Untuk Alam Indonesia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 November 2018

Ada seorang anak yang bernama Raka, dia tinggal di Jakarta dan sekarang dia bersekolah di SMP N 1 Kamboja di kelas 8. Sejak Raka masih berumur 6 tahun, ibunya telah meninggal dunia, jadi dia adalah anak tunggal yang diasuh oleh seorang ayah yang baik. Nama ayahnya adalah Pak Herman. Ayah Raka adalah seorang dokter dari suatu perusahaan rumah sakit yang cukup besar yang memiliki cabang perusahaan hampir di seluruh Indonesia. Rumah sakit itu sangat peduli dengan daerah yang terpencil yang belum ada rumah sakitnya, jadi tidak jarang jika Raka dan ayahnya pindah dari suatu daerah ke daerah yang lain yang kemungkinan bisa di desa-desa terpencil. Hari ini ayahnya memberi tahu bahwa beliau harus pindah tugas ke provinsi Nusa Tenggara Barat tepatnya di desa Brabas, dan hal ini tidak membuat Raka kaget karena dia sudah terbiasa dengan keadaan itu.

Dua hari kemudian, Raka beserta ayahnya berangkat ke Provinsi Nusa Tenggara Barat. Mereka tinggal di desa Brabas, desa itu letaknya cukup jauh dari kota, tapi jalan untuk menuju kota bisa dilewati sebuah mobil dan jalan itu sudah diaspal. Saat ini, Raka bersekolah di SMP N 1 Manila dan dia telah bertemu dengan seorang gadis remaja yang memang asli dari daerah Nusa Tenggara Barat, namanya Elizabeth.

Baru satu minggu Raka tinggal di desa itu, tetapi sudah merasa tidak betah tinggal di sana, keadaan di desa Brabas sangatlah buruk, tidak ada pasokan air bersih memang di desa itu tidak ada sumber air bersih. Selain itu, tanah di sana hanya sebagian saja yang subur dan hanya ada beberapa pohon yang bisa tumbuh dengan baik.

“Apakah kalian tidak resah dengan keadaan di desa ini yang membuatku tidak nyaman untuk di tempati?” Tanya Raka kepada Elizabeth seraya menyeka keringat yang ada di dahinya. “Maaf kalau kami telah membuatmu tidak nyaman tinggal di sini, tapi kami sudah bersyukur bisa mempunyai desa yang aman” Jawab Elizabeth. “Oh, bukan kalian yang membuatku tidak nyaman tinggal di sini, namun hanya saja keadaan di sini sangat berbeda dengan setiap tempat yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Maaf aku tidak bermaksud menghina desa kecilmu” Sahut Raka dengan perasaan tidak enak terhadap Elizabeth. “Tidak apa-apa kok. Kamu ada benarnya juga, sebenarnya ini semua karena ada pertambangan batu bara illegal yang letaknya tak jauh dari desa ini.limbah dari pertambangan itu mencemari air sungai yang sebenarnya jenih dan membuat pohon-pohon di hutan di sebelah utara desa Brabas menjadi tidak bisa tumbuh dengan baik.” Kata Elizabeth menjelaskan. Sekarang Raka paham mengapa desa ini menjadin tidak subur dan tidak mempunyai satu sumber air pun yang bersih.

Setelah Raka tahu asal muasal kenapa keadaan desa Brabas bisa seperti itu, dia membicarakan hal ini dengan ayahnya. “Yah, menurut ayah bagaimana sih keadaan di desa ini?” Tanya Raka ketika selesai makan malam bersama ayahnya. “Ya… Sebenarnya ayah cukup perihatin denagn keadaan di desa ini. Sebenarnya ayah sangat ingin mengatasai masalah yang sedang terjadi di desa ini, tapi ayah tidak punya waktu karena yah harus merawat pasien yang selalu berdatanagn setiap harinya.” Jawab ayah Raka yang sedang menonton televisi. “Tadi siang aku di beri tahu oleh Elizabeth kalau penyebab ketidak suburan desa ini dan tercemarnya sungai adalah limbah dari pertambangan batu bara illegal yang letaknya tidak jauh dari desa ini, Yah.” Ucap Raka. “Oh ya? Kalau begitu ini tidak bisa di biarkan lagi, Ka. Ada salah satu dari kita yang bertindak, mungkin ayah bisa membantu.” Sahut ayah Raka. “Benar, Yah?” Tanya Raka dengan wajah yang berseri-seri, lalu ayah Raka memberi respon dengan menganggukkan kepala yang berarti jawabannya adalah ‘ya’.

Besoknya ayah Raka pergi ke kota untuk menemui direktur cabang perusahaan rumah sakit tempa ayah Raka bekerja. “Pak Didin, bolehkah saya berbicara dengan anda?” Tanya ayah Raka setelah dipersilahkan masuk. “Tentu saja boleh, kebetulan saya sedang tidak sibuk, ayo silahkan masuk Pak Herman” Jawab Pak Didin. Setelah itu ayah Raka menceritakan masalah yang terjadi di desa Brabas dan penyebab hal itu terjadi. Mendengar pernyataan itu, Pak Didin merasa sangat prihatin dan beliau berjanji akan memberitahukannya kepada pemerintah Nusa Tenggara Barat dengan segera, oleh karena itu ayah Raka merasa lebih lega.

Sesampainya di rumah, ayah Raka menceritakan kabar gembira yang berkaitan dengan masalah yang ada di desa Brabas kepada Raka, setelah Raka mendengar kabar gembira itu, dia menceritakannya kepada Elizabeth dan teman-teman sekelasnya. Setelah semua warga desa Brabas mengetahui kabar gembira itu, Raka mempunyai ide untuk membenahi keadaan alam yang ada di sekitar desa itu. Raka membicarakan tentang idenya dengan semua teman sekolahnya dan semua gurunya, dan ide positif Raka sangat di sambut dengan baik oleh semua warga sekolah.

Satu bulan kemudian gubernur Provinsi NTB mendatangi lokasi pertambangan batu bara illegal secara mendadak bersama Pa Lurah desa Brabas, Pak Gibernur memutuskan untuk menutup pertambangan illegal itu dan berjanji akan memberi bantuan air bersih. Akhirnya, bersama-sama Raka dan warga desa Brabas menanam kembali hutan yang hampir gundul. Dua tahun kemudian Raka bersekolah di SMA N 1 Anggrek. Hutan di sebelah utara desa Brabas telah subur kembali dan sungai yang mengalir di sebelah timur desa Brabas sudah agak bersih. Besok lusa, masa tugas ayah Raka di Provinsi NTB telah berakhir, tapi hal ini membuat Raka sedikit berat hati untuk meninggalkan desa ini. setelah diberi tahu bahwa Raka telah didaftarkan di salah satu sekolah di Australia oleh pemilik perusahaan rumah sakit tempat ayah Raka bekerja sebagai ungkapan terimah kasih karena Raka telah membuat desa Brabas dan beberapa desa lainnya yang terkena dampak limbah pertambangan illegal menjadi seperti sedia kala. Akhirnya, mau tidak mau Raka harus pergi ke Australia.

Besok lusanya, Raka dan ayahnya kembali ke Jakarta. “Raka, terimah kasih ya, kamu telah berjasa untuk desa Brabas dan beberapa desa lainnya yang terkena musibah yang sama cenagn desa ini. Kami akan menyatukan desa Brabas dengan desa lainnya menjadi suatu kecamatan yang akan berpusat di desa Brabas, jika nak Raka berkenan, Raka bisa memberikan nama kecamatan yang akan kita bangun ini.” kata Pak Lurah desa Brabas. “Baiklah, saya akan memberinya nama kecamatan Lestari, dengan ini saya berharap alam yang ada di kecamatan Lestari bisa terus terjaga keasriannya.” Jawab Raka. “Oh iya, ini kenagan-kenangan dari kita semua. Semoga kamu tetap mengingat kita.” Sahut Elizabeth dengan menyodorkan album foto kenangan untuk Raka. Sebeelum beranjak ke mobil, Raka berterima kasih kepada seluruh warga desa Brabas atas segalanya dan berjanji jika ada waktu dia akan menyempatkan untuk mendatangi desa Brabas.

Tamat

Cerpen Karangan: Dara Cahya
Blog / Facebook: Cahya Maudy
Ini adalah cerpen hasil dari tugas kelompok di sekolah. Tentunya juga karangan dari campur tangan temen-temen sekelompok. dan juga kunjungi wattpadku ya @Daracahyaaa untuk membaca tulisan-tulisan lain. Thanks 😉

Cerpen Untuk Alam Indonesia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mulut Yang Terbungkam

Oleh:
Kulihat seorang laki-laki yang sangat tampan dan cerdas berjalan melewatiku. Hatiku berdegup kencang seakan-akan mau pecah saat ia menyapaku. “Hai” Aku hanya membalas senyuman dan tidak bisa berkata apa-apa.

Ikrar Konservasi

Oleh:
Langit hitam, tak tak secerah hari kemarin sang surya tak mau menampakan batang hidungnya. Mungkin sang surya takut pada manusia sehingga ia harus sembunyi di balik awan hitam. Ketakutan

Perang Hati Remaja

Oleh:
Bel berbunyi, dan tina pun keluar dari mobil ayah nya, begitulah rutinitas dia selama duduk di bangku sma. “heh Tin, apa gak bosen kamu berangkat bareng sama ayah terus?

Teman Baruku Si Cinta Pertamaku

Oleh:
Saat matahari mulai lelah menyinari bumi, pelen-pelan dia terbenam ke arah barat, dan bersembunyi di belakang pegunungan, langit pun menjadi kemerahan. Saat itu juga aku terbangun dari tidur siangku.

Ternyata Aku Lebih Beruntung

Oleh:
“Memandangnya saja sudah membuatku senang apalagi.. ah sudahlah,” gumam Adhel dalam hati. Akhir-akhir ini Adhel memang sering melamun ia sering berkhayal tentang Dio. Dio adalah teman sekelas Adhel ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *