Bukan Liburan Biasa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Liburan, Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 April 2015

Seperti remaja lainnya, Sisi juga ingin merasakan liburan bersama pacarnya dan juga teman-temannya. Namun sayang, keinginannya tersebut ditentang oleh kedua orangtuanya, terutama oleh Mamanya. Hingga pada akhirnya Sisi pun berdebat dengan Mamanya, namun tetap saja perdebatan tersebut tidak membuat Sisi diperbolehkan untuk liburan ke puncak bersama pacarnya dan juga teman-temannya.

Namun takdir seakan memihak keinginan Sisi, keesokan harinya kedua orangtua Sisi pergi untuk menjenguk bibinya, sebenarnya Sisi diajak untuk ikut bersama, namun Sisi menolaknya dengan cara berpura-pura sakit. Tentu dengan kepergian orangtuanya itu, Sisi jadi lebih mudah untuk kabur dari rumah, terlebih lagi Pak Tono, sopir Sisi tidak mengantar kedua orangtuanya ke rumah bibinya itu. Dengan perasaan yang sangat gembira, Sisi pun menghampiri Pak Tono.
“Pak Tono, sekarang cepetan Pak Tono anterin saya ke rumahnya Reza”, pinta Sisi kepada Pak Tono yang dari tadi sedang asyik meminum kopi. “Sip non”, jawab Pak Tono tanpa banyak bertanya.

Akhirnya Sisi pun menuju ke rumah pacarnya, yaitu Reza. Namun sayang, kemacetan seakan melanda perjalanan Sisi, dan tentu kemacetan ini membuat hati Sisi dilanda resah dan gelisah, namun perasaan yang melanda hati Sisi tersebut tidak berlangsung lama, perasaan Sisi tiba-tiba berganti dengan perasaan iba, ketika Sisi melihat di balik jendela ada seorang ibu-ibu di dalam bajaj yang sepertinya ingin melahirkan. Dan tanpa bicara sepatah kata pun, Sisi langsung keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan yang sebenarnya.
“Bang, ibu-ibu yang di dalam, mau melahirkan ya?”, tanya Sisi kepada sopir bajaj tersebut. “Iya neng, ibu-ibu yang di dalem emang mau melahirkan”, jawab sopir bajaj tersebut dengan wajah yang panik. “Ya ampun kasian banget, sih..”, ujar Sisi dengan wajah yang prihatin. “Lho.. non Sisi kok malah disini, ayo non kita balik lagi ke mobil”, ajak Pak Tono. “Aduh pak, masa bapak gak ngeliat sih, kan di dalam ada ibu-ibu yang lagi pengen melahirkan, masa kita diem aja sih, kita tuh harus ngebawa ibu-ibu ini ke rumah sakit”, ujar Sisi kepada Pak Tono. “Iya juga sih, tapi caranya gimana non, kan jalanan macet?”, tanya Pak Tono.
Mendengar pertanyaan Pak Tono, Sisi pun terdiam, seakan tak bisa menjawab pertanyaan pak Tono, namun Sisi tak kehilangan akal, Sisi tiba-tiba mendapat ide.
“Ehm.. gini aja, gimana kalo Pak Tono gendong Ibu-ibu ini sampai ke depan sambil ikutin jalan aku”, ujar Sisi memberi ide. “Iya… iya non, tapi mobilnya gimana non?”, tanya Pak Tono kembali. “Aduh.. udah biarin aja mobilnya dititipin sama abang bajaj”, ujar Sisi tanpa berfikr terlebih dahulu.

Tanpa banyak bicara, Pak Tono mengikuti perintah Sisi dan meninggalkan sopir bajaj tersebut, namun setibanya mereka di depan, betapa kagetnya Sisi ketika melihat angkutan metromini yang ternyata menjadi penyebab kemacetan. Dan tanpa basa basi, Sisi pun langsung menendang metromini tersebut dengan kakinya, dan tentu saja hal ini membuat amarah sopir metromini tersebut meluap.
“Hei kau, kenapa pula kau tendang-tendang metro ku ini”, ujar sopir metromini tersebut dengan logat bataknya. “Lagian dari tadi gak jalan-jalan, gak tau apa kalo di belakang ada ibu-ibu yang lagi melahirkan!”, ujar Sisi dengan suara yang lantang. “Lantas urusan dengan ku apa? Memang aku yang bikin wanita itu hamil?”, ujar kembali sopir metro tersebut. “Aduh… Sakit…” ujar ibu-ibu hamil tersebut merintih kesakitan. “Aduh gimana nih, sabar ya bu.. sabar”, ujar Sisi dengan wajah panik. “Ya udah non, daripada kelamaan mendingan kita bawa ibu-ibu ini ke metro ini aja, mumpung metro ini lagi kosong”, ujar Pak Tono yang masih menggendong Ibu-ibu tersebut.

Ahirnya Sisi dan Pak Tono pun membawa ibu-ibu hamil tersebut ke dalam metromini yang tadi ditendang oleh Sisi. Sebenarnya Sopir tersebut mengusir mereka, namun dengan paksaan Sisi akhirnya hati sopir metromini tersebut luluh juga.

Dan dalam perjalanan mereka menuju rumah sakit, tiba-tiba saja Reza menelfon Sisi.
“Sayang kamu lagi dimana sih, kok kedengerannya rame banget sih disitu? kamu jadi kan ke rumah aku”, tanya Reza. “Aduh maaf ya sayang, aku kayagnya gak jadi liburan ke pucak deh, soalnya aku lagi dalam keadaan gawat darurat nih”, jawab Sisi. “Gawat darurat apaan?”, tanya Reza kembali. “Iya soalnya aku lagi lahiran”, ujar Sisi. “HAAA? LAHIRAN? SAMA SIAPA?”, ujar Reza dengan sangat kagetnya. “Eh.. salah-salah maksud aku.. ”
Gubrak…
Belum sempat Sisi mempebaiki kalimatnya, tiba-tiba saja handphone Sisi jatuh ke bawah, lantaran sopir metromini tersebut mengemudi dengan sangat cepat. Namun ketika Sisi hendak mengambil handphonennya, sisi melihat darah mengucur di kaki ibu-ibu hamil tersebut, tentu hal ini membuat Sisi terheran-heran, hingga akhirnya Sisi pun bertanya kepada ibu-ibu hamil tersebut.
“Bu, kok tadi saya ngeliat darah ngalir di kaki ibu sih, ibu dateng bulan ya?”, tanya Sisi polos. “Wah non Sisi, itu sih namanya bukan dateng bulan, tapi itu namanya pendarahan non Sisi”, jawab Pak Tono menjelaskan. “Aduh.. dek.. aduh.. sakit”, ujar kembali Ibu-ibu tersebut. “APA? PENDARAHAN?? adduh… gimana nih, bu sabar ya bu.. tarik nafas yang dalem-dalem terus keluarin, woi bang cepetan dong nyetirnya!”, ujar Sisi dengan wajah yang panik.
Dan tiba-tiba saja kepanikan Sisi pun terhenti, lantaran tiba-tiba saja Sopir metromini tersebut mengerem secara mendadak.
“Aduh.. bang kalo ngerem itu pelan-pelan dong, gak liat apa ada ibu-ibu hamil nih”, ujar Sisi marah. “Kau ini bagaimana sih? kita sudah sampai ini di rumah sakit”, jawab sopir metromini tersebut. “Hah? udah nyampe ya, ya udah kalo gitu cepetan Pak Tono bawa Ibu ini ke dalam”, ujar Sisi memberi perintah kepada Pak Tono.

Dan tanpa banyak bicara, akhirnya Pak Tono membawa Ibu-ibu hamil tersebut ke dalam rumah sakit yang diikuti oleh Sisi. Untung saja, saat mereka di dalam, mereka langsung bertemu dengan seorang dokter yang menangani tentang kehamilan, jadi ibu-ibu hamil tersebut langsung dibawa ke ruang bersalin.

Selama 1 jam lebih, Sisi dan pak Tono menunggu, dan tentu hal ini membuat mereka dihantui perasaan cemas, namun perasaan cemas tersebut tiba-tiba berganti dengan perasaan haru, ketika mereka mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin, dan kebahagiaan mereka pun diikuti oleh ucapan teirma kasih dari ibu-ibu yang tadi.
“Dek dan juga pak sopir, Ibu sangat berterima kasih sekali karena kalian sudah mau mengantar Ibu sampai kesini”, ujar Ibu-ibu tersebut sambil menggenggam tangan Sisi. “Sama-sama bu, oh.. ya Ibu juga gak usah khawatir soal biaya persalinannya, pokoknya semua biaya persalinan Ibu biar saya yang tanggung”, jawab Sisi. “Ya ampun dek, makasih sekali ya dek, saya doakan semoga adek selalu diberi kesehatan oleh Gusti Allah”, ujar kembali ibu-ibu tersebut. “Amin.. oh, ya kalo gitu saya pamit pulang dulu ya, soalnya udah mau malem”, jawab Sisi mengakhiri percakapan.

Setelah Sisi dan pak Tono pamit pergi, akhirnya mereka pun pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan, Sisi mulai mengerti bahwa liburan bukan hanya sekedar bersenang-senang dengan pacar atu teman, melainkan menolong orang juga berarti liburan, dan ini bukan liburan biasa bagi Sisi, ini adalah sebuah liburan yang menyenangkan baginya. Namun saat Sisi sampai di rumah, Sisi pun langsung disambut dengan sejuta pertanyaan dari kedua orangtua Sisi, lantaran orangtua Sisi sangat cemas karena anak satu-satunya itu tidak pulang ke rumah dari tadi pagi. Akhirnya Sisi pun menjelaskan semuanya kepada Mama dan Papanya, dan orangtua Sisi pun sangat bangga terhadap Sisi setelah mereka mendengar semua kejadian yang telah dialami oleh Sisi hari ini.
“Mama sangat bangga sama kamu Si, tapi ngomong-ngomong kok kamu pulangnya pake taksi sih, bukannya tadi kamu bilang berangkatnya pake mobil ya? terus sekarang kok mamah gak liat mobilnya sih?”, tanya Mama penasaran. “Ehm.. maaf ya Ma, mobilnya tadi aku titipin ke sopir bajaj”, ujar Sisi dengan suara pelan.
“Sisiiiiii…!!!” teriak mama

Tamat

Cerpen Karangan: Nola Dewanti
Blog: www.salahmencet.blogspot.com

Cerpen Bukan Liburan Biasa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Last Trap

Oleh:
“Diam! Siapa kau yang berani mengaturku! Kau bukan pacarku, kau bukan saudara ku dan bahkan kau bukan keluargaku! Apa hakmu menasihatiku?! Ingatlah Yuki, kau bukan siapa-siapa bagiku!!” Masih terngiang-ngiang

Gilang Story

Oleh:
Siang ini, di tengah-tengah bumi, di bawah pancaran sinar matahari yang panas. Aku berdiri di sebuah trotoar, menunggu angkutan umum lewat. Di sampingku ada dua anak SMA seusiaku menunggu

Prasangka

Oleh:
Peluh rasanya sudah membuat sekujur tubuhku basah, seragam putih yang kupakai mungkin sudah beraroma tak karuan asamnya. semua ini gara-gara pak Budi yang tanpa rasa kasihan terus saja menyuruhku

Lying By Boyfriend

Oleh:
Uh… mama pasti bakal ngomel lagi kalau tahu anak semata wayangnya pacaran, di usiaku yang menginjak 17 tahun ini aku selalu menunggu datangnya panggeran. Aku selalu berharap memiliki kekasih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bukan Liburan Biasa”

  1. Raudha says:

    Terima kasih kak atas cerpennya. Aku mau tanya kak. Kalau realita sosial dalam cerpen “bukan liburan biasa” apa ya kak, tolong diberi tau 2 ya. Terima kasih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *