Bah Kehidupan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 6 December 2014

Hujan datang lagi. Beribu tetes jatuh setiap detiknya. Menapaki bumi sepanjang hari, seolah tak pernah lelah dengan keadaan ini. Menerjunkan diri ke berbagai belahan bumi. Mulai dari kubangan kerbau, resapan tanah, hingga ke muara laut, semua dilakoni.

Di dalam sebuah pertemuan, pada suatu pagi yang dingin.
“Aku datang untuk mengajarkanmu bahwa hidup adalah perputaran. Kau harus percaya itu,”
Ucap hujan kepadaku yang sedang setengah limbung.
“Aku berpetualang sampai ke negeri manapun, lalu dapat pula kembali kesini lagi. Karena apa? Karena aku punya harapan,”
Aku berusaha mencerna kata-katanya. Kali ini aku ling lung.
“Mengikuti arus Ciliwung, lalu menerjunkan diri ke Niagara, lantas juga membekukan diri di Antartika,”
Aku mulai terkesima. Sepertinya aku mulai dapat mengerti perkataannya.
Dengan wajah sok lugu, aku berkata “Lalu kenapa sekarang kau menjadi bah di Ibukota? Coba jelaskan padaku dengan serta-merta!”
Ia terdiam sebentar, lalu tertawa sejadi-jadinya. Aku diam. Tertawa pun enggan. Apakah itu lucu? Memang perangainya aneh. Ia masih terbahak. Cukup lama.
“Kau tahu kenapa sebabnya? Kau tahu!” Ia menggelegar seperti malaikat pencabut nyawa. Aku ingin menarik perkataanku tadi. Bodoh! Mengapa aku menanyakan pertanyaan retoris macam itu?
“Manusia memanglah bodoh! Aku datang untuk menunjukkan padamu, bahwa hidupmu tak selalu indah. Bahwa keindahan hidupmu seringkali pudar karena ulahmu sendiri!”
Aku dikeroyok perasaan bersalah. Rasanya ingin menghilang ‘tring’ dari hadapannya. Tapi sayangnya belum ada teknologi teleportasi macam itu. Ah, sial!
Tiba-tiba, pintu tak terkunci itu terketuk. Aku tak tahu siapa yang hendak datang. Berharap ada yang segera mengevakuasiku dari keadaan darurat ini.
Sang sampah datang. Aku kaget bukan kepalang. Dengan pakaian lusuhnya, ia melangkahkan diri tanpa pura-pura. Para ajudannya menyertai, lalat dan belatung. Baunya menusuk hidung, aku jadi makin murung.
“Jawab! Kenapa kau diam?” Sang sampah menggebrak meja. Jiwaku jadi luluh-lantah. Rasanya ingin hilang ke negeri antah berantah. Aku digandrungi mereka berdua, rasanya ingin muntah.
“Aku… A-a-ku…”

Hujan datang lagi. Menghanyutkan jejak-jejak kenangan. Kulihat televisi, katanya “Banjir Mengepung Ibukota”. Kulihat koran, katanya “Air Bah Lumpuhkan Jakarta”. Aku meneguk segelas teh panas. Melakoni lagi hidup ini, sebagai penyaksi antara hidup yang penuh sensasi-ilusi.

Sang Pemerhati Hujan. Selasa, 21 Januari 2014. Pkl. 09.24 WIB

Cerpen Karangan: Eveline Ramadhini
Blog: evelin-hurries.blogspot.com
Facebook: Eveline Ramadhini
Eveline Ramadhini. Seorang mahasiswi Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prodi Sosiologi. Seorang pecinta karya sastra, khususnya sastra Indonesia. Sangat menyukai membaca dan menulis cerpen kesusastraan.

Cerpen Bah Kehidupan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau, Aku dan Gerimis

Oleh:
Langkahnya tertatih menuju pojok rumah. Lemah. Mekar bunga di pagi hari tak henti mengayun seolah mau menyapa Charles yang baru terbangun. Tidur semalam rupanya tak nyaman. Perasaan cemas terus

Air Mata Sokrates

Oleh:
“Kematian itu bagaikan hembusan napas atau kepulan asap yang terhambur dan terbang tinggi entah ke mana!” kataku kepada setiap pemuda yang hilir mudik melewati lorong berbercak darah ketidakbijaksanaan di

Pelarian Gunung Pelarian

Oleh:
Tanpa pedulikan kondisi pintu yang sudah rusak dan masih dalam kondisi terkunci, kudobrak sekuat tenaga dengan bantuan amarah yang tak terbendung menenggelaman diri dalam nafsu yang hampir tak terkendali,

Hujan Rabu Pagi

Oleh:
Derainya menerjang pohon-pohon yang diam, membangunkan dedaunan yang tengah tertidur. Biasnya disambut baik oleh burung-burung yang sedang melebarkan sayapnya. Mereka tak murung kala hujan turun di pagi buta. Terkecuali,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bah Kehidupan”

  1. aryan says:

    tipe cerpen yang ‘aku’ banget, kagum dan salut semenjak baca cerpen ini sampai akhir. apalagi pesan tersiratnya yg wow deh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *