Apes

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 June 2019

Pagi buta Ayumi masih setia pada ranjangnya. Sinar matahari sedang berjuang merayap di sela-sela jendela kamarnya. Ia merasakan suatu kehangatan menyelimuti wajahnya. Ayumi terbangun dengan mata masih sedikit tertutup. Ia merenggangkan seluruh ototnya dan beranjak dari ranjangnya. Ia membereskan tempat tidur dan beranjak menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri, ia memakai seragamnya yang masih putih bersih. Tidak lupa ia mempersiapkan buku-bukunya kemudian menuju ke dapur.

Hari ini adalah hari yang penuh warna. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari pertamanya memasuki sekolah. Setelah lulus SMP, Ayumi berencana memasuki SMA favoritnya. Tidak lain adalah SMA 3 Bandung, Jawa Barat. Sekolah tersebut tidak jauh dari rumahnya.

Setelah sarapan, dengan segera Ayumi berangkat. Tidak lupa ia pamit dengan Ibunya.
“Ibu, Ayumi berangkat. Assalamu’alaikum” ucap Ayumi seraya mencium tangan Ibunya.
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati di jalan, ya” balas Ibunya.

Cuaca hari ini mendung, tanda sebentar lagi hujan akan turun. Karena suasana hatinya lagi senang, Ayumi tidak peduli pada cuaca yang akan melanda dirinya. Ayumi berangkat tidak diantar. Apalagi mengendarai motor ataupun mobil, seperti teman- temannya yang lain. Ia berangkat sendiri dengan mengendarai sepedanya yang sudah dimakan usia 2 tahun.

Saat di perempatan, tanpa dia sadari, ban sepedanya kempes. “Aduh, kenapa sih harus kempes nih ban. Mana mau buru-buru lagi” keluh Ayumi. Sudah sekitar semenit mengeluh, akhirnya ia memutuskan membawa sepedanya ke bengkel. Tidak jauh dari tempatnya, Ayumi berhasil menemukan bengkel. Tetapi ketika Ayumi sampai di bengkel, bengkel tersebut tutup. Maka, seperti kejadian sebelumnya, ia kembali mengeluh. Benar-benar sial, terpaksa, Ayumi meninggalkan sepedanya di bengkel dan menuju sekolah dengan berjalan kaki.
Hari ini benar-benar sial. Ini hari pertama aku masuk sekolah, sudah dapat kesialan batin Ayumi sesekali menghembus napas.

Beberapa menit Ayumi berjalan menuju sekolah, hujan turun sangat deras. Tentu saja Ayumi sangat terkejut. Guyuran demi guyuran hujan membasahi pakaiannya. Yah, mau gimana lagi, Ayumi harus mencari tempat berteduh. Ayumi berteduh di warung makan Padang dan harus desak-desakan.
Sebagian pakaiannya basah kuyup karena guyuran hujan yang deras. Ayumi membersihkan pakaiannya yang basah dengan sapu tangan yang ia bawa. “Kenapa sih hari pertamaku jadi seperti ini. Ban kempes, bengkel yang tutup, dan sekarang hujan deras. Kesialan apalagi yang akan aku dapati” keluhnya sendiri yang tidak digubris oleh orang-orang disekitarnya.

Ayumi melirik jam tangan seorang mahasiswa yang berada di sampingnya. Ayumi merasa resah sekarang karena waktu sudah menunjukkan jam 6.33 WITA. Ayumi memang pergi pagi-pagi sekali, tapi karena kejadian yang menimpalinya sekarang, dia hanya bisa pasrah dan sesekali menghela napas. Dari kejauhan Ayumi bisa melihat sebuah angkutan umum. Ya, mungkin angkutan umum ini bisa membawaku ke sekolah pikirnya.

Ia memeriksa kantong bajunya, berharap dia tidak lupa membawa uang jajan yang telah dikasih Ibunya. Namun, itu hanya harapan belaka. Ia lupa membawa uang jajannya. Hanya secerak kertas yang sekarang dipegangnya sekarang. Jika ia kembali ke rumah tidak mungkin bisa. Bagaimana tidak, jam segini orangtuanya pasti sudah berangkat kerja. Ayumi kembali mengeluh dan mulai menangis. Pak tua yang melihatnya menanyakan apa yang membuatnya menangis.

“Nak, kenapa kamu menangis?”
“hiks… hiks hari ini hari pertama saya masuk sekolah, Pak. Tapi, saya harus merasakan kejadian yang tidak diduga. Ban sepeda saya kempes saat dalam perjalanan. Saat sepeda saya bawa bengkel, bengkelnya tutup. Dan saat saya berangkat dengan berjalan kaki, hujan turun” keluhnya seraya menghapus butiran air matanya.

Karena merasa kasihan, dia berjalan menghampiri motornya yang tidak jauh dari tempatnya berdiri dan mengambil jas hujan berwarna ungu tua. Dia kembali ke tempat dia berdiri semula dan dia memberikan jas hujannya dan tersenyum.
“Nak, ini jas hujan Bapak. Mungkin ini bisa melindungi dari hujan hingga sampai ke sekolah. Maaf, Bapak hanya bisa membantu sampai sini saja. Bapak bisa saja mengantarmu ke sekolah. Tetapi, jas hujan ini hanya ada satu”
“Ah, terima kasih sekali, Pak. Tidak apa-apa. Ini sudah cukup membantu saya untuk bisa pergi ke sekolah” ucapnya dan tersenyum manis.
“Sekali lagi terima kasih ya, Pak. Maaf membuat Bapak harus repot-repot membantu saya.”
“Sama-sama. Hati-hati di jalan, ya” kata Pak tua yang ternyata berprofesi sebagai tukang ojek di sekitar sini. Dengan semangat empat lima, Ayumi memakai jas hujan pemberian Pak tua dan segera berlari menembus guyuran hujan yang sudah deras sekali. Ia tidak peduli pada roknya yang sedikit demi sedikit terkena cipratan air. Yang sekarang dipedulikan adalah dia harus cepat pergi ke sekolah.

Ayumi tahu bahwa waktu yang ia punya sekarang hanya tersisa beberapa menit lagi. Karena itu, ia berlari secepat yang ia bisa. Tolonglah ya Tuhan. Untuk sekali ini saja engkau tidak memberikan kesialan kepada saya. Saya hanya ingin hari pertama masuk sekolah berjalan lancar batinnya berulang kali. Beberapa meter lagi, ia sampai di sekolah favoritnya.

Akan tetapi, Ayumi tidak tahu bahwa ada sebongkah batu besar di depannya. Hingga terjadilah kejadian yang tidak terduga, ia tersandung dan terjatuh. Untungnya, hanya rok yang basah, sedangkan bajunya dilindungi oleh jas hujan pemberian pak tua. Ayumi tersenyum simpul. Dengan segera, Ayumi bangkit dan berlari kembali.

Dia sudah tidak peduli pada roknya yang mengganggu ia berlari. Napasnya sudah terengah-engah tanda ia sudah mulai kecapean. Ia masih mengingat motivasi yang diberikan guru SMP nya. Karena itu, dengan sisa tenaga yang sekarang ia miliki, ia akan terus berjuang.

Akhirnya, sampailah ia di gerbang SMA 3 Bandung. Tapi, ada yang kurang beres pada sekolah ini. Gerbang sekolah yang ia lihat sekarang masih ditutup. Ia merasa gelisah sekarang. Apakah Ayumi sudah terlambat? Seluruh pertanyaan terus mengelilingi kepalanya. Dengan berani, ia melangkah ke pos satpam. Menanyakan perihal mengapa gerbang sekolah masih ditutup. Padahal masih kurang tiga menit lagi.

“Permisi, Pak. Saya boleh tanya?”
“Oh yah boleh, Nak. Ada apa ya?”
“Gini, Pak. Waktu masuk bukannya jam tujuh ya? Tapi kok gerbangnya sudah tutup. Atau jangan-jangan jam masuk sekolahnya berubah?”
“Oh itu. Maaf, Nak. Sebenarnya hari ini renovasi sekolah. Karena kemarin sekolah ini diserang sekumpulan siswa SMA 2. Jadi, hari ini libur” ucap Pak satpam membuat Ayumi merasa malu. Segera Ayumi meminta maaf dan beranjak pergi dengan membawa seluruh perasaan malu.

Cerpen Karangan: Amiril Hakim
Blog / Facebook: Amiril Hakim
Penyuka musik dan novel
Sekarang lagi menulis novel genre fiksi, misterius dan romance.

Cerpen Apes merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Dulu Kini Kembali

Oleh:
Sebuah kamar berwarna biru laut terlihat seorang gadis sedang menatap pemandangan di luar jendela. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu lalu gadis itu bangun dan membuka pintu kemudian masuklah seorang

Gita

Oleh:
Di ujung Desa Kembang, terdapat rumah besar berpagar besi berwarna kuning pucat yang sering jadi buah bibir penduduk desa. Di depan rumah itu terdapat pohon mangga yang sangat rimbun,

Friendship Story

Oleh:
Hari ini hari pertamaku masuk sekolah baru, aku baru saja pindah dari Jambi ke Jogja, karena ayahku dipindahtugaskan. Aku masih mengulat di atas kasurku, rasanya masih malas untuk bangun,

Tuhan Sayang Kita, Kok

Oleh:
Sinar mentari telah menerobos ruangan di mana Lina tidur semalam. Itu tandanya pagi telah menyapanya. Babak baru dalam kehidupan akan segera dimulai. Pukul 06.05. “Lin, bangun ini sudah siang.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *