No Worry

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 27 July 2016

“Roh Kudus, hadir disini. Tak perlu ku khawatir akan apapun. Ketika aku melangkah, berbicara, berpikir akan sesuatu, aku mau semua Roh Kudus yang menuntun. Amin.”

Doa di pagi buta itu ia haturkan. Melewati kabut pagi yang masih pekat. Ia bertekuk lutut menghadap ke langit. Dalam hatinya yang begitu teduh terus mengucapkan syukur berlimpah-limpah terhadap Tuhan. Ia akan melangkah kepada misi yang berat. Sebagai misionaris, ia akan mewartakan Injil ke negara lain. Dan negara yang ia tuju saat ini adalah, Israel. Konon, untuk masuk kesana haruslah fasih dalam berbahasa Ibrani. Ia melamunkan pikirannya kepada kekhawatiran dan berbagai hal yang perlahan menciutkan niat hatinya itu.

“Breitburg, jangan khawatir. Aku akan menolongmu.”
Tiba-tiba terdengar suara dalam hatinya yang begitu lembut namun kuat menegaskan untuk ia harus menjalankan misi itu.
“Oh! Aku sudah menyiapkan seorang penerjemah. Baiklah, aku tidak boleh menyerah akan misi Tuhan ini. Jiwa-jiwa haruslah menerima kabar baik ini. Sebelum akhir zaman menelan mereka dalam kebinasaan, selamanya.”

Lalu, matahari pun bersinar dengan begitu terangnya. Ia melihat ke luar jendela. Betapa ia merasakan Tuhan tersenyum padanya. Memberikannya semangat keberanian untuk melangkah. Percaya, berdoa, dan andalkan Tuhan, yang menjadi modal utama ia melangkah dalam setiap jalannya. Ia bergegas menyiapkan dirinya dalam misi besar ini. Dalam kepalanya terbayang sorak sorai kemenangan dari orang-orang yang kan ia tuju untuk menerima kabar baik ini. Bahkan kekhawatiran yang ia lamunkan tadi perlahan lenyap oleh keyakinannya akan perlindungan Roh Kudus.
Breitburg pun melangkah ke luar pintu rumahnya. Membawa Alkitab dan dengan senyum sumringah ia berkata,
“Tuhan yang memampukan!”. Keller, penerjemahnya mengernyitkan keningnya.
“Tuan tampak sangat bahagia ya.”
“Tentu saja. Kita akan melakukan misi yang besar, Keller.”
“Oh, benar. Jadi, karena itu kah Anda tampak sangat bahagia?”
Breitburg mengangguk dengan senyumnya yang tak kunjung pudar selama perjalanan yang ia tempuh menuju bandara.

Seraya melangkah menuju pesawat yang telah menanti penumpang, ia menutup matanya dan mengaturkan sedikit doa,
“Ya Tuhan Allah yang hidup, aku akan menuju ke tempat dimana misi kan kujalankan. Sertai dan lindungi dalam perjalananku, Tuhan. Segala mara bahaya engkau lenyapkan. Hanya malaikatMu yang melindungi dan menyertai kami semua. Terimakasih Tuhan. Hanya di dalam nama Tuhan kami, Yesus Kristus, kami sudah berdoa. Haleluya. Amin!”
Orang-orang yang berjalan melintasinya sedikit tertawa heran, menggeleng-gelengkan kepala seolah tengah melihat orang konyol ini berbuat yang tak penting. Namun, Tuhan tersenyum melihat ia terus mengadakan komunikasi denganNya. Ia juga terlihat kesal dan menggeleng-gelengkan kepala kepada orang-orang yang tak mengerti apa yang tengah Breitburg lakukan. Sungguh, congkaknya orang-orang itu. Namun, Tuhan meringankan tanganNya untuk tak menghukum mereka. Ada waktunya untuk menyentil mereka-mereka itu.

Di dalam pesawat ia duduk menatap ke arah luar jendela pesawat. Ia terbayang akan api hebat yang membara disana. Teriakan kesakitan, penyesalan yang begitu mengiris hati. Menghancurkan semua yang ada disana, tanpa terkecuali. Perlahan airmatanya terjatuh membayangkan ratapan panjang yang tak akan berakhir dalam bara api. Tertawa kekejian dan kekejaman yang begitu tajam terdengar, memekakkan telinga. Lalu, ia menutup matanya.
“Ya Tuhanku, ampunilah aku. Aku yang tak mampu membawa mereka semua dalam kebenaranMu. Namun, aku tak akan menyerah membawa mereka dalam kebenaran. Dalam doa ku tak akan terputus nama mereka kusebut. Tuhan, nyatakanlah belas kasihanMu terhadap mereka yang belum mengenalMu. Nyatakan kuasaMu melawat mereka semua. Kasihanilah mereka, Tuhan. Kasihanilah.”
Ia membuka matanya dan melihat ke arah langit biru yang meneduhkan hatinya. Namun, perlahan senyumnya memudar tatkala ia merasakan Tuhan pun turut menangis mendengar doanya itu. Awan menjadi gelap dan pekat.
Tuhan turut bersedih akan mereka yang Ia cintai namun harus binasa karena tak mengenalNya. CintaNya bahkan tak pernah habis untuk mereka yang menghinaNya, menghujatNya dan menganggapNya tidaklah ada. Ia mengasihi mereka semua tanpa terkecuali. Ia masih membuka pelukanNya untuk setiap mereka yang mau datang kepadaNya. Dengan keadaan sehina apapun. Ia tak memandang akan kelemahan, masa lalu yang ada dalam diri mereka. Ia melihat hati mereka.

Breitburg memijak tanah yang ia tuju. Tatkala memijak tanah itu, ia merasakan kegersangan jiwa-jiwa yang belum menerima kebenaran. Hal itu mengurungkan niatnya untuk melanjutkan langkahnya. Dan yang tak kan ia lewatkan, berdoa.
“Tuhan, inilah tanah yang Engkau tunjukkan kepadaku. Tuhan, berikanlah Roh KudusMu kepadaku. Penuhi aku dengan Roh Kudus dan jagai setiap langkahku di tanah ini. Amin”
Lalu, di hadapannya telah banyak bayang-bayang dari iblis yang mengecilkan hatinya. Namun, Keller pun menguatkannya.
“Tuan, ingatlah! Tuhan yang Mahakuasalah yang akan memenangkan kita dalam misi kita ini.”
Mendengarnya, Breitburg pun mulai bangkit memegang teguh keyakinannya. Hatinya pun menginjak-injak segala kekhawatiran yang menghantuinya itu.

Hingga sampailah ia di hadapan kedua tentara yang berjaga di perbatasan menuju Israel. Mata mereka tajam menatap. Breitburg menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Dalam hatinya ia terus mengaturkan permohonan kepada Roh Kudus. Ia dan Keller mulai melangkah mendekati kedua tentara itu. Belum mengucapkan sepatah kata pun, tentara lain membawa Keller berpisah sementara waktu dengan Breitburg. Breitburg semakin takut dan khawatir. Ia hanyalah orang Jerman yang tak dapat berbicara fasih dalam bahasa Ibrani. Keller, Si Penerjemah yang ia bawa pun harus berpisah dengannya. Padahal, ia tak akan mampu masuk kesana sebelum ia mampu berbicara bahasa Ibrani. Kekhawatirannya pun mengingatkan ia kepada Roh Kudus, ia berdoa dalam hati seraya keringat dinginnya bercucuran.

“Ya Tuhan Allah yang Mahakuasa. Engkaulah yang menyuruhku ke tempat ini. Aku tak mampu berbicara dalam bahasa Ibrani. Aku tak mampu berbuat apa-apa sekarang selain memohon pertolonganMu. Roh Kudus, tolonglah aku, tolonglah.”
Tiba-tiba, lidahnya tergerak berkata-kata dalam bahasa Ibrani secara otomatis. Tentara-tentara itu sedikit terheran akan hal itu. Ternganga tak percaya, Breitburg telah berkata-kata dalam bahasa Ibrani dengan begitu fasihnya, kata tentara-tentara itu. Mereka pun mempersilakan Keller dan Breitburg masuk bersama-sama. Hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala dan berusaha mencerna apa yang baru saja mereka hadapi tadi. Begitu juga, Breitburg. Ia benar-benar bingung kepalang apa yang baru saja ia katakan. Ia sama sekali tak mengerti apa yang ia katakan kepada tentara-tentara itu sehingga mereka mengizinkannya dan Keller masuk. Namun, ia percaya sepenuhnya itu adalah pekerjaan Roh Kudus yang menolongnya. Dalam hatinya begitu bersyukur tak henti-henti. Pertolongan Tuhan datang tepat pada waktu yang ditentukanNya. Breitburg percaya, ketika ia mengandalkan Tuhan dalam setiap langkahnya, Tuhan akan menjamin setiap langkahnya dengan ketenangan dan kemenangan.

Dalam misi penginjilannya, ia telah membawa banyak jiwa percaya kepada Tuhan. Mereka telah mendengar kabar baik yang menjembatani jiwa mereka dari api yang menyala-nyala menuju terang Surga yang begitu indah. Breitburg menangis bahagia selepas menyelesaikan misinya. Ia melihat ke angkasa, tangan Tuhan tampak memeluk jiwa-jiwa baru yang ia bawa tadi. Sorak sorai di Surga pun terdengar riuh bergema di hatinya. Sambutan akan jiwa-jiwa baru begitu kental terasa dalam hatinya. Ia pun melangkah pergi dari tanah itu dengan membawa kemenangan yang tak ternilai harganya. Bukanlah karena kekuatan dan keberanian serta kehebatannya. Melainkan campur tangan Tuhan Allah dan pertolongan Roh Kudus yang senantiasa ada untuknya, sepanjang masa.

Cerpen Karangan: Jessica Desideria Tanya
Facebook: Jessica Desideria Tanya

Cerpen No Worry merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Payung Iman

Oleh:
Jauh di ujung pandangan mata, sebuah pulau terpencil ada di sana. Nama yang terdengar sangat asing di telinga kita, itulah Pulau Sumba. Sebuah pulau di Provinsi NTT. Di sanalah

Surat Cinta Untuk Tuhan

Oleh:
Cinta selalu membuatmu menunggu Dan kau harus membayarnya dengan sebuah penantian karena itu setimpal dengan sebuah perasaan Yang mana selalu membiusmu untuk tetap menunggu Frans tidak merasa bosan ketika

Izinkan Aku Mencintainya

Oleh:
Malam ini rasanya mataku begitu sulit untuk dipejamkan. Aku tak tahu apa sebabnya. Mungkin karena aku sudah tak sabar menantikan hari esok dan menyongsong Natal untuk yang kesekian kalinya

Kerisauan Hati

Oleh:
Hari tepatnya tanggal 3 maret dimana aku merasa sendiri di keramaian entah yang membuatku merasa sendiri kejadian apa yang membuatku seperti ini Tuhan. Aku mau mengeluarkan semua masalah apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *