Beberapa Hari Bersama Alam (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Liburan, Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 24 March 2018

Pagi itu tidak seperti biasanya, pagi yang selalu sibuk dengan rutinitas kerja yang sangat membosankan. Pagi itu aku awali memulai perjalanan untuk menikmati keindahan alam bersama kesendirian, berdialog dengan sunyinya malam yang, bertabur bintang, mendengarkan suara air hujan yang jatuh membasahi setiap jejak langkah kehidupan. Rasanya indah dalam bayangku.

Setelah shalat subuh dan sarapan pagi, aku meriksa kembali barang bawaan yang telah disiapkan di malam hari sebelumnya. setelah itu, aku berpamitan kepada kedua orang tuaku, untuk pergi ke sebuah desa di sebelah timur kota Sukabumi.

Untuk sampai ke kota Sukabumi, aku menggunakan alat transportasi jenis bis antar kota. Sesampainya di terminal bus Leuwi panjang Bandung yang, sebelumnya diantarkan oleh seorang teman dari kediamanku. sampai terminal, Segeralah aku menaiki bus tujuanku. dengan membayar sekitar Rp 50.000,- aku duduk di barisan paling belakang, karena bus sudah mulai sesak dan penuh.

Perjalanan banyak hal yang biasa saja, sehingga aku banyak tidur selama di perjalanan. Sekitar pukul 10.00 WIB, aku sampai di kota Sukabumi, memang perjalan itu terasa sangat melelahkan karena, memakan waktu sekitar 4,5 jam di dalam bus. Sehingga, kepala ini terasa pusing dan agak mual.

“Jang mau ke mana?” ucap tukang ojek separuh baya itu, “ini pak, saya mau ke desa pasir tugu, apakah bapak tahu? kalau tahu tolong antarkan saya”. Dengan tarif yang agak murah, tukang ojek tersebut mengamini keinginaku untuk sampai di desa pasir tugu.

Perjalanan tidak membosankan, bapak yang sering disebut “kang Maman”, memberitahukan akan keindahan desa yang berada di kecamatan Kadu dampit tersebut, pak maman menceritakan tentang, air terjun “curug sawer”, danau bernama “situ gunung”, yang penuh akan keindahan dan legenda tersebut. serta masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai adat dan istiadatnya.

45 menit pun berlalu. Sampailah saya, di desa yang pertama tahu, setelah browsing beberapa waktu lalu, tentang surga tersembunyi di kota Sukabumi. Udara dingin menyambut kedatanganku. sampai-sampai kemeja flanel tebal pun tidak bisa menahanya. “Terima kasih pak, telah mengantarkan saya ke sini”. sambil menyodorkan uang atas tarif yang
pak Maman sebutkan tadi. “sami-sami jang, kalau mau ke desa tersebut, ujang harus berjalan melewati jalan itu”. Sambil telunjuknya mengarahkan kepada jalan setapak yang, tepat berada selokan kecil yang airnya teramat sangat jernih. “iya pak, terima kasih”.

Segeralah kaki ini menyusuri setapak demi setapak jalan tanah yang di tunjukan pak maman tadi. Sungguh indah perjalanan ini karena, disuguhi pemandangan alam yang menyejukan mata. Terlihat menjulang tinggi, gunung Gede dan Pangrango, sungai mengalir seakan berbisik “inilah ciptaan keindahan tuhan yang harus kau syukuri”. Trek jalan terjal yang di sisi pinggirnya adalah jurang, tepat di dasar jurangnya adalah sungai, jadi aku harus hati-hati melangkahkan kaki yang sudah mulai lelah ini. Aku ikuti terus petunjuk arah jalan yang di tempelkan pada pohon damar berusia ratusan tahun itu.

Selang waktu beberapa lama akhirnya aku sampai di sebuah desa bernama Pasir tugu. Rumah-rumah sederhana sangatlah indah karena, berpadu dengan kandang ternak dan kolam ikan milik warga. Kedatanganku disambut ramah oleh mereka. Senyum dan sapa diberikan ketika aku berpapasan dengan warga, meski aku belum mengenal mereka. Kaki ini dihentikan langkahnya setelah, melihat hamparan luas rumput hijau dan pohon pinus yang berderet memanjang. Nampaknya tempat itu cocok membangun kemah untuk, tempat tinggal sementara.

Tenda yang di bawa di tas carrier, tidak lama pun saya dirikan. Perut pun terasa lapar, sehingga bekal yang dibawa tadi habis di makan dengan beberapa suap saja. Tiba-tiba datang seorang pemuda berpakaian khas sunda, dia bertanya akan izin untuk mendirikan tenda di tempat itu. “Kang punteun, apakah akang sudah mempunyai izin mendirikan tenda di tempat ini?”. Dengan senyum ramahnya pemuda misterius itu bertanya. “maaf kang, saya belum tahu akan harus izin berkemah di tempat ini”. Pemuda itu menjelaskan bahwa, tempat tersebut adalah tempat berkemah yang biasa dijadikan tempat camp untuk menjelajah desa pasir tugu oleh para wisatawan. Tapi tuturnya tahun ini selalu sepi, dikarenakan wisatawan lebih suka menyewa villa yang dibangun baru ini, di dekat jalan raya penghubung desa dan, jalan raya.

Diajaklah aku kepada kepala desa setempat untuk mengisi surat perizinan yang tidak terlalu rumit buatku. Kepala desa yang baik hati tersebut, menceritakan akan penampakan seekor “Macan tutul jawa” yang turun ke arah tempat kemah tadi, beberapa hari yang lalu. Namun cerita pak kades pun tak membuat aku takut akan berkemah di sana, karena aku tidak niat mengganggu jadi, aman saja pikirku. setelah itu aku kembali ke tempat perkemahan tadi.

Resleting tenda pun aku kunci dengan gembok karena, aku akan menjelajah menuju curug yang, menjadi salah satu spot indah desa pasir tugu, Dengan menyusuri trek jalan tanah berbatu. Memang perlu tenaga ekstra, karena trek yang tidak mudah di lalui. Akan tetapi perjalanan itu dibayar dengan keindahan hutan hujan alami yang langsung berada di kaki gunung Gede dan Pangrango.

30 menit berlalu, sampailah di air terjun yang ketinggiannya kira-kira 25 meter itu. Dengan membayar karcis masuk sebesar Rp 15.000,- aku puas sekali dengan panorama alam indah, ciptaan sang ilahi. pengunjung tidak terlalu ramai, saking sedikitnya bisa dihitung dengan hitungan jari saja. “Brrrr” setelah air menyentuh kaki ini, rasanya dingin seperti air es. Aku tarik nafas dalam-dalam, dan hembuskan perlahan, “hmmmmm”, ini lah ketenangan yang selama ini aku impikan, dekat dengan alam, menikmati anugrah yang di berikan sang pencipta, tidak hentinya mulut ini bersyukur kepadanya.

Melihat pengunjung lain dengan senangnya berenang di tepian air terjun, Rasanya aku ingin melompat, berlari dan berteriak “aku adalahhh burungg yang ingin terbang bebas di langit sore” sembari tubuh ini menghempas air terjun yang jernih dan dingin itu. Akan tetapi aku tidak membawa baju pengganti karena, aku lupa membawanya di tenda tadi. Jadi aku hanya memasukan kaki ini ke dalam air yang mengalir dari air terjun ke sungai yang tidak dalam tapi lumayan deras. waktu tidak terasa sudah hampir gelap. aku putuskan untuk kembali ke perkemahan untuk istirahat. Sebelum pulang aku membeli kayu bakar yang ada di warung, sekitar air terjun.

Di perjalanan kembali ke tenda, aku hanya ditemani langit jingga, dan suara burung yang ingin kembali ke sarangnya. Terasa puitis sekali ketika keadaan itu, diimbangi dengan, lantunan lagu “Ibu pertiwi” dari suaraku yang agak fals itu.

Terlihat dari kejauhan ternyata di sebelah tendaku sudah ada yang mendirikan tenda baru. Ternyata tenda itu milik seorang mahasiswi seumuranku, yang bernama Rinjani, namun dia tidak sendirian, dia ditemani temannya yang bernama Sarah dan Aldo. “Sendirian aja mas?”, tutur wanita manis berkerudung hijau tua itu, dia adalah Rinjani. “iya nih, karena kawan yang lainnya sibuk kerja sama kuliah”, jawab singkatku.

Waktu shalat maghrib pun datang, kami pun bersiap-siap untuk menunaikan shalat maghrib. setelah mengambil air wudhu di pancuran yang tidak jauh keberadaanya dari tenda. kami menunaikan shalat maghrib berjamaah di alam terbuka ditemani dengan, matahari yang mulai menghilang yang menyisakan keheningan dan suara jangkrik yang merdu, hal itu menambah khusunya shalat kami.

Akhirnya kami putuskan untuk memasak bersama. Setelah logistik makanan masing-masing di kumpulkan, Rinjani dan Sarah mulai memasak, di atas api kompor portable yang mereka bawa. Sedangkan aku dan Aldo sibuk dengan api unggun yang kayu bakarnya aku beli tadi. “Akhirnya mateng juga nih, ayo kita makan malam”. ucap Rinjani dibarengi ketawa yang cukup khas yang, mengingatkanku kepada seseorang. “Ayo makan! udah laper nih gua dari tadi, ayooo serbu!”. sembari tangan Aldo tak hentinya membagikan nasi kepada kami. “Eh, lauknya seadanya yah, maaf juga kalau makanannya kurang enak, maklum amatiran hehe”. tutur Sarah yang ternyata adalah pacarnya Aldo. Kami berempat makan malam dengan lahap dan sangat kenyang.

Cerpen Karangan: Rian andrian
Facebook: Ruzadchaos44[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Beberapa Hari Bersama Alam (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Liburanku Bersama Tenda

Oleh:
Pagi yang cerah sekali. Hari ini aku dan teman-temanku libur kenaikan kelas, jadinya liburnya cukup panjang, aku dan teman-temanku pagi ini akan mengisi liburan dengan membuat tenda di halaman

Liburan ke Solo

Oleh:
Halo, namaku Fanny. Aku tinggal di Jakarta. Aku anak tunggal, dan aku mempunyai rambut keriting lebat atau disebut juga “Kribo”. Ayah dan ibuku mengatakan bahwa itu anugrah. Padahal, di

Dark Rain (Part 2)

Oleh:
Matahari sudah mulai menunjukkan sinarnya, anak anak pecinta alam itu tampak sibuk membersihkan tubuh masing masing di aliran anak sungai dekat mereka mendirikan tenda. yang wanita mandi dengan kain

Liburan di Rumah Kakek

Oleh:
Pagi ini Shelly terlihat sedang packing-packing. Hendak ke mana dia? Ooh, ternyata dia akan pergi ke kampungnya dan menginap di rumah kakeknya. Libur semester ini agak panjang, jadi dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *