Sahabat Sepi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 26 May 2013

Kalut. Mungkin kata itulah yang dapat menafkiri perasaanku di saat angin tak lagi membekas, Menemani langkah gesaku dalam sunyi. Kala malam-malamku terisi dengan rasa kalut yang membelut, aku memilih pergi lalu berteman dengan sepi, Seperti sekarang ini. di saat seperti itu pula, entah mengapa, aku langsung teringat suasana mata air di desaku, dengan bunyi gemerisik air terjun sampai riak dan gelombang di arus yang tenang. Aku suka sepi, tentunya dengan suasana alami, tanpa bising mesin-mesin berjalan, tanpa koceh orang-orang yang berbicara mengalpakan harapan, atau pula dengan sederet peristiwa menyebalkan. Tetapi sekarang aku tak bisa menikmati sepi di mata air itu karena tempat dan waktu yang memburu. Ya, aku terlalu disibukkan dengan beragam rutinitasku, maksudku tanggung jawabku di bantaran ilmu ini.

Kugesakan langkahku, semakin cepat menyeruak di tengah keheningan malam, menuju bukit berharap di sana aku dapat menemukan sepi, sahabatku. aku melangkah dan terus melangkah tanpa ambil peduli pada pohon-pohon akasia atau rerumputan liar di kanan kiriku yang menatapku heran.

Di atas bukit, aku taburkan pandangan lalu kusebarkan pendengaran. Setelah beberapa lama, tak kutemukan sepi, sahabatku. Ada note-note lagu yang memecah atau seperti suara mesin yang dihentak-hentakkan. Entah, aku tak tahu dari mana suara itu mulai berlarik.

Malam mulai beringsut hingga ke puncaknya sebelum dini hari. Aku langkahkan kakiku kembali, mencari tempat yang bisa kutemukan sepi. Naluriku menuntun langkahku ke arah utara dari bukit di mana sekarang aku berada. Aku berjalan menjauh dari bukit, jalanan setapak kulewati dengan hati-hati. Rumput ilalang menyalami langkahan kakiku yang mulai basah karena langit yang tengah mengembun. Meski kadang aku terpeleset karena malam yang kian petang.

Dari kejauhan terdengar samar-samar gemerisik air yang jatuh lamban. Seperti ada yang mengundang, aku percepat langkah, tanpa disadari, di depanku sudah ada jalan raya yang membentang hitam, melintang pada arah timur dan barat. Gemerisik itu semakin menggendang di telinga. Kulihat sekilas di seberang ada pafing menurun.

Ternyata pafing yang tadi menuju mata air yang sekarang ada di mataku. Aku takjub sekaligus heran; wakaf, satu pohon menjulang tinggi, gemerisik air terjun kecil, sampai riak dan gelombang air, sama Persis dengan mata air di desaku. Tak ada yang beda sedikit pun. termasuk sepi yang bercengkrama denganku malam ini. Sepi, sahabatku.

Sepi mengajarkanku banyak hal, tentang kedamaian, menyatu dengan alam dan terutama mendekat pada tuhan di kala lingkungan tidak lagi memungkinkan.
Aku rindu akan sepi itu __-

05 mei ‘13

Cerpen Karangan: Khalilullah Al-fath
Facebook: Al-fath Adenk
lahir di hamparan bumi yang begitu luas dan semarak dengan keindahan, dengan beribu kasih yang berhambur dari kedua orang tua tercinta. seseorang yang begitu ingin menatap masa depan dengan pandangan mantap dan bisa menjadi lentera yang menyinari hati kedua matahari yang selalu hadir dalam kehidupannya.

Cerpen Sahabat Sepi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pohon Muda dan Paginya

Oleh:
Siapa menyangka ia akan sepagi ini. Ditemani sinar rembulan hilang. Di sapa deburan kasat mata. Baru kemarin ia keluar dari rumah keduanya, di antar ibu dan ayah. Rumah itu

Five Islands

Oleh:
Jaka menyeka bulir-bulir keringat di keningnya sambil duduk di bawah salah satu Rock Mushroom yang menjulang di sekitar puncak Brahma. Rock Mushroom adalah bebatuan vulkanis yang tercipta dari lava

Bumi Pertiwi (Part 1)

Oleh:
Penatnya Jakarta siang ini tak lantas membuat empat anak manusia yang dijuluki empat serangkai ini untuk berhenti menyelusuri hampir seluruh tempat yang ada di Jakarta. Saling bersahutannya suara klakson

The Go Green School

Oleh:
Suatu hari ada seseorang datang dan berkunjung ke sekolah kami. Pada saat itu seorang lelaki muda berbadan tegap dan tinggi berjalan melewati kelas kami dan menuju ruangan yang besar

Kolam Pasir Hitam (Part 2)

Oleh:
“Maksud dan tujuan saya membawa anda ke mari adalah untuk memerintahkan anda mengurangi atau bahkan menghentikan sebagian kegiatan industri anda yang merusak lingkungan. Mengurangi penambangan minyak, pengolahan, dan pemakaiannya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *