Cia dan Pia Mau Beli PS4

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 23 September 2018

“Piaaaaaa! Ciiiaaaaa!” Sebuah teriakan menggelegar dari sebuah rumah di dalam komplek perumahan padat penduduk.
Teriakan itu membuat panik semua warga. Seketika, 8 unit mobil patroli polisi dan 4 unit mobil brimob lapis baja segera meluncur ke sumber teriakan.
“Maaf, maaf, tidak ada apa-apa sersan Rona.” Pak Bayu meminta maaf pada sersan polisi yang baru saja datang untuk memastikan keadaan.
Dengan wajah dongkol, sersan Rona kembali melanjutkan patroli.
“Memangnya teriakanku keras ya?” Tanya ibu Dewi dengan wajah tanpa dosa pada suaminya. Pak Bayu hanya mengelus dada.

Di lantai dua, masih di dalam rumah yang sama. Dua orang gadis kecil berusia delapan tahun masih terlelap. Wajah mereka sangat mirip. Cia tidur dengan mulut menganga dan pose yang sangat brutal. Pia tidur dengan kaki menempel di pipi Cia dan kepala yang menggantung di tepi ranjang.

Pia terbangun dari mimpi buruk yang membuatnya panik, ia menendangkan kakinya.
Bruakk!
Cia pun terjatuh dari tempat tidur, Pia segera melihat keadaan kakaknya di bawah ranjang.
“Aw sakit.” Rengek Cia sambil memegangi bagian belakang kepalanya.
Pia malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kakaknya yang malang.
“Dasar adik jahat!!” Pekik Cia kesal.
Pia masih tertawa terpingkal-pingkal ketika tanpa ia sadari bahwa Cia sudah tiba di sisi tempat tidur dengan niat jahat.
Bruakk!
Cia mendorong tubuh Pia hingga jatuh dari atas ranjang. Balas dendam sukses!
“Aw!” Pia histeris sambil memegangi pantat kecilnya yang baru saja beradu dengan ubin.
Cia dan Pia beradu pandang penuh aura membunuh. Memikirkan cara untuk saling membalas.

Sementara mereka bertarung.
Di ruang tamu, di mana Ibu Dewi dan Pak Bayu sedang menonton TV. Bu Dewi mengernyitkan dahi, sepertinya ia lupa akan sesuatu, tapi apa?
“Pa, sepertinya mama lupa sesuatu deh.” Ujar Ibu Dewi pada suaminya.
“Lupa nyimpen uang? Paling di bawah bantal atau di dalam kloset.” Pak bayu menjawab seadanya.
Bu Dewi menggeleng, “Bukan pa, kayaknya ini bukan uang, tapi…” Bu Dewi menghentikan ucapannya yang mendapat tatapan penuh tanya dari Pak Bayu.
“KITA KAN MAU KE RUMAH BIBI NENSY!! KOK LUPA SIH? ANAK-ANAK MANA LAGI?” Teriak Bu Dewi yang membuat Pak Bayu harus menutup telinganya menggunakan bantal sofa, kalau tidak ditutup begitu, telinganya bisa pecah.
Bu Dewi tidak mempedulikan keadaan suaminya, “Istri siapa sih ini? Bunuh tidak ya bunuh tidak ya?” Batin Pak Bayu.

Bu Dewi segera tiba di depan pintu kamar kedua putri kembarnya.
Tok… Tok…
“Sayang bangun, kita…” Ucapan Bu Dewi di potong oleh Pia.
“Emang sekarang jam berapa ma?”
“Jam setengah delapan sayang, sa…” Lagi-lagi ucapan bu Dewi dipotong, kali ini oleh Cia.
“APAA???”
“Oke ma, tunggu kita di bawah.” Ujar kedua putrinya serentak.
Bu Dewi senang karena kedua putrinya nampak bersemangat. Ia segera kembali ke ruang tengah.

Cia dan Pia berebut masuk ke kamar mandi.
“Kak Cia, Pia duluan mandi, awas ihh!” Ujar Pia sambil mendorong Cia.
“Ihh adik itu ngalah sama kakak, kamu yang awas!” Cia tidak mau mengalah.
Alhasil mereka berdua kembali berkelahi hebat. Namun tiba-tiba sersan Rona muncul entah dari mana, ia berkata “Mandi berdua saja, kalian kan anak-anak. Lagipula kalian ini saudara kembar.” Sersan Rona kembali menghilang secara ajaib.
Pia dan Cia menghentikan perkelahian mereka, menebak-nebak ke mana orang tadi pergi. Namun mereka tidak mau terlalu lama ambil pusing. “Ide bagus om!” Mereka segera masuk ke dalam kamar mandi bersama-sama.

Tidak lama kemudian Cia dan Pia sudah selesai mempersiapkan diri dan segera turun ke ruang tengah dengan terburu-buru. Bu Dewi dan Pak Bayu yang melihat penampilan kedua putrinya langsung tertawa terbahak-bahak.
“Anak kamu tuh!” Ucap bu Dewi.
“Anak kamu!” Jawab pak Bayu.
“Kamu!”
“Kamu!”
“Kamu!”
“STOPP!!” Jerit Pia dan Cia kompak. “Kita anak sersan Rona! Ups, anak kalian!”
“Ah iya-ya.” Ucap Pak Bayu sambil menggaruk kepalanya sendiri.

“Kalian ngapain pakai baju sekolah?” Tanya Bu Dewi yang masih menahan tawa.
“Lah kan sekolah ma?” Jawab Pia polos.
“Buahahahaha… Ini masih libur lebaran sayang! Kita kan mau ke rumah bibi Nensy.” Jawab Bu Dewi mantap pada kedua putri kecilnya yang kebingungan.
“Ah, benar! Hari ini mama papa akan membelikan kita PS4!” Pia dan Cia ingat, mereka segera kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian.

Bu Dewi dan Pak Bayu saling bertatapan.
“Waduh, mereka masih ingat janji kita tahun lalu pa.” Ujar Bu Dewi.
“Wah, PS4 itu kan barang yang mahal ma.” Pak Bayu bergumam.

Akhirnya, Pak Bayu, Bu Dewi, Cia dan Pia berangkat lebih lambat dari yang seharusnya.
Pak Bayu beserta keluarga tiba di kediaman Bibi Nensy. Bibi Nensy yang mendengar deru mobil butut pun segera keluar dari dalam rumah dan berkacak pinggang. “Kenapa gak dateng besok aja sekalian!”
Dengan wajah datar Bu Dewi menjawab “Oke! Kami kembali lagi besok ya.”
Bibi Nensy langsung menyeret Bu Dewi masuk ke dalam rumahnya.
“Aaa lihat Pia, bunganya cantik!” Cia menghampiri koleksi bunga dalam vas di ruang tengah.
“Aaa iya kak, lihat yang ini juga bagus!” Pia tak kalah antusias pada bunga-bunga itu.

Bibi Nensy, Pak Bayu dan Bu Dewi berbincang-bincang di halaman belakang. Topiknya tidak jauh-jauh dari dunia gosip selebriti.
Cia dan Pia asik bermain dengan koleksi bunga di ruang tengah.
Mbok Ade muncul dari dapur. “Halo non Cia, non Pia.”
“Halo mbok!” Jawab Cia dan Pia kompak.
“Mbok Ade kenapa gak mudik?” Tanya Cia.
“Apa boleh buat non, wong saya tidak dapat jatah cuti karena nilai matematika saya merah.” Jawab mbok Ade sedih.
“Mbok Ade kan pembantu, kok punya nilai matematika?” Pia bingung.
Mbok Ade menggelengkan kepalanya, “lagian mau mudik ke mana? Mbok Ade kan rumahnya di belakang komplek!” Mbok Ade tertawa sendiri.
Pia dan Cia saling bertatapan tak mengerti.

“Mbok Ade kita mau main!” Usul Cia.
“Main apa non? Lego? Jangan berantem tapi ya.” Mbok Ade memberi syarat.
Pia dan Cia menganggukkan kepala.

Mbok Ade segera mengambil setumpuk lego dari atas lemari dan meletakkannya di meja. Pia dan Cia bermain dengak akrab.
“Aku maunya buat gedung!” Seru Cia sambil melindungi lego yang sudah tersusun setengah jalan.
“Aku maunya istana!” Pia menentang usul kakaknya.
“Gedung!”
“Istana!”
“Gedung!”
“Istana!”
Pia dan Cia berkelahi hebat, jambak-jambakan, cakar-cakaran, tabok-tabokan. Mbok Ade yang melihat pertarungan dua bocah ajaib itu hanya bisa menghela nafas, “Mendingan nih ya saya disuruh nyapu dan ngepel istana plus gedung sekaligus, daripada harus meladeni dua bocah jelmaan iblis ini.” Batin mbok Ade.

Mbok Ade pun berkali-kali mencoba memisahkan kedua anak itu tapi tidak pernah berhasil, sampai akhirnya mbok Ade putus asa.
Tapi mbok Ade menemukan cara, ia segera menempatkan dirinya di tengah-tengah, di antara Cia dan Pia. Mbok Ade tersenyum senang karena tubuhnya memisahkan posisi Cia dan Pia. Sayangnya itu tidak bertahan lama, Pia dan Cia menginjak kaki mbok Ade, Pia kaki kanan dan Cia kaki kiri. Mereka dengan kompaknya menginjak kaki mbok Ade sekuat tenaga.

“Tolong… Tolong saya disakiti, ini KDRT! Tolong panggil polisi!” Teriak mbok Ade histeris.
“Ada apa ini?” Bibi Nensy muncul.
“Tolong nyonya, sakit!” Mmbok Ade merintih penuh derita.
Bibi Nensy melihat Pia dan Cia yang sedang memukuli mbok Adek penuh semangat. “ayo Cia! Pia semangat! Jambak!” Bibi Nensy bersorak-sorai.

8 menit kemudian pertikaianpun berakhir. Pia dan Cia kelelahan. Bibi Nensy kecewa karena pertunjukan kesukaannya berakhir. Mbok Ade pergi dibawa Ambulan menuju rumah sakit terdekat untuk segera dioperasi, sepertinya ia kena serangan jantung.

Bibi Nensy menggiring dua bocah itu ke halaman belakang, berusaha mengambalikan mereka pada orangtuanya.
“Pia, Cia,” Bibi Nensy membisik.
“Iya? Mau kasih THR kah?” Tanya si kembar kompak.
Bibi Nensy mendecak sebal, lalu berkata “Ya, karena kalian udah buat pertunjukan seru. Ini bibi kasih THR.” Bibi Nensy menyodorkan dua buah amplop bergambar hello kitty pada Pia dan Cia.
Pia dan Cia berteriak kegirangan. “Terima kasih bibi!” Namun ekspresi wajah kedua bocah ini segera berubah asam ketika membuka isi amplop yang ternyata hanya satu lembar uang dua ribu rupiah.
“Sudah kuduga.” Gumam Pia.
“Nenek sihir ini memang pelit.” Tambah Cia.
Bibi Nensy tersenyum iblis. “Oh iya! Tadi mama dan papa kamu bilang ke bibi kalau kalian mau dibelikan PS4 tapi mereka enggak tau kalian suka atau tidak.”
“Hah serius ma? Pa?” Tanya Pia dan Cia penuh harap.
Pak Bayu dan Bu Dewi tersedak. Bu Dewi menatap bibi Nensy dengan tatapan tajam penuh aura membunuh. Bibi Nensy hanya menanggapinya dengan senyum yang santai.
“habislah kalian,” Batin bu Nensy.

Kedua gadis kembari itu terlalu bersemangat, membuat Pak Bayu dan Bu Dewi menyerah. Mereka sekeluarga segera meninggalkan rumah Bibi Nensy untuk menuju toko game.

Di area sebuah mall yang besar.
Keluarga bahagia itu tiba di sebuah toko game yang di pintunya terpasang tulisan CLOSED. Cia dan Pia langsung berlari ke area playstation. Mereka sibuk memilih model terbaru dari PS4.

Pak Bayu dan Bu Dewi berjalan dengan malas menyusul anak-anaknya.
Pak bayu terkejut ketika melihat sang pedagang PS ternyata adalah orang yang sangat familiar baginya.

“Loh? Bukankah kau Sersan Rona? Kenapa polisi ada di sini?” Tanya pak Bayu heran.
“Wah pak polisi! Apa kabar pak!” Sapa Bu Dewi sambil memukul bahu sersan Rona.
“Wah iya pak polisi akakakak bapak dipecat ya?” Tanya Cia polos.
“Ssst… Kalian diam. Saya sedang menyamar. Apa kalian tidak lihat bahwa toko ini sedang tutup? Kenapa menerobos masuk begini?” Sersan Rona kesal.
Bu Dewi tidak menggubris perkataan Sersan Rona. Sersar Rona mengerti betul maksud dan tujuan orang ini.

“Ya sudah, mau PS yang mana? Cepat! Saya sedang mengintai teroris. Ayo cepat yang mana?” Sersan Rona mulai gelisah.
Bu Dewi tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Ia langsung mengambil kesempatan. “Menyamar? Hmm… PS4 Ini setengah harga kan?”
Sersan Rona mendelik tajam “Tentu saja tidak! Tidak ada diskon!”
“Ah PAK SER…” Bu Dewi sengaja meninggikan suaranya, namun terhenti karena sersan Rona menyumpal mulut Bu Dewi menggunakan stik PS.

Cia dan Pia menarik-narik celana Sersan Rona.
“Bongkar nih pak!” Ancam Pia.
“Hm! Bongkar! Bongkar! Bongkar!” Tambah Cia meyakinkan.

Sial, mereka mengambil keuntungan dari keadaanku. Jika aku mempertahankan harga, kemungkinan dua bocah kembar ini akan berteriak untuk membongkar penyamaranku dan buronan itu bisa lolos. Cih, keluarga ini jauh lebih merepotkan daripada menangani teroris yang membawa bom ke dalam mall ini. Batin Sersan Rona.
“Ya sudah iya setengah harga. Sudah cepat ambil dan pergi dari sini!”
Keluarga bahagia itu pun tersenyum lebar penuh kemenangan.

Cia dan Pia keluar dari toko PS sambil menggendong sebuah dus game besar penuh suka cita. Bu Dewi dan Pak Bayu tidak kalah senang.

Cerpen Karangan: Azizah Nurul
Blog: Naciwritersindonesia.wordpress.com
penyuka genre comedy

Cerpen Cia dan Pia Mau Beli PS4 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gamer Sejati Mencari Cinta

Oleh:
Malam sudah terlalu larut saat Ali amran masih berkutat di atas keyboard komputernya. Tangan kanannya masik asyik memainkan mouse dengan gerakan yang bervariasi. Maju mundur, kanan-kiri. Cepat sekali. Matanya

Sajadah Terbang

Oleh:
“Anisa bangun” ibu membangunkan Anisa yang sedang tidur. “shalat subuh dulu nak,” kata ibu. “Iya bu,” Anisa bangun dan langsung beranjak ke kamar mandi untuk wudhu dan segera shalat

Lirik Lagu (Part 1)

Oleh:
– Alvin “Kita putus Vin!!!” Entah untuk kesekian kalinya, aku mendengar kata-kata itu dari mulut pacarku sendiri. Dari sekian mulut, aku juga nggak ingat berapa yang sambil menyemburkan beberapa

Dia Yang Indah

Oleh:
Saat itu di siang yang panasnya cetar membahana. Gue lagi enak-enaknya minum es campur yang gue pesen.. Emh tapi yang mesen sih temen gue sendiri, guenya sih diem-diem aja

Gara Gara Never Diet

Oleh:
Kutatap seorang pria yang baru kemarin bangkunya bersebelahan dengan bangkuku. Namun ia sama sekali tidak merespon dengan menatapku balik. “Rey… kamu tuh ya.. kapan dietnya? Makan nasi aja bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *