Relawan Pantai

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 14 October 2017

Setiap orang pasti memiliki tempat favorit. Entah itu di gunung, kamar, taman ataupun sama sepertiku, pantai. Aku memang menyukai pantai sejak kecil.

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata pantai? Tempat berpasir putih dengan ombak biru dan pohon-pohon kelapa? Bagiku, pantai bukan sekedar hal di atas, bagiku pantai adalah tempat ternyaman di dunia ini setelah pelukan ibu.

Namaku Sabina Aurora, sahabat dan keluarga memaanggilku Oya, sementara teman yang baru kenal dan orang yang tidak terlalu akrab memanggilku Sabina. Usiaku dua puluh enam, usia paling menjengkelkan, karena setiap saat di meja makan bersama ibu dan ayah, mereka akan bertanya tentang kapan aku menikah. Yang akan selalu kujawab dengan “masih mencari yah, bu”.

Di usia kepala dua dan ekor lebih dari lima seharusnya seorang gadis sudah menikah, tapi tidak denganku. Aku lebih suka sendiri, bebas bersama teman-temanku kesana-kemari. Menikmati masa muda dan dunia kerja, lalu tentu saja bebas menikmati pantai tanpa interupsi dari pihak lain.

Seperti hari ini, aku menikmati pagi yang indah di tepi pantai. Rumahku memang tidak dekat dengan pantai, aku ke pantai ini karena sedang ingin berlibur dari sibuknya ibu kota. Pantai ini berada di sebuah kota kecil, tidak terlalu ramai, yang sangat disayangkan pantai ini sedikit kotor. Sampah botol plastik air mineral dan sampah-sampah yang lain berserakan di pasir yang putih. Aku sebagai penyuka pantai tentu saja kesal, tapi tujuanku ke sini untuk menghilangkan kepenatan, bukan untuk menambah kesal di dalam dada, jadi kunikmati saja suasana pantai ini. Mencoba tidak peduli pada sampah-sampah itu.

Deburan ombak terdengar menenangkan. Aku mencoba memejamkan mata dan menikmati semilir angin pagi hari. Sungguh menenangkan.

Tapi tiba-tiba suara ramai bagai dengungan lebah tertangkap Indra pendengaranku. Aku membuka mata dan menemukan sekitar sepuluh orang berseragam warna oranye tengah patuh mendengarkan seorang pria muda yang menjelaskan sesuatu, entahlah, suara mereka tidak terlalu jelas.

Orang-orang itu terdiri dari kakek-kakek, nenek-nenek, serta ibu-ibu, yang membawa kantung plastik besar berwarna hitam dan memakai sarung tangan. Dapat dipastikan bahwa mereka adalah pecinta lingkungan yang akan membersihkan pantai. Aku tersenyum, ternyata masih ada yang peduli pada pantai Indah ini.

Saat itulah, saat aku sedang tersenyum bersyukur, mataku dengan jelas menangkap sosok yang tadi memberi pengarahan. Seorang lelaki yang mungkin berusia sebaya denganku, tengah dengan semangatnya mengambil botol-botol plastik, ia terlihat sangat menawan. Entah kenapa tiba-tiba aku percaya pada Cinta pandangan pertama. Aku mengalaminya.

Lelaki itu berbicara dengan ibu-ibu di depannya, sesekali tersenyum dan astaga! Ia punya lesung pipi! Sungguh manis. Mataku terus terfokus pada setiap gerak-gerik lelaki itu. Ia tampan, dan aku yakin ia baik, mana mungkin seorang yang tidak baik mau menjadi relawan pembersih pantai?

Sesekali rambut hitam lelaki itu terbawa angin, membuat dirinya seakan terlihat berada dalam musik video artis-artis. Kadang pula ia berlarian mengejar sampah kantung plastik yang terbang dibawa angin, itu lucu, aku suka.

Gerombolan mereka semakin dekat dengan tempatku duduk. Jantungku berdetak tak karuan. Tapi yang pertama sampai di dekatku bukan lelaki itu, melainkan seorang ibu-ibu berambut pendek yang menggunakan topi lebar. Aku memanfaatkan momen ini untuk bertanya pada ibu-ibu itu.

“Selamat pagi bu,” sapaku basa-basi.
Ibu itu berhenti dari aktivitasnya dan menoleh padaku “selamat pagi”
“Ibu relawan ya?”
“Iya”
“Setiap hari ke sini?”
“Tidak, hanya hari ini sampai lusa, kami akan ganti tempat setelah tiga hari” ibu-ibu itu tersenyum, lalu melanjutkan mengambil sampah di sekitarnya.

Aku memutuskan akan mengunjungi pantai ini besok dan lusa, lalu mempersiapkan diri untuk berkenalan dengan lelaki itu.

Keesokan paginya aku kembali ke pantai. Tempat ini selalu istimewa, tapi kali ini kalah istimewa dengan lelaki berlesung pipi yang membuatku jatuh hati pada pandangan pertama.

Ketika aku sampai di pantai, rombongan relawan berseragam oranye itu belum datang. Jadi kuputuskan untuk duduk menikmati deburan ombak dan menikmati sentuhan pasir di jari kakiku yang telanjang.

Pukul tujuh lebih lima menit rombongan itu datang. Masih dengan seragam oranye, sarung tangan dan kantung plastik hitam besar. Laki-laki itu ada di antara mereka, tersenyum menjelaskan apa yang harus mereka kerjakan hari ini. Melihat lelaki itu tersenyum, aku ikut tersenyum, tertular.

Lama kupandangi paras tampannya. Kulitnya yang kecoklatan menambah menawan penampilannya. Tingginya di atas rata-rata, mungkin 180 senti meter. Ciptaan Tuhan yang Indah.

“Loh, mbak yang kemarin” suara seseorang membuatku mengalihkan pandangan dari lelaki itu.
“Eh ibu, halo” aku tersenyum. Ternyata ibu-ibu yang kemarin ku sapa.
Ibu itu mengangguk “di sini liburan ya?”
“Iya bu,” jawabku. Dalam hati menimbang-nimbang apakah harus bertanya tentang lelaki itu, dan ahirnya kuputuskan “Bu, itu ketua relawan ya?”
Ibu itu menoleh ke arah yang kutunjuk, dan beliau mengangguk “iya, itu mas Arif, ketua kita”
Aku hampir bersorak saat ibu itu mengatakan namanya, tapi urung kulakukan. Malu.
Ibu itu melanjutkan kegiatannya, dan aku melanjutkan kegiatanku. Menatap Arif dengan latar belakang ombak di pantai. Sampai lupa waktu.

Malam hari di hotel aku sulit menutup mata. Membayangkan sosok Arif, mengagumi betapa Indah mahluk itu. Tersenyum sendiri seperti tidak waras. Memukul-mukul wajah dengan guling.

Keesokan harinya aku ke pantai lagi. Meneguhkan niat untuk berkenalan dengan Arif. Merangkai kata-kata yang akan kuucapakan.

Membayangkan akan ada Arif di meja makan keluargaku, lalu mengenalkan pada ibu dan ayah sambil berkata “ini calonku” membuat pipiku panas. Aku cekikikan. Bersemangat menyusuri tepi pantai sambil menunggu datangnya rombongan relawan pecinta alam.

Sama sepert kemarin, pukul tujuh lebih lima belas mereka datang. Mataku mencari-cari sosok Arif. Saat menemukannya aku bersorak dalam hati.

Sengaja hari ini aku menggunakan make up, tidak seperti kemarin-kemarin. Bajuku hari ini juga rapih, dres selutut berwarna ungu muda, mungkin aku terlihat aneh, di pantai mengenakan dress, tapi aku tak peduli, karena menurutku dandanan ini terlihat cantik.

Aku berdiri menunggu rombongan itu mendekat. Jantungku berdetak tidak normal, mendadak aku berkeringat. Persiapanku sudah matang, aku tidak boleh mundur.

Tetapi mataku menatap hal yang aneh, ada rasa tidak suka menghinggapi hatiku. Arif terlihat berbincang-bincang dengan seseorang, bukan ibu-ibu atau nenek-nenek, melainkan perempuan cantik dengan kulit seputih susu. Tampaknya perempuan itu juga relawan dilihat dari seragam oranye yang ia kenakan.

Arif tertawa, tawanya sungguh akan membuatku meleleh andai saja Arif tidak sedang tertawa bersama perempuan itu. Aku mendengus kesal, siapa sebenarnya perempuan itu?

“Masih liburan ya?” suara yang kini tak asing hinggap di telingaku.
“Iya, nanti sore saya pulang” jawabku sambil memaksakan senyum. Hatiku masih kesal dengan pemandangan Arif dan perempuan tadi.
“Kok ngeliatin mas Arif terus?” pertanyaan ibu-ibu itu membuatku salah tingkah. Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
“Ah enggak kok bu. O iya, itu yang disebelah Arif siapa ya bu?” aku penasaran.
“Itu mbak Farah, istrinya mas Arif”

Seketika jantungku mencelos. Istri? Apa aku salah dengar? Kok tiba-tiba punya istri? Aku kesal setengah mati. Belum juga kenalan, belum juga dengar suaranya Arif, eh dia suda beristri. Hancur harapanku untuk lebih jauh mengenal Arif.

Sore harinya aku kembali ke ibu kota dengan perasaan hampa. Arif sudah beristri, istrinya cantik. Lelaki tampan yang beberapa hari ini mengisi mimpi-mimpiku. Sepertinya aku masih harus lebih lama lagi menikmati pantai sendiri. Mendengarkan ombak sendiri. Aku menghembuskan nafas pelan, bersiap sampai rumah nanti saat makan akan ditanya “kapan menikah?” oleh ayah dan ibu.

Selesai.

Cerpen Karangan: Icha Rizkina
Facebook: Icha rizkina
Halo, aku Icha. Pecinta sastra dan drama Korea. BTS ARMY yang lagi siap-siap buat Ujian Nasional sama SNMPTN

Cerpen Relawan Pantai merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


We Are Player

Oleh:
Kita adalah player. Sesama pemain yang tak punya hati dalam memainkan perasaan orang lain. Berawal dari pertemuan kecil yang membuat kita menjalankan game ini. Game konyol dengan hati sebagai

Hujan

Oleh:
“Na.. na.. nanna..” Aku bersenandung kecil sambil mematut diri di cermin, sambil sesekali mengambil baju yang pas untuk ku kenakan. 3 jam yang lalu. Kring.. Kriiing.. “Ugh siapa ini

Move On

Oleh:
Namaku alya, aku bekerja di kantor fashion. Hari ini adalah hari pertama kerja di kantor tempat tante aku berkerja walaupun aku gak di tempatin bareng tanteku, tapi aku senang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *