Penyesalanku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 20 September 2016

Belum sempat aku tertidur pulas. Tiba tiba mataku terasa panas, badanku kaku dan sedikitpun tidak bisa aku gerakkan. Bukan hanya itu mulutku seperti terbungkam, sesungguhnya aku ingin sekali meronta dari keadaan ini namun apa daya aku tidak mampu melakukannya. Ini adalah hari ketiga aku mengalami kejadian yang sama.

“oooh Tuhan, ada apa denganku?”. Rasanya aku ingin protes dengan-Nya.

Semua berawal dari dua hari yang lalu ketika aku membereskan kamarku. Kamar yang kutempati kini memang bukan kamarku, melainkan kamar sepupuku, sekarang ia tinggal di jogja karena melanjutkan pendidikannya, sejak itu aku yang menggantikan posisinya. Kamar ini memang tidak terawat dengan baik, maklum bangunan sudah tua. Ini adalah rumah warisan dari buyutnya yang dulu menjadi seorang tentara.

Terkadang aku miris dengan keadaan rumah ini. Plafonnya sudah tua dan mengelupas, temboknya juga sudah kusam, lemarinya bukan terisi pakaian melainkan tumpukan buku buku yang sudah usang sehingga aroma debu sangat tajam di hidungku, dan beberapa gulungan pakaian yang tidak aku tau itu milik siapa. Sungguh tidak beraturan, bahkan banyak barang barang pertukangan milik pamanku yang disimpan disini dan aku tidak berani memindahkannya.

Saat itu aku hanya merapikan posisi barang barang di kamar itu, ingin rasanya aku buang semua yang kuanggap tidak penting tapi kembali kuingat, ini bukan kamarku. Jendela aku bersihkan, sprai juga kuganti satu minggu sekali. Kalau saja baju bajuku bisa bicara mereka pasti sudah berteriak karena iri dengan isi pada lemari itu.
“pergi kalian dari sini, kamu tidak layak berada disini, harusnya aku! Karena aku dibiarkan oleh pemilikku berada di tumpukan kardus dan tersusun tidak baik! Itu semua karena kamu”. Kurang lebih itu protes yang akan diteriakkan oleh pakaianku.

Selepas dari kejadian itu, tidak ada sesuatupun yang mengganjal dalam diriku. Namun Ketika siang telah berlalu dan tengah malam mulai datang denyut jantungku mulai tidak beraturan, kepalaku pusing ingin rasanya aku berbaring namun sama sekali tidak bisa kupejamkan mata ini. Yang ada hanya rasa khawatir, apa penyebabnya aku tidak mengerti. Waktu berlalu kira kira pukul 04.00 WIB saat itu punggung dan kepalaku terasa panas dan mencekam. Sungguh aku tidak mengerti ada apa denganku.

Dua hari berlalu semakin parah. Herannya setiap kudengar orang berdoa di Masjid punggung dan kepalaku kembali panas, sempat kupukul berkali kali kepalaku berharap bisa merubah keadaanku namun itu sama sekali tidak membantu.

“kamu kenapa sin?” vero terlihat khawatir dengan keadaanku, karena aku tidak fokus sama sekali sewaktu belajar di sekolah apalagi aku sempat ditegur bu kartika guru bahasa inggris saat aku tertidur pulas di jam pelajarannya.
“aku gak papa ver… lagi gak enak badan aja kok.” “Seriusan kamu gak papa?” sahut vero. “iya aku gak papa, udah ah kamu gak perlu khawatir.” Saat itu aku berusaha tersenyum sebaik mungkin agar vero tidak curiga kepadaku. Vero adalah sahabat terbaikku di sekolah, apapun aku ceritakan kepadaya. Vero sangat bijak dan dewasa pemikirannya, itu alasannya aku senang berteman dengan dia. Tapi entah kenapa aku tidak berniat sedikitpun menceritakan kejadian yang aku alami beberapa hari ini. Bagiku ini sangat aneh dan tidak masuk akal, jujur aku juga malu untuk menceritan ini kepadanya.

Sepulang dari sekolah aku kembali merasakan ketakutan yang luar biasa. Hal itu terjadi Ketika aku hendak memasuki kamar.
“oooh Tuhan… ada apa lagi ini?”.
Aku beranikan diri untuk tetap masuk ke dalam kamar, pelan pelan ku tepis gorden di kamarku karena memang tidak ada pintunya, betapa terkejutnya aku ketika aku merasakan udara yang panas dari kamarku. Terasa menusuk sampai ke tulang dan begitu kasar. Bulu kudukku merinding tidak karuan dan aku gemetaran. Buru buru kuambil baju untuk berganti pakaian dan aku segera berlari ke luar dari kamar. Syukurlah, saat itu juga perasaanku berubah lebih tenang.

Seharian kuhabiskan waktuku di depan Tv. Hari ini aku di rumah sendiri karena semua saudaraku pergi mengunjungi resepsi pernikahan saudaranya. Samar samar mulai kudengar suara Azan maghrib. Aku tidak dapat menghindari kesakitanku ini, jika sedang seperti ini, rasanya aku ingin berteriak sekeras mungkin untuk minta tolong, tapi aku tidak berdaya untuk melakukannya. Azan sudah berlalu perlahan mulai kutepis keringat sebesar biji-biji jagung yang bercucuran dari keningku, mengalir deras padahal cuaca hari ini tidak panas.
“Yaaa… aku memang aneh!”.

Seperti malam ini suasana semakin mencengkam. Aku benar benar tidak mampu merubah pembaringanku. Bahkan suaraku tidak mampu aku keluarkan sedikitpun, seperti ada yang mencekik. Akhirnya aku teringat dengan Tuhanku. Aku mencoba mengingat kebaikan Tuhan dalam hidupku satu per satu namun semua gagal aku lakukan, aku tidak bisa memikirkan itu, yang kuingat hanya namanya Tuhan.
“yaaa… Tuhan namanya, bisikku dalam hati”.

Kucoba menggapai alkitab dan buku buku doa di samping bantalku namun aku tidak bisa menggapainya. Aku berusaha keras untuk mengucapkan doa doa juga tidak mampu aku lakukan.
Tiba tiba aku terkejut saat aku melihat sosok yang menyeramkan di bawah kakiku.
“tidak!” aku ingin berteriak dan berlari dari kamar ini. “tolong aku siapapun kalian di luar sana!”.
Hanya suara hati saja tanpa kata kata. Sosok itu begitu menyeramkaan kecil dan tidak karuan, tapi kenapa sekarang menjadi semakin besar kepalanya berlumuran darah, rambutnya gimbal dan panjang, kukunya hitam panjang, bulunya panjang panjang dan yang lebih menyeramkan adalah seringainya, bahkan mulutnya yang lebar seperti hendak menelanku bulat bulat.
Semakin aku mencoba memberontak badanku semakin kaku seperti gumpalan es. Mulutku semakin terbungkam rapat dan anehnya mataku tidak bisa lepas dari tatapannya yang semakin melekat.
“aku takut!!!.”
Entah berapa lama aku mengalami hal itu, kemudian, seperti ada yang menarik. Aku merasakan ada yang hilang Ronggaku lebih nyaman dan semua kembali normal, dan herannya aku tidak punya ketakutan lagi.

Segera aku beranjak dari pembaringanku, aku segera berdoa kepada Tuhanku dan kurenungkan semua kejadian yang menimpaku. Sepertinya Tuhan sedang menguji dan menegurku karena sudah beberapa bulan ini aku tidak pernah berdoa dan membaca firman Tuhan lagi. Alasannya aku malas untuk melakukan itu semua. Aku terlalu sombong dengan kemampuanku dan kekuatanku sendiri.

Air mataku mulai terasa basah di pipi dan leherku, sepertinya aku menangis dan aku tidak mempedulikan itu. Yang aku ingat sekarang adalah kebaikan Tuhan, aku kembali teringat apa alasanku berada di tempat ini tidak lain adalah untuk belajar bukan untuk menghamburkan uang dari keringat orangtuaku.
“oh Tuhan… maafkan aku, ampuni aku Tuhan. Begitu hinanya aku dimatamu namun aku tidak mempedulikan segalanya yang kupedulikan hanya kebahagianku dengan hidup yang kupermainkan ini. Aku kembali tersadar ini adalah hari ketiga aku mendapat teguran dari Tuhan.
Tuhan bisa melakukan segalanya atas kuasanya sendiri. Dan aku berjanji dengan diriku sendiri, mulai saat ini tiga kata yang akan aku pegang baik baik,
“aku mau bertobat!”. Terimakasih Tuhan untuk kesempatan dan kebaikan yang Engkau berikan sehingga aku boleh merasakan penyesalan yang dalam.

END

Cerpen Karangan: Lucia Yuniarti
Facebook: lucia.yuniarti[-at-]yahoo.com

Cerpen Penyesalanku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjumpaan Yang Menyenangkan

Oleh:
Tak terasa tiga bulan sudah berlalu bagiku mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah baruku, SMA Katolik pancasila. Kebebasan lepas dari seragam putih biru masih kurasakan. Di sini aku telah

Sadarkan Ayahku Tuhan

Oleh:
Keluarga yang harmonis dapat mereka rasakan, keluarga yang bahagia dapat mereka dapatkan, tapi tidak untuk diriku, aku tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah setiap hari ayahku pergi

No Worry

Oleh:
“Roh Kudus, hadir disini. Tak perlu ku khawatir akan apapun. Ketika aku melangkah, berbicara, berpikir akan sesuatu, aku mau semua Roh Kudus yang menuntun. Amin.” Doa di pagi buta

Indah Pada Waktunya

Oleh:
Namaku Agnes. Sejak kecil aku tinggal bersama tanteku, Tante Ria. Mama dan papa kecelakaan sewaktu aku masih bayi. Ya, sejak kecil aku sudah yatim piatu. Rasanya sedih tapi aku

Hidup Adalah Pilihan (Part 1)

Oleh:
Ada saatnya kamu harus menangis, ada saatnya kamu tertawa, ada saatnya kamu harus marah, ada saatnya kamu harus sabar dan masih banyak hal lagi yang harus terjadi sesuai dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *