Balada Guru Tua yang Dedikatif

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 10 December 2013

Suatu hari di sebuah sekolah. Di dalam kelas yang muram dan dingin. Kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Dipimpin seorang pak guru yang tengah berusia lanjut. Namanya pak jakma.

“pak apakah katak melakukan pembuahan telur di luar tubuh betinanya?” tanya salah seorang murid yang duduk di luar kelas. Maklum, kapasitas kelas terbatas.
“sebentar saya pikir-pikir dulu,” kata pak jakma sambil menaruh telunjuk di jidatnya, namun salah, malah ke matanya. “alalalah… Kecolok…”

Pak jakma berpikir cukup lama, sekitar tujuh purnama. Dia berpikir kenapa dia sangat sulit menjawab pertanyaan muridnya. Dia kan guru, harusnya dengan mudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari murid-muridnya. Pak jakma kembali berpikir cukup lama. Sudah lima puluh tahun dia mengajar pelajaran geografi. Tapi kenapa hanya karena sebuah pertanyaan katak yang melakukan pembuahan… nah! Memangnya geografi mempelajari cara pembuahan katak? Hah, betapa bodohnya saya, pikir pak jakma.

“hei anak muda! Ini pelajaran geografi. Kenapa kamu bertanya tentang katak?” tanya pak jakma pada murid yang bertanya.
“lho, ini kan jam pelajaran pertama?” kata murid itu yang belakangan diketahui bernama ngarbo.
“iya, memang. Ini jam pelajaran pertama. Yaitu geografi!” pak jakma mulai terpancing emosi.
“lho, jam pertama bukannya fisika, pak?” tanya ngarbo.
“bukan dong!” kata pak jakma. Anak yang satu ini benar-benar ceroboh, pikir pak jakma. Bisa lupa dengan jadwal pelajaran. Pelajaran geografi disangka fisika. Lha kok? Murid itu berpikir bahwa sekarang pelajaran fisika tapi dia bertanya tentang pembuahan telur katak? Aaarrrggghh…!!! Itu kan bukan materi fisika!
Pak jakma kini diliputi stress. Tapi dia mencoba tegar dan bertahan karena masih sisa satu setengah jam lagi pelajaran ini.

Pak jakma kembali memperhatikan ngarbo. Rambut cepak dengan wajah gaya renaissance pada periode musik klasik dan romantik. Ngarbo terlihat jelek dengan setelan batik warna dasar putih dan motif cakram berwarna hijau. Hah? Kok batiknya lain? Seingatnya SMA YPI batiknya berwarna dasar biru dan motif batik yang berwarna hitam. Pak jakma mengalihkan pandangannya ke murid-muridnya yang lain. Pak jakma kaget, hatinya mencelos. Murid-murid lain jika dipandang bernuansa coklat-coklat. Ya, murid lain memakai seragam pramuka. Hanya ngarbo yang memakai batik, itu pun batik milik sekolah lain.
“anak muda, kanapa kamu tidak pakai pramuka?” tanya pak jakma pada ngarbo, “dan ke mana batik ypi-mu?”
“batik ypi? Kenapa harus memakai batik ypi di SMA satu?” ngarbo balik bertanya.

Pak jakma kembali bingung. SMA satu? Apa maksud dari anak ini? Keringat mulai membasahi dahinya. Walaupun udara dingin tapi badannya yang keriput terasa panas. Panas sekali. Mulutnya mencoba berkata pada ngarbo. Tapi tenggorokannya seperti tertahan. Ia ingin bertanya, tapi khawatir akan jawaban ngarbo yang sejauh ini membingungkan dan mengesalkan.
Pak jakma mulai mengira-ngira. Tapi dia takut jika perkiraan itu benar. Jangan-jangan…
“anak muda…”
“iya, pak?”
“kau… kau pikir kita… kita… sedang ada di mana?” pak jakma siap mendengar jawaban ngarbo. Dia benar-benar khawatir. Keringat semakin membasahi sekujur tubuhnya. Pasti. Pasti ngarbo akan menjawab…
“di ypi kan pak?” jawab ngarbo seketika. “kok bapak pertanyaannya aneh?”
Pak jakma heran akan jawaban ngarbo. Beliau pikir ngarbo akan menjawab bahwa dia sedang berada di SMA satu. Tapi ngarbo sekarang benar, tidak ngaco.
“kalau di ypi kenapa pakai seragam batik SMA satu? Itu batik SMA satu kan?” tanya pak jakma.
“lho, kan saya murid SMA satu,” jawab ngarbo tenang.

Pak jakma kembali mengatur napasnya. Otaknya sudah cukup panas dengan kegiatan mengajarnya yang dari pagi hingga larut malam. Kini ia dipusingkan dengan seekor murid yang tidak jelas juntrungannya. Pak jakma mencoba tenang dan meredam emosi. Ia kembali mencoba bertanya pada ngarbo.
“a.. Anak… anak muda..” katanya tersendat. “kalau kau murid sma satu… kenapa… Kenapa kau datang… dan belajar di… di sma ypi ini?”
Pak jakma menanti jawaban ngarbo yang sepertinya akan ngawur kemana-mana. Ia siap meledak jika ngarbo mengeluarkan jawaban aneh lagi.
“kan gedung SMA satu dan sma ypi ditukar kan pak?” jawab ngarbo tetap tenang.
Ditukar? Apa lagi ini?
“apa maksudmu?”
Ngarbo kini ketakutan melihat pak jakma yang emosi.
“apa maksudmu gedungnya ditukar hah?”
“ka-ka-ka-ka- kan, ha-ha- hari ini, mu- mulai hari ini gedung ypi dan SMA satu ditukar kan pak?”
“siapa yang berkata begitu, ayo jawab!”
“ya- yang berkata begitu…”
“ayo jawab!”
“ya- yang berkata begitu, banyak pak.”
“siapa hah?”
“su-su- sule…”
“siapa? Sule?”
“a-a- azis…”
“azis?”
“i-i- iya pak. Parto juga pak.”

Pak jakma heran akan jawaban ngarbo yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa sule, azis, dan parto menetapkan penukaran gedung sekolah?
“mereka itu hanya melawak. Itu semua bohong!!!”
“ehm.. Ehm.. Ahim!” tiba-tiba, suddenly, terdengar suara berdeham dari pintu kelas. Ternyata itu suara kepala sekolah.
“kenapa pak jakma?” tanya kepala sekolah. “kenapa bapak bilang bohong?”
“maaf, pak kepala sekolah. Anak ini bilang gedung kita ditukar dengan gedung SMA satu,” jawab pak jakma.
“itu bukanlah perkataan bohong,” kata kepala sekolah. Pak jakma kaget mendengarnya.
“maksud bapak apa?”
“seluruh isi sekolah ini memang akan ditukar.” jawab kepala sekolah tenang. “bahkan pak jakma juga akan ditukar.”
“ditukar? Maksud pak kepala sekolah bagaimana?” pak jakma bingung.
“pak jakma akan ditukar dengan panci baru,” jawab kepala sekolah. “kebetulan panci saya sudah usang dan sudah harus diganti. Istri saya selalu mengomel.”
“apa? Saya akan ditukar dengan panci?”
“ya, begitulah pak. Saya mohon bapak ikhlas menerima kenyataan ini.” kata kepala sekolah yang masih meninggalkan kesan elegan dan futuristik.

Tak lama kemudian pak jakma dibawa oleh tukang loak dengan gerobaknya. Pak jakma terlihat sedih sambil duduk meringkuk di atas gerobak. Ia menyesali keadaan ini. Padahal dia penuh dedikasi dalam mengajar.

Pak jakma melihat dan memandang ke belakang. Pak jakma kaget dan terperangah. Ternyata tukang loak itu adalah, sule! Prikitiuw…!!!

Bekasi, awal 8 desember 2009

Cerpen Karangan: Lugman Ranso
Blog: bergulingguling.blogspot.com
Lugman Ranso. Memiliki sepasang ketiak yang masih aktif. Mampu memasak Indomi kurang dari tiga puluh menit. Pernah menjadi juara 2 lomba menggambar antar-RT saat masih SD.

Cerpen Balada Guru Tua yang Dedikatif merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lepas Tangan

Oleh:
Pagi itu Mei meninggalkan rumah, sapaan udara dingin pagi sukses mengenai tubuhnya. Ia Bergegas menuju sepeda, lalu mengkayuh secepat mungkin. Sekolah masuk pukul 07.00 tepat. Tapi pukul 06.55 ia

The Yellow Pants

Oleh:
“Oyy Cekung, lu nanti ikut nonton konser gak?” tanya Rio ke gue, yang tak lain adalah sahabat gue. “Ikut gue io, kabarin aje,” jawab gue santai. “Siap deh, tapi

Pesawat Kertas

Oleh:
Arin sedang berjalan jalan di sekitar taman dekat rumahnya. Arin kan gapunya rumah!!, eh iya maksudnya rumah orangtuanya. Ia bertemu seorang lelaki cukup tua yang sangat tampan dan berani

Cinta Pertama

Oleh:
Aku Ashilla, gadis 15 tahun yang baru merasakan cinta. Cinta pertama. Ya, karena saat ini aku baru duduk di bangku SMA. Kata orang masa-masa SMA merupakan masa penuh ambisi

Miss Es Batu

Oleh:
Gue lagi bingung mau ngapain, pekerjaan rumah udah gue selesaikan dengan amat baik dan dengan gaya yang super duper indah. Bayangin aja setiap pagi sebelum gue berangkat kuliah gue

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Balada Guru Tua yang Dedikatif”

  1. Vany says:

    Haha cerpen sableng! Ngakak bacanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *