Angkot Ngot Ngotan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 2 February 2018

Hampir separuh hidupku kuhabiskan di angkot (supir angkot gituh?). Bukan deh, maksudnya adalah angkutan umum super canggih ini telah menemani hari-hari gua selama menjadi pelajar SMA sampe selesai kuliah.

Setiap mau pergi naek angkot ada barang yang wajib gua bawa yaitu sapu tangan dan pakaian dalam. Kok? ya pokoknya bawa ajalah. Sulit merubah kebiasaan ini. Mengingat cuacanya panas, nggak ada AC dan suasana hati penumpangnya juga bikin tambah panas. gua harus sering-sering ngelap keringet yang bercucuran membasahi muka.
Setiap mau berangkat ke kampus, gua harus naek angkot 19 arah Depok dan lanjut dengan kereta listrik ke Bogor.

‘Srok.. srok.. srok.’ elap, elap muka dengan pedenya. Meskipun sapu tangan gua ukurannya mirip sama handuk kenek kopaja, nggak peduli yang penting nggak kepanasan.
Gua sih nggak sadar, apa seisi angkot waktu itu melirik ke arah gua atau nggak. Setelah gua berusaha menyimpan kembali barang yang gua kira sapu tangan ke dalam tas. Ternyata adalah benda segitiga, yang lebih tepatnya segitiga tidak beraturan di segala sisi karena udah kendor. Apakah itu? CiDi alias celana dalem sodara-sodara setanah air.

Muka gua langsung sok nggak terjadi apa-apa barusan. ‘Toh bentuknya mirip sama sapu tangan, jadi nggak bakalan ada yang merhatiin’ pikir gua dengan muka mau ditenggelemin aja Kebiasaan gua membawa kedua barang ini yang berakibat tidak bisa dibedakan antar keduanya.

Ngomongin soal angkot, banyak hal yang bikin sebel. Waktu SMA meskipun gua pake bergo/jilbab (yang ukurannya lebih mini dari muka dan badan gua) dada gua masih terlihat membusung layaknya Pamela Anderson. Pernah satu kali di simpangan Pasar rebo, waktu angkotnya lagi ngetem. gua duduk di deket pintu masuk. Tiba-tiba ada tangan jail menyentuh bagian dada gua dari arah samping. Sumpah gua langsung meradang dan marah banget. Tapi sayang gua nggak sempet lihat orangnya yang mana, gua Cuma bisa menahan kesal dalam hati.

Angkot oh angkot. Selain cerita soal malunya gua pake celana dalem buat ngelap muka di angkot, pelecehan yang pernah gua alami sendiri, ada juga soal jambret alias kampret alias maliang alias copet. Masih di angkot 19 arah Depok. gua duduk di bangku dekat pintu masuk (lagi.. favorit banget soalnya). Ingat banget, waktu itu gua lagi pake tas warna hitam bercorak yang gua beli di Bandung. Si tas favorit gua ini memang tidak pakai resleting seperti kebanyakan tas. Hanya ada dua magnet yang kalo disatukan akan membuat si tas tertutup dengan tidak sempurna (kebayang kan? Yak bayangin aja dulu deh). Tepat di depan gua ada orang jelek (masih emosi nih) bergaya sok ala-ala mahasiswa gitu, pake tas ransel hitam yang posisinya dipangku dan menyentuh kaki gua yang lagi duduk manis, asem, asin, jedeer. Lama-lama tas hitam itu kok terus mendekat ke arah tas gua yang juga lagi dipangku manja di atas paha cewek cantik lemah lembut gimana gitu.

Tanpa curiga, gua menarik tas milik gua untuk mencari sesuatu di dalamnya (bukan celana dalem loh). Tapi apa yang gua lihat adalah bentuk percobaan ‘pemalingan’ bukan ‘pembunuhan’. gua liat dengan jelas, tangan itu orang jelek baru saja berusaha merogoh ke dalam tas gua yang sedikit terbuka. Dan tas hitam yang dia pangku itu ternyata sengaja untuk menutupi tangannya yang lagi mencoba meraba-raba isi tas gua. Dan gua nggak spontan teriak MALIIING ke arah orang jelek itu. Entah kenapa begitu. gua Cuma menunjukkan sorotan mata yang bener-benner marah, melotot sepanjang jalan sambil menahan emosi.
“Kiri, bang” si maling tadi minta turun.
Dan yang sangat menyebalkan ialah sambil nyengir kaya kuda sembelit dia bilang “Duluan ya”

HUaaaaaaaah.. lagi.. lagi gua terlalu takut untuk membela kebenaran. Ampuuun.
Okeh kita tinggalkan saja rasa sakit hati gua barusan. Selalu saja ada cerita soal angkot. gua pernah lupa bawa uang waktu masih pake seragam putih abu-abu, imut, ndut, lucu, cantik gituh. Angkot sudah mulai mendekat ke arah SMU Sudirman, gua kelabakan nyari-nyari recehan di kantong baju. Ternyata nggak ada, dan gua baru inget waktu ganti baju uangnya ketinggalan di baju yang satunya lagi di rumah. Sial apa untung ya nasib gua hari itu?

Gua turun dengan muka sedih, berduka, penuh penyesalan di balik bergo putih bunga-bunga cantik yang kekecilan di muka gua.
“bang, maap, lupa bawa uang” sambil berharap atau lebih tepatnya siap-siap disemprot si abang angkot 06 biru.
“Gak papa”
Dan si abang angot berlalu begitu saja. Rasanya tuh kayak nggak ada rasanya alias lemes, tatapan kosong, iba, pengen nangis.. hiks.. nggak bisa jajan soalnya.

Untuk sebagian orang rasanya nggak nyaman pake jasa angkutan yang satu ini. Sementara gua sebaliknya. Ketika orang lain bertekat masuk SMA favorit. Waktu lulus SMP gua punya keinginan yang sangat sederhana yaitu masuk SMA yang jauh dari rumah. Supaya apa? Supaya jaraknya jauh dan gua bisa naik angkot setiap hari. Keren kan? Sesederhana itu.

Pengalaman gua naik angkot menunjukkan tingginya jam terbang gua sama si angkot ini.
Waktu itu seperti biasa gua pake rok abu-abu yang kurang kece, baju putih lengan panjang dan tetap dengan bergo bunga-bunga kecil yang bikin muka gua jadi nggak kecil. Di depan gua ada sepasang orang tua yang seumuran sama bokap-nyokap gua sendiri. Waktu itu cuma ada kita bertiga di bangku penumpang. gua, si bapak dan si ibu yang duduknya agak berjauhan. Si bapak duduk tepat di depan gua. Awalnya gua pikir si bapak nggak sengaja menyenggol kaki gua dengan kakinya. Tanpa curiga gua tetep santai dan nggak berusaha menatap ke arah si bapak itu. Tapi lama-lama kok kaki gua disenggol terus-terusan, layaknya orang lagi ngasi kode gitu. Padahal angkotnya nggak ndut-ndutan seperti biasanya. Perjalanan sangat mulus waktu itu.
‘ada yang nggak beres’ pikir gua.
Gua masih tidak berusaha menatap si bapak tadi, karena dia pasti punya niat jelek sama gua.. Semakin mendekat ke arah sekolah gua pun langsung turun dari angkot dan ngacir sekencang mungkin.

Terkadang gua berpikir, gua aja yang nggak secantik primadona sekolah dan nggak selangsing Dian Sastro di film AADC masih banyak yang mencoba untuk berbuat jahil. Gimana dengan nasib temen-temen gua yang lebih cakep?

Gua jadi mengingat kembali kejadian di mall Blok M. gua lagi asik jalan-jalan sendirian di sana. Waktu gua berdiri di eskalator, tiba-tiba ada om-om yang kira-kira lebih pantes jadi bokap gua mendekat dan mencoba berbasa-basi yang basi banget pokoknya. Sambil terus mendekat dan menyapa gua gua terus-menerus, gua pun ambil langkah seribu dan menuruni anak tangga yang penuh sesak dengan pengunjung lain. Sekali gua nengok ke belakang, ternyata om itu berusaha ngejar gua. Pokoknya lari aja deh. Alhamdulillah… selamaaat.

Yak pengalaman yang sangat tidak mengenakkan ternyata yaa. Tapi tetap ada hal positif yang harus kita ambil. Apakah itu? Jangan lupa bawa duit kalo mau naik angkot.

Cerpen Karangan: Yenni Kurnia
Blog: Jengyenn.blogspot.co.id

Cerpen Angkot Ngot Ngotan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Istana Megah Dan Sepatuku

Oleh:
Di Sekolah Kejuruan yang sederhana inilah aku menuntut ilmu, dan akuntansi adalah bidang keahlian yang aku minati. Aku mempunyai banyak pengalaman di sini. Salah satunya adalah pengalaman ketika aku

Hari Istimewa

Oleh:
Hari ini adalah hari istimewa, ogut denger kabar kalau artis fb yang bernama Musiyem, hendak bertandang ke rumah ogut. Segala jamuan telah ogut persiapkan, dari biji salak, biji jeruk,

Parodi Rengasdengklok

Oleh:
Pada tanggal 15 Agustus 1945, setelah para pemuda mencapai mufakat di sebuah lembaga bakteriologi, mereka menemui Ir. Soekarno untuk mendapat persetujuan resmi. Dengan rasa percaya diri dan optimisme setinggi

This My Life (Inilah Hidupku)

Oleh:
Namaku habib el fahmi. Biasa dipanggil abib kadang ada juga yang manggil abek usiaku 16 tahun lebih, aku tinggal di sebuah kampung di kabupaten temanggung, aku mau cerita tentang

Nasi Goreng Ala Kos Kosan

Oleh:
“Daripada beli mending kita buat sendiri aja, bro. Hematlah duitmu itu, kumpulkan banyak-banyak buat modal nikahmu. Pokoknya buatanku gak kalah sama yang di rumah makan. Pasti enaklah!” kata Ruben

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *