Penghuni Gang Kota

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 24 November 2017

Di malam yang gelap dan sunyi menghampiri jiwa ini, ketika perasaan mulai gundah hanya sinar rembulan yang menerangi malam ini, seseorang datang menghampiriku, kulihat tajam matanya dengan sekilas, seperti dia merasakan sesak dan gundah

Saat itu tahun 2016 tepatnya di daerah Langkat, di sebuah gang kecil yang terletak di sebuah kota dengan pemukiman warga yang padat, kulihat semua warga merasakan sesak, aku pun mencari tau apa yang terjadi pada mereka, kuhampiri seorang pria tua dan aku bertanya “ada apa pak?” dan bapak itu tersenyum dan menjawab “oh ini dik, tidak apa-apa sudah terbiasa kayak gini” kulihat matanya memancarkan tatapan kesedihan.

Aku berjalan selangkah demi selangkah dan kuhampiri seorang pemuda yang sangat murung, aku bertanya “pada kenapa semua warga di sini bang?” pemuda itu menjawab dengan raut wajah kesedihan “inilah yang kami alami setiap hari bang, masyarakat kota tau hanya membuang limbah atau sampah saja dan tidak memikirkan kami sebagai penghuni pinggiran kota,” tatap kesedihan mulai datang menghampiriku dan aku bertanya lagi “apakah tiap malam begini bang?” pemuda itu menjawab “hampir tiap malam kami merasakannya, sudah kami keluhkan pada pemerintah setempat tapi tanggapannya nihil”

Ku mulai melangkah sambil berpikir di depan kulihat ada sebuah pondok aku berniat berhenti sejenak di situ sambil ku menatapi rembulan di dalam hati berkata “ini tidak adil bagi mereka, dan aku harus bertindak” suara jangkrik dan cicak yang hanya menemaniku di malam itu, pikiran pun mulai terbayang apa yang kulihat tadi dan terbayang para warga yang sangat malang akibat kekejaman sesama manusia sendiri, di mana peran pemerintah yang selalu berdampingan bersama masyarakat, aku mulai berancana merangkul para warga penghuni gang kota untuk bersama-sama menghadapin masalah ini,

Keeseokan paginya, kulihat matahari yang cerah senatiasa menyinari bumi ini, aku mulai ke luar dari rumah menuju gang di pinggiran kota itu, aku mulai berjalan memasuki gang itu kulihat para warga menyambut pagi dengan gembira, aku menghampiri salah seorang warga dan menyapanya “pagi pak” dia menjawab “pagi dik, tumben pagi-pagi adik kemari?” aku menjawab “iya nih pak, ada mau disosialisasikan tentang masalah yang ada di gang ini, oh ya nama bapak siapa ya?” dia menjawab dengan tersenyum dan menjabat tanganku “oh itu, perkenalkan dulu nama saya Hartono,” aku pun mengenalkan diriku juga “nama saya Irfan pak” sejenak kami berjalan sembari mencari tempat untuk berbicara.

Kami menghampiri pondok yang tadi malam aku singgahi, dia mulai berbicara “gini dek kami sangat resah dengan masalah yang terjadi di gang kami, banyak limbah beserakan, sudah kami coba bersihkan tapi setiap hari ada saja orang yang membuang limbah sembrangan dan pemerintah setempat pun tak ada tanggapan untuk menanggulangi hal ini, setiap malam kami merasakan sesak oleh limbah tersebut,” aku mendengarkan semua keluhnya.

Aku berjalan dan menghampiri beberapa warga untuk mengajak mereka untuk mengeluhkan dan mengetuk hati pemerintah setempat agar ditanggulangi dan ditindak tegas masalah limbah ini, kami berjalan menuju ke gedung pemerintah setempat, dan pemerintah pun mulai terketuk hati dengan aspirasi yang kami sampaikan, sekian!

Cerpen Karangan: Muhammad Ramadhan
Facebook: Ramadan Gilbert

Cerpen Penghuni Gang Kota merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bumi Pertiwi (Part 2)

Oleh:
Waktu yang sudah dijanjikan pun tiba. Tiga bulan sudah mereka berjuang untuk pergi menikmati liburan bersama-sama, dan tepat hari ini mereka berempat telah menginjakan kaki di Bandara Soekarno-Hatta untuk

Tumbuhan dan Tanaman Ajaib

Oleh:
Pada suatu hari nirina mengunjungi taman yang berada di belakang pabrik. Tetapi tanaman itu tidak pernah di rawat, semua tanaman pada layu. Kata orang setempat taman ini tempat yang

Obrolan Di Bukit Utara

Oleh:
Cuaca sejuk di sebuah bukit yang menghijau. Bukit hijau yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Daun-daun pohon pinus melambai ditiup angin yang berhembus lembut di pagi ini. Seperti juga di

Makna Kehidupan

Oleh:
Indahnya tahun baru 2014 meskipun pada detik pertamanya, alam menyambutnya dengan tangis haru. Suka cita dan bangga langit kota menyambutnya dengan turun Gerimis nan indah. Bak bidadari yang turun

Kotaku Yang Malang

Oleh:
Namaku Sasha. Setiap hari aku berangkat sekolah dengan menaiki mobil yang pintu dan jendelanya ditutup rapat. Orang lain pun juga sama sepertiku. Sekarang sudah jarang sekali orang berjalan kaki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *