Bidadari Berkacamata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 17 February 2016

Siang itu cuaca begitu cerah dan indah dengan sinar mentari yang tidak terlalu panas juga ditambah semilir angin yang membuat suasana saat itu menjadi terasa damai. Entah magnet apa yang mampu menarik perhatianku saat itu aku tak tahu, yang jelas, diriku seakan-akan berada di dalam sebuah medan magnet yang sangat kuat dan menarikku untuk terfokus pada sesuatu. Saat itu aku terpaku pada seorang bidadari cantik yang sedang mengendarai motor, bidadari itu berhenti di sebuah toko perhiasan yang berada tepat di seberang jalan lapak bakso milikku.

Aku tahu kalau dia tak sedang ingin membeli perhiasan, karena aku yakin kalau dia adalah karyawan baru yang ingin bekerja di sana, soalnya sejak 2 minggu lalu toko tersebut menempelkan kertas yang tertulis lowongan kerja, dan dia kelihatan seperti ingin melamar pekerjaan di sana. Pandangan mataku tak lepas darinya ketika ia berhenti di halaman parkir toko, dia mengendarai motor matic dan mengenakan helm abu-abu yang senada dengan warna motornya.

Waktu itu dia mengenakan gamis warna ungu dengan hijab yang senada dan ada sedikit pernak-pernik di bagian ujung lengan bajunya. Dia terlihat begitu anggun di mataku, dia bertubuh ramping dengan tinggi badan yang ideal, wajahnya yang terbalut hijab terlihat cantik, dan matanya terlihat begitu indah dari balik kacamata yang ia gunakan. Sungguh, bidadari berkacamata itu telah membuatku terpesona. Ketika sedang asyik mengamati karya Tuhan yang menurutku paling indah saat itu, tiba-tiba..

“Hoe Mas, bakso saya mana ya?” Teriak salah seorang pembeli yang dari tadi tak ku hiraukan karena aku sedang asyik mengamati bidadari berkacamata yang berada di seberang.
“Iya maaf, sebentar ya!” Sontak aku kaget karena teriyakan itu lumayan keras, dan sialnya, kuah yang seharusnya aku tuangkan ke mangok jadinya malah tumpah ke kakiku sendiri.

Setelah aku selesai melayani para pembeli, aku pun bergegas untuk kembali ke tempatku semula dan mencari sosok bidadari berkacamata yang tadi telah membuatku terpesona padanya, tapi sayang dia sudah masuk ke dalam toko, aku pun merasa kecewa. Dan akhirnya aku pun bertekad kalau aku harus tahu siapa dia! Pada keesokkan harinya, aku membuka lapak baksoku agak telat, karena aku bangun kesiangan. Aku bangun kesiangan bukan karena aku kelelahan atau karena alarmku rusak, tapi karena bayang-bayang bidadari berkacamata itu terus mengganggu setiap helai syaraf yang ada di dalam otakku. Hal seperti inilah yang membuatku merasa sangat kecewa, karena secara langsung jam kerjaku menjadi berkurang, dan secara otomatis, pendapatanku akan ikut berkurang juga. Tapi karena hal itu aku jadi bisa deket sama bidadari itu.

Kami berdua bertemu di toilet kecil berukuran 1 × 2 m milik toko tempat ia bekerja (dramatis ya, kami berdua bertemu untuk pertama kali di toilet). Toilet itu sebenarnya kusus untuk karyawan toko, tapi karena lapak bakso milikku cuma warung kecil kaki lima, jadinya susah bagiku mendapatkan air untuk mencuci mangkok. Sebenarnya bisa sih bawa jerigen air sendiri dari rumah, tapi aku males, soalnya ribet bawanya, jadi aku mencari jalan lain dengan cara bernegosiasi dengan pemilik toko agar memperbolehkanku mengambil satu atau dua timba air setiap harinya.

Kami bertemu ketika aku sedang di dalam toilet untuk mengisi timba air, tiba-tiba saja dia masuk ke dalam toilet, mungkin dia berpikir kalau di dalam nggak ada orang karena pintu toilet saat itu lupa aku tutup. Dia tersentak ketika melihatku, kemudian dia berjalan mundur ke luar dari toilet. Waktu itu aku merasa sedikit malu, apalagi ketika aku tanpa sadar berkata, “Mau pipis Mbak?” Tanyaku. Dia hanya menatapku dengan tatapan aneh tanpa berkata apa pun. Mungkin dia berpikir, tentang mengapa ada laki-laki di toilet ini, ini kan toilet untuk karyawan toko, sementara karyawan toko kan perempuan semua? Atau mungkin juga ada yang salah dengan kata-kataku.

Pada saat itu aku berpikir untuk membuat pertemuan pertama kami menjadi terkesan baginya, aku pun mempunyai ide untuk mempersilahkan dia duluan, karena biasanya seorang perempuan akan terkesan ketika melihat seorang laki-laki yang lebih mementingkan kepentingan perempuan daripada kepentingannya sendiri. Tapi sayangnya aku berpikir terlalu lama, timba airku saat itu sudah hampir penuh, dan akhirnya rencanaku gagal.

Setelah kejadian itu, jam buka lapak baksoku menjadi sedikit mundur dari biasanya. Kalau biasanya aku buka jam 7, sekarang menjadi jam 8, semua itu karena aku ingin kejadian itu terulang kembali. Tapi memang benar isi dari kata-kata bijak yang pernah ku dengar, kalau kesempatan itu tak akan pernah datang dua kali. Benar, kejadian itu pun tak pernah terulang lagi, dan setelah dua minggu berjalan, pendapatanku menjadi berkurang. Akhirnya semua ku kembalikan seperti semula.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, tak ada yang berubah, semuanya kembali seperti semula. Tapi aku jadi punya kebiasaan baru, yaitu memperhatikan bidadari berkacamata yang ada di dalam toko seberang. Ketika tak ada pembeli, kegiatanku cuma duduk diam terpaku mengamati setiap gerakan dari bidadari itu yang terlihat lemah gemulai seperti seorang penari jaipong yang sedang pentas. Rasa ingin tahuku tentang dia pun semakin besar, aku ingin tahu apa pun tentang dia, mulai dari namanya, tempat tinggalnya, apa yang ia sukai, pokoknya semuanya, tekadku menjadi semakin bulat untuk mengenalnya.

Sampai suatu ketika di sore hari yang indah, dia datang ke lapakku. Dia berjalan dari seberang jalan menuju lapak bakso milikku. Terlihat begitu indah caranya berjalan, kakinya yang jenjang terlihat mengayun-ayun di balik rok panjang yang ia gunakan, (tunggu! emang kelihatan ya kaki yang ada di dalam rok?). Dia datang pada saat lapakku sedang sepi. Aku hanya terpaku dan terdiam ketika melihat kedatangannya yang menurutku seperti sebuah iklan yang ada di tv. Dalam iklan itu terlihat seorang laki-laki yang sedang menyemprotkan parfum ke tubuhnya, dan tiba-tiba jatuh seorang bidadari dari langit, kemudian bidadari itu berjalan menghampiri laki-laki yang menggunakan parfum tersebut, dan itu persis seperti yang ku rasakan waktu itu, tapi bedanya bukan parfum yang menyemprot tubuhku, melainkan asap panas dari kuah bakso yang menyembur karena telah mendidih.

Dia datang untuk membeli 2 bungkus bakso. Aku pun berpikir apakah mungkin dia dengan tubuhnya yang seramping itu, mempunyai selera makan yang banyak? Tapi aku mencoba berpikir positif, mungkin ada temannya yang nitip. Aku tak ingin momen langka itu berlalu begitu saja, jadi aku berniat memanfaatkan momen itu untuk berkenalan dengannya. Ketika dia hendak membayar bakso yang ia beli aku mencoba untuk menanyakan namanya. Tapi sial, mulutku seakan tak mau diajak berkompromi. Mulutku serasa seperti diberi lem perekat super kuat, dan alhasil aku hanya bisa memandanginya saja ketika ia membayar bakso yang ia beli.

Beberapa bulan kemudian, aku menjadi sangat bersemangat untuk berjualan. Dan ia pun menjadi sering datang ke lapakku walaupun hanya sekedar untuk membeli 1 atau 2 bungkus bakso, itu saja sudah membuatku merasa sangat bahagia. Tapi meskipun dia menjadi sering datang ke lapakku, aku tak pernah tau sedikitpun tentangnya, yang aku tahu cuma dia suka bakso yang kuahnya sedikit. Karena setiap kali aku ingin mengajaknya berkenalan, mulutku selalu tak bisa diajak berkompromi, mulutku selalu kaku dan tak mau mengucapkan apa pun ketika dia berada di depanku.

Hari itu sungguh hari paling buruk dalam sejarah hidupku. Dimana hari itu toko yang berada di seberang tutup, dan itu tandanya aku tak bisa melihat dia. Suasana hari itu semakin buruk ketika hujan datang untuk menyapa setiap benda yang ada di permukaan bumi. Sebenarnya maksud hujan itu baik, yaitu untuk menyegarkan suasana, tapi bagiku tidak, karena jika hujan datang pasti akan diikuti dengan kepergian para pembeliku. Tentu bukan hanya itu saja yang membuat hari itu menjadi hari yang paling buruk, yang memperburuk hari itu adalah saat ia datang ke lapakku dengan seorang lelaki yang ku yakin dia pasti pacarnya, mungkin mereka baru jalan-jalan karena si dia hari itu nggak kerja. Ia datang bersama lelaki itu mengendarai motor sport yang sedang tren pada masa itu.

Ketika dia dan laki-laki itu berhenti tepat di depan lapakku, suara petir menggelegar di langit memecah keheningan untuk sesaat. Tuhan seakan tahu backsoud yang pas untuk suasana hatiku saat itu. Mereka berdua turun dari motor, kemudian dia datang menghampiriku sementara laki-laki itu duduk di kursi paling ujung. Dia memesan 2 mangkok bakso dan 2 jeruk panas, setelah itu dia pergi untuk menghampiri laki-laki yang menunggunya di kursi paling ujung. Canda tawa mereka sungguh membuatku tak bisa tenang dan membuatku ingin sekali menyiramkan 2 mangkok bakso dan 2 gelas jeruk panas yang ada di tanganku ketika aku mengantarkan pesanan mereka.

Selama setengah jam mereka berada di lapakku, dan selama itu pula aku hanya bisa duduk diam melihat mereka bercanda seperti dua ekor merpati yang sedang di landa asmara. Terkadang mereka tertawa bersama ketika sedang bercerita, terkadang dia terlihat gemas dengan laki-laki itu kemudian mencubitnya, sungguh pemandangan itu sangat indah di mata namun membuat sakit hati ini. Mereka bercanda seolah-olah seperti dunia ini hanya milik mereka berdua. (Hey di sini ada orang, aku bukan patung arca candi yang cuma bisa diam dan tak merasakan apa pun).

Ingin rasanya aku pecahkan mangkok atau gelas biar mereka tau kalau ada orang lain selain mereka, tapi aku berpikir kalau itu ku lakukan aku sendiri yang akan mengalami kerugian. Setelah mereka pergi, lapakku pun langsung ku tutup, soalnya hujan tak mau pergi bersama dengan kepergian mereka, hujan seakan ingin berlama-lama menyapa setiap benda yang ada di bumi. Dan hari-hari berikutnya aku memutuskan untuk tidak berjualan selama beberapa hari, karena aku butuh menenangkan diri sejenak.

Suasana hatiku telah kembali ceria, aktivitas keseharianku pun telah kembali seperti semula, yaitu bangun dari mimpi indah, mandi, ke pasar belanja bahan bakso, kemudian memasaknya, dan yang terakhir, berjualan sembari mengamati bidadari berkacamata karyawan toko seberang. Meskipun aku tahu kalau dia sudah punya pacar, tapi rasa kagumku padanya tak sedikit pun goyah, karena ada kata-kata bijak lain yang berbunyi. “Sebelum janur kuning melengkung dia masih milik umum,” kata yang terakhir sebenarnya menurutku kurang pas, tapi biarlah, yang penting maknanya.

Beberapa minggu setelah aku mulai buka, kejadian seperti waktu dia datang bersama pacarnya terulang lagi, tapi bedanya di hari itu toko tidak tutup dan cuaca saat itu sedang cerah, cuma dia hari itu yang tidak terlihat, mungkin dia izin untuk tidak masuk kerja pada hari itu. Setelah aku merasa yakin kalau dia hari itu tidak masuk kerja, aku pun berinisiatif untuk segera menutup lapakku, karena aku takut kalau kejadian itu terulang lagi, tapi setan dan malaikat yang mendampingiku seakan sedang berseteru dan itu membuatku bingung. Setan seolah-olah menyuruhku untuk segera menutup lapak baksoku, dia seolah berkata, “Tutup aja lapak kamu, bayangin kalau dia dateng lagi dengan pacarnya, emang kamu mau sakit hati lagi.” Tapi si malaikat berkata, “Jangan dengerin setan, nanti kalau kamu tutup lapak kamu, kamu akan rugi, pendapatanmu akan berkurang.”

Dan akhirnya mereka berantem, akupun memilih untuk menuruti kata malaikat, karena aku yakin kalau malaikat itu baik kata-katanya pun pasti juga bermaksud baik, dan soal kemungkinan dia datang lagi dengan pacarnya, aku sudah siap dengan itu. Dan benar, kejadian itupun terulang, tapi saat itu lain, kalau dulu ketika dia datang bersama pacarnya dengan diiringi backsoud suara petir yang menggelegar, saat itu backsoud yang mengirinya adalah sebuah lagu riang yang liriknya, “Libur telah tiba, libur telah tiba, hore, hore, hatiku gembira.”

Lagu itu berasal dari pedagang kaset DVD yang berjualan sekitar 10 meter dari lapakku. Lagu itu tepat sekali untuk menggambarkan suasana hatiku saat itu, karena saat itu dia datang sendiri, dan dari raut wajahnya dia terlihat sedih, aku menebak kalau mungkin dia baru putus dengan pacarnya. Melihat dia seperti itu bukannya aku ikut sedih, tapi aku malah merasa sangat bahagia, dan aku pun bertekad kalau saat itu juga aku harus tahu siapa dia. Waktu itu dia memesan 1 mangkok bakso dan 1 gelas es teh manis, ketika aku mengantarkan pesanannya aku berinisiatif untuk menanyakan namanya, ku panggil dia “Mbak,” dia menjawab dan menatapku dengan lekat, “Iya, ada apa Mas?” Saat itu dunia terasa berhenti, aku pun seperti terhipnotis, aku jadi lupa ingin berkata apa padanya, dan akhirnya aku hanya berkata, “Selamat menikmati Mbak.”

Sungguh aku tak mampu berkutik ketika melihat mata yang ada di balik kacamata itu. Usahaku tak hanya sampai situ saja, ketika dia sedang menikmati bakso, aku menguatkan diriku untuk mengajaknya berkenalan denganku, aku mengajak ia berkenalan dari jarak 3 meter darinya, karena aku malu untuk mendekatinya, aku berkata padanya dengan suara yang agak keras dan tempo yang lumayan cepat, “Mbak aku ingin berkenalan denganmu, apakah boleh ku tahu siapa namamu?” dia pun menoleh dan menatapku dengan lekat lagi, kemudian dia terlihat melepas earphone yang terpasang di telinganya yang tertutupi hijab, dia pun berkata, “Ada apa Mas?”

Sial ternyata dia nggak mendengar kata-kataku, dan akhirnya aku berkata seperti ini untuk membuatku tidak malu, “Mau tambah lagi Mbak baksonya?” Dia pun menjawab, “Nggak Mas, makasih..” Usahaku belum usai, saat ia telah membayar bakso yang ia makan, dan akan pergi, aku pun kembali ingin mengajaknya untuk berkenalan, karena saat itu adalah kesempatan terakhirku, aku pun memanggilnya lagi, “Mbak,” dia menoleh dan menjawabm “Iya ada apalagi Mas?” dan dengan penuh keyakinan aku berkata.

“Terima kasih, lain kali datang lagi ya,” dia tersenyum dan menjawab, “Iya sama-sama..” Entah apa yang membuatku susah sekali untuk mengucapkan kata itu, padahal cuma ingin tahu namanya saja, tapi susah sekali untuk mengutarakannya. Dan akhirnya aku hanya bisa melihat dia pergi menjauh dariku, tanpa ku tahu siapa namanya.

Cerpen Karangan: Safrizal Annur Huda
Blog: kata2bijaksafriz4l.blogspot.com

Cerpen Bidadari Berkacamata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Dia Dia

Oleh:
Sahabatku Daffa ya aku sangat menyukainya. Aku selalu membantunya jika dia ada kesulitan. Saat itu dia sms aku. From: Daffa To: Saya (Lisa) Lis aku akan berusaha menjadi yang

Ksatria Zaman Edan

Oleh:
Beratus-ratus tahun setelah perang batarayudha, kehidupan di bumi tidak juga lepas dari peperangan. Perang saudara masih berkecamuk dimana-mana, Afganistan, Israel-palestina, Poso. Perang Baratayudha, perang besar yang dewa harapkan dapat

Dementia

Oleh:
“DASAR BODOH!!! LU KERJA PAKE OTAK GAK?!! itu berita yang turun minggu kemaren kenapa bisa sampe muncul lagi di edisi tadi pagi, hah?! Punya otak gak sih lo?! Apa

28 Maret

Oleh:
Aku memang hanyalah seorang cowok yang tak bernyali besar untuk menatap matamu. Melihat wajahmu. Merasakan keindahan yang terpancar dari dirimu saat ini. Dan di sini, aku hanya bisa memandangi

Confused (Part 2)

Oleh:
Sementara Ferdy juga kebingungan mencari Debby. Ia mengajak si Aldy untuk menemuinya. “All, Debby gue ke mana?. Gue cariin dari tadi nggak ada, ke mana sih dia?” ujar Ferdy

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Bidadari Berkacamata”

  1. Rana Dakka says:

    Gila!Ini baru cerita gokil!Gw bacanya sambil ketawa-tawa sendirian. Nice cerpen!

  2. lily says:

    Haha , gila. Kasin itu tukang baksonya .

  3. Dodi Nur Alamsyah says:

    Konyol bro seperti hampir hampir mirip ama kisah gua haha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *