Cafe Biru Muda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 19 November 2016

Mereka duduk berdampingan, sementara di seberang meja seorang gadis berambut sebahu tertunduk resah. Meja bernomor 18 itu diliputi ketegangan. Bahkan tidak ada seorang wetress pun yang berani mendekat padahal meja mereka masih kosong.

“Coba ulangi lagi apa yang kau katakan barusan” katanya dengan nada tinggi yang jelas-jelas ditahan setengah mati.
Laki-laki di sampingnya mengeraskan rahang. “Kali ini tolong dengarkan baik-baik.”
Tak hanya meja bernomor 18, tapi seluruh ruangan cafe bernuansa biru muda itu ikut menegang. Hujan rintik-rintik di luar sana semakin deras seiring melambatnya jarum jam. Bersamaan dengan guntur yang menggelegar, laki-laki itu kembali mengucapkan kalimat mematikannya.
“Aku akan menikahi adikmu, dia hamil. Karena itu sebaiknya kita putus.”
Bak disambar petir, ia merasakan telinganya berdenging ngilu. Seluruh ruang cafe berputar beberapa kali hingga ia memutuskan untuk berusaha berdiri. Dengan langkah gontai, ditinggalkannya pacar pengkhianat itu sesegera mungkin. Saat melangkah pergi ia masih bisa mendengar jeritan maaf sang adik. Namun tak ada yang bisa mengobati luka hatinya saat ini. Gadis berambut panjang itu terus melangkah walaupun dunia berputar semakin cepat dan cepat. Hingga akhirnya ia tumbang di bawah rinai hujan. Kehilangan kesadaran, atau lebih baik lagi jika ia kehilangan ingatannya.

Seseorang ke luar dari rumah sakit setelah 2 hari tak sadarkan diri. Hujan baru saja reda dan pelangi muncul di langit utara. Suasana sore yang begitu tenang. Ini adalah hari yang sempurna bagi Kira. Ia akan memulai hidup barunya setelah 2 hari berkelana di dunia bawah sadar.
Warna-warni di langit mulai memudar, namun Kira memutuskan untuk tetap menunggu kekasihnya datang menjemput. Hingga pelangi itu sempurna hilang, Tedy baru saja sampai di halaman rumah sakit.
“Maaf, Kira. Aku membuatmu menunggu” sesal Tedy setelah turun dari mobil. Kira hanya tersenyum.
“Aku beberapa kali menjengukmu, tapi kau tak sadarkan diri.” Tedy tampak berusaha memberi penjelasan, melihat Kira hanya diam.
“Aku mengerti,” kata Kira akhirnya. “Jangan terlalu mengkhawatirkanku, Sayang.”
Mendengar jawaban Kira dengan panggilan ‘sayang’nya itu, tiba-tiba air muka Tedy membeku. Rahangnya mengeras dan dadanya terisi penuh oleh keterkejutan.
“Aku harus menemui dokter. Kau tinggallah di sini sebentar” kata Tedy tegas. Ada getar aneh dalam nada bicaranya. Kira hanya mengernyitkan kening melihat kekasihnya berjalan cepat menuju ruang dokter.

“Amnesia retrograde. Nyonya Kira dipastikan terkena penyakit ini. Penderita akan kehilangan memori jangka pendek. Yaitu memori mengenai kejadian sebelum amnesia terjadi. Penyebabnya antara lain adalah kecelakaan atau kejadian yang menyebabkan shock dan trauma.”
Tedy terhuyung ke luar dari ruang dokter. Kenyataan terasa begitu berat baginya. Kesalahan terbesar bergelayut di pundak lelaki itu. Ia sadar telah menyakiti Kira, kekasih yang amat dicintainya. Namun Tedy juga menyadari ia mencintai Reta, adik kandung Kira yang kini hamil 2 bulan.
“Dokter bilang aku baik-baik saja kan, Sayang?” senyum Kira menyambut wajah lesu Tedy.
“Tentu” jawab Tedy singkat. Dipandangnya sepasang mata Kira yang penuh gurat cinta. Tedy tak menyangka bisa melihat mata itu lagi. Padahal beberapa malam yang lalu guratan cinta telah berubah menjadi benci dan kecewa.

Rumah megah dengan dua orang putri cantik, Kira dan Reta. Orangtua mereka begitu bangga dengan kedua bidadari yang selalu akur. Sayangnya, ibu-bapak itu berpirkir bahwa kebahagiaan sangat bergantung pada materi. Dan jadilah mereka jarang ada di rumah. Alhasil, selama bertahun-tahun Kira dan Reta hanya hidup berdua, berusaha saling melengkapi. Bahkan ketika Kira masuk rumah sakit, orangtuanya tak bisa pulang.

“Kak Kira! Aku senang kakak cepat keluar dari rumah sakit” sambut Reta dengan senyum dipaksakan. Ada sebersit kilat takut di kedua bola mata hitamnya.
“Reta.” Suara Kira datar.
Reta memejamkan mata. Ia siap dengan segala resiko demi meperjuangkan ayah bayi dalam kandungannya.
“Aku merindukanmu, adikku…”
Pandangan Reta sekejab menggelap. Apa ini? Kenapa Kira tidak marah? Oh, Reta menarik nafas lega. Mungkin kakak mengerti posisinya dan telah merelakan Tedy untuk bayi dalam kandungannya. Dengan lega dan penuh haru Reta balas memeluk Kira. Sementara Tedy yang melihat semuanya, diam membeku tanpa tau harus berbuat apa.

Reta menangis sesenggukan di depan meja rias. Tedy terduduk di bibir ranjang dengan pikiran kalut. Sekali lagi ia menyadari semua ini adalah salahnya. Tedy mencintai Kira, juga mencintai Reta dan bayinya.
“Sekarang bagaimana?” tanya Reta di sela isak tangisnya.
Tedy menggeleng. Ia tak yakin jika harus mengulang kejadian malam itu. Melihat mata Kira yang penuh cinta dipenuhi luka. Melihat Reta harus menjerit meminta maaf dengan suara pilu.
“Kita harus memberitahu Kak Kira sebelum terlambat” ujar Reta akhirnya, memberi keputusan.
Tedy mengangguk pelan. “Tunggulah dua-tiga hari lagi.”

Langit malam bertabur bintang. Hujan tidak turun seharian, mungkin tidak juga malam ini. Tedy dan Reta telah memilih hari.
Seperti mengulang sejarah, mereka bertiga makan malam di sebuah cafe bernuansa biru muda. Bedanya, kali ini Tedy sempat memesan makanan untuk Kira dan Reta. Mereka sempat makan sambil bersenda gurau. Tedy duduk berdampingan dengan Kira. Reta duduk di hadapan keduanya. Seorang wetress yang mungkin mengingat semuanya, mengerutkan kening heran melihat kejadian beberapa malam yang lalu mungkin akan terulang lagi.
Benar saja, wetress berseragan biru muda itu tak habis pikir. Sedang berlatih dramakah mereka bertiga? Atau berlatih skenario untuk casting film?
Dari kejauhan, dilihatnya gadis berambut panjang itu berurai air mata, tangisnya pecah lebih dahsyat dari beberapa malam lalu. Dengan cepat gadis berambut panjang itu beranjak pergi. Langkahnya gontai namun tegas meninggalkan area cafe. Tunggu dulu, sang wetress baru menyadari sesuatu. Wajah kedua gadis itu mirip. Jangan-jangan mereka adalah kakak-baradik. Kini pandangannya tidak tertuju pada gadis berambut panjang, tapi pada sosok lelaki yang duduk membeku disana. Dasar pria! Geram wetress itu dalam hati.

Langit bertabur bintang menghilang seketika. Berganti gulungan awan dan petir yang menyambar. Hujan akhirnya turun hari ini, membasahi jalan-jalan. Seorang gadis berambut panjang ke luar dari cafe bernuansa biru muda, dengan deraian air mata. Jalannya limbung, dan jelaslah gadis itu terpeleset di trotoar yang licin.

“Amnesia retrograde.” Dokter menjawab yakin.
Tedy dan Reta saling tatap. Apa yang harus mereka lakukan setelah Kira sadar nanti? Mengulang kejadian malam itu di cafe biru muda? Lagi?

Cerpen Karangan: Islaa Ed
Facebook: Islaa Edogawa

Cerpen Cafe Biru Muda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setitik Harapan

Oleh:
Kepergian memang menyakitkan tapi terkadang harus dilakukan untuk membiarkan kebahagiaan datang. Aku, seorang gadis berjilbab, seorang gadis sederhana yang menginginkan cinta dan kasih sayang yang sederhana pula. Aku berasal

Cintaku Tak Semanis Es Tebu

Oleh:
Ben, itulah panggilanku semenjak diriku duduk dibangku SMA, banyak orang yang mengejekku “Si Jom”, karena diriku Jomblo. Ya Jomblo, Aku selalu Jomblo. Mana ada cewek yang suka denganku, Aku

Akibat Cinta yang Terpendam

Oleh:
Saat Hima duduk di bangku kelas VIII SMP, dia sering memandangi salah seorang temannya yang bernama Ari. Hima begitu memperhatikannya, Hingga ia bertanya pada dirinya sendiri “Kenapa ya hatiku

Idolaku Cintaku

Oleh:
Namaku Mitha Maulida Savira Madinah. Aku lahir di Florida, Amerika, 18 Mei 2000. Aku kini berumur 17 tahun dan sudah lulus SMA, tapi berencana kuliah tahun depan, karena masih

My First And Last Love

Oleh:
Langit malam ini begitu gelap, menutupi bintang-bintang yang biasa ku sapa. Tetes demi tetes air hujan turun membasahi malam ini, menimbulkan sebuah melodi menyayat hati. Aku menengadah menghadap langit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *