Chemistry On The Road

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 25 February 2016

Di malam yang begitu sunyi dan hampa, angin yang kencang disertai dengan H2O yang indah berikatan polar jatuh berurutan dari atas O3 yang saat itu sedang gelap. Aku merenung menatap jendela kamarku. Pada suasana malam, waktunya tumbuhan menghirup CO2 dan mengeluarkan O2 tanpa fotosintesis. Saat hujan mereka bersorak ria karena mendapat makanan gratis. Namun semut-semut itu? Mereka menyiapkan diri dengan sisa radar yang mereka punya untuk berpindah ke tempat yang lebih teduh.

Itulah hidup, terkadang di atas terkadang juga kadang di bawah, terkadang beruntung, terkadang pun sial. Namun keseimbangan alam telah ada dari beratus-ratus tahun yang lalu, perputaran sistem kehidupan seperti roda yang berputar. Semua telah diatur sedemikian rupa dan aku percaya tanpa keraguan bahwa Allah itu maha adil. Tak henti-hentinya aku memperhatikan dan menelaah gejala alam itu. Dengan badanku yang terasa dingin terhembuskan angin di kampung halaman ayahku. Daerah yang masih asri dengan kultur dan budaya yang masih kental serta jauh dari kebisingan kota. Aku baru saja sampai senja tadi untuk mengisi waktu liburanku. Meski hanya bermodalkan lampu ceplok, aku merasa nyaman dan tenteram dan akhirnya tertidur dalam lelap.

Tik, tok, tik, tok, jarum jam yang terus berdenting, aku terjaga dan melirik ke arah jam yang masih pukul 3.00 pagi. Udara yang dingin terhembus melewati jaring-jaring jendela, menembus hingga ke tulang-tulang dan gigiku.. uh.. sangat dingin. Aku memutuskan untuk bangun dan berjalan menatap ke arah luar. Menduduki teras dan memandangi pepohonan rindang yang berakar di depan rumah nenekku. Tersadar, hujan telah terhenti. Aku berjalan perlahan, aku teringat sesuatu, bahwa gelombang di tengah malam sangat begitu terasa, gelombang yang dipancarkan oleh ketulusan seseorang yang berdoa dengan rintihan dan tangisan yang berderai begitu ikhlasnya, dengan semerbak kecintaan yang membuatnya tertunduk merengkuh kepada yang kuasa.

Dengan balutan kasih sayang Allah yang turun ke langit dunia pada sepertiga malam dan dengan pelukan dari malaikat-malaikat yang menenangkan, hmm begitu indahnya salat malam tersebut. Mungkin terlihat sedikit aneh, seorang perempuan berjalan sendirian di tengah desa yang masih sepi sepagi ini, tapi udara yang begitu segar merayuku untuk berjalan mengikutinya. Banyak teori yang ku pikirkan di sepanjang jalan setapakku di senja pagi ini. Menghirup O2 yang betul-betul menyegarkan tanpa campuran reaksi zat Freon apa pun. Teori yang mengatakan tentang pengiriman gelombang. Jika aku memikirkan seseorang maka seseorang itu akan terlintaskan aku di pikirannya.. hahaaha.. yaa guru kimiaku pernah mengatakannya.

Tibalah langkahku di tepian sungai yang berada di ujung lorong rumahku, sungai yang begitu asri dengan nyanyian burung-burung dan matahari yang mulai malu-malu untuk muncul. Keadaan masih gelap, dengan uapan air yang menarik bulu kudukku. Teringat masa kecilku dulu yang ku habiskan bersama dengan para sepupuku bermain di sungai ini. Aku melihat ke samping. Ke satu arah, arah yang terdapat pergerakan di sana.

Siapa itu? Dia bergerak dengan santun seolah melambai-lambai di atas rawa itu, jiwaku tersentak, bingung memikirkan apa hal itu, begitu nyata di hadapan mataku, yah, berwarna putih dan terus seperti menatapku seperti di mitos-mitos leluhur, hawa dan O2 yang makin menarik bulu-bulu di tanganku, aku mulai terperanjat dan tubuhku gemetaran. Otakku terus berusaha mencerna, aku menelan ludahku secara perlahan dengan degup jantungku yang sangat kencang. Aku menarik napas panjang sambil menenangkan diri, dengan rasa penasaranku aku memutuskan untuk mendekatinya. Dug, dug, dug… perlahan, dengan begitu banyak ranting yang menghadangku, aku tetap mendekat, dengan segala asma Allah yang tersebut.

Ketika sampai, hah, aku terdiam, darahku mengalir, mataku terbelalak menahan sakit perutku yang tertahan oleh tawa.. hahaha, aku terlalu bodoh, aku terlupa bahwa ini rawa dan di pagi hari ia pasti mengeluarkan CH4-nya metana yaitu gas rawa. Aku tersenyum kecil dan tersadar dengan cepat menutup pernapasanku agar tak terhirup. Aku tersadar bahwa itu adalah metana yang beracun jika dihirup dan sering diumbar-umbar oleh masyarakat awam sebagai gundoruwo. Alhasil, aku pun hampir tertipu olehnya. Dengan cengengesan aku pulang dan menertawai diriku sepanjang jalan. Ya, masyarakat sering melihat gas itu muncul, jika terhirup, semua akan terlihat hitam dan akhirnya pingsan. Kalau dipikirkan, menakutkan juga siih… bagaimanapun persepsi ini harus dihapuskan. Karena metana ini beracun. Juga seperti tawon dan lebah yang bersifat asam dan basa. Jika terkena sengatannya, kita hanya tinggal menetralkannya. Allah tidak akan menurunkan sebuah penyakit tanpa obatnya, bukan? Tapi, apa pun itu mencegah lebih baik dari mengobati.

Cerpen Karangan: Meyda Rahmi
Facebook: Meyda Rahmi
Nama: Meyda Rahmi
Usia: 17
Sekolah: MAS Yapena
Alamat lengkap: jln. Cilacap III komplek perumahan PT Arun Lhokseumawe

Cerpen Chemistry On The Road merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Makna Kehidupan

Oleh:
Indahnya tahun baru 2014 meskipun pada detik pertamanya, alam menyambutnya dengan tangis haru. Suka cita dan bangga langit kota menyambutnya dengan turun Gerimis nan indah. Bak bidadari yang turun

Sahabat Instan

Oleh:
Kisah ini berawal dari pertemuan tiga orang gadis di sebuah SMA, tahun ajaran baru tepatnya saat mereka sedang menjalani Masa Orientasi Siswa atau kerennya biasa di sebut MOS. Ketiganya

Banjir

Oleh:
Sore itu, kota Tuban terasa lebih sejuk. Bulan penghujan sudah mulai datang. Tanah persawahan sudah mulai lembab. Di tengah kesejukan sore itu, terdengar suara anak-anak yang sedang bermain sepak

Bah Kehidupan

Oleh:
Hujan datang lagi. Beribu tetes jatuh setiap detiknya. Menapaki bumi sepanjang hari, seolah tak pernah lelah dengan keadaan ini. Menerjunkan diri ke berbagai belahan bumi. Mulai dari kubangan kerbau,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *