Aku Yang Salah, Bukan Alam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 11 March 2021

Mentari menyapa dengan cahayanya, aktivitas berjalan seperti biasa; anak-anak SD berangkat ke sekolah dengan tas besar di punggungnya, petani berangkat ke sawah dengan cangkulnya, ada juga yang berangkat ke kebun dengan alat penebangan pohonnya.
Itulah rutinitas masyarakat pedesaan.

Anak-anak tadi berjalan ke sekolah dengan riang, karena uang jajannya yang banyak. Mereka pergi ke sekolah dengan teman akrabnya masing-masing.

Wahid, ia adalah anak yang pintar di sekolahnya. Sebutkan Pak boss, adalah julukannya.

“Hi Yanto, berangkat sama sama yuk!”. Ajak Wahid. “Ayo”, jawab Yanto. “Uang jajanmu berapa?”, tanya Yanto kepada Wahid. “10 ribu”, jawab Wahid.
“Saaama, bagaimana kalau kita beli Snack, supaya dapat banyak!”.
“Oke”, jawab Wahid.

Jam istirahat tiba, mereka pergi ke kantin dan membeli Snack sebanyak-banyaknya, 10 ribu.

Bel masuk berbunyi, teng teng tenggg… “Ahh, masuk lagi, bosan”, kata Irham, sahabat Yanto dan Wahid. “Iya Yan, padahal kita kan belum puas bermain, Snack kita juga belum habis. Dasar bel sialan”, kata Yanto sambil mengunyah.
“Masuk saja dulu, snacknya nanti kita makan di jalan”, sahut Wahid sambil berkemas. “Siap pak boss, haha”. Jawab Yanto dan Irham sambil bercanda.

Bel pulang berbunyi, teng teng tenggg…
“Akhirnya”, ucap Yanto legah. Mereka bergegas dan pulang bersama.
Ditengah perjalanan pulang, mereka singgah di pos kamling dan menyantap Snacknya. Snack yang mereka makan di pos kamling lebih banyak daripada yang mereka makan di kantin sekolah.

“Alhamdulillah sudah kenyang”, kata Wahid setelah bersendawa. “Cepat, Yan, Ham, habiskan Snack kalian!”, perintah Wahid. “Siap pak boss”, kata Irham sambil mengunyah.
“Bungkus snacknya dibuang dimana pak boss, disini saja?”, kata Yanto sambil meletakkan bungkusan Snack di sudut pos kamling.
“Jangan disitu, disitu saja!”, kata Irham sambil menunjuk ke selokan. Ceplok… Yanto membuangnya ke selokan.
Mereka sampai di pada pukul 13:15.

Jam menunjukkan pukul 16:00, Yanto ikut dengan pamannya untuk melanjutkan hasil tebangannya tadi pagi. Yanto digendong oleh pamannya, karena Yanto sudah tidak sanggup mendaki.

Setelah sampai di tempat tujuan, Yanto terkejut melihat 5 batang pohon besar yang sudah ditebang pamannya.
“Paman, kenapa pohon itu ditebang?”, tanya Yanto. “Tidak apa-apa, kan digunakan untuk keperluan kita juga”, jawab Sahrul, paman Yanto.
Sahrul lanjut memotong batang pohon yang sudah ia tebang, sedangkan Yanto asik bermain di bawah pondok pamannya.

Jam menunjukkan pukul 17:45. Sahrul menyimpan peralatannya di pondok dan mengajak Yanto pulang, “Yan, yantoo, mari kita pulang, sudah mau Maghrib”. “Oke paman”, sahut Yanto.

5 menit dalam perjalanan…
Sahrul mengantar ponakannya sampai ke depan rumah, kemudian pulang ke rumahnya.

Kebiasaan buruk itu berlanjut hingga bertahun-tahun; Yanto, Wahid, dan Irham yang membuang sampah sembarang, dan Sahrul yang menebang pohon sembarangan.
Sekarang Wahid, Yanto, dan Irham sudah duduk di bangku SMA. Usia mereka sudah 16 tahun. Sudah cukup akal untuk berfikir tentang baik buruk. Namun, kebiasaan buruk itu masih saja mereka lakukan ‘meskipun sesekali’.

Pada saat usia mereka sudah 17 tahun, desa mereka dilanda banjir dan tanah longsor. Rumah Yanto yang dekat dari gunung, tertimbun oleh tanah longsor. Sedangkan Orangtua Wahid dan Irham mengalami gagal panen karena padinya terendam banjir.

#CerpenAnakDesa

Cerpen Karangan: Khairul
Blog / Facebook: Khairul

Cerpen Aku Yang Salah, Bukan Alam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kami Siap Menyelamatkannya!

Oleh:
Nama ku Aulia Rahmadita,aku duduk di kelas 7B SMP Islam Bhakti.Dari kecil aku sangat hobby dengan yang namanya “Bercocok tanam” maka dari itu aku memutuskan untuk mengikuti eskul cinta

Burung Burung Gereja

Oleh:
Greedy si burung gereja akhirnya memutuskan untuk makan buah di tempat Popa, si pohon ek. Siang itu, si burung merentangkan sayap dan terbang. Dia hafal tempatnya karena sudah beberapa

Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)

Oleh:
Vater dan uma selalu membuatku tersudut karena hal ini. Mereka sering menjuluki sebagai “An Over-thinker”. Oh man… I’ve done a test about “Are you an over-thinker”, and guess what?

Risalah Hati (Part 3)

Oleh:
13 November 2015, Mt. Cikuray, 2821 MDPL 13.00 PM Aku dan kawan-kawan dari komunitas Lidi Rimba mendaki puncak Cikuray. 2821 MDPL aku tempuh dengan kawan-kawan komunitas Lidi Rimba. Diperjalanan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *