawan Tuhan. Kalau kita sering melawan Tuhan maka kita akan diberi gelar anak-anak hantu. Ya, kurang lebih seperti itu yang saya dapat selama mengikuti sekolah minggu waktu kecil. Atau bagaimana?”

Gradus sengaja memotong omelan temannya itu dan berusaha memberi sedikit pencerahan sembari merentang kakinya setelah sekian lama duduk jongkok. Kedua kakinya tiba-tiba terasa kejang sehingga perhatiannya terbagi antara rasa sakit dan layar handphone. Ular di dalam layar itu pun meliuk-liuk tanpa pengendali.

Tiba-tiba, ia menjerit kesakitan “Oh syeeet, mati aku, mati aku, mati…! Adu mama… Tolong…!”

Bagaikan seorang serdadu terlatih, begitu lincahnya Markoz berbalik, dan seakan lupa kalau ia sedang bermain layang-layang gara-gara mendengar jeritan itu. Serentak Ia merangkul Gradus dan bertanya “Ada apa kawan? Ada apa kawan?”

Tak segera mengangkat muka, Gradus menunduk dan mengutuk kedua kakinya yang kejang sehingga ia tak memerhatikan lagi ular di dalam handphone itu. Kemudian, setengah berbisik, ia menjawab “Aiiis, kawan, kakiku kejang. Iiiss… kepala ular ini juga menyentuh ekornya sendiri… aiis.”

Mendengar itu, badan Markoz tiba-tiba menjadi lesu. Layang-layang yang tadinya ia banggakan kini terbang bersama skocinya. Makin lama layang-layang itu makin tinggi.

Bagaimana mungkin bisa menggapainya kembali kalau ia tidak memegang kendalinya? Gulungan benang itu dengan enteng menginjak pucuk-pucuk daun di sekitar lapangan itu. Dan, entahlah layang-layang itu tersangkut di mana.

Kedua remaja itu, hanya mampu mencakar pinggang dan terus menatap. Layangan yang tingginya sejajar dengan badan Markoz, kini berubah menjadi seperti semut dari sudut pandang mereka. Kecil sekali. Makin lama ia makin jauh ditelan gumpalan-gumpalan awan hitam.

Markoz berdecak penuh penyesalan.

“Ck…Ah… tidak sia-sia Pastor memetik sabda dari Kitab Suci tadi… dan mengumandangkannya di atas podium saat khotbah ‘…Kamu tidak bisa mengabdi sekaligus dua tuan. Sebab jika demikian, yang satu kamu layani dan yang lain kamu abaikan…’, benar juga ya?”

Demikian ia menghibur diri, lalu kembali ke rumah dan membiarkan Gradus memulai permainan baru.

Selesai

Cerpen Karangan: Afri Deo
Facebook: Deo Afrian
Oleh: Afri Deo
Ruteng, Manggarai, Flores
Alumnus Tourisme High School Sadar Wisata Ruteng

Cerpen Mengabdi Dua Tuan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Suara Aneh Membawa Keselamatan

Oleh:
“Ssssshhhh… Daniiii… tap… tap… sssshhh… Daniiii…” “Siapa itu?” tanyaku heran. Aku ingin mencari asal dari suara itu, tapi aku takut… takut… dan takut. Aku takut karena aku sendiri di

Aku, Kau Dan Dia

Oleh:
“Kring, kring, kring..” alarm berbunyi. Setiap harinya dia berusaha membangunkanku, dan mungkin hari ini agak sedikit lebih sulit. Sambil malas malasan ku raih alarm di atas meja samping tempat

Malam Natal Jane

Oleh:
Hari ini malam natal. Jane dan teman-temannya sedang berkumpul di halaman gereja. Mereka membicarakan tradisi natal di keluarga masing-masing. “Setiap malam natal, aku dan keluargaku memasang pohon natal lalu

Perasaan Di Teras Gereja

Oleh:
Saat ini aku ingin sekali duduk di sebelahmu, menatap indah mata hitammu, menceritakan tentang kisah kita menurut sudut pandangku. Jika kau mengatakan ini adalah pembenaran diriku atau kebohongan, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *