Kisah Yang Terangkai Dalam Gerbong

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Liburan
Lolos moderasi pada: 14 October 2015

Liburan tanggal merah, 18 April 2014. Pukul 9 pagi di Stasiun Mojokerto.
Jarang-jarang, bahkan hampir gak pernah naik kereta api. Rasanya excited meski berangkatnya tanpa tempat duduk. Kereta api legendaris “Doho” yang aku dengar namanya sejak kecil. Wajahnya pun masih sama seperti dulu, meski sekarang ada AC tapi perlu lebih banyak pembaharuan. Memang sudah gak ada pedagang asongan berkeliaran, lebih tepatnya pedagang gak bisa masuk karena kepenuhan penumpang. Aku pikir akan berat menempuh perjalanan dengan berdiri, tapi ternyata menjalaninya tak seberat bayanganku. Meski bersandar di antara sambungan gerbong, di sebelah toilet yang kadang berbau saat tertiup angin. Tapi kau bilang gak apalah, gak tiap hari juga.

Berdiri berdesakan dengan beberapa anak muda, alias berondong. Kau main tebak-tebakan denganku, berapa umur mereka? Dan aku pun salah tebak.
“Anak sekarang wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya, gak seperti kita,” kau bilang.

Saat kau ajak salah satu anak itu ngobrol, dia bilang kelas 9 SMP yang sebentar lagi ujian. Mereka berasal dari Jombang, tapi kok sempat-sempatnya main ke Surabaya waktu mendekati ujian begini. Dia bilang ingin melanjutkan ke pondok setelah lulus SMP nanti. Kita pun menyadari, ternyata kita ini orang yang punya banyak adik seumuran dia yang segera menjalani ujian. Untuk adik-adikku serta yang kemarin di kereta api, sukses yaa ujiannya.

Perjalanan berlanjut selama 1 jam dan sama sekali gak terasa. Sama sekali gak seperti naik roller coaster atau wahana penyiksa orang. Semua berjalan tenang dan lancar. I like it. Sangat bisa menikmati, walau dengan berdiri. Biarlah, toh kata adik-adik, kebanyakan duduk bisa mengurangi umur. Yang terpenting adalah naik kereta api anti mabuk perjalanan. Hoorree.

Di pasar Wonokromo. Putar-putar cari titipan Ibu, ternyata lebih mudah daripada cari baju untuk diriku sendiri. Kejadian lucu buatku, saat cari baju di salah satu stan. Ada anak berusia 2 tahunan lagi lari-larian. Mungkin saking semangatnya dia baru bisa jalan dan lari, si adik kecil berlarian sampai Ibunya ketinggalan jauh. Si adik yang di sebelahku ikut lihat-lihat baju dan deketin pramuniaga. Mbak pramuniaga itu pun tanya padaku.
“Ini anak sampean toh mbak??” Waduh, perasaan tadi aku berangkat gak bawa anak deh!
“Bukan,” jawabku. Si anak lari lagi dan Ibunya mengejar-ngejar. Beratnya bayangin bawa anak. Bawa diriku sendiri aja khawatir hilang, apalagi bawa anak. -Makanya belum dikasih amanah.

Di Royal Plaza. Perjuangan berat itu saat cari tempat duduk buat makan di food court. Maklumlah tanggal merah. Full. Penuh banget! Habis makan lanjut ke Gramedia. Inilah salah satu kesamaan kita: gemar membaca. Setelah puas baca-baca dan milih-milih buku, kita bayar ke kasir, lalu ambil barang belanjaan yang dititipkan di tempat penitipan. Kita pun sepakat keluar dari Royal. Kita melepas lelah dengan duduk-duduk di trotoar samping Royal. Eh, gak tahunya ketemu teman kuliah plus tetanggaku Mas Chandra. Dia memang petualang sejati.

Setelah ngecek barang belanjaan. Ternyata ada yang hilang! Sepatu kecil untuk keponakanmu, adik Nesa. Pasti tadi jatuh di tempat penitipan Gramedia. Padahal tadi belinya udah jalan keliling pasar Wonokromo. Sekarang udah ke luar Royal pun, harus balik masuk lagi ke dalam! Cape… Tapi gak apalah demi sepatu kecil untuk adik Nesa. Dan meskipun gak bisa nonton film Sepatu Dahlan karena full booked, yang penting bisa bawa pulang sepatu kecil adik Nesa.

Senja di Stasiun Wonokromo. Langit semakin gelap. Kita menunggu kereta untuk pulang. Rupanya gak on time. Kereta tiba 15 menit lebih lambat dari jadwal yang tertulis di tiket. Namun kekecewaan itu musnah saat melihat kereta api “Arjuno” yang sangat bagus itu. Kereta yang masih baru dan nyaman, berbeda jauh dengan kereta untuk berangkat tadi. Harga tiket pun 2 kali lipat. Pintu terbuka otomatis dan kita pun menaikinya.

Meski tanpa AC tapi gak masalah karena gak panas. Suhu udara di dalam sama dengan di luar. Kereta ini jauh lebih nyaman lagi. Interior yang baru dan modern jadi menggelitikku untuk mengambil foto. Sebenarnya ingin lebih lama naiknya, tapi tentu 1 jam perjalanan sudah cukup untuk sampai di Stasiun Mojokerto. Gak nyangka lagi, saat turun dari kereta ternyata bertemu dengan Putri, teman SMA yang juga baru turun dari kereta yang sama. Wah, senangnya bisa sampai di Mojokerto lagi.

Cerpen Karangan: Riski Diannita
Blog: riskidiannita.blogspot.com
Facebook: Diannita Riski
Kunjungi blogku riskidiannita.blogspot.com Thanks.. 🙂

Cerpen Kisah Yang Terangkai Dalam Gerbong merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepeda Baru

Oleh:
Sore itu aku ikut ibu berkunjung ke rumah temannya. Aku sangat senang karena aku juga bersahabat dengan anak teman ibuku. Namanya Nilam. Kami sering bermain bersama sejak kecil. Rumah

My Birthday Surprise In Monas

Oleh:
“Apa? Jadi, Keren, Delwis dan Enji ikut kita, ma? Ye… aku bisa ketemu sama adiknya Keren dong, si Kevin. Asyik..” Kataku saat mengetahui bahwa 3 saudara dari ibuku itu

Liburan di Pantai

Oleh:
“Woi, cepetan masuk, kek! Paling gak celupin aja jari jempol lu!” “gak mau! Pokoknya aku tak sudi membasahi jempol imutku!” Beginilah keadaan kolam renang di perumahan gue saat ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *