Hutanku Harga Mati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan, Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 May 2017

“Krek… krek…” terdengar dari kejauhan.
“Suara apa itu sebenarnya?” tanya Juki pada dirinya sendiri.
Sekeliling Juki tampak berkabut yang sangat pekat. Semakin terdengar jelas suara misterius itu. Selangkah. Dua langkah.
“Mas Juki, bangun! Buruan!” teriak Tinah.
“Ada apa to Tinah? Masmu ini tuh masih ngantuk!” ujar Juki dengan kesal. Namun, tiba-tiba berubahlah raut wajah Juki setelah mendengar suara yang sama persis dengan yang ada dalam mimpinya.
“Mas dengar to? Tuh bunyi lagi.”
“Ayo kita cari tahu, Tin.”

Perlahan-lahan Juki dan Tinah menuju halaman. Suasana masih sangat gelap karena hari masih tengah malam. Juki memimpin adiknya ke sumber suara misterius itu yang ternyata mengarah ke hutan ujung desa. Baru saja Juki dan Tinah hendak masuk ke hutan tiba-tiba terdengar suara ibu mereka memanggil.
“Juki, Tinah, ngapain kalian di situ malam-malam seperti ini to? Kalian mau ke hutan? Bahaya di sana itu! Ayo cepat pulang! Ibu ndak mau kalian besok telat berangkat sekolah. Jangan main-main ke hutan, apalagi malam-malam seperti ini!” teriak ibu mereka dari kejauhan.
Juki dan Tinah terlihat kesal. Selama ini mereka ingin sekali tahu dari mana sumber suara itu timbul dan kenapa selalu malam-malam seperti ini. Semalaman Juki tidak bisa tidur, suara itu terus mengganggunya. Juki memutuskan akan menceritakan kejadian malam ini dengan teman-temannya.

Keesokan harinya Juki bergegas ke sekolah lebih awal. Perasaan Juki yang semakin menggebu tak sanggup ditahannya lama-lama. Tak lama Ana dan Siti datang. Keduanya tampak heran dengan gelagat Juki yang tampak gelisah.
“Juki, ada apa? Tampaknya hatimu sedang tak tenang,” tegur Siti.
“Nanti akan aku ceritakan, tapi mana Bagus?” tanya Juki tak sabar.
“Tadi aku lihat dia lagi mompa sepedanya di tempat mas Udin, mungkin sebentar lagi Bagus sampai. Tapi.. kamu benar-benar ndak papa to Juk?” jelas Ana yang masih khawatir dengan gerak-gerik kawannya itu.

Sekitar lima menit ketiganya menunggu, akhirnya Bagus datang. Juki pun menceritakan kejadian semalam yang ia alami dengan Tinah. Ternyata ketiga kawannya juga sering mendengar suara itu dan selalu terdengar setiap hari Selasa malam.
“Bagaimana kalau kita selidiki lagi selasa minggu depan? Kan rabu depannya kita libur,” usul Bagus.
“Oh iya, betul tuh kata Bagus. Kalian menginap saja di rumahku, kan rumahku lebih dekat dengan hutan. Jadi kita bisa lebih mudah mengamati apa yang terjadi di hutan, bagaimana?” saran Ana sambil menatap bergantian pada kawan-kawannya.
“Hmm… sepertinya itu lebih efektif. Sepulang sekolah nanti kita bahas lebih lanjut di rumahku,” ujar Juki penuh semangat.
“Siap bos, hehehe,” ucap Ana, Siti dan Bagus bersamaan.

Bel tanda pelajaran dimulai telah berbunyi. Bu Susan memasuki kelas bersama seorang anak laki-laki yang memiliki kulit kuning langsat serta tampan.
“Nama saya Arya. Pindahan dari salah satu SMA Negeri di kota. Alasan pindah karena Ayah dipindah tugaskan di sini,” jelas Arya dengan malasnya.
Juki tidak begitu menaruh simpatik dengan anak baru itu. Pikirannya selalu ke arah suara misterius dari hutan. Juki merasa heran, kenapa tidak ada pihak warga yang merasa terganggu dengan suara itu. Apa mungkin warga tidak mendengarnya, tetapi suara itu cukup bising sehingga mana mungkin warga lain tidak mendengarnya.

Waktu pulang sekolah tiba. Juki bergegas pulang bersama adiknya. Kali ini kedunya memilih jalur memutar melalui sungai dekat hutan karena sekalian memancing ikan pesanan ibunya. Dari kejauhan Tinah melihat ada seseorang yang tampaknya sudah berusia sekitar 40an sedang mengamati hutan.
“Mas, mas Juki! Ealah, mas Juki!” ujar Tinah sedikit berteriak, karena kakaknya tidak mendengar.
“Apa lagi to yo, Tin? Teriak-teriak wae ki,” kesal Juki.
“Kuwi loh mas, ana bapak-bapak ngeliatin hutan mas. Kira-kira dia ngapain yo mas? Kok sepertinya juga nyatet-nyatet sesuatu ngono,” jelas Tinah sambil sedikit penasaran dengan gerak-gerik bapak itu.
“Eh, iya juga yo, Tin. Coba mas samperin ajalah ya, biar ndak penasaran. Kamu tolong jagain itu pancingannya siapa tahu umpannya dimakan ikan,”

Juki menghampiri bapak itu yang sedari tadi gelagatnya tampak tak wajar. Ketika sudah cukup dekat sepertinya bapak ini mengetahui kedatangan Juki dan berusaha ingin menjauh tapi tampaknya gagal.
“Permisi pak, Bapak sedang apa? Apa bapak petugas pemeriksa hutan? Tapi bukannya hari Sabtu ya, pak?” tanya Juki. Bapak ini terlihat sedikit gelagapan mendengar pertanyaan Juki.
“Bukan, nak. Saya di sini orang baru. Saya cuma mau lihat-lihat saja sekitaran desa dan ternyata di sini masih ada hutan yang sangat asri ya, nak, hehe,” terang bapak itu dengan nada kaku.
“Oh, begitu rupanya. Apa bapak perlu saya temani berkeliling agar bapak lebih mengenal desa ini?” dengan senang hati Juki menawarkan diri.
“Tidak, tidak perlu, nak. Saya ini sudah mau pulang kok. Mari,” ucap bapak itu sedikit tergesa-gesa.

Sesudah saling mengundurkan diri, Juki kembali ke tempat adiknya. Ada perasaan aneh yang Juki rasakan. Gelagat bapak itu terlihat aneh bagi Juki, tapi Juki tak mau terlalu lama memikirkan hal itu. Juki juga menceritakan percakapannya dengan Tinah, tapi Tinah terlihat biasa saja dan tidak menaruh curiga dengan bapak itu.

Selepas memancing kedua saudara ini bergegas pulang dengan hasil yang memuaskan. Setiba di rumah ternyata teman-temannya sudah berkumpul. Di tengah-tengah kawan-kawannya ada keberadaan Arya, si anak baru. Melihat itu Juki sangat marah. Juki menarik Ana, Siti dan Bagus keluar untuk mendengar penjelasaan tentang keberadaan Arya.
“Kalian tahu kan, kalau kita berkumpul ini bukan perihal bermain-main! Lalu, kenapa kalian bawa-bawa Arya yang bukan siapa-siapa kita itu terlibat di antara kasus yang kita bahas?!” amarah Juki semakin meningkat, karena dilihatnya ketiga kawan yang sangat ia percayai berani sekali membawa orang baru tanpa keputusan bersama.
“Begini Juki, kamu jangan marah-marah semacam itu dulu. Kami mengajak Arya ikut serta agar dia dapat memiliki kawan di sini. Bukankah dulu kamu yang mengajari kami semacam itu?” jelas Ana dengan perkataan yang lembut. Ia tahu betul bagaimana sikap Juki bila sudah naik pitam semacam ini.
“Tapi, ini kasusnya lain. Kita bukan sedang bermain! Berapa kali aku harus bilang pada kalian?!” tekan Juki kepada kawan-kawannya.
“Juki, sudahlah. Arya sudah terlanjur di sini. Apa kamu tega mengusirnya tanpa alasan yang jelas? Kita ajak saja dia bergabung di kasus kita ini. Bila dia ndak mau lanjut, dia akan keluar sendiri nantinya kan? Siapa tahu dia justru bisa membantu kita, Juki? Bersikaplah lebih positif,” bujuk Ana.
Akhirnya Juki setuju dengan perkataan Ana. Mulailah mereka membahas setiap detail kejadian yang mereka tahu mengenai suara misterius itu. Arya tampak tidak terlalu tertarik dengan percakapan mereka, tetapi lama-kelamaan ia merasa penasaran juga tentang kasus ini. Sesekali ia ikut memberikan pendapatnya. Meski terkadang Juki sering menolak beberapa usulan Arya, karena dianggap tak masuk akal.

Satu minggu berlalu dengan cepat. Tak terasa semua persiapan sudah hampir matang. Selama seminggu itu pula Arya terus bergabung di dalamnya sehingga hubungan antara ia dengan Juki semakin akrab saja. Semua sudah berkumpul di rumah Ana tepat pukul 5 sore.
“Oke kawan-kawanku, kita sudah melangkah sejauh ini dan sepertinya persiapan sudah cukup matang. Semoga malam ini kita bisa menemukan hasilnya,” kata Juki dengan semangat.
“Kita akan tidur lebih awal. Sesuai jadwal yang sudah kita susun, kita makan habis Maghrib. Kemudian kita tidur mulai Isya dan bangun pukul 12 malam,” ujar Arya, mengingatkan kembali kawan-kawannya.
“Jangan lupa, setiap orang memasang alarm di handphone masing-masing, yo? Demi kasus kita ini, hehe,” celetuk Siti di tengah-tengah keseriusan mereka.

Sebelum kelima sahabat ini bertindak sejauh ini, mereka sudah memiliki data-data dari masyarakat bahwa warga desa juga sering mendengar suara misterius itu yang benar berasal dari hutan. Sudah beberapa kali para warga melapor ke Pak Kades. Namun, Pak Kades nampaknya tidak terlalu menanggapi serius keluhan-keluhan warga. Pak Kades berkata bahwa itu adalah perbuatan para leluhur yang sedang murka. Penjelasan Pak Kades nampak sangat tidak masuk akal menurut kelima sahabat ini. Warga justru menanggapi sebaliknya. Warga percaya dengan perkataan Pak Kades, sehingga warga menjadi ketakutan. Kepercayaan akan leluhur di desa ini masih terasa kental. Sekeras apapun Juki dan kawannya melawan, selalu saja dicegah oleh warga. Mereka takut leluhur akan semakin marah.

Alarm berdering bersamaan. Hari ini, kebetulan orang tua Ana sedang keluar kota mengunjungi saudara. Namun, tindakan mereka sudah diketahui dan diizinkan kedua orangtua Ana, sehingga malam itu tidak ada yang terganggu.
“Persiapankan semua, yo. Jangan sampai ada yang ketinggalan,” ucap Juki memimpi teman-temannya.
Ana dan Siti menyiapkan makan, karena udara di luar sangat dingin dan perut pasti akan merasa lapar. Sedangkan Juki, Bagus dan Arya menyiapkan senter, P3K, serta pisau bila jalan yang dilalui banyak semak-semak. Setelah mengisi perut serta yakin maka Juki dan Arya keluar terlebih dahulu untuk memantau situasi. Suara misterius itu sudah terdengar selama 10 menit dan lagi-lagi berasal dari hutan. Arya memberi kode pada Bagus untuk keluar bersama Ana dan Siti. Kelima kawan ini berjalan menuju hutan dengan formasi Juki berada paling depan, kemudian disusul Arya, Siti, Ana dan Bagus.

“Sepertinya suara ini berasal dari hutan dekat sungai,” terka Siti.
“Benar juga, Siti. Sebaiknya kita ke sana, namun jangan terlalu berisik, yo?” saran Juki.

Sekitar 10 menit berjalan, suara makin terasa dekat dan ada sinar lampu di sana. Kelima sahabat itu melihat banyak orang berkumpul di sekitaran sinar lampu. Semakin di perhatikan ternyata orang-orang ini melakukan penebangan pohon. Tiba-tiba terdengar orang sedang bercakap-cakap tak jauh dari mereka. Segera kelima kawan ini mematikan senter dan bersembunyi di balik semak-semak dan pepohonan.
“Apakah ini cukup untuk bahan baku pembuatan mebel kita ini? Apalagi kita selalu melakukan secara sembunyi-sembunyi. Bukankan lama-kelamaan kegiatan kita ini akan diketahui warga sekitar, pak?” ucap salah satu dari mereka.
“Sudahlah, kita kan sudah meminta Pak Kades tutup mulut tentang hal ini. Toh, hutan ini sangat lebat tak akan ada warga yang curiga. Bila si Kades itu meminta imbalan lebih demi membantu kita, berikan saja apa yang dia mau, hahaha,” kata orang yang lainnya.
Murkalah Juki mendengar percakapan itu. Ternyata Pak Kades juga ikut bermain di dalamnya. Arya diam-diam telah merekam pembicaraan mereka. Arya menyadari sesuatu, ia merasa mengenali suara salah satu di antara meraka. Dibuka lebar-lebar matanya karena cahaya yang sangat minim. Benar dugaannya, Arya mengenali orang itu.

“Sudah tidak bisa dibiarkan lagi tingkah orang-orang itu! Teganya mereka menghancurkan hutan kita! Apalagi Pak Kades masuk di dalamnya! Dia itu seharusnya jadi contoh, bukannya membodohi warga dengan berkata itu perbuatan leluhur!” amarah Juki tak tertahan lagi, ketika mereka kembali di rumah Ana.
“Aku kecewa betul pada Pak Kades. Tak habis pikir aku, Pak Kades tega melalukan ini semua,” ungkap Bagus yang sangat merasa kecewa.
“Iya, yo. Padahal kami semua sudah benar-benar menghormatinya. Lalu, siapa orang-orang tadi itu? Apa tujuan mereka menebangi hutan kita ini, to?” ucap Siti.
“Memang perbuatan orang-orang tadi dan Pak Kades tak terpuji. Sungguh malang nasib pertiwi kita ini. Banyak sekali berlaku semacam ini. Sebelum semuanya terlambat, esok kita bicara pada Pak Kades dengan bukti yang sudah kita punya itu. Mau bagaimana pun hutan kita ini harus selamat,” ujar Ana tenang. Tak sama seperti teman-temannya yang dipenuhi rasa amarah dan kecewa.
Di antara kawan-kawannya itu, Arya seolah hanyut pada pikirannya sendiri. Dia hanya diam saja di tengah kekecewaan teman-temannya. Tak lama, semua kembali terlelap kecuali Arya. Perasaan gelisah semakin meyelimutinya.

Keesokan harinya, ketika Juki terbangun, sudah tidak didapatinya Arya di sebelahnya. Dicarinya Arya di sekitaran rumah Ana, tapi tetap tak ketemu.
“Kamu ini kenapa to, Juk? Kok bingung gitu nampaknya,” tanya Ana sambil beres-beres.
“Bukannya semalam Arya masih bareng-bareng kita, yo? Pagi ini aku lihat dia ndak ada. Aku cari di luar juga ndak ada, Na. Apa dia sudah pulang, yo?” jelas Juki.
“Yo mungkin dia lagi ada keperluan yang mendesak, Juk. Jadi ya ndak sempat membangunin kita,” sahut Ana. Bagus menyusul Juki dan Ana di ruang depan.
“Bagaimana tahap kita selanjutnya iki? Jadi to menghadap Pak Kades hari ini?” ucap Bagus.
“Yo jelas jadi to yo. Eh.. bukannya yang merekan percakapan semalam itu Arya yo? Welah dalah, bagaimana ini? Kita susul aja po yo ke rumahnya?” kata Juki.
Juki, Bagus, Ana dan Siti bergegas ke rumah Arya. Begitu sampai, terdengar kegaduhan dari dalam. Tak sengaja mereka mendengar pertengkaran itu.

“Ayah pindah ke sini hanya untuk itu?! Menebang-nebang sembarangan?! Iya, kan?! Pantas saja selama ini Ayah selalu pergi malam-malam. Tahu enggak sih, Yah, kalau hutan itu penting bagi warga di sini?!” teriak Arya pada Ayahnya.
“Apa yang sudah Ayah lakukan itu ya buat kamu! Biar kamu bisa punya apa aja yang kamu mau! Berani-beraninya kamu nyalahin Ayah?! Iya?!” balas Ayah Arya.
Juki dan teman-temannya merasa terkejut mendengar kabar itu. Mereka memutuskan untuk kembali. Mereka akhirnya mengetahui kebenarannya. Ayah Arya nyatanya juga ikut terlibat.
Tanpa diketahui siapapun, Arya memutuskan akan melaporkan kasus ini ke pihak yang berwajib. Meski ia tahu Ayahnya pasti akan terseret ke meja hukum. Demi kelangsungan hidup binatang dan tumbuh-tumbuhan di hutan tersebut Arya rela melakukannya. Ia ingin mempertahankan, melestarikan serta menjaga hutan sebagaimana yang telah diajarkannya kawan-kawannya.

Sore menjelang, polisi berdatangan di kediaman Pak Kades, Ayah Arya, dan beberapa rekan kerja perusahaan mebel yang terletak di seberang sungai. Warga riuh berdatangan ingin menonton. Begitu pula Juki, Ana, Siti dan Bagus. Mereka merasa bingung, siapa yang telah melaporkannya. Tiba-tiba ada yang menyentuh pundak Juki. Ketika Juki menoleh, didapatinya Arya di belakangnya.

“Aku yang telah melaporkan kasus ini,” ujar Arya sambil tersenyum.
“Kami sudah tahu ayahmu juga terlibat. Ndak sengaja kami mendengar pertengkaranmu dengan ayahmu, saat kami menyusul ke rumahmu,” jelas Juki. Teman-teman yang lainnya pun mendatangi mereka.
“Maafkan ayahku ya teman-teman. Aku baru tahu ayahku melakukan hal ini,” ucap Arya.
“Ndak papa kok. Kami tidak menaruh dendam pada ayahmu. Terima kasih yo kamu sudah mau membantu kami sejauh ini,” kata Ana sambil berjabat tangan dengan Arya.
“Semoga semakin asri hutan kita, yo, hehehe,” tawa Juki bersama teman-temannya.

Cerpen Karangan: Rahastri Fajar Puspasari
Facebook: Rahastri Fajar Puspasari

Cerpen Hutanku Harga Mati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Atas Kertas Ku Berjanji

Oleh:
Ku tuliskan secarik kertas itu, tanda kekesalanku hari ini. Aku tak mengerti mengapa aku dianggap berbeda. Tatapan mereka, menganggapku seperti hewan yang menjijikkan bahkan lebih dari itu. Aku hanya

Tentang Kisahku dan Dia

Oleh:
Malam itu aku duduk termenung di meja belajarku saat terdengar dering sms di handphoneku. Tertera nama mantanku di sana. “Huhh ngapain sih dia masih sms lagi kan gue juga

Hujan (Part 1)

Oleh:
Rintik-Rintik hujan yang membasahi tanah kering, bunyi gemericik yang membuat aku tenang dan aroma khas itu mengigatkanku kepada seseorang, seseorang yang membuat aku suka dan senang ketika hujan turun.

Kenangan Di Sudut Kelas Kita

Oleh:
Kenalin aku citra. Dan ini adalah kisahku dengan ketiga sahabatku di masa putih abu-abu. Dia adalah 2 sahabatku rey dan citra. Mereka adalah penyemangat duniaku. Katanya masa SMA ini

Friendzone Itu…

Oleh:
Sebenarnya friendzone itu apa sih? dan kenapa harus ada yang namanya friendzone, agak sakit juga sih kalau kita sayang sama seseorang tapi seseorang itu cuma menganggap kita sahabat, kakak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *