Hari Raya Galungan dan Kuningan


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 29 May 2013

Hai teman-teman semua selamat pagi. Di hari ini Aku akan bercerita kepada kalian tentang pengalamanku, pada waktu libur Hari Raya Galungan dan Kuningan. Mungkin ceritaku ini tidak terlalu menarik. Meski demikian, mudahan-mudahan dengan ceritaku ini kalian semua bisa terhibur.

Pada saat merayakan Hari Raya Galungan Aku beserta keluarga ikut melaksanakan persembahyang bersama di Pura. Dengan menggunakan pakaian adat bali, dan membawa sebuah canang untuk di persembahkan kepada Hyang Widhi.

Persembahyangan yang dilaksanakan sangat sakral sekali. Di saat mulai sembahyang Aku begitu khusyuk berdoa untuk memuja Hyang Widhi. Aku mengikuti jalannya upacara tersebut sampai benar-benar selesai. Kemudian esok harinya, saat Umanis Galungan Aku dan adik beserta orang tuaku, akan berkunjung kerumah nenek yang tinggal di Seririt. Aku berangkat ke sana dari mulai pukul 10:00 WITA, dengan menggunakan sepeda motor. Sesampainya aku di Desa Busungbiu, tiba-tiba di jalan dekat Pura Desa terjadi kemacetan. Jalan tersebut di penuhi pesatnya kendaraan bermotor yang ingin berpergian.

Banyak kendaraan yang mengantri di tengah tengah jalan, sampai-sampai tidak ada celah jalan sedikit pun untuk ku lalui. Oleh karena itu, Aku berhenti sejenak di sebelah kiri jalan. Sedangkan orangtuaku sudah duluan melewati jalan tersebut, lain halnya denganku.
Dalam hati aku berkata “Aduh, sial banget sih nasibku, aku di tinggalin deh jadinya”.

Kemacetan itu membuatku harus menunggu beberapa menit lagi, sampai-sampai Aku merasa geregetan dengan situasi seperti ini, yang membikin Aku kesel dan tidak sabar untuk menunggu.
“Uuh membosankan sekali, sudah ribut, capek, panes lagi. Aduuh kayak di Jakarta saja, lama banget sih selesai nya”.
Ingin sekali rasanya Aku mencari jalan pintas supaya cepat sampai tujuan. Tapi kayaknya itu tidak mungkin, karena Aku telah terapit oleh beberapa kendaraan lainnya. Selama 15 menit Aku menunggu, akhirya arus lalu lintas kembali menjadi lancar dan aku pun sudah bisa melewati jalan tersebut. Tak kusangka saat-saat seperti itu akhirnya bisa juga terpecahkan. Aku pun bisa merasa lega.

Mulailah aku melanjutkan perjalanan lagi. Ternyata baru sampai di tengah-tengah perjalanan, orang tua menungguku di samping kiri jalan di bawah pepohonan. Aku telah mengira kalau orang tuaku sudah duluan sampai di rumah nenek, Ternyata tidak, itu cuma pikiranku saja “Hehehe”. Akhirnya Aku dan adik berserta orang tuaku bisa bersama-sama lagi melanjutkan perjalanan. Sambil mengendarai sepeda motor, aku bernyayi-nyanyi dengan riangnya.
“La… lala.. lala… lala”.
Karena asyknya aku bernyanyi hingga tidak terasa sudah sampai di rumah nenek.
“Hore… yeyeye… lalala…”.

Sesampainya di rumah nenek, Aku di ajak ngobrol dengan paman dan nenekku. Selanjutnya Aku bersama Diah berbincang- bincang di dalam kamar, sambil menonton film horor kesukaanku. Tak lama kemudian Aku merasa bosan, sehingga Aku megajak Dian dan adikku belanja ke Hardy’s. Meski jaraknya dekat dari rumah nenek, Aku kesana tidak berjalan kaki. Tetapi menggunakan sepeda motor, karena di siang hari udara di sana sangat panas sekali. Setelah aku pulang dari hardy’s, Aku diajak sama ibu berkunjung ke rumah bibi. Di sana aku tidak terlalu lama hanya sebentar saja.

Selanjutnya pulang kembali ke rumah nenek. Setelah Aku tiba di rumah nenek, Aku merasa sangat lelah sekali. Sehingga Aku beristirahat beberapa jam. Kemudian di sore hari, orang tuaku mengajak Aku dan Diah lancong ke pantai Umeanyar. Setelah Aku tiba di sana, Aku melihat banyak teman-teman dari SMANSAB datang ke pantai. Di sana Aku duduk-duduk sebentar di bawah pohon yang rindang sambil melihat-lihat orang yang sedang berenang dan bermain. Suasana di sana sangat ramai sekali. Beberapa menit kemudian, Aku ingin mengajak diah jalan-jalan di sekitar pantai.
“Hei… Diah kita jalan-jalan ke sana yuk… Sambil cuci mata dikit, hehehe…”.
Diah pun setuju “Ya kk yuk kita jalan-jalan sekarang!”.

Akhirnya Aku dan Diah jalan-jalan di atas pasir sambil ngobrol dan menikmati udara di pantai.
“Wow… ternyata udara di sini sejuk banget ya”.
“Iya-iyalah, di pantai gitu lo”.
Sesudah jalan-jalan, Aku melihat semakin banyaknya anak kecil yang sedang berenang dengan asyiknya. Sehingga Aku merasa tertarik ingin mandi, tapi dalam hati aku merasa ragu-ragu.
“Mandi, enggak, mandi, enggak. Sebenarnya sih pengen mandi tapi kalau Aku mandi nanti pulangnya pakek apa, kan gak bawa pakaian ganti. Aduh… jadi binggung deh”.
Oleh sebab itu, Aku ingin mengajak Diah mandi dengan sedikit merayunya, tetapi diah menolak ajakanku.
“Diah kita mandi yuk, di jamin pasti seru”.
“Buiih, gak mau ah kak. Maaf yak kk Diah lagi males mandi di pantai”.
“Waduh, hari gini males mandi di pantai, capek deh. Ayolah… Diah kapan lagi sih kita dapat mandi di sini, kalau tidak sekarang. Mumpung gratis nih”.
Akhirnya tawaranku di terima juga tetapi dengan menggunakan syarat.
“Ya deh, Diah ikut mandi sekarang. Tetapi sebelum kita mandi bersama, contohin dulu gaya mandinya! Baru Diah mau mandi”.
Aku pun menjawab ucapannya dengan sedikit menyindir, agar diah tidak bisa beralasan lagi dan tidak mengulur-ulur waktu.
“Emiih… katanya jago renang. Masak mandi saja harus di kasi contoh terlebih dahulu. Malu donk dah gede di kalahin sama anak kecil. Pakai isi syarat-syarat segala lagi, gak asyik. Bilang saja kalau gak mau”.
Diah mencoba meyakinkanku sekali lagi.
“Tentu saja diah mau kak, kakak harus percaya sama diah. Tenang saja kak, Diah gak bakalan bohong. Tapi kak harus kasi contoh terlebih dahulu!”.
Aku pun mempercayai ucapannya. “Oke lah kalau begitu”.
Maka dari itu, aku berjalan secara pelan-pelan menuju bibir pantai. Tiba- tiba Diah mendorongku dari belakang dan Aku pun jatuh ke air.
“Biiuuur…”. Suara deburan ombak menerpaku.
Seketika seluruh tubuhku menjadi basah dan Aku di tertawai oleh Diah.
“Hahaha, kasian deh lho, kakak tertipu. Emang enak di kerjain, sorry ya…”.
Aku langsung menanggapi ucapannya, dengan memperlihatkan raut wajah seperti orang bercanda.
“Aduuh kamseupay banget sih lho, gak lucu tau. Dasar curang.”
Diah pun secara langsung menanggapi ucapanku.
“Hehehe… Up to you, yang penting baju Diah gak basah”.
Suara ucapannya terdengar solah-olah lebay, Aku pun sedikit geregetan dengan Diah. Akhinya Aku mengejar diah sambil tarik-tarikan di atas pasir yang gembur. Untungnya Aku tidak jatuh. Aku sudah tidak kuat lagi mengejrnya, lagi pula Aku malu di lihat banyak orang. Sehingga aku kembali lagi berenang tanpa di temani.

Aku cuma di tonton saja sama diah. Pada akhirnya Aku baru merasakan, kalau mandi di pantai terasa sungguh mengasykkan sekali dan membikin Aku semakin ketagihan. Walaupun Aku tadi di bohongin sama Diah, tapi Aku tidak marah sama sekali kepadanya. Bagiku itu semua ku anggap sebagai bercandaan saja, karena satu niat Aku di liburan hari ini yang penting Aku merasa senang. Hari pun semakin sore, sehingga air di pantai semakin dingin. Aku pun selesai mandi. Aku dan diah beserta orang tuaku sudah bersiap-siap akan meniggalkan pantai, dan akhirnya Aku pulang ke rumah nenek dengan menggunakan pakaian yang basah.

Setelah tiba di rumah nenek, Aku segera mandi menggunakan air tawar dan ganti pakaian. Akhirnya menjelang malam hari, Aku dan adik beserta orang tuaku pulang ke rumah, dan tiba di rumah dengan selamat.

Siang malam silih berganti dengan cepatnya maka, tibalah saatnya Hari Raya Kuningan. Aku dan keluarga ikut merayakan hari suci ini sama seperti saat Hari Raya Galungan. Di siang hari, sesudah selesai sembahyang, Aku dan Ayah pergi ke pantai Lovina dengan mengendarai sepeda motor. Mungkin perjalanan yang di tempuh sangat jauh. Beberapa jam kemudian akhirnya tibalah di pantai Lovina.

Setelah Aku tiba disana, Aku duduk-duduk sebentar dan berteduh di bawah pohon besar sambil melihat-lihat situasi di pantai. suasana pantai sangat ramai sekali, banyak warga masyarakat setempat berkunjung ke pantai. Selain itu, Aku juga melihat banyak turis atau wisatawan asing sedang berjemur di atas pasir. Tak lama kemudian Aku berjalan-jalan sendirian di bibir-bibir pantai, sambil melihat-lihat perahu-perahu kecil yang sedang berlayar di tengah lautan dan dari jauh tampak pemandangan yang sangat indah sekali. Deburan ombak yang berguling- guling seakan-akan mengajaku untuk berenang di tengah-tengah lautan. Setelah Aku merasa puas menikmati keindahan pantai. Aku langsung datang ke tempat Ayah berada.

Saat ombak mulai surut, Aku di ajak mandi tetapi Aku menolaknya. “Maaf ayah Aku tidak ikut mandi, soalnya Aku tidak bawa pakaian ganti. Lagi pula airnya dingin sekali, Aku takut nanti kedinginan”.
Sehingga Ayah menyuruhku agar menunggu sebentar.
“Ya sudahlah kalau begitu, duduk saja sana dulu!.”
“Iya, ayah “.

Akhirnya Aku menuggu Ayah sampai selesai mandi. Tak terasa hari pun semakin sore, matahari terbenam di ufuk Timur. Aku dan ayah bergegas meninggalkan pantai dan melanjutkan pejalanan pulang ke rumah. Tak ku sangka liburan kali ini sungguh Mengesankan sekali. Selain dapat melaksanakan persembahyangan di Hari Raya Galungan dan Kuningan, sekaligus Aku juga dapat berekreasi ke suatu tempat yang indah. Itulah pengalamanku semasih remaja yang tak pernah Aku lupakan dalam hidupku.

THE END

Cerpen Karangan: Luh Mirayani
Facebook: Irha Narayana
Nama: Luh Mirayani
Alamat: Desa Pelapuan, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng
Nama Sekolah: SMA Negeri 1 Busungbiu
Jurusan: IPS
Telah LULUS SMA tahun 2013.

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Budaya Cerpen Liburan Cerpen Pengalaman Pribadi

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One Response to “Hari Raya Galungan dan Kuningan”

  1. dinda says:

    ha temen saya ina?

Leave a Reply