Kisah Tak Berujung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Liburan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 August 2017

Bingung. Itulah yang aku rasakan hingga saat ini. Bagaimana tidak, seseorang yang bisa dikatakan cukup terkenal di sekolah baru saja menyapaku. Namanya Sergio. Dia termasuk salah satu anggota ekstrakurikuler berprestasi di sekolahku. Terkadang orang banyak mengatakan bahwa dia memiliki sebuah karisma yang istimewa. Tetapi tidak menurutku. Aku fikir dia biasa saja, bahkan sering bertingkah aneh sehingga membuatku jengkel.
Tetapi pendapatku berbanding terbalik dengan kenyataan. Kisah ini berawal sejak sekolahku mengadakan Study Tour ke Ibu Kota.

“Baiklah anak-anak seperti yang sudah kalian ketahui kita akan berangkat dari sekolah pukul 21.00 malam nanti. Jangan membawa barang-barang yang sekiranya tidak penting dan akan membahayakan keselamatan kalian di sana. Juga diharapkan kepada kalian untuk datang tepat waktu agar kita dapat solat subuh bersama di Masjid Istiqlal.” itulah himbauan dari panitia penyelenggara.

Waktu menunjukkan pukul 20.45 malam. Di luar hujan sangat deras. Aku menunggu pesan dari Vio. Dia sahabatku sedari SD. Berhubung kita satu jok di dalam bus, jadi kita merencanakan untuk berangkat bersama ke sekolah.
“Nai, aku udah ada di jalan. Kamu buruan ke depan.” kubaca pesan yang masuk dari Vio.
Tanpa menunggu lama. Aku diantar Mama dan Papa menghampiri Vio di depan.
“Om, Tante.” ujar Vio sambil tersenyum.
“Ayo Nai masuk.” lanjutnya.

Sewaktu di dalam mobil aku banyak terdiam karena aku merasa canggung dengan Ayah dan Ibu Vio, yang pada kenyataannya mereka memang sudah mengenalku sedari dulu. Tetapi Vio malah senang bergurau sehingga membuat suasana menjadi hangat.

Lima belas menit kemudian. Kita sudah sampai di sekolah. Segeralah kami mengambil kartu identitas siswa. Kartu ini lebih menyerupai kartu ATM.
Waktu menunjukkan pukul 21.35. Aku dan Vio sudah berada di dalam bus. Vio terlihat sangat kantuk segeralah dia tidur.

“Vi.. Vio.. bangun! Udah subuh,” aku mencoba membangunkan Vio.
“Iiiiiiih Vio bangun!! Nanti kesiangan solatnya.” lanjutku.
“Haah! Udah subuh?” Vio terbangun lalu pergi dan meninggalkan alas kakinya.
“Vi sandalnya!!.” teriakku.

Setelah mendinginkan kepala dan menenangkan hati. Kami melanjutkan perjalanan menuju wahana taman air yang terkenal di Ibu Kota. Berhubung kami datang terlalu pagi, sehingga kami harus sabar menunggu wahana taman air tersebut dapat dipastikan sudah buka.

Tempat yang akan kami kunjungi selanjutnya adalah Dunia Fantasi atau yang sering disebut DUFAN. Untuk dapat sampai di sana, kami berjalan kaki yang memakan waktu kurang lebih 15 menit. Itu dikarenakan letak tempatnya cukup dekat dari wahana taman air yang baru saja kami kunjungi.

Tepat pukul 10.00 pagi kami sampai di DUFAN. Aku, Vio dan ketiga temanku Tsafa, Helma dan Delva menjadikan Kora-kora sebagai wahana permainan pertama yang kami naiki.
Kami duduk di barisan kedua paling ujung, dan aku menempati posisi tengah di antara kami berlima. Permainan sudah mulai diayunkan, dan sekarang kami sudah seperti terbang saja.
“Aduuuuh.. ya Allah ya Allah.” Vio bergumam sambil memejamkan mata dan menundukan kepalanya.
“Atossss! Atossss!! Kepala Ema puyeeng aduuhh atosss berhenti.” Helma berteriak dengan logat Sundanya yang begitu kental.
Sebenarnya, aku ingin sekali tertawa. Tetapi aku tidak sanggup melihat wajah dan tingkah lucu mereka. Karena aku pun sama seperti mereka saat itu.
“Huaa! Maamm… maahh maaa.. maaahh!!” aku berteriak dengan sedikit terbata-bata.
Setelah kurang lebih tiga kali ayunan.

“Akhirnyaaaa.. berhenti juga. Aduuh kepala Ema puyeng. Jantung Ema juga tadi kayak yang mau copot gitu,” ujar Helma ketika sudah meninggalkan wahana permainan Kora-kora.
“Hahahaha duuh Ema kamu ada-ada aja deh.” kataku.
“Haha Ema Ema.” timpal Delva.
“Eh ngomong-ngomong kamu kenapa diem aja Vi?” tanya Tsafa.
“Aku masuk angin deh kayaknya.” jawab Vio.
“Hahaha baru aja naik permainan yang pertama udah masuk angin aja kamu ini.” ujarku.
“Ya udah yuu kita lanjutin aja,” lanjutku.
“Dih Nai, kamu emang gak pusing, mual, atau lemes gitu? Maen lanjut-lanjut aja,” timpal Vio.
“Alhamdulillah enggak. Lagi pula kita ke sini kan emang mau main. Jadi ayoo.” jawabku sederhana.
“Bentar! Aku beli minum dulu.” ujar Vio.

Lima menit kemudian. Kami sudah berada di depan Villa Victoria atau yang sering disebut Rumah Miring. Villa Victoria sangat unik dan menarik. Ditambah dengan nuansa tradisional yang khas.
Ketika kami masuk ke dalam. Suasana terasa mencekam. Tetapi sesaat setelah itu.
“Aaaaaaaa!!!” suara teriakkan tiba-tiba muncul dari belakang.
“Aaw,” aku meringis kesakitan.
“Aduh ada apaan sih di belakang. Berisik amat.” ketus Vio yang sedari tadi menggenggam erat tanganku.

Ketika kami sudah keluar dari Villa Victoria Vio terlihat benar-benar menghawatirkan keadaanku.
“Kamu gak papa kan tadi?” tanya Vio.
“Enggak kok aku baik-baik aja. Cuman tadi waktu ada yang teriak di belakang terus ada yang dorong-dorong, dan emang tangganya juga miring sama licin juga jadi kaki aku kepeleset gitu. Tapi itu gak jadi masalah kok. Buktinya aku masih bisa jalan sekarang.” semangatku mulai bertambah.
“Oh ya udah kalo kayak gitu, mending kita duduk dulu yuk! Pegel nih kaki,” ujar Delva.
“Kita duduk di taman itu aja yuk!” ajak Helma.
“Kalian duluan aja, aku mau beli makanan dulu. Nanti aku nyusul sama Safa. Iya kan Fa?” ujarku meyakinkan Vio, Delva dan Hilma.
Tsafa tersenyum seolah mengiyakan.

Aku dan Tsafa sudah berada di Toko Ice Cream. Hujan turun cukup deras.
“Nai, kamu yakin mau balik nyusulin mereka sekarang?” tanya Tsafa.
“Ya ayo aja.” ujarku.
“Kalo gitu ayo Nai mungpung hujannya belum gede!” ajak Tsafa.

Saat aku dan Tsafa kembali ke taman. Delva, Vio dan Hilma tidak ada. Akhirnya aku dan Tsafa memutuskan untuk berteduh di salah satu tempat bermain basket.
Kami selesai menghabiskan ice cream masing-masing. Tiba-tiba Tsafa malah mengajakku bermain basket.
“Nai sambil nunggu hujannya reda, mending kita main basket aja yuk!” ajak Tsafa.
“Yauda deh ayo. Tapi sampe hujannya reda ya?” aku memastikan.
Tsafa tersenyum dan mengiyakan.

Setelah hujan berhenti kami kembali mencari Delva, Vio dan Helma. Ternyata mereka juga sedang mencari kita berdua. Dan kami bertemu tepat di depan Rumah Jail atau Rumah Kaca, lalu kami memutuskan untuk masuk ke dalamnya.
“Heey! Kalian berdua tuh yah bikin kita khawatir aja.” ujar Vio dengan wajah khawatir.
“Kalian tadi ke mana aja sih? Kita nungguin. Terus kita telepon ke nomor Naila malah low bat. Kita tuh khawatir tau.” timpal Delva.
“Maaf. Tadi pas kita mau balik nyusulin kalian malah hujan. Jadi kita nyari tempat berteduh dulu. Maafin kita udah bikin kalian khawatir.” ujarku merasa benar-benar bersalah.
“Iya udah, yang penting kan kita udah ketemu. Mending kita lanjutin aja mainnya, belum puas kan tadi mainnya?” kata Tsafa sedikit menghangatkan suasana.
“Eh itu Rumah Jail kan? Kita masuk ke sana yuk! Siapa tau aja seru,” ajak Helma.

Kami masuk ke dalam Rumah Jail atau Rumah Kaca tersebut hanya dengan menunjukkan kartu identitas kami langsung bisa masuk.
“Ya ampun banyak banget kacanya,” ujar Delva.
“Iya iih lampunya jugaa kerlap-kerlip mulu. Pusing liatnya.” sahut Helma.
“Ini apa maksudnya? Jadi disebut Rumah Jail tuh karena mau jailin kita dengan banyaknya kaca?” lanjut Helma.
“Eh gaiss tadi aku sempet baca di depan. Jadi kita harus nyari pintu keluar. Hanya ada satu pintu keluar dan itu harus kita cari supaya kita bisa keluar dari Rumah Jail ini.,” timpalku.

Aku benar-benar fokus mencari satu pintu keluar tersebut. Tanpa aku sadari, aku sedang mengikuti seseorang yang ada di depanku. Kemudian, seseorang tersebut berbalik badan setelah mengetahui bahwa pintu di depan bukanlah pintu keluar, sontak aku terkejut bukan kepalang. Karena ternyata seseorang itu adalah Sergio. Dia sempat melihatku sebelum aku pergi dan kembali menghampiri teman-temanku.

“Aduh..” keluh Vio.
“Kamu kenapa Nai kayak yang dikejar apa aja,” lanjut Vio.
“Hehe..” aku hanya tertawa kecil.
“Dari pada kita nyari tuh pintu keluar tapi gak ketemu-ketemu. Mending kita ngikutin rombongan yang di depan aja, siapa tau berhasil nemuin jalan keluarnya.” ajak Delva.
Tanpa berfikir panjang. Kami pun menyetujui apa yang dikatakan Delva.

“Ternyata bakalan keluar dari pintu itu juga.” gumamku.
Baru saja aku melangkahkan kaki dua atau tiga langkah. Tiba-tiba seseorang dengan kaos dan topi yang seperti tidak asing menghampirku dari ruangan sebelah Rumah Jail. Lalu dia menyapaku.
Seseorang itu ialah Sergio.
“E..e.. Naila kamu udah bisa keluar?” tanya Sergio.
“Emm.. udah. Gio sendiri bisa keluar lewat mana? Pintu darurat yaa?” aku rasa ini pertanyaan paling konyol yang aku lontarkan.
“Enggak. Enggak kok. Lewat pintu keluar yang barusan kamu lewatin.” jawab Sergio terlihat gugup.
“Oh,” jawabku singkat.

“Woyy! Gio buruaaaan!!” terdengar teriakan teman-teman Sergio dari ujung sana.
“E..e.. syukur kalo udah keluar. Aku duluan gak papa yaa?.” ujarnya sambil tersenyum.
Entah itu pertanyaan atau pernyataan. Karena sedari tadi aku hanya diam dan tersenyum simpul untuk membalasnya.
Ketika berjalan pun masih sempat-sempatnya dia melihat ke belakang.
“aaaaaaaa” sontak isi hatiku mulai berteriak. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dan aku gugup. Benar-benar gugup.
“Cie cie ditanya tuh samaa..” belum sempat Vio melanjutkan ledekannya, aku sudah lebih dulu menutup mulutnya.

Kami rasa sudah cukup puas bermain di DUFAN. Tempat terakhir yang kami kunjungi di Ibu Kota adalah Pantai Ancol. Di sana kami sebentar, hanya untuk menikmati keindahan sunset di sore hari.

Satu jam berlalu. Kini kami sudah berada di dalam bus untuk pulang. Vio sudah tertidur. Mungkin karena dia terlalu kelelahan berjalan.
“Semoga pagimu melupakan soal tadi siang.” gumamku ketika melihat Vio tertidur pulas.

Esok harinya. Aku bertemu Sergio di lapangan sekolah. Dia hanya tersenyum seolah tidak pernah berkata padaku lagi. Dan kita hanya teman biasa.

Cerpen Karangan: Nunung Nurhayati
Facebook: Nunung Nurhayati
Namaku Nunung Nurhayati. Aku anak pertama dari 2 bersaudara. Saat ini aku duduk di kelas IX, dan usiaku saat ini 15 tahun.
Terima kasih.

Cerpen Kisah Tak Berujung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Eccedentesiast

Oleh:
Eccedentesiast. Itulah reina. Gadis yang selalu menyembunyikan semua masalahnya dibalik senyumannya. Banyak hal yang terjadi di hidupnya namun kini masalahnya tak dapat lagi ditutupi oleh sebuah senyuman. “Reina…” Panggil

Hujan Kemarin

Oleh:
Matahari bersinar malu-malu di balik awan kelabu. Aku hanya bisa menarik napas panjang melihat matahari yang tak sepenuhnya akan bersinar terang hari ini. Dengan langkah gontai aku menuju kamar

Hanya Sebuah Harapan

Oleh:
Sekolah, 9 april 2013 “karisma, kira kira besok mau ngado apa ya buat si vian?” tanya ku “Mmm.. memang besok ada apaan li? vian ultah?” karisma tanya balik “iya

Namanya Safhira

Oleh:
Bel pulang sekolah telah lama berdering. Kelas-kelas telah mulai kosong. Banyak siswa telah pulang, tapi tidak denganku. “Kamu belum pulang Put?” suara Anita yang menggugahku dari lamunan. “Masih nunggu

Anak Petani Masuk Akmil

Oleh:
Menjadi abdi Negara adalah impianku, sejak kecil aku bercita-cita ingin menjadi tentara. Namun apakah menjadi tentara cocok untuk seorang Suberta Mahesa, sebenarnya ragu dengan mimpiku yang terlalu tinggi ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *