Payung Iman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 4 February 2017

Jauh di ujung pandangan mata, sebuah pulau terpencil ada di sana. Nama yang terdengar sangat asing di telinga kita, itulah Pulau Sumba. Sebuah pulau di Provinsi NTT. Di sanalah tinggallah satu keluarga yang hidup bahagia. Bertus adalah satu-satunya anak dalam keluarga tersebut. Kedua orangtuanya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di daerah tersebut.
Keluarga yang selalu damai, tidak ada perselisihan dan Bertus hidup di dalam kasih sayang kedua orangtuanya. Hingga pada suatu saat, kedua orangtua Bertus harus pergi ke luar kota.

“Nak, Bapak dan Mama akan pergi ke Kupang untuk rapat yang sangat penting, jadi kamu terpaksa sendirian di rumah, kamu baik-baik ya di sini. Ini Bapak tinggalkan uang selama Bapak dan Mama pergi, semoga saja cukup. Sepertinya Bapak dan Mama akan lama di sana, nanti kabari kalau ada masalah” Kata Bapaknya.

Dengan berat hati Bertus menerima hal tersebut. Bertus yang biasanya dimanja, harus mulai hidup mandiri. Tapi mau gak mau dia harus menerimanya, dia harus belajar mandiri. Dia sudah bercelana panjang, pasti Bertus bisa menjalaninya.

Hari pertama Bertus sendirian, memasak mie instan sebagai sarapannya dan ditemani dengan telor gosong. Yah maklumlah baru belajar masak. Pergi ke sekolah dengan ojek. Di sekolah Bertus bingung, “Sebentar siang mau makan apa? Tadi gak sempat buat bekal. Ah beli Indomie aja di kantin”. Saat makan indomie, Bertus juga mulai berpikir, kalau dia naik ojek untuk transportasi ke sekolah, uangnya akan cepat habis. Dia akan mencoba berjalan kaki ke rumahnya nanti.

Hari demi hari Bertus lalui dengan lumayan berat. Uang yang diberikan oleh Bapaknya makin sedikit, Bertus mulai berpikir untuk mencoba bekerja. Dia melihat ke gudang, ada sebuah sampan kecil dan alat untuk memancing. Itu semua adalah peninggalan kakenya dulu. Bertus awalnya memancing untuk keperluan lauknya, saat pulang sekolah dia memancing.
Kemudian Bertus mulai menjual beberapa ikan untuk menambah uang. Bapak dan Mamanya belum juga pulang dari Kupang. Bertus menelepon kedua Bapaknya, dan ada seorang wanita yang menjawabnya tapi bukan ibunya, “Sorry, the number you calling is not agree, please try again in other time”. Ya, bapaknya tidak menjawab telepon, mungkin Bapaknya masih dalam urusan penting.

Hari minggu dia memancing dari atas pohon bakau, tapi disaat memancing temannya Okta memanggil, “Bertus!! Kau tidak ke gereja kah? Minggu lalu juga kau tidak datang”
“Saya mau sebenarnya tapi saya tidak ada yang antar ke gereja”.
“ah, sudah itu gampang kau naik motor dengan saya saja”. Kata Okta

Bertus pun mulai bersiap-siap ke gereja dan berangkat bersama-sama dengan Okta. Setelah selesai ibadah di gereja, Pendeta gereja tersebut berbicara kepada Bertus
“Kenapa jiwamu tidak hadir minggu lalu? Bapak dan Mamamu juga tidak datang.”
“iya pak pendeta, Bapak dan mama sudah pergi ke luar kota, jadi saya tidak ada yang antar, tadi ini Okta yang antar”.
“oh jadi begitu, kamu yang sabar ya, kapan Bapak dan Mamamu kesini lagi?”
“Tidak tau pak pendeta, saya belum dapat kabar dari Bapak dan Mama”.
“Oh gitu ya, ya udah minggu depan datang lagi ya. Kalau ada masalah, datang saja ke sini”.
“Iya pak pendeta, terimakasih banyak”.

Keesokan harinya saat di sekolah, sebuah mobil mewah diiring oleh para polisi datang ke sekolah. Ya, itu adalah mobil milik Bupati di daerah tersebut. Guru-guru dan para murid kebingungan, apa maksud Bupati datang secara tiba-tiba ke sekolah ini. Sang Bupati menyuruh salah satu guru untuk memanggil Albertus Umbu Ladu melalui pengeras suara. Ketika bertus dipanggil, dia kebingungan, kenapa dia harus dipanggil oleh Bupati. Bupati langsung menjemputnya dan mengajak Bertus untuk pergi makan di sebuah restoran yang cukup terkenal di daerah tersebut.

“Sebenarnya ada apa Bapak Bupati datang untuk ajak saya makan?” tanya Bertus.
“Bapak sebenarnya sangat menyesal, Bapak turut berdukacita atas kematian Bapak dan Mamamu dalam kecelakaan pesawat saat perjalanan pulang ke sini. Bapak akan memberikan kamu beasiswa sebagai respek Bapak kepada kedua orangtuamu” jawab Sang Bupati dengan sangat sedih.
“Apaa!!??” Bertus sangat kaget mendengar berita tersebut. Kedua orangtuanya telah pergi bukan hanya seminggu, tapi lebih dari itu, kedua orangtuanya yang sangat dicintainya telah pergi untuk selama-lamanya. Sekarang Bertus benar-benar ditinggal sendirian, perasaan Bertus sangat kacau. Dia tidak mempunyai kekuatan untuk menerima hal ini, Bertus telah kehilangan keluarganya.

Setelah 5 menit Bertus termenung, Bupati berkata kepada Bertus
“Bertus, Bapak tahu bagaimana perasaanmu saat ini, tapi mau gak mau kamu harus menerima kenyataan ini. Kedua orangtuamu telah tiada, tapi harapanmu janganlah hilang, kamu harus membuat Bapak dan Mamamu bangga”.
Bertus hanya dapat terdiam seribu bahasa, ingin rasanya menangis tapi air mata ini tidak bisa terjatuh dari kedua mata Bertus, ingin marah tapi tak ada gunanya, Bertus serasa ditusuk oleh bilah yang tajam. Stress, bimbang, galau, mungkin itulah yang dirasakan oleh Bertus. Bertus tak bisa berbuat apa-apa, hanya termenung di bawah mentari.
“Bertus, jika kamu ada keperluan bilang saja sama Bapak.” Ujar sang Bupati
“Saya gak butuh apa-apa lagi!!” Jawab Bertus

Bertus pulang ke rumah, dan ingin langsung tidur. Tapi Bertus tak bisa tidur, dia pun teringat kepada Bapak Pendeta, untuk datang kapan saja ke gereja bila ada masalah. Saat di gereja dia berlutut di bangku kursi paling depan. Sang Pendeta melihat dan menghampirinya.
“Bertus, Saya tahu kamu sedang dalam kesulitan. Saya sudah mendengar kabar tersebut, Saya turut berdukacita.”
“Tapi sekarang bagaimana Pak Pendeta, aku sudah kehilangan semuanya?” Tanya Bertus dengan sangat tertekan.
“Bertus kamu harus tetap sabar, saya tahu kamu sedang dalam penderitaan yang sangat berat, tapi kamu belum kehilangan semuanya. Hidup kamu, dan semua yang terjadi ada dalam rencana Tuhan.” Jawab Sang Pendeta.
“Jadi, kedua orangtua saya meninggal itu rencana Tuhan!!!” Jawab Bertus sangat marah.” Tuhan itu jahat!!”
“Bukan seperti itu Bertus”. Jawab Pendeta, belum sempat Pendeta selesai bicara langsung disahut oleh Bertus.
“Pak Pendeta sama sekali tidak membantu!! Mulai detik ini saya tidak mau lagi datang ke sini!!”. Selesai mengucapkan hal tersebut Bertus lari ke luar dari gereja.

Bertus benar-benar tak bisa melupakan kejadian tersebut. Hari-hari terus berlalu tanpa orangtua di sisinya. Bertus betul-betul kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan. Dia tidak pernah berdoa, bahkan dia pun tidak pernah lagi ke gereja. Setiap minggu dia habiskan waktunya untuk pergi memancing.

Sepulang dari menjual hasil jerih payahnya di Pasar. Bertus melihat seorang bapak dengan kumis dan jenggot yang sangat tebal berjalan ke arahnya. Orang itu langsung membentak Bertus dan menanyakan “Hei kamu, mana utang Bapakmu?”. “Utang apa Pak?” Tanya Bertus ketakutan. “Utang kontrakan bulan ini sama bulan lalu belum dibayar”. Ujar bapak tersebut. “Tapi saya tidak punya uang pak” Jawab Bertus sangat ketakutan. Orang tersebut langsung menarik uang dari dalam kantong baju Bertus, “Ini masih kurang, Saya gak mau tahu, pokoknya minggu depan harus lunas!!”. Bertus sangat ketakutan dan bingung, uang yang baru didapatnya langsung diambil begitu saja, ya itu memang pemilik rumah yang ditinggali oleh keluarga Bertus.

Dua hari lagi adalah hari terakhir Bertus harus melunasi utang rumahnya. Uang yang didapat dari hasil dia memancing tidak cukup untuk melunasi utangnya tersebut. Bertus sangat bingung, dia bertanya kepada para pedagang di pasar agar dapat pinjaman uang untuk melunasi utang rumahnya. Bertus memberanikan diri untuk meminjam uang dari seorang preman yang cukup terkenal di daerah tersebut. “Ok, kamu bisa pinjam uang dari saya, tapi ingat 17 hari kamu harus melunasinya, kalau tidak, yah kamu tau sendiri gimana”. Kata si Preman.

Bertus dapat melunasi utang kepada pemilik Kontrakan tersebut. Tapi dia mengambil keputusan yang salah. Dia menutupi utang dengan utang, yah memang tidak ada lagi cara lain. Bertus terpaksa mengambil keputusan tersebut. Bertus sampai tidak masuk sekolah beberapa hari, dia bekerja dan terus bekerja untuk melunasi utangnya tersebut.

Saat pulang dari sekolah, dan sampai di rumah, Bertus telah ditunggu oleh preman tersebut dan beberapa anak buahnya. “Aduh, celaka!” dalam benak Bertus, uangnya tentu belum cukup untuk melunasi utangnya. Bertus harus bilang apa, dia pasti akan dihajar oleh para preman tersebut.
“Mana uangnya? Saya dah nungguin dari tadi nih!” tanya si Preman membentak.
“i..iya, tu.. tunggu sebentar”. Jawab Bertus terbata-bata.
Bertus menghitung uangnya hanya setengah yang bisa dia bayar, dia ingin lari kabur dari Preman tersebut. Ya dia bertekad untuk kabur melalu jendela kamarnya. Dibukanya jendela kamar perlahan, dan dia loncat keluar dan segera lari. “BUUKK!!” Tinjuan keras mengenai pipi kanan Bertus, Bertus terjatuh seketika. Kemudian dia ditendang lagi.
“Mau lari kemana kamu? Hah…! Berani-beraninya kamu mau kabur dari saya, kamu gak akan bisa kabur dari saya”. Kata si Preman.
Bertus merintih kesakitan karena mendapat pukulan yang sangat keras.
“Mana uangku, bayar utangmu cepat!!”
“Tapi uang saya belum cukup, Cuma bisa bayar setengahnya, saya gak bisa bayar” Jawab Bertus sambil menahan sakit.
“Saya gak mau tahu, pokoknya mana uang saya? Hei kalian ambil uangnya cepat!” Suruh si Preman kepada anak buahnya.
“Apa ini, kok Cuma segini?? Udah kalian hajar dia sampe puas!!”

Bertus dihajar oleh 5 orang Preman yang tidak tahu adat tersebut. Sakit, itulah yang dirasakan di sekujur badan Bertus. Bertus tak berdaya sama sekali, sungguh mereka adalah Preman yang tidak punya hati.
“Toloooongg…!!” Teriak si Bertus kesakitan.
“Berani-beraninya kamu minta tolong. Mau minta MATI kamu?” Ancam si Preman sambil mencekik leher Bertus.
“STOOOOP…!!!” Teriak seorang yang tak dikenal diujung sana.
Para preman langsung melarikan diri, dan orang tersebut langsung menolong Bertus. Kasihan Bertus, badannya penuh dengan luka dan memar. Dia diobati oleh Pendeta di gereja Bertus dulu. Bertus bahkan sampai tidak sadarkan diri.

Bertus merasa sangat aneh, dia ada di dalam ruangan yang kosong hanya ada warna putih di sana. Mungkin Bertus telah mati, Bertus sangat bingung ada apa dengan dirinya, kenapa dia ada di tempat tersebut. Kemudian Bertus melihat sebuah cahaya terang, saking terangnya Bertus sampai menundukkan kepala. Lalu cahaya tersebut hilang, dan muncullah dua sosok berjubah putih di hadapannya dan berkata “Jangan Menyerah!”.
“Bapak, Mama!! Jangan tinggalkan aku!” Teriak Bertus
Akan tetapi kedua bayangan tersebut terus menjauh, Bertus lari untuk mengejarnya tapi dia terjatuh.
“Bapak Mama!!” Teriak Bertus saat siuman.
“Ada apa Bertus?” Tanya Sang Pendeta
Ya, itu hanyalah mimpi yang dialami Bertus. Bertus telah sadarkan diri setelah satu hari tidak sadarkan diri.

“Hah… hah…!” Bertus mengambil nafas. “Kenapa saya ada di sini?” Tanya Bertus kebingungan.
“Kamu ditolong sama Bapaknya Okta, terus kamu dibawa ke sini. Untung saja bapaknya Okta itu tentara, jadi preman tersebut langsung melarikan diri”. Jawab Sang Pendeta.
“Pak Pendeta, maafkan saya Pak Pendeta. Saya ini anak durhaka Pak Pendeta, saya jahat, saya sudah berbuat dosa. Saya telah membuat orangtua saya kecewa Pak Pendeta, Tuhan itu tidak jahat Pak Pendeta, Dia sungguh baik Dia tolong saya”. Kata Bertus sambil menangis terisak-isak.
“Kamu tidak perlu minta maaf kepada saya, terimalah Yesus dalam hidupmu, maka hidupmu akan menjadi lebih baik. Yesus pernah menderita jauh lebih sengsara daripada kamu, Dia telah mati dan bangkit bagi kita semua umat manusia” Kata Pendeta.
“Iya Pak Pendeta saya mau terima Tuhan Yesus dalam hidup saya. Tapi bagaimana saya dapat menjalani hidup ini Pak Pendeta? Saya tidak dapat menjalaninya sendiri.” Kata Bertus.
“Bertus, Payung tidak dapat kamu gunakan untuk menghentikan Hujan. Tapi dengan Payung kamu dapat berjalan melintasi hujan. Sama seperti Iman, Iman adalah anugerah dari Tuhan. Kamu tidak dapat menolak atau lari dari Pencobaan, tapi dengan Iman pasti kamu bisa menghadapi seluruh Pencobaan dalam hidup”. Kata Sang Pendeta.

Itulah kisah hidup Bertus sampai dia mendapatkan “Payung Iman”nya. Dengan Payung Imannya ini dia dapat menjalani hidup, susah-senang dihadapinya. Semoga cerita ini dapat menginspirasi kehidupan iman Kristen Kita.
“Payung tidak dapat kamu gunakan untuk menghentikan Hujan. Tapi dengan Payung kamu dapat berjalan melintasi hujan”.

Cerpen Karangan: Yoel Yogaswara
Facebook: Yoel Yogaswara
Nama lengkap: Yoel Yogaswara
Tempat/tgl lahir: Malang, 03 Oktober 2000
Sekolah: SMA Kristen Kalam Kudus Malang
Kontak HP/Line: 081246618008
Status: Jomblo

Cerpen Payung Iman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pentakosta

Oleh:
Bersimpuh dan bersujud memanjatkan doa serta lagu pujian di hadapan altar Allah. Aku merasakan ada sebuah cahaya yang begitu terang dan membuat hati begitu gundah. Apakah sosok Tuhan hadir

Surat Cinta Untuk Tuhan

Oleh:
Cinta selalu membuatmu menunggu Dan kau harus membayarnya dengan sebuah penantian karena itu setimpal dengan sebuah perasaan Yang mana selalu membiusmu untuk tetap menunggu Frans tidak merasa bosan ketika

Dari Musuh Jadi Sahabat

Oleh:
Tegang, Itulah perasaan yang sedang dirasakan Arin saat ulangan mau dimulai. Ia sangat gemetar melihat buku fisika yang berisi rumus yang membuat otaknya meledak. Hari ini ia akan ulangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *