Suara Aneh Membawa Keselamatan

Judul Cerpen Suara Aneh Membawa Keselamatan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 3 August 2016

“Ssssshhhh… Daniiii… tap… tap… sssshhh… Daniiii…”
“Siapa itu?” tanyaku heran.
Aku ingin mencari asal dari suara itu, tapi aku takut… takut… dan takut. Aku takut karena aku sendiri di rumah, Bi Juminten sedang pulang kampung, Papa pergi ke Singapura, sedangkan Mama sudah pergi meninggalkan aku di dunia ini sejak aku kelas 6 SD. Namun, walaupun aku sendiri aku berusaha menghilangkan rasa takutku dan aku pun berhasil. Aku mulai melangkahan kakiku menuju kamarku. Setelah sampai di kamar aku pun langsung merebahkan tubuhku ke tempat tidurku. Tanpa menunggu lama, aku langsung terlelap.

Kuk… ku…ru…yuk…, kokokan ayam membangunkanku dari tidurku.
Aku pun langsung bersiap-siap pergi ke sekolah. Tasku yang tadinya ada di meja sekarang sudah berada di pundakku. Jalanan yang ramai itu pun kulalui dengan sepedaku.

Ting… Tong… Ting… Tong… suara bel pun menandakan pelajaran sudah selesai.
Kami pun bersiap-siap untuk pulang.
“Dani, maju ke depan dan silahkan pimpin doa pulang,” pinta dosenku, Pak Posinam.
Aku pun segera melakukan apa yang diperintahkan guruku.
“…Amin,” seruku dalam doaku yang menandakan doa sudah selesai dan kami sudah dibolehi pulang oleh dosen kami.
Teman-temanku segera mengajakku pulang.
“Nat, ayo kita balik, nanti aku dan Tukinem dimarahi sama Bokap dan Nyokap lagi,” seru Paino.
“Well, ayo kita pulang.” jawabku pada mereka.

Kami pun meninggalkan kampus kami, Universitas Brahmana. Di perjalanan kami bercerita satu sama lain tentang liburan natal kami. Paino mulai bercerita bahwa dia bersama keluarganya liburan ke Bali. Saat dia sedang bercerita aku mulai merasa ada yang aneh seperti ada yang sedang mengikuti aku, dan aku sadar bahwa itu adalah suara yang menakut-nauti aku 12 tahun lalu. Bulu kudukku mulai berdiri, namun aku berusaha mneghiraukannya. Tapi, aku tidak bisa. Raut wajahku mulai pucat dan teman-temanku bingung kenapa tiba-tiba wajahu jadi pucat.
“Nat, kamu kenapa kok pucat sih?” tanya Tukinem khawatir.
“Aku gak apa-apa kok, Nem.” jawabku pada Tukinem.
“Serius nih?” tanya Paino untuk mermastikan.
“Iyaloh, gak apa-apa.” jawabku dengan tegas kepada mereka.

Sambil menghilangkan rasa takutku, kami melanjutkan perjalanan kami. Sesampainya aku dan teman-temanku di kostku, mereka pun pamit pulang.
“Nat, kami pulang dulu ya,” pinta Paino.
“Of Course, hati-hati di jalan ya, bye…” seruku pada mereka.
“Bye… Nat,.” kata Tukinem sambil melanjutkan perjalananya dengan Paino.

Setelah mereka sudah pergi jauh, pintu gerbang kostku langsung kubuka lalu aku masuk ke dalam kamarku. Pintu kamarku kubuka dan aku segera menguncinya lalu aku menanggalkan pakaianku. Aku langsung menuju kamar mandi.
Gyur… gyur… gyur…, aku mulai mandi tetapi tiba-tiba da kejadian aneh yang menimpaku di kamar mandi.
Saat aku mengeringkan tubuhku pandanganku teralih ke dalam bak.
Ada apa, ya? Rupanya tiba-tiba air yang ada di dalam bak mulai surut padahal aku menyalakan keran. Pikiranku mulai melayang-layang, pikiranku mengatakan bahwa air itu surut karena dihisap oleh suara aneh yang mengikutiku tadi.

Pintu kamar mandi pun segera kubuka dan aku ke luar dari kamar mandi tersebut. Lalu aku menguncinya dan aku merasa sedikit lega. Lemariku kubuka dan aku mengambil pakaianku dari lemari itu. Aku langsung memakai pakaianku.
Untuk menghilangkan rasa takut dan cemasku aku pun pergi ke luar sebentar. Saat berjalan-jalan aku menemukan suatu tempat yang sangat ramai.
“Tempat apa itu?” tanyaku dalam hati.
Karena rasa ingin tahuku besar aku pun masuk ke tempat itu ternyata itu Diskotik.

Daripada aku jalan gak tau kemana mending di sini aja dulu lumayan cuci mata. Pelayan pun mendatangi aku yang sudah menunggu dari tadi.
“Mau pesan apa, Mas?” tanya pelayan tersebut padaku.
“Satu botol wine,” jawabku pada pelayan tersebut. Saat aku menunggu pesananku datang tiba-tiba seorang wanita s*ksi yang belahan dadanya mengintip mendatangi aku.
“Boleh duduk di sini, Bang?” tanyanya genit.
“Boleh.” jawabku langsung padanya.
Pesananku pun datang, dia mulai menuangkan wine ke dalam gelasku sambil menggodaku.
“Mungkin dia sedang kesepian makanya dia sangat bergairah” pikirku dalam hati.

Saat aku sedang memium wineku dia mengeluarkan satu plastik yang aku tidak tahu apa isinya beserta alat hisap.
“Apakah dia pengedar nark*ba?” pikirku dalam hati.
Ternyata dugaanku benar, dia mulai menghisap s*bu-s*buan dengan alat hisapnya.
“Apakah dia akan menawarkan barang itu kepadaku?” tanyaku heran dalam hati.
Apa yang kupikirkan pun terjadi, dia mulai menawarkan jenis s*bu-s*buan itu padaku.
“Bang, Abang mau coba gak?” tanyanya genit.
Belum sempat aku menjawab aku langsung dikejutkan oleh suara aneh itu lagi. Aku ingin lari tapi aku tidak mau cewek itu memandang aku seorang lelaki yang penakut. Namun, suara itu semakin dekat sehingga akhirnya aku lari meninggalkan dia, aku lari terbirit-birit sampai akhirnya aku sampai di depan kamarku.
Sedangkan di diskotik itu, cewek itu kesal denganku.
“Udah capek dandan begini malah gue dikacangi sama cowok penakut tadi.” gerutu cewek s*ksi itu sambil mencari mangsa lainnya.

Aku pun segera mengganti pakaianku dan segera tidur. Tapi anehnya aku tidak bisa tidur, aku mulai mencari buku-buku dongeng yang bisa membuatku ngantuk. Namun, tiba-tiba aku menemukan sebuah buku yang sudah dipenuhi banyak debu. Kuambil tisu dari meja lalu kubersihkan debu yang ada di buku itu. Setelah bersih muncullah bahwa buku itu berjudul “Alkitab” aku tak ingat siapa yang memberiku buku usang ini karena bagiku buku ini tidak ada artinya tapi aku ingin tau apa isinya, aku pun membuka halaman pertamanya dan ternyata di situ ada tertulis pesan dari mamaku.
Mungkin Mama memberiku buku ini, sebelum dia meninggalkan aku selamanya. Tulisan Mamaku yang indah itu pun kubaca dan ternyata isinya,

“Anak mama yang tercinta, Dani. Mama punya pesan kepada kamu, Nak. Mama ingin kamu menjadi anak yang berbakti kepada orang yang lebih tua, rajin pergi ke gereja, dan rajinlah belajar saat Mama nanti sudah tiada. Dan kamu jangan lupa untuk menyerahkan seluruh perkara hidupmu ke dalam tangan Tuhan, jangan kamu mengambil keputusan sendiri karena itu bisa memasukkan dirimu ke dalam jurang dosa dan ketahuilah jika kamu sudah masuk terlalu dalam pada jurang dosa tersebut, maka kamu akan susah untuk kembali lagi ke jalan yang benar.”

Air mataku menetes karena aku menyesal. Menyesal karena selama Mama hidup aku tidak pernah menuruti apa yang dikatakannya padahal apa yang dikatakannya sangat berarti bagiku.
Aku mulai lanjut membaca Alkitabku. Saat aku sedang membaca, aku menemukan satu ayat Alkitab yang mungkin bisa membuatku tahu, suara aneh yang terus mengikuti aku itu milik siapa?
Ternyata suara aneh itu adalah Roh Kudus yang diperintahkan Tuhan untuk menjaga, menemani dan melindungi aku di dalam hidupku. Aku merasa Tuhan itu penyayang dan pemaaf. Dia tetap menyayangiku walaupun aku tidak pernah tahu siapa Tuhan itu sebenarnya.

“Jika aku sudah tamat kuliah nanti, aku berjanji akan melayani Tuhan Yesus dan menyebarkan Injilnya ke seluruh dunia,” seruku dengan bersungguh-sungguh.
Ya, benar. Suara aneh itu memang Roh Kudus. Roh Kudus tidak akan perna terlihat oleh mata kita tapi kuasanya dapat kita rasakan karena dia selalu membawa kita ke dalam jalan yang benar.

Cerpen Karangan: Daniz Samosir
Facebook: Daniz Samosir
Nama: Daniz Samosir
Kelas: VII
Sekolah: SMP RK Bintang Timur, Pematangsiantar

Cerita Suara Aneh Membawa Keselamatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjumpaan Yang Menyenangkan

Oleh:
Tak terasa tiga bulan sudah berlalu bagiku mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah baruku, SMA Katolik pancasila. Kebebasan lepas dari seragam putih biru masih kurasakan. Di sini aku telah

Hadiah Untuk Bunda

Oleh:
Namaku Driya Andana, aku kelas 4 sd di sekolah Generasi Bangsa. Aku mempunyai Bunda yang tunarunggu dan tunawicara sebelumnya Bunda bukan tunawicara karena syok saat mendengar ayah meninggal Bunda

Payung Iman

Oleh:
Jauh di ujung pandangan mata, sebuah pulau terpencil ada di sana. Nama yang terdengar sangat asing di telinga kita, itulah Pulau Sumba. Sebuah pulau di Provinsi NTT. Di sanalah

Traitor

Oleh:
Ini kisahku saat aku merasa dikhianati oleh temanku. Sebut saja Seryna dan panggil aku Bella. Seryna itu baik sekali sikapnya di depanku, tapi di belakangku Seryna membicarakanku. Entah apa

No Worry

Oleh:
“Roh Kudus, hadir disini. Tak perlu ku khawatir akan apapun. Ketika aku melangkah, berbicara, berpikir akan sesuatu, aku mau semua Roh Kudus yang menuntun. Amin.” Doa di pagi buta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *