Study Tour

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Liburan, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Perkenalkan namaku Syakilla Nafiz Atmarini. Kalian bisa memanggilku dengan nama Nafiz. Sekarang aku kelas 2 di SMP Nusa Bangsa. Aku di sini mempunyai 3 orang sahabat. Mereka adalah Meisya, Intan dan Ayu yang masing-masing mempunyai sifat yang berbeda. Meisya adalah seseorang yang mengerti semua keadaanku, dia yang pertama kali yang tau tentang keadaanku disaat aku sedih maupun senang. Dia juga kelihatan dewasa dalam cara berpicaranya dan berpenampilan. Intan adalah seseorang yang mempunyai sifat seperti anak kecil. Tapi aku senang mempunyai sahabat seperti dia, karena Intan aku bisa tersenyum melihat tingkahnya yang lucu dan menggemaskan. Ayu adalah sesorang yang baru aku kenal disaat pertama kali aku masuk di SMP ini.

Aku dan sahabatku senang karena bisa masuk di sekolah ini. Sekolah ini adalah sekolah yang aku inginkan ketika aku masih SD. Karena apa? Karena sekolah ini mempunyai segudang prestasi yang tidak bisa diragukan lagi dan merupakan sekolah favorit di daerahku saat ini. Di sini aku ingin menceritakan betapa senangnya hatiku saat sekolahku mengadakan study tour setiap tahun di kelas 2 SMP pada liburan semester satu dan caraku dan sahabatku mendapatkan uang untuk membayar biaya tersebut.

Pertama kali aku dan sahabatku bertemu di sekolah ini. Aku bingung harus duduk sama siapa. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu temanku yang waktu itu belum aku kenal, “Hai, namaku Nafiz. Aku dulunya kelas 7b. Nama kamu siapa dan dari kelas apa?”. Dia menjawab, “Hai juga, namaku Meisya. Lengkapnya Meisya Riana Putri dari kelas 7i”. Aku bertanya lagi, “Kamu mau tidak duduk sama aku? Soalya aku bingung mau duduk sama siapa. Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa aku tidak memaksa kamu”. Meisya menjawab, “Iya aku mau duduk sama kamu nafiz. Aku juga bingung mau duduk sama siapa”. Aku kegirangan mendengar jawaban dia, “Beneran kamu mau duduk sama aku?”. Dia menjawab, “Iya aku mau”. Aku hanya tersenyum senang mendengar jawaban dia.
Akhirnya aku pun duduk sama Meisya. Aku bergumam, “Kalau dilihat-lihat Meisya itu cantik, imut, baik, terus sepertinya dia dewasa banget yah dilihat dari gaya bahasa dia, cara penampilan dia, pokoknya yang ada sama dia itu kelihatan sudah dewasa”

Aku mengenal Intan dan Ayu saat aku masuk di sekolah ini. Mereka sudah bersahabat sejak mereka masih SD. Karena mereka adalah sepupuan. Mereka seperti pinang di belah dua mirip sekali, hanya saja mereka mempunyai sifat yang berbeda. Intan yang mempunyai sifat seperti anak kecil tapi Ayu tidak seperti anak kecil. Dia seperti Meisya yang sifatnya dewasa karena dia berjanji pada orangtuanya Intan, dia akan menjaganya dan menyanyangi walaupun Intan bukan adik kandungnya.

Aku menyapa Intan dan Ayu, “Hai, namaku Nafiz. Nama kalian siapa?”. Intan menjawab, “Hai juga. Namaku Intan dan ini namanya Ayu”. Aku bertanya lagi, “Kalian kok mirip banget yah?” Ayu menjawab dengan gaya seperti anak kecil, “Ya iyalah kita mirip orang kita masih satu keluarga. Aku ini adiknya dia”. Intan menyeka pembicaraan Ayu, “Iya. Intan ini adikku tapi adik sepupu. Kita sudah bersahabat lama, jadi kalau orang yang baru melihatnya mereka menganggap kita ini kembar padahal kan kita tidak kembar”. Aku pun menjawab, “Oh, gitu yah. Maaf ya aku tidak tau”. Mereka hanya menjawab dengan anggukan dan senyumannya.

Kita akan mengadakan study tour ke Yogyakarta. Dimana Yogyakarta adalah tempat yang sangat diminati untuk dikunjungi oleh para wisatawan karena mempunyai nilai-nilai tersendiri dan banyak juga tempat-tempat yang menarik untuk di kunjungi. Tempat yang kita tuju dalam study tour ini adalah Candi Borobudur, Taman Pintar, dan Museum Dirgantara. Di sana kita mendapatkan banyak ilmu yang bisa kita ambil.

Dengan susah payah aku berusaha untuk menabung agar bisa membayar biaya study tour tersebut. Aku selalu menyisihkan uang sakuku untuk ditabung. Walaupun aku hanya ditabung di celengan plastik yang harganya murah, tapi aku sangat senang karena aku bisa menabung dan meringankan beban orangtuaku. Aku selalu ingat kata-kata guruku yang mengatakan “lebih baik uang kita digunakan untuk yang bermanfaat dibandingkan uang kita digunakan untuk yang tidak bermanfaat”.
Aku berkata dalam hati, “Aku harus bisa mendapatkan biaya study tourku dengan cara aku sendiri yaitu dengan menabung dan tidak meminta kepada orangtua. Aku akan menyisihkan sebagian uang sakuku untuk sesuatu yang lebih bermanfaat”.

Aku senang mempunyai guru seperti dia. Dia mengajarkan banyak hal yang tidak aku ketahui dan aku dapatkan. Dia adalah orangtua kedua setelah orangtuaku di rumah. Peran guru selain memberikan ilmu kepada kita, tetapi juga memberikan nasehat-nasehat jika kita melakukan kesalahan atau kita berbuat salah. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dimana dia memberikan ilmunya dan menasehati kalau kita salah tanpa pamrih.

Setelah aku bisa mengumpulkan uang sakuku, akhirnya aku bisa membayar biaya study tour tersebut. Tapi karena study tour tersebut akan dilaksanakan saat liburan semester satu, jadi aku harus bisa bersabar dan lebih giat untuk belajar agar aku bisa mendapatkan peringkat di semester ini. Aku selalu memberi semangat kepada diriku kalau aku bisa meraih peringkat di kelasku. Akhirnya saat pembagian rapor dan dimumkan siapa yang mendapatkan peringkat, aku mendapatkan peringkat 2 di kelasku. Aku sangat bahagia akhirnya usahaku selama ini tidak sia-sia.

Setelah aku menerima raporku, aku langsung pulang dan memberikan kabar bahagia ini kepada orangtuaku. Tentunya mereka sangat senang mendengarnya. Mereka tidak sia-sia membiayai aku sekolah, karena aku bisa mendapatkan peringkat 2 di kelasku. Aku pun melewati hari liburanku untuk membantu pekerjaan orangtuaku, aku melakukannya karena aku ingin membalas semua pengorbanan orangtuaku untuk bisa menyekolahkan aku hingga aku bisa pintar sampai sekarang.

Ibuku bertanya, “Nafiz, gimana kamu nilai kamu?”. Aku menjawab, “Iya bu, alhamdulilah nilaiku bagus semua”. Ibu bertanya lagi, “Kamu di kelas mendaptkan peringkat berapa?”. Aku menjawab, “Peringkat ke 2 bu”. Ibu memberi saran kepadaku, “Iya alhamdulilah di syukuri aja ya nak, yang penting kamu udah berusaha untuk berusaha mendapatkan nilai yang bagus. Lain kali kamu harus lebih giat lagi belajarnya agar kamu bisa mendapatkan nilai yang bagus”. Aku menjawab, “Iya bu, aku akan lebih giat lagi belajarnya dan aku minta ibu doakan aku selalu ya bu biar aku selalu sehat dan bisa mendapatkan nilai yang bagus kedepannya”. Ibu hanya menjawab dengan memelukku dan tersenyum.

Aku dan sahabatku selalu bercanda ria. Kita yang sama-sama masuk di kelas yang sama, akhirnya mengadakan perjanjian kalau misalnya di antara kita ada masalah atau apa pun kita harus bisa menyelesaikan masalah tersebut bersama-sama.
Ayu bertanya, “eh teman-teman nanti kalau kita study tour, kita jalannya sama-sama yah?”. Aku menambahi, “eh iya tuh bener kata Ayu. Kita harus sama-sama jalannya”. Intan berkata, “Ya iyalah kita sama-sama orang kita sahabat ya ngga guys?”. Semuanya menjawab, “Betul betul betul”. Meisya menasehati teman-temannya, “eh guys, kalau kita sudah sampai di tempat tujuan kita jangan terpisah yah? Kalalu terpisah kita kan jadi ada apa yah gitu”. Nafiz menyeka pembicaraannya Meisya, “Heleh kamu sya, dewasa sih dewasa tapi alaynya itu loh yang ngga bisa hilang di diri kamu.”. Meisya hanya tersenyum mendengar teman-temannya yang membicarakan sifatnya. Intan dan Ayu pun tertawa melihat kedua temannya itu memasang muka yang lucu.

Akhirnya waktu yang aku dan sahabatku tunggu tiba yaitu dimana akan diadakan study tour ke Yogyakarta. Aku sangat senang akan hal itu, karena aku bisa belajar dari tempat-tempat yang akan kami kunjungi di Yogyakarta. Aku dan teman-temanku pun segera membayar biaya study tour itu dengan uang yang kami kumpulkan.
Aku dan teman-temanku yang lain segera mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa saat kita study tour. Pada saat pemberangkatan study tour itu, aku segera membawa segala sesuatu yang sudah aku persiapkan dari jauh-jauh hari. Setelah itu aku berangkat ke tempat dimana tempat untuk pembagian bus pariwisata. Aku sangat senang karena aku dan teman-temanku Meisya, Ayu dan Intan bisa satu bus. Setelah semuanya sudah kebagian kita semuanya diharuskan masuk ke bus yang telah ditentukan, karena sebentar lagi akan berangkat.

Pada waktu jam 20.00 kita semua berangkat ke yogyakarta. Aku yang duduk sama Meisya dan Ayu yang duduk dengan Intan di belakang aku dengan Meisya. Kita selalu bergurau selama perjalanan. Kita semua merasa sangat bahagia bisa diadakannya acara seperti ini. Kita semua bergembira, bersenang-senang, dan masih banyak lagi.

“eh, teman-teman kita sudah nyampe nih di Yogyakata”. Nafiz memberikan informasinya. Ayu menjawab, “eh, iya nih kita sudah nyampe”. Meisya bertanya sama teman-temannya, “teman-teman, tempat tujuan pertama yang kita kunjungi apa yah?”. Nafiz menjawab, “yang pasti ke Candi Borobudur lah masa ke Tangkuban Perahu sya”. Indah menambahi, “tau nih Meisya ada-ada aja tanyanya. Sudah tau Yogyakarta identik dengan Candi Borobudur, masih aja ditanyain”. Meisya hanya menjawab dengan sebuah senyuman yang manis.

Setelah mereka sampai di tempat tujuan, mereka langsung bisa melihat semua keindahan pemandangan dari atas Candi Borobudur itu. Mereka berfoto-foto ria dengan seorang turis yang kebetulan lewat atau sedang mengunjungi Candi yang terletak di Yogyakarta. Mereka segera menghampiri turis tersebut.
Indah bertanya pada turis “Hay, my name is Indah. I come from Brebes. I want to ask photos with you. Can you photos with me?”. Turis pun menjawab, “Yes, I can”. Nafiz, Meisya dan Ayu pun segera menghampiri Indah yang sedang berfoto dengan turis itu. Meisya, “Ndah, kok kamu foto sama turis ngga ngajak-ngajak kita sih? kita juga mau kali Ndah foto sama turis”. Nafiz menambahi, “Tau nih Indah”. Indah pun menjawab, “Ya udah kali, kalau kalian ingin minta foto ya tinggal sama turisnya aja sendiri”. Ayu menengahi perdebatan antara teman-temannya, “Udah-udah jangan berdebat lagi, sekarang kita tanya aja sama turisnya mau apa tidak kalau kita minta foto bareng sama dia”. Akhirnya Nafiz pun yang bertanya, “Hay, can you photos with us?”. Turis menjawab, “Yes, I can”.

Aku dan yang lainnya segera pergi ke restoran untuk mengisi perut kita yang dari tadi sudah ingin diisi. Setelah kita mengisi energi kita, kita langsung menuju ke tempat tujuan yang lain yaitu Museum Dirgantara dan Taman Pintar.
Nafiz bertanya pada teman-temannya, “Eh, teman-teman kita kalau ke Taman Pintar dan Museum Dirgantara itu kita bakal dapat ilmu apa yah?”. Indah menjawab, “Yang pasti kalau Museum Dirgantara itu bakal ngasih kita ilmu tentang pesawat-pesawat TNI yang bersejarah”. Ayu menambahi, “Kalau Taman Pintar pastinya kita akan mendapatkan ilmu tentang semua hal yang membuat kita lebih pintar dan paham”. Nafiz hanya mengangguk saja mendengar semua informasi yang diberikan oleh teman-temannya.

Jam sudah menunjukan pukul 18.00 kita semua sudah bersiap untuk pulang. Tapi sebelumnya aku dan teman-temanku lainnya pergi ke toilet agar dalam perjalanan kita tidak merasa ingin buang air kecil atau besar. Setelah semuanya udah siap kita segera melakukan perjalanan pulang agar kita sampai dirumah tidak terlalu malam. Semuanya senang karena dalam perjalanan study tour ini tidak ada kecelakaan atau sesuatu yang tidak di inginkan. Aku dan teman-teman lainnya tertidur pulas setelah kita sampai di rumah saat jam menunjukkan jam 23.30. Kita merasakan lelah sekali tapi kita merasa bahagia. Ini adalah pengalaman study tour yang tak akan terlupakan.

Aku di sini cuma ingin saran kalau kita harus bisa berusaha keras dan pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Tapi juga dibarengi dengan doa yang selalu tercurahkan untuk di masa yang akan datang. Selalu mendengarkan perkataan, nasehat-nasehat yang telah diberikan oleh orangtua kita dan kita harus bisa menjalankannya dengan ikhlas dan tidak karena terpaksa. Ridho-Nya Allah swt ridhonya orangtua dan murka-Nya Allah swt murkanya orangtua.

Cerpen Karangan: Gristiana Dwi Pransiska
Facebook: Gristiana Dwi Pransiska

Cerpen Study Tour merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jalan Jalan Ke Teraskota

Oleh:
Jumat yang cerah, seperti biasa Lala, Shefa, Zalla dan Zhira berkumpul di meja Shefa. Mereka sedang merencanakan jalan-jalan mereka besok sabtu. “Eh… besok kita jalan-jalan ke Teraskota aja yuk!”

Masa Indah Waktu Sekolah

Oleh:
Umur 5 tahun aku masuk sekolah TK. Aku disekolahkan di TK paramitha, sekolah dekat rumahku biar gak repot kali ya buat orangtuaku yang harus antar jemput aku tiap hari

Ke Perancis

Oleh:
Hallo.. Namaku Mutiara Jessica Laudya.. Umurku 10 tahun Kelas 5 SD.. Aku adalah anak ke 2 dari 3 bersaudara, kakakku bernama Carla Melisha Laudya ia kelas 3 SMP, Oh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *