Pohon Mangga Dari Misionaris

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 11 April 2016

Belum semenit aku sampai di rumah kami, tiba-tiba terlihat olehku anak gadis bermata teduh sedang berdiri memainkan biolanya. Anak-anak kecil sedang bergembira ria mengelilinginya. Gadis itu lebih suka memainkan biolanya di alam sekitar termasuk di bawah pohon mangga milik ayahku itu. Sehingga setiap senja hari, pokok pohon mangga itu sontak jadi ramai. Apalagi suara anak-anak, begitu melengking menendang telinga. Mereka bergembira tanpa memperhitungkan waktu. Tapi, anehnya belum aku berkenalan dengan gadis maestro biola itu, tiba-tiba dia lenyap seketika bersama anak-anak yang selalu bersamanya. Aku heran mengapa maestro biola itu lari? Anak-anak itu juga lari bersamanya? Dirundung tanya, seorang anak kecil bersembunyi di balik semak-semak dekat pohon mangga itu, berlari mendekatiku sambil berbisik ketakutan.

“Mbah Anna melototi kami! Aku jadi takut dan juga kakak sang pemain biola. Tolong antarkan aku kepada Ibuku!” pinta anak kecil itu dengan penuh ketakutan. Aku pun mengantar anak itu sebentar kepada ibunya. Ternyata ibu anak itu bercerita, Mbah Anna tidak terlalu suka jika terlalu ribut di bawah pohon mangga itu.

Sebenarnya aku tidak tahu siapa yang menanam pohon mangga itu. Bahkan Ayah dan Ibuku tak pernah bercerita kepadaku tentang pohon mangga itu. Yang selalu diceritakan Ayah dan Ibu kepadaku, hanya cerita dongeng mengantarku untuk tidur pulas. Tapi untuk saat ini, karena pohon mangga itu berdiri di depan rumah kami, aku mengambil kesimpulan dalam hati bahwa pohon mangga itu juga pasti milik kami. Apalagi berdiri di atas tanah milik kami. Tapi jangan salah, gara-gara pohon mangga itu terjadi suatu perlawanan antara aku dan Ayahku. Sebenarnya, Ayahku termasuk orang yang sangat sabar yang aku kenal. Tapi entahlah, hari ini amarahnya seakan memuncak ketika puluhan kali aku meminta untuk menebang pohon mangga yang sudah tidak berbuah itu.

Amarah itu membuatku bergetar dengan hebatnya. Aku sejenak terdiam. Apakah aku yang membawa keburukkan di tempat ini, hingga Ayahku jengkel dan marah kepadaku dengan hebatnya? Atau mungkin ini bagian dari yang namanya cognito rei per causas yang berarti aku berpikir untuk mencari sebab? Sebenarnya bukan karena benci terhadap pohon mangga itu. Tapi berkali-kali aku mendengar cerita dari tetangga bahwa pohon mangga itu sangat seram dan menakutkan. Dan sebenarnya, aku juga merasakan hal yang sama. Dari khayalanku, seakan selain Ayahku ada orang lain lagi pemilik pohon mangga itu. Orang itu sudah tidak berjejak di dunia ini lagi. Atau lebih tepatnya, orangnya sudah meninggal! Namun, siapakah dia?

Dalam hitungan menit, Ayahku pergi dari hadapanku. Aku pun mengarahkan mataku pada pohon mangga itu sekian dalam. Atas kemarahan ayah kepadaku, aku bagaikan seorang yang baru dihadapkan di depan hakim. Namun, yang ku sesali mengapa Ayah dan Ibu tidak pernah bercerita kepadaku tentang pohon mangga itu? Seingatku mereka tidak pernah bercerita kepadaku bagaimana kisahnya pohon mangga itu bisa berada dan tertanam di depan rumah kami. Dan akibatnya, Ayahku sangat marah ketika puluhan kali aku meminta untuk menebang pohon mangga itu. Dan tanpa rasa bosan puluhan kali pula ia menolaknya, hingga hari ini ia marah kepadaku dengan hebatnya.

“Ayah, tidak akan pernah mengizinkanmu menebang pohon mangga itu! Itu adalah pohonku, dan berdiri di atas tanahku!” Amarah itu ku telan bulat-bulat dari ayahku. Amarahnya membara seakan memaki diriku. Membuat sekujur tubuhku bergetar dengan hebatnya. Dan baru kali ini aku melihat Ayahku kalau marah wajahnya memerah. Bagiku amarah yang begitu sadis! Dalam keadaan sadar, aku membiarkan amarah itu membara memaki diriku. Tapi yang ku pertanyakan adalah mengapa Ayahku bersikeras melarangku menebang pohon mangga itu, toh tidak berbuah? Atau ada keajaiban yang terjadi olehnya? Dirundung tanya yang semakin dalam, saat itu aku tengah duduk menghadap jendela dan memandang pohon mangga itu. Dan tanpa ku sadari pula, rupanya Ibuku sedang dari tadi berdiri memperhatikanku.

“Andre, Ibu juga tidak setuju jika pohon mangga itu ditebang! Pohon itu, pohon kehidupan loh Ndre!” kata Ibuku tiba-tiba. Namun sekaligus membuatku agak sedikit bingung.
“Pohon kehidupan kayak mana Bu?” tanyaku.
“Empat puluh tahun yang lalu, seorang Pastor misionaris datang berkunjung ke rumah kita. Pastor itu sangat baik. Beliau begitu ramah dan sangat dekat dengan orang-orang yang hidupnya sederhana seperti kita ini. Dan beliau juga sangat dicintai orang-orang stasi kita ini. Jika ia memimpin Misa, umat antusias untuk hadir, karena khotbah beliau sangat menyentuh hati umat bahkan ada yang sampai menangis.” ujar ibuku mulai bercerita.

“Dan saat itu setelah selesai Misa, beliau ingin singgah di rumah kita, karena Ayahmu juga seorang pengurus Gereja. Jadi sudah menjadi kebiasaan, jika ada Pastor berkunjung di stasi kita, pengurus Gerejalah yang menjamu para beliau. Dan buah mangga yang kebetulan diambil Ayahmu dari kebun Lolojasai, dimakan beliau saat itu dan bijinya ditanamnya di depan rumah kita. ‘Buah mangga ini sangat enak. Berarti kalau enak harus ditanam!’ kata beliau.”

“Dan berselang waktu beberapa tahun, pohon mangga itu besar dan berbuah sangat banyak. Kemudian dengan hati gembira, Ayahmu menjual buah mangga itu. Dan dari hasil penjualan, Ayahmu mengirimnya untuk tambahan uang sekolahmu bahkan hingga kamu tamat. Dan kamu tahu bahwa segala sesuatu tidak akan bertahan selamanya. Dan begitu juga ketika pohon mangga itu sudah tidak berbuah lagi. Dan setiap orang yang bertanya kepada Ayahmu, dari mana pohon mangga itu? Ayahmu selalu menjawab ‘Dari Sang Misionaris!'”

“Dan Ayahmu berjanji, pohon mangga itu tidak akan ditebang sampai waktunya akan tiba. Jadi itulah alasan Ayahmu tidak mengizinkanmu untuk menebang pohon mangga itu. Baginya, itulah pohon kehidupan. Yah pohon kehidupan, Ndre.” cerita ibuku mengakhiri. Mendengar cerita Ibuku, secepat kilat ingatanku mengingat Ayahku. Perjuangannya membuatku sadar sekian dalam bahwa pohon mangga itu telah memberi jasanya bagiku. Dan aku baru tahu bahwa pohon mangga itu dari sang misionaris. Tanpa sadar, aku telah mengulang sebagian kisahku.

Senja itu, lama aku termenung mengulang kisah itu. Kisah itu sudah dua puluh lima tahun yang lalu. Dan baru kali ini aku menginjakkan kaki lagi di tempat ini. Tempat aku dilahirkan. Tempatku dulu bermain dan mengenal teman-teman sebayaku. Tempat di mana aku tidak jadi berkenalan dengan seorang gadis sang pemain biola, karena Mbah Anna melototi mereka. Walau sekarang aku mendengar cerita bahwa gadis sang pemain biola itu sudah masuk biara dan menjadi seorang Suster. Yah.. maklumlah, karena ada begitu banyak tugas-tugas penggembalaanku di Paroki. Terkadang dengan tugas itu pun, aku sering teringat kepada Ayah dan Ibuku yang sangat memanjakanku.

Memang aku sudah menjadi seorang Imam, tapi kasih mereka ingin rasanya terulang kembali. Aku ingin membalas jasa dan kebaikan mereka, yang belum tentu sebanding dengan yang sudah aku terima. Tapi apa mau dikata, mereka telah tiada. Aku yakin, Ayah dan Ibu pasti senang melihatku mengenakan jubah penggembalaan ini. Dukungan mereka membuatku tak mengenal lelah untuk menjadi seorang penggembala. Ku hela napasku setelah begitu dalam mengulang kisah itu. Aku teringat kepada Ayah dan Ibuku. Dan pohon mangga itu sudah mulai menggugurkan daun-daunnya. Bukan pertanda akan berganti daun baru, tapi pohon mangga itu sebentar lagi akan mati. Tapi aku selalu mengenang pohon mangga itu, dimana Ayah pernah marah kepadaku. Marah bukan karena perilakuku yang begitu bandel, namun karena pohon mangga dari sang misionaris itu.

Kini aku mendekat bahkan tanpa rasa malu, aku memeluk pohon mangga itu dengan air mata yang mulai mengambang di kedua sudut mataku yang juga bercampur senyum tipis di bibirku. Sambil mengelus, aku berbisik, “Pohon mangga dari sang misionaris, begitu besar jasamu!” Mungkin kalimat ini agak aneh kedengarannya. Tapi itulah yang bisa aku rangkaikan saat ini. Akhirnya sejenak aku duduk pada batang akarnya. Ku rasakan ada kelegaan di dadaku, saat perlahan aku duduk di tanah dan menyandarkan punggungku di batangnya. Sambil terpejam, ku biarkan nyala matahari yang perlahan-lahan terasa hangat di kulitku. Membuatku mengantuk dan mengantarkanku pada bayangan Ayah dan Ibuku. Ku rasakan angin tiba-tiba berhembus lirih dan ku dengar suara bisikkan Ayah dan Ibuku di telingaku, memanggil namaku.

Cerpen Karangan: Alfonsus K. Hia
Facebook: Alfonsus Hia

Cerpen Pohon Mangga Dari Misionaris merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Izinkan Aku Mencintainya

Oleh:
Malam ini rasanya mataku begitu sulit untuk dipejamkan. Aku tak tahu apa sebabnya. Mungkin karena aku sudah tak sabar menantikan hari esok dan menyongsong Natal untuk yang kesekian kalinya

Perasaan Di Teras Gereja

Oleh:
Saat ini aku ingin sekali duduk di sebelahmu, menatap indah mata hitammu, menceritakan tentang kisah kita menurut sudut pandangku. Jika kau mengatakan ini adalah pembenaran diriku atau kebohongan, aku

Selamat Natal Kasih (Part 1)

Oleh:
RAY dan KASIH berkenalan di sebuah acara pernikahan sahabat Kasih, yang juga merupakan keluarga Ray. Ray anak seorang yang sangat kaya sedangkan Kasih dari keluarga yang sederhana. Awalnya hubungan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *