Hujan Rabu Pagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 4 March 2014

Derainya menerjang pohon-pohon yang diam, membangunkan dedaunan yang tengah tertidur. Biasnya disambut baik oleh burung-burung yang sedang melebarkan sayapnya. Mereka tak murung kala hujan turun di pagi buta. Terkecuali, seorang berusia senja di seberang sungai yang sedang termenung, membiarkan air menghujam tajam ke tubuhnya. Ia merunduk penuh keputus asaan, menciumi aroma sungai dengan tatap kehampaan. Kemudian aku datang padanya, lantas bertanya. “Ada apa, Kek?”

Ia masih dengan kesibukan yang sama. Dengan mata yang terpejam, ia terus menerus menghirup aroma sungai. Mendadak ia menarik tanganku. “Lihat di hadapanmu! Tangan-tangan usil telah mengotorinya…”

Aku terdiam karena ucapannya yang sangat dalam. Kepeduliannya pada lingkungan membuatku merasa malu dengan statusku sebagai seorang pemuda yang acuh akan hal seperti itu.
“Lalu apa yang membuat Kakek termenung di bawah hujan sederas ini?” tanyaku sembari mengusap wajah yang basah.
“Menikmati nikmat Tuhan yang mungkin tak bisa kita rasa lagi nanti.”
“Maksud Kakek?”
“Lihatlah! Renungi… Di hadapanmu hanya bagian kecil dari dampak tangan-tangan usil itu. Bayangkan, jika kerusakan-kerusakan tak dihindari. Alam tak disayang. Apakah kau yakin akan merasakan dunia lebih lama?” ujarnya menjelaskan padaku.

Mendadak lidahku kelu tak bisa bersuara sebab apa yang dikatakan Kakek itu benar adanya. Hujan terus mengguyur tubuhku, aku terpejam sejenak, merasakan tajamnya air yang jatuh dari langit. Sembari merenungkan ucapan Kakek itu. Aku menyadari bahwa hujan di rabu pagi ini menyimpan rahasia yang penuh makna.

Cerpen Karangan: Fahrial Jauvan Tajwardhani

Cerpen Hujan Rabu Pagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Air ku

Oleh:
Gadis kecil yang masih berusia 6 tahun itu bernama Sofie, dia tinggal bersama kedua orangtua dan kedua kakaknya di sebuah perumahan di tepian kota Cilacap. Setiap pagi sebelum berangkat

Tersisa Misteri

Oleh:
Pagi yang baik untuk memulai hari. Temperatur tak biasa mengeriapi kulit membuat tubuhku merasa berbeda. Kini aku berada di telaga Sarangan. Salah satu tempat rekreasi jawa timur yang menyuguhkan

Teater Nahkoda

Oleh:
Nesya: Errrggghhh… gerahnya minta ampun deh! Neraka bocor kali ya.. erggghhh… kami telah menunggu selama 7 jam disini, namun aula belum juga dibuka. Lio: Sabar sya, kita semua juga

Berpetualang Dan Menjaga Alam

Oleh:
Pagi yang cerah menyapaku saat terbangun dari tidurku, teringat saat aku ingin traveling dan menjelajah kota tempat kelahiranku ini, “Gaaaaasss Bagaaass!!” ayahku memanggil dari luar kamar entah apa yang

Curahan Hati Si Pucuk Muda

Oleh:
Di siang hari yang terik, dengan sengatan matahari yang membuat suhu udara terasa semakin panas. Di hamparan sebuah bukit yang gundul, dulunya bukit ini sangat hijau mempunyai banyak pepohonan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *