Reboisasi Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Lingkungan, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 19 June 2013

Namaku Kevin, aku lahir dari keluarga yang sangat kaya. Sejak kecil aku dimanjakan dengan berbagai kemewahan. Bahkan terlalu dimanjakan di rumah, aku tak pernah ingin tahu dunia luar. Yang ada dipikiranku hanyalah belajar dan bermain dengan fasilitas yang telah diberikan oleh kedua orang tuaku. Aku sangat jarang pergi keluar rumah, bahkan nyaris tidak pernah. Memang mulai kecil aku sangat di jaga dan disayangi oleh orang tuaku. Mungkin karena aku anak tunggal aku diperlakukan seperti itu.

Tahun ini adalah tahun dimana aku mulai belajar di sekolah baru. Aku baru masuk salah satu sekolah SMA favorit di Jakarta. Itu memang tidak terlalu mengejutkan jika di lihat dari nilaiku saat SMP yang bisa di bilang cukup sempurna. Tidak berbeda jauh dengan keadaanku saat SMP, aku hanya menyendiri membaca buku di perpustakaan atau asyik bermain game di sudut kelas saat jam istirahat. Sikapku yang satu itu bukannya tanpa alasan. Tapi karena aku dulu pernah berkelahi dengan temanku semasa SD. Jadi hingga kini aku lebih memilih untuk sendiri.

Hari-hariku memang sangat membosankan. Hingga suatu hari salah satu anak mendekatiku.
“Hey!, gak bosen apa setiap hari cuman bermain seperti anak kecil!” seorang gadis berperawakan indah dan rambut pendek ikal mengagetkanku. Aku sempat terpesona dengan kecantikannya.
“Hey!, kenapa bengong?” tanyanya seketika membuyarkan lamunanku.
“Siapa kamu?” tanyaku sinis.
“Kamu anak baru kan? Perkenalkan namaku Intan. Kamu?” tanyanya.
“Aku Kevin” jawabku.
“Mau apa kamu kesini?” tanyaku mulai akrab.
“Aku hanya penasaran dengan anak orang kaya, penyendiri dan cerdas seperti kamu” dengan gaya tomboy.
Pipiku seketika memerah ketika mengetahui bahwa seseorang gadis cantik tertarik akan kepribadianku. Memang selama ini aku belum pernah dekat dengan cewek. Apalagi merasakan pacaran. Aku merasa bahwa dia adalah cinta pertamaku. Semenjak saat itu kami mulai dekat dan semakin dekat.

Seperti biasanya, sejak saat itu ia selalu menggodaku yang bermain game di sudut kelas dengan gaya tomboy. Aku pun entah kenapa lama kelamaan mulai kehilangan sifat cuekku. Aku mulai merasa nyaman dengan Intan. Sosoknya begitu membekas dipikiranku. Badannya yang indah, wajahnya yang cerah serta ketomboiannya membuat aku semakin tertarik kepadanya.
“Kamu masih memainkan PSP lagi?” tanyanya penasaran.
“Terkadang” jawabku singkat.
“Ternyata kamu masih seperti anak kecil” ejeknya.
“Aku bisa bersikap dewasa!” Aku membantah dengan agak kesal.
“Masa?” tanyanya menggoda.
“Oke, aku tunjukkan bahwa mulai besok dan seterusnya aku bisa berhenti untuk bermain game!” tantangku.
“Oke, deal” dia setuju dengan penuh keyakinan.
“Lalu apa hadiahnya jika aku berhasil?” tanyaku.
“Akan ku ajak kamu jalan-jalan.” Katanya meyakinkan.
“Oke” kataku dengan senang.

Sebenarnya, berhenti untuk bermain game bukan hal yang sulit untukku. Aku sendiri juga bosan memainkan game yang tidak jauh berbeda setiap hari. Tapi itu kulakukan hanya untuk mengisi waktu luangku. Aku membuatnya nampak sulit agar Intan juga mau berkorban untukku. Dan hari yang telah dijanjikannya pun datang. Aku tidak bermain game lagi. Bahkan aku tidak membawa PSPku ke sekolah. Dan akhirnya Intan pun mengakui kemenanganku. Dan sepulang sekolah ia bilang ingin menemuiku di gerbang sekolah. Dari kejauhan pun wajahnya sudah sangat mencolok bagiku. Wajahnya memang selalu membuatku tak henti-hentinya memandanginya meskipun bercucuran keringat karena cuaca yang panas.
“Mau jalan-jalan kemana hari ini?” tanyaku.
“Sudah ikut saja, pasti kamu suka.” Jawabnya membuatku penasaran.

Akhirnya kami pun berangkat menggunakan sepeda motor. Ia yang menyetir dan aku yang duduk di belakang. Sungguh lucu memang seorang anak laki-laki di bonceng oleh wanita yang seumurannya. Wataknya yang memang tomboy juga mendukung itu. Motorpun dipacunya dengan cepat ke arah puncak. Awalnya ku kira kami akan jalan-jalan ke puncak. Kami akhirnya tiba di puncak. Dengan senang aku pun turun dari kendaraan. Karena baru kali ini aku merasakan sejuknya alam yang jauh dari kawasan perkotaan.
“Ini, untukmu!” serunya sambil menyodorkan bibit tanaman. Aku hanya terpaku tidak mengerti.
“Untuk apa bibit pohon itu?” pikirku.
“Wah, keburu mati nih bibit kalau di tinggal bengong terus” katanya menyindirku.
“Ah, kamu bisa aja” kataku sambil sedikit nyengir. “Lalu untuk apa bibit ini?” lanjutku.
“Ya untuk di tanam lah, memang buat apa lagi?” katanya dengan agak keheranan.
“Jadi kita kesini untuk menanam ini? Kupikir kita ke sini untuk bersenang-senang” kataku dengan agak kecewa.
“Hey, hey.. Kamu sudah janji akan jadi orang dewasa” Ia mengingatkanku.
Aku hanya mengangguk dengan muka murung.
“Jadi orang dewasa itu harus memiliki kepedulian kepada lingkungan, Rasakan udara disekelilingmu. Sejuk bukan? Itu karena pohon ini. Ayo kita tanam pohon ini agar udara disini tetap sejuk.” Lanjutnya sambil berjalan menuju tanah kosong. Akupun mengikutinya dengan muka murungku. Ia mulai menanamkan benihnya.
“Ayo, tanam bibitmu.. tunggu apa lagi?” tanyanya.

Dengan rasa jijik aku mulai menggali tanah dengan tanganku. Lalu dengan sekejap mata, tiba-tiba ia memegang tanganku. “Masak cowok takut kotor?” melihatku disertai senyumnya yang mengembang. Seketika aku berasa di surga. Melihat senyumnya yang manis, bagaikan melihat bintang yang jatuh tepat di hadapanku. Senyum itu pula yang membuatku berani melawan rasa jijikku.
“Aku gak jijik kok, asalkan kamu disampingku” kataku menggoda
“Tukang gombal!… tukang gombal!…” jawabnya dengan penuh tawa.

Hari pun beranjak sore. Matahari mulai tenggelam. Kami masih tetap bergandengan tangan menghadap ke arah matahari. Aku merasa berat jika hari ini berakhir terlalu cepat. Tapi waktulah yang memaksa kami berdua untuk bergegas pulang. Perjalanan yang cukup panjang memakan banyak waktu. Belum lagi kemacetan yang berada di beberapa titik. Alhasil kami sampai di rumah setelah maghrib.

Ketakutanku akan kemarahan papa dan mama terjadi. Aku dimarahi habis-habisan. Rupanya mereka sangat menghawatirkanku. Ternyata orang tua yang selama ini ku anggap tidak terlalu memperhatikanku. Yang selama ini kukira mereka hanya memberikan uang, uang dan uang ternyata juga peduli kepadaku. Aku merasa bodoh, tak tahu apa yang mereka pikirkan tentangku. Dan akupun hanya bisa menyesalinya di dalam kamarku.

Keesokan harinya aku berangkat sekolah di antar oleh supir pribadiku sendiri. Orang tuaku melarangku untuk pergi sendiri apalagi jika aku pergi dengan Intan. Begitu pula pulang sekolah. Aku di jemput supirku. Dan akan terus begitu. Namun, itu bukanlah masalah bagiku, asalkan masih bisa bertemu dengan Intan di sekolah. Meskipun hanya bisa mengobrol dengannya saat istirahat saja. Namun aku sudah cukup senang dapat memandangi wajahnya setiap saat. 1 semester pun kulewati tanpa berarti. Tiba saatnya waktu liburan. Aku berfikir bahwa itu akan menjadi saat yang membosankan, karena aku tidak dapat lagi memandangi wajahnya dan mendengarkan suaranya yang membuat aku semakin rindu padanya.

Aku mencoba membayangkan wajahnya untuk mengusir kerinduanku. Di tengah lamunanku, aku dikejutkan oleh dering handphone ku yang kukira sudah membusuk tak terpakai. Ternyata ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
“Hallo” tanyaku dengan agak lesu.
“Hey, vin! Mana semangatmu sebagai seorang pria?” tanya seseorang yang terdengar tak asing bagiku.
“Memangnya siapa ini?” tanyaku masih lesu.
“Apa kamu benar anak terpintar di kelas? Orang bodoh pun tau kalau aku ini teman dekatmu!” serunya lewat handphone.
“Ha? Ini Intan? Benar ini Intan?” responku dengan semangat.
“Iya, eh mau gak reboisasi di puncak lagi?” ajaknya.
“Tapi aku kan tidak boleh keluar denganmu” kataku menolak.
“Tapi ini kan liburan, liburan saatnya kita bebas kawan!” dia berusaha meyakinkanku.
“Hmmm…!!” aku berpikir sejenak. “Baiklah” kataku setuju.

Kami berdua langsung tancap gas menuju ke puncak. Tentunya tanpa sepengetahuan orang tuaku. Aku pun menikmati saat-saat bersamanya. Begitu pula sebaliknya. Terpancar dengan jelas pada raut wajahnya bahwa ia sangat bahagia. Kami berdua juga tak mau melewatkan untuk melihat matahari terbenam sambil bergandengan tangan seperti dulu. Akupun kembali merasakan rasa yang sama. Rasa tak mau berpisah dengannya. Tapi waktulah yang berkuasa. Hari semakin gelap dan kami bergegas pulang.

Sesampainya di rumah papa dan mama dengan wajah yang garang sudah menungguku di ruang tamu.
“Aku pulang..” seruku lirih.
“Kevin! Sini kamu!!” bentak papa.
“Ada apa pa?” tanyaku polos.
“Papa kan sudah bilang, jangan keluar rumah sembarangan! Apalagi dengan cewek itu!” kata papa dengan sedikit marah dan wajah garang.
“Tapi pa!” aku coba menjelaskan.
“Tak ada tapi-tapian! Sekarang kemasi barangmu besok kita berangkat ko Jogja!” papa memotong perkataanku.

Keesokan harinya aku pun terbang ke Yogyakarta bersama keluarga. Disana aku sekolah di sekolahku yang baru. Namun rupanya tak ada teman yang cocok denganku. Aku pun kembali menjadi anak pendiam. Hari demi hari kuhabiskan untuk merawat tanaman di kebun belakang rumah. Tiap kali aku menanam bibit baru aku teringat ketika dia memegang tanganku dan berharap agar dia ada disampingku saat ini. Meskipun itu takkan terwujud.

Cerpen Karangan: Sugeng Dwi
Blog: awanirukoite.blogspot.com
Facebook: Frank Kiberline

Nama : Sugeng Dwi S
TTL : Blitar, 05 Okt 1997
Facebook : Frank Kiberline
Saya hanyalah pemula, jika ada kesalahan mohon kritik nya ke facebook saya. Terima kasih atas bantuannya

Cerpen Reboisasi Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kembalilah

Oleh:
PROLOG *Syurrrrrrrrr Hujan deras membasahi daerah Jakarta. Terutama sekitar daerah sekolah Dan rumah gue, daerah gue emang lagi rentan banjir. Makanya pulang sekolah kali ini gue lewat dari sekitar

Always Remember to You

Oleh:
“Felly, gimana sama band kita?” “Gue juga bingung Bram. Tapi, di sisi lain, gue nggak bisa menghindar dari hal ini?” “Jadi, lo tetep harus pergi Fel?” “Iya Bil, maafin

Separuh Coklat Hati

Oleh:
Aku terlelap dalam mimpi indah ku yang mampu membawa ku dalam ketenangan. Entah sampai kapan laki-laki separuh baya ini masih menemani di sampingku. Setelah aku sadar kehadiran laki-laki ini

Sweet 1st Anniversary

Oleh:
“Yak! (Hei!)” gadis itu berlari ke arah lelaki yang sedang bermain basket di halaman sekolahnya. Ya, gadis itu memang tidak satu sekolah dengan lelaki yang bermain basket tadi. Lelaki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Reboisasi Hati”

  1. ekowati says:

    Bagus semangaaaaaaaat……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *