Tembok

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 20 October 2021

Kamu boleh mencintainya tapi jangan ambil dia dari Tuhan-nya.
Kata pepatah yang selalu dijadikan prinsip oleh beberapa orang kristiani karena mereka memang mencintai Tuhan dan berteguh pada keyakinan mereka.

Di dunia ini, mencintai seseorang yang berbeda keyakinan tidaklah mudah. Ada tembok besar tinggi nan kokoh. Jika ingin menghancurkan tembok itu, maka ada salah satu yang harus berkorban.
Namun bagaimana jika mereka satu iman dan satu Tuhan? Jawabannya, berbeda tetaplah berbeda. Selalu ada tembok besar yang menghalangi bahkan yang seiman sekalipun.

“Sedang apa malam-malam begini Alisa?”
Alisa, wanita berumur dua puluh dua tahun itu tersenyum kepada ayahnya.
“Habis telfonan sama Christovel pa!” jawabnya semangat. “Besok Alisa jadi singer sama dia untuk ibadah di gereja lembah pujian” lanjutnya lagi.
Daniel, ayah Alisa hanya menghela nafas berat. Sejujurnya ia tak begitu menyetujui hubungan Alisa dengan pacarnya itu. Daniel tau mereka seiman tapi keyakinan mereka berbeda.
Katolik dan Protestan. Dua keyakinan berbeda namun satu Tuhan. Jika dijabarkan, ada banyak perbedaan pada dua agama itu. Entah dari cara berdoa, ibadah, bahkan gereja.

“Nak…” panggilnya lembut pada Alisa. “Kamu dan Christovel itu berbeda! Ada tembok besar diantara kalian”
“aku tau pa…” jawab Alisa paham. “Tapi apa aku salah jika bersama dengan orang yang membawaku kearah lebih baik? Karena Christovel aku jadi tau cara untuk mencintai Tuhan”
Iya Daniel tau lelaki itu telah membawa perubahan untuk Alisa. Karena Christovel juga anak perempuan Daniel satu-satunya ini rajin pelayanan dan berguna untuk banyak orang.
Tetapi namanya seorang ayah tentu Daniel tidak mau Alisa meninggalkan keyakinannya hanya demi seorang lelaki meski seamin sekalipun.

“Jangan lupakan keyakinanmu Alisa!” kata Daniel pelan namun tegas. “Jika Tuhan menginginkan kalian bersama, hanya Christovel yang bisa menghancurkan tembok besar itu. Kamu mengerti maksud papa kan?”
Alisa mengangguk paham atas pertanyaan ayahnya. Ia tersenyum tipis lalu berucap, “Aku akan tetap pada keyakinanku pa!” yakin Alisa pada dirinya sendiri.

Esoknya,
“Thank you so much guys! Jangan pernah berhenti untuk melayani Tuhan”
Alisa tersenyum penuh syukur saat melihat pacarnya itu mengucapkan terimakasih untuk para patner ibadahnya

Christovel memang hampir tak pernah gagal dalam melayani Tuhan. Dan Alisa mengakui bahwa ia beruntung punya pacar yang bisa membawanya untuk lebih mecintai Tuhan.
Namun satu hal yang membebani hati Alisa, keyakinan yang berbeda. Perkataan ayahnya kemarin malam masih terngiang di kepalanya. Haruskah ia berhenti disini? apakah hari ini adalah ibadahnya yang pertama dan terakhir bersama Christovel?

“Al, ayo pulang”
Alisa tersadar dari lamunannya dan tersenyum tipis, “ayo”

Di perjalanan, keduanya hanya terdiam sampai Alisa membuka suara.
“Chris, bisa kita ke tempat biasa?” tanya Alisa pelan
“Jam segini al? kenapa?” tanya balik Christovel sembari fokus menyetir mobil
“Ada hal yang ingin aku omongin sama kamu dan ini penting” jawab Alisa serius.

Christovel melirik kearah Alisa sebentar. Ada sesuatu yang memang disembunyikan Alisa dibalik raut wajah yang terlihat baik-baik saja.
“oke” Christovel sedikit menaikkan kecepatan mobilnya menuju ketempat yang diminta Alisa.

Rooftoop. Memang tempat ini terletak di lantai paling atas disalah satu café di Jakarta. Café sederhana yang bahkan pengunjungnya tak banyak. Namun tempat ini akan selalu menjadi tempat bersejarah bagi Alisa dan Christovel.
Karena di tempat ini, Alisa bisa menemukan seseorang yang menyayanginya dengan tulus.

“Jadi kamu mau bilang apa?”

Alisa menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.
“Hubungan kita gak bisa terus berlanjut” tutur Alisa.
Christovel menaikkan alisnya, “Maksud kamu?”
“Papa gak setuju sama hubungan kita” jawab Alisa cepat tanpa mau menatap wajah Christovel
“Kenapa?” Christovel memegang kedua bahu Alisa dan menggerakkannya agar perempuan itu menghadapnya.
“Apa karena perbedaan kita?”
Alisa memberanikan diri untuk menatap Christovel, “Iya” jawabnya
“Al tapi kita—”
“Hanya karena kita satu iman bukan berarti kita sama Chris!” potong Alisa “ kita berbeda!”
“Hanya karena kita berbeda gereja dan cara ibadah bukan berarti Tuhan kita beda kan?” bantah Christovel
“Chris…” Alisa tanpa sadar meneteskan air matanya. “Kalau urusannya udah tentang keyakinan, kita gak bisa melangkah terlalu jauh”

“Aku sayang sama kamu Al” Christovel menahan air matanya. “aku gak mungkin ninggalin kamu gitu aja”
“Kamu pikir aku gak? karena kamu aku bisa lebih mencintai Tuhan. Aku gak pernah lupa sama apa yang udah kamu lakuin untuk hidup aku Chris tapi kita..”
“Aku akan ikut kamu!” ujar Christovel dengan suara sedikit tinggi
“Aku akan ubah keyakinan aku, aku akan bicara sama kedua orangtua kamu, aku akan belajar cara ibadah agama kamu, dan”

PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Christovel. Alisa reflek melakukan itu lantaran dadanya sudah terasa sesak akan perdebatan ini.

“kamu yang ajarin aku untuk lebih cinta sama Tuhan tapi kamu juga yang mau ninggalin Tuhan?!” Alisa memekik.
“Jangan karena hubungan ini Tuhan kamu tinggalin Chris!”
“Kamu harus inget kamu punya orang tua dan keluarga yang sudah ngajarin kamu banyak hal baik dengan keyakinan yang kamu anut sekarang!”
Christovel hanya diam mendengar semua penuturan Alisa. Dirinya benar-benar tertampar atas semua realita mengenai perbedaan keyakinannya dengan Alisa.
Kenapa Tuhan mengijinkan dia mencintai perempuan ini jika sekarang semuanya harus berakhir?

“jadi kamu mau kita selesai?” lirih Christovel pelan. “udah sejauh ini al..”
“justru karena itu kita harus selesai. Tuhan gak mungkin biarin kita saling nyakitin hanya karena perbedaan kita”

“Al, boleh aku peluk kamu? Mungkin ini yang terakhir”
Christovel menarik Alisa ke dalam pelukannya dan menangis tanpa suara. Ya Tuhan ini berat sekali.
Alisa membalas pelukan itu. Ia tau Christovel sedang menangis sekarang, terasa sekali badan Christovel sedikit gemetar.

“Kita masih bisa berteman baik Chris… aku percaya kamu akan menemukan seseorang yang seiman yang jauh lebih baik”

Tuhan, untuk malam ini bisakah kau memperlambat waktu sekali saja? Karena besok mungkin aku sudah tidak memeluk orang yang sama lagi…

4 Tahun kemudian…
“Alisa! Turun nak ada tamu!”
Alisa menghela nafasnya sedikit jenuh. Ia benar-benar lagi pusing dengan laptopnya karena urusan kerjaan. Tapi ayahnya malah menyuruhnya turun perihal ada tamu. Mau gak mau Alisa harus menemui tamu itu terlebih dahulu yang entah siapa orangnya. Paling keluarga jauh berkunjung.

Sesampainya di bawah Alisa melihat seseorang menghadap kearah luar jendela. Alisa mengerutkan dahinya. Kenapa rasanya tak asing dengan tamu ini?

“hmm.. siapa?”
Mendengar suara Alisa orang itu berbalik.
DEG!
“Chris?”
Wajah itu… tatapan itu… semuanya masih sama. Dia Christovel. Seseorang yang dulu begitu berarti dalam hidupnya. Dan sekarang dia disini? ada apa?

“Kamu apa kabar?” tanya Christovel tersenyum. Ia berjalan mendekat kearah Alisa.
“Aku baik. Kamu sendiri ada apa kesini?”

Beberapa detik mereka saling menatap, hingga…
“Aku udah menemukan apa yang aku cari” Christovel menunjukkan sesuatu yang tergantung di lehernya. Sebuah kalung rosario.
“Chris kamu…”
“Dalam tiga tahun aku mencari apa yang sebenarnya aku butuhkan dalam hidup aku. Sampai akhirnya aku temukan jawabannya”
Bibir Alisa tersenyum bergetar menahan tangis.

“Aku selalu ingat perkataan kamu waktu itu bahwa aku gak boleh ninggalin Tuhan dan harus inget keluarga yang udah ngajarin aku hal baik tentang sebuah keyakinan”
“tapi mama aku bilang, aku masih bisa melayani Tuhan dengan caraku sendiri meski keyakinanku tidak sama seperti sebelumnya. Kata mama, agama tidak menjadi masalah yang terpenting aku harus selalu percaya sama Tuhan”

“Tuhan kabulin doa aku. Dia kasi aku kesempatan untu memperjuangkan orang yang aku cintai”
Tangan Christovel memegang pipi kanan Alisa. “Mulai sekarang setiap hari minggu kita bisa beribadah sama-sama tanpa jam dan tempat yang berbeda”
“Apa kamu mau nerima aku lagi?”

Tanpa sepatah kata pun, Alisa langsung memeluk lelaki itu erat. Melepaskan semua kerinduan yang selama ini ia pendam. Empat tahun bukanlah waktu yang mudah bagi Alisa untuk melupakan Christovel. Dalam hati ia selalu masih menyimpan harapan bahwa orang yang ia cintai akan kembali jika memang itu untuknya. Dan Tuhan sudah memberikan jawaban-Nya sekarang.

Well, Christovel telah berhasil menghancurkan “Tembok” besar itu.
Christovel melepaskan pelukan mereka lalu mencium wajah Alisa berkali-kali. Di kening, di pipi kiri dan kanan. Serindu itu Christovel pada wanitanya ini.

“Aku kangen banget!” Christovel mencubit kedua pipi Alisa gemas.
Alisa tertawa pelan. “Tapi sekarang udah terobati kan kangennya” ucap Alisa mengacak pelan rambut Christovel.

“By the way kita harus beritau hal ini ke papa”
Christovel terkekeh. “Gak perlu! Papa kamu udah tau kok. Setahun kemarin sebelum aku dibaptis, aku ketemu papa kamu di gereja. Aku udah jelasin semuanya and as you know, pastur yang baptis aku itu pastur Renald. Pastur yang pernah baptis kamu juga kan pas masih bayi”

Alisa memutar bola matanya. “dunia sempit sekali! jangan-jangan mama kamu ternyata temenan lagi sama pastur Reynald”
“maybe tapi semoga aja. Biar kita ntar nikah gak ribet” kode Christovel menahan tawa
“idih! Mentang-mentang kita udah gak ada perbedaan lagi langsung main ajak nikah aja”
“Ya gapapa kan? Kalau kita nikah selain aku bebas peluk dan cium kamu, aku bisa unboxing”
“CHRISTOVEL!”
“AHAHAHAHA”

Satu hal yang bisa diyakini dalam sebuah hubungan dalam hidup adalah, jika memang Tuhan mengizinkan seseorang menjadi milikmu, maka orang itu benar-benar akan menjadi milikmu.

Cerpen Karangan: Annisa Weking
Instagram: @annisaweking29

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 20 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Tembok merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjumpaan Yang Menyenangkan

Oleh:
Tak terasa tiga bulan sudah berlalu bagiku mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah baruku, SMA Katolik pancasila. Kebebasan lepas dari seragam putih biru masih kurasakan. Di sini aku telah

Selamat Natal Kasih (Part 1)

Oleh:
RAY dan KASIH berkenalan di sebuah acara pernikahan sahabat Kasih, yang juga merupakan keluarga Ray. Ray anak seorang yang sangat kaya sedangkan Kasih dari keluarga yang sederhana. Awalnya hubungan

Surat Cinta Untuk Tuhan

Oleh:
Cinta selalu membuatmu menunggu Dan kau harus membayarnya dengan sebuah penantian karena itu setimpal dengan sebuah perasaan Yang mana selalu membiusmu untuk tetap menunggu Frans tidak merasa bosan ketika

Aku, Kau Dan Dia

Oleh:
“Kring, kring, kring..” alarm berbunyi. Setiap harinya dia berusaha membangunkanku, dan mungkin hari ini agak sedikit lebih sulit. Sambil malas malasan ku raih alarm di atas meja samping tempat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *