Cinta Ketiga Belas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 December 2015

“Uh.. ah.. uh…” aku terus berlari.
“Uh.. ahh.. huh…” ku lihat gerbang sekolah hampir tertutup.

Sekolah adalah tempat kita untuk mencapai masa depan dan gerbang itu adalah gerbang masa depanku! Ku pacu langkahku lebih cepat lagi. Seharusnya para sprinter Kenya minder melihat kecepatanku ini. Celah gerbang semakin kecil. Pak Dul, satpam sekolah yang suka menghukum siswa terlambat dengan hukuman yang aneh-aneh, pura-pura tidak mendengarku walau aku berteriak-teriak agar ia tidak menutup gerbang. Celah gerbang semakin kecil, sudah tak mungkin lagi aku menyelip lewat celahnya. Aku pun melompati gerbang itu bak Jackie Chan sedang beraksi di layar kaca. Pak Dul ternganga melihat aksiku ini. Tak sempat pula aku memberinya tanda tangan. Sudahlah tidak dapat tanda tangan, tidak dapat menghukumku pula. Malang sekali nasib Pak Dul.

Pak Dul bertanya, “Kamu telat, ya?”
“Nggak kok, Pak, kan saya lagi dapet.” ku tinggalkan Pak Dul yang tampak sedang memikirkan sesuatu.

Di kelas, kami belajar bahasa Jerman. Ya, bahasa Jerman. Sekolahku memiliki kebijakan bahwa siswa mendapat dua pelajaran bahasa asing, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Harus ku akui, selera sekolahku memilih pelajaran bahasa asing tambahan memang bagus. Bahasa Jerman. Bahasa yang digunakan oleh pemain bola top macam Michael Ballack, Miroslave Klose, dan Franz Beckenbauer. Bahasa yang diucapkan oleh pencipta mobil Mercedes dan Porsche.

Bahkan, BJ Habibie tinggal di Jerman. Hebat, kan, bahasa Jerman itu? Namun, orang yang menguasai bahasa Jerman di kota kecil yang hanya memiliki dua POM bensin macam kota Duri ini sangatlah langka sehingga yang menjadi guru bahasa Jerman kami adalah seorang wanita paruh baya blasteran Indonesia-Nenek Lampir, eh, Indonesia-Jerman, bernama Miss Iva. Galaknya bukan main. Aku berani bertaruh, bila ku selidiki garis keturunannya tentulah akan ku temukan salah seorang anggota Nazi di bagian kakek buyutnya.

Selagi Miss Iva menjelaskan pelajaran, aku memperhatikan keadaan di luar lewat jendela kelas. Hari ini cuaca tidak terlalu cerah, agak berawan. Matahari bersembunyi di balik awan, hanya mengintip-ngintip saja. Beberapa ekor burung pipit sedang hinggap di dahan pohon ceri. Berleha-leha membuang waktu karena memang tidak ada tugas yang harus dikerjakan. Kalau lapar, tinggal cari pohon, makan. Kalau musim kawin, tinggal berkicau, menarik perhatian lawan jenis, lalu kawin.

Kalau tak ada kerjaan, ya berleha-leha lagi. Enak sekali jadi burung, tak perlu mendengar titisan Hitler marah-marah. Lalu Amir, si anak penjaga kantin, datang dan membidikkan ketapelnya ke arah seekor burung. ‘Plak!’ burung tersebut terkena ketapel dan terkulai di tanah. Burung-burung yang lain pergi meninggalkan si burung malang sendirian menghadapi nasib. Ternyata menjadi burung itu tidak enak, ya.

“Oleg Powder!” bentak Miss Iva, “Ambil ketapelmu dan bermainlah dengan bocah itu! Kamu kira saya tidak tahu!” ku perbaiki posisi dudukku dan mulai memperhatikan ke depan.

Miss Iva melanjutkan pelajaran. Aku melirik teman-temanku, beberapa menahan tawa. Ku lihat Aji cekikikan melihatku. Cekikikan saja terus sampai tercekik, kataku dalam hati. Di sudut belakang ku lihat Aldo sedang memperhatikan pelajaran. Aku tahu dia hanya berpura-pura karena ku lihat tangannya mempraktekkan gerakan ketapel, mencemoohku. Di bangku depan ku lihat Irdas memperhatikan Miss Iva dengan serius.

Yang ini asli karena ia memang murid yang rajin dan pintar. Ia tipikal murid teladan yang ada di setiap kelas. Menurutku, sebuah kelas baru bisa dikatakan nakal kalau di dalamnya tidak ada murid seperti dia. Dua bangku dari sebelah kiriku ada Shabrina, siswa yang menurutku dan murid lain paling cantik di kelas. Ia masih tersenyum-senyum. Kalau tersenyum, lesung pipinya muncul, matanya berbinar, pipinya memerah. Manis sekali. Ia tersenyum lagi, manis lagi. Tak heran ia dikejar-kejar banyak siswa karena ia memang menarik.

Bahkan, temanku Anwar, membuat daftar urutan siswa yang paling mungkin menjadi pacar Shabrina. Disusun berdasarkan besarnya peluang kemungkinan mendapatkan Shabrina. Toni, pria yang sedikiiiittt lebih ganteng dariku yang terkenal suka tebar pesona berada di urutan pertama. Irdas yang cerdas berada di urutan kedua. Sementara aku berada di urutan ke-13 dari 14 siswa laki-laki di kelasku. Itu pun karena Bagir tidak diikutsertakan karena ia adalah sepupunya Shabrina.

“Cowok yang hobinya ngupil dan melamun macam kau bakal susah dapat cewek, Leg.” begitu alasan Anwar yang tanpa tahu diri memasang namanya di urutan ketiga. Akan tetapi, entah mengapa aku percaya dengan Daftar Anwar. Selain karena ia memang jago memprediksi pertandingan sepak bola, aku memang hobi ngupil. Tapi akan ku buktikan. Aku, Oleg Powder, kelas XI IPA 1, pria ganteng yang mengilfilkan, akan mendapatkan gadis yang ku suka sejak kelas satu itu!

Daftar Anwar semakin meluas di kalangan anak lelaki di kelasku. Entah mengapa sebagian teman-temanku ikut-ikutan percaya dengan daftar sinting itu. Yang namanya berada di posisi atas, percaya dengan daftar itu walau sebenarnya mereka tahu itu hanya spekulasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Menipu diri sendiri untuk menambah rasa percaya diri. Sedangkan yang namanya berada di bawah, mengatakan bahwa daftar itu sinting (ups!) dan dibuat dengan asal-asalan walau sebenarnya mereka tahu bahwa urutan daftar itu memang masuk akal. Kali ini mereka menipu diri sendiri untuk lari dari kenyataan bahwa harapan mereka memang tipis untuk mendapatkan hati Shabrina.

Minggu depan sekolahku akan mengadakan acara Pensi. Semua anak cowok di kelasku, kelas lain, dan Kakak kelas berebut ingin mengajak Shabrina untuk pergi menghadiri acara Pensi. “Hai Shab, hari ini kamu manis seperti cokelat stroberi.” Toni mulai melancarkan serangan mautnya, padahal seingatku dia lagi PDKT dengan seorang Adik kelas.
“Terima kasih. Ada apa, Ton?” tanya Shabrina.
Toni menatap Shabrina dengan tajam. Tatapan yang membuat para wanita meleleh. Aaah… Toni… Eh, aku nggak ikut meleleh loh!

“Kamu mau, nggak, pergi ke Pensi sama aku?” Toni menyampaikan maksudnya. Aku yang mengintip dari jendela, menegang.
“Wah, aku nggak bisa, Ton,” jawab Shabrina. Aku dan beberapa penonton lain yang ikutan ngintip menjadi lega.
Shabrina melanjutkan, “aku udah ada janji sama seseorang.” para penonton tegang lagi.

Siapakah ‘seseorang’ yang dimaksud Shabrina? Pasti orang itu laki-laki karena semua teman perempuan Shabrina mengaku tidak membuat janji apa-apa dengan Shabrina. Anwar dan yang lainnya terus mencari tahu. Aku dan Aji sih tidak begitu semangat karena toh memang tidak ada harapan bagi kami. Aji di urutan ke-12 dan aku ke-13. Aji mengaku bahwa ia tidak tertarik dengan Shabrina. Pernyataannya itu memperkuat dugaanku bahwa dia seorang… itu loh, aku lupa nama sebutannya. Laki-laki yang suka dengan laki-laki. Aduuuh, apa ya namanya? Irdas juga tidak antusias dengan fenomena Shabrina. “Aku tidak tertarik dengan Shabrina.” kata Irdas. Aku menatap Irdas dengan curiga. Irdas menjawab tatapanku, “Eike bukan g*y!”

Hari ini Sabtu pagi. Nanti malam Pensi akan digelar. Tiket Pensi sudah ditebar. Shabrina makin dikejar.
“Bagir, ingat! Jangan sampai ada cowok yang mendekati Shabrina nanti malam.” Aldo mewanti-wanti Bagir. Kami berpendapat bahwa Shabrina akan pergi bersama Bagir, sepupunya.
“Iya. Tenang aja, dia emang pergi sama aku, kok. Karena Abi-nya nggak bisa mengantar dia.” Bagir berusaha menenangkan kami semua.

Malam Pensi pun tiba. Acaranya diadakan di sebuah aula milik salah satu perusahaan minyak di kota Duri. Karena sekolah kami bekerja sama dengan perusahaan ini, sekolah kami pun diizinkan untuk memakai aula ini. Tempatnya elegan, sering dipakai untuk pesta kawinan anak-anak para petinggi perusahaan ini. Para penonton pun berusaha untuk tampil sekeren-kerennya. Bahkan memaksakan diri agar terlihat menarik. Yang biasanya mandi asal-asalan, kali ini mandi sampai 30 menit. Yang biasanya memakai sandal Swallow, kali ini memakai sepatu yang mengilap. Yang biasanya berbaju kusut, kali ini memakai kemeja yang jelas baru disetrika. Semua demi Pensi. Dan sebagian demi Shabrina.

Saat semua orang berusaha tampil keren, ada dua cunguk yang menyempil di antara para penonton yang mengantre di depan pintu. Pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian yang biasa dipakai untuk main ke rumah teman, untuk main bola, untuk beli lontong di warung depan rumah, dan berbagai fungsi lainnya. Mereka adalah Aji dan Brad Pitt. Eh, Aji dan Oleg, maksudku. Aku terlihat seperti Panji si Petualang yang baru saja bertarung dengan King Kobra di hutan Riau. Sedangkan Aji, terlihat seperti Si Bolang tanpa kacu merahnya yang baru selesai bermain perang meriam bambu bersama anak-anak penduduk Gunung Singgalang.

Aku dan Aji memilih tempat duduk di pojok belakang, tempat yang tidak banyak orang. Kami tidak ada maksud apa-apa, loh. Karena aku normal. Nggak tahu, deh, dengan Aji. Hanya menghindari publisitas (halah!). Aku memperhatikan para penonton yang masuk satu persatu. Segerombolan cewek-cewek penggosip masuk sambil ketawa-ketawa. HP di tangan kanan dan tas di tangan kiri, sasaran empuk para jambret. Terlebih lagi sebagian dari mereka memang gemuk, jadinya makin empuk deh. Adapula sekelompok Kakak kelas cowok yang merasa dirinya populer dan jago, ketawa keras-keras seakan-akan sekolah ini mereka yang punya.

Lalu, yang ditunggu-tunggu pun datang. Shabrina! Dia cantik sekali. Wajah campuran Arab-Indonesianya tampak mempesona dengan kerudungnya yang tak pernah terlepas. Eh, lihat, di sebelahnya ada seorang lelaki dan itu bukan Bagir karena laki-laki itu tinggi. Mereka berdua duduk di tengah. Anwar cs dan beberapa Kakak kelas yang mengejar Shabrina duduk di sekitar mereka. Aku sih tidak ikut-ikutan. Karena kursi di sekitar Shabrina langsung penuh.

Selama acara berlangsung, anak-anak cowok di sekitar Shabrina heboh dibuat-buat. Ada yang seru sedikit, teriak tak tanggung. Sang MC melawak sedikit, ketawa dibuat-buat. Tujuannya satu, mengganggu kencan Shabrina dan cowok asing itu. Shabrina pergi ke WC. Aku tahu itu siasat. Nanti dia akan duduk di tempat lain lalu cowok asing itu akan pindah ke tempatnya. Trik lama. Shabrina tahu-tahu sudah duduk di sebelahku. Ya, di sebelahku. Ia duduk sekitar 15 cm di sebelah kananku, ia tersenyum kepadaku, manis. Ku lihat Aji di sebelah kiriku, ia tersenyum, pahit. Wow! Mimpi apa aku tadi di kelas?

“Mereka norak sekali,” keluh Shabrina, “untuk apa mereka sok-sok heboh begitu?”
“Mungkin mereka cemburu?” aku sok-sok menebak.
“Dengan?”
“Pacarmu itu?”
“Orang yang bersamaku itu?”
“Ya.”
“Yang benar saja! Dia itu abangku! Dia kuliah di Surabaya.” jawab si Arab cantik ini.

JEGERRR… Mampus, tuh, Anwar cs. Aku terus berbincang dengan Shabrina. Tidak salah, kan, aku duduk di belakang? Aku, Aji, dan Shabrina. Kini kami terlihat seperti pembawa acara Wara-Wiri. Tentunya, Shabrina menjadi bule cantiknya. Mungkin selesai acara kami akan menempel stiker ‘Wara-Wiri’. Hoho. Sejak malam Pensi itu, aku sering mengobrol dengan Shabrina. Dari hal-hal ringan seperti film, lagu, hingga hal-hal berbobot seperti lonjakan inflasi yang mencapai 2 digit. Aku sering menanyakan pelajaran kepadanya walaupun sebenarnya aku sudah tahu. Aku juga sering mengirim SMS untuknya dengan menanyakan PR lalu mengubah topik ke hal-hal lain, supaya bisa SMS-an. Itu trik yang sering ku lihat di TV.

Sepertinya aku jatuh cinta. Perasaan positif meluap-luap dari diriku. Bahkan menular ke lingkungan di sekitarku. Semuanya menjadi indah. Pak Dul yang suka menghukum siswa, terlihat seperti instruktur fitness berbadan sixpack sedang melatih siswanya. Miss Iva yang sedang memarahi seorang siswa, tampak seperti asistennya Iron Man yang cantik itu. Amir, anak penjaga kantin yang dekil, terlihat seperti seperti anak kecil yang menggemaskan. Aku tersenyum sendiri melihat semua itu. Seperti orang gila. Mungkin ini yang disebut cinta gila. Tapi aku tidak pernah mengatakan hal ini pada Shabrina. Sampai menjelang kelas tiga pun aku tidak pernah mengatakannya.

Ujian kenaikan kelas telah selesai. Aku sedang di sekolah untuk melihat nilai, siapa tahu ada yang udah ke luar. Miss Iva memanggilku dari kejauhan. Ah, apa kesalahanku kali ini? Sepertinya aku baik-baik saja selama seminggu ini dengannya.
“Ada apa, Miss?” tanyaku dengan wajah seramah mungkin.
“Aku ingin mengembalikkan buku-buku latihan kalian. Ini bukumu.” Miss Iva memberikan sebuah buku kumal.
“Oh iya, buku yang ini ku titipkan ke kamu saja.” Miss Iva memberi sebuah buku yang rapi dan wangi. Baru sekarang ku lihat ada buku rajin mandi.
“Ini buku Shabrina? Kenapa dikasih ke saya, Miss?”
“Ya, karena kamu pacarnya.”
“Saya bukan pacarnya.”

“Oh ya? Padahal aku sering melihat dia melirikmu di kelas. Pandangannya adalah pandangan suka.” jawab Miss Iva.
“Apa iya?” aku ragu-ragu tapi berharap itu benar.
“Tentu saja, gini-gini saya kan pernah muda!” ia tak terima teorinya diragukan.
“Padahal saya juga suka dia.” aku malah curhat.
“Aku sudah tahu. Kelas tiga nanti dia akan pindah ke Surabaya. Dia berangkat dengan pesawat pagi ini.” Miss Iva mengejutkanku.
“Dari Dumai atau Pekanbaru?”
“Dumai.”

Aku sangat menyesal karena tidak pernah memberitahu perasaanku kepada Shabrina. Aku langsung berpikir untuk menyusul Shabrina ke Dumai untuk menyampaikan perasaanku. Seperti yang sering ku lihat di sinetron-sinetron yang tokoh laki-lakinya menyatakan cinta saat gadis pujaannya hendak menaiki pesawat. Terus mereka berjoget-joget di bandara bersama penumpang lainnya. Keren banget pastinya.

“Jangan pernah berpikir untuk menyusulnya ke Dumai karena itu sangat sinetron! Jangan sampai kamu diperbodoh oleh sinetron!” Miss Iva membuyarkan lamunanku.
“Lalu bagaimana Miss?”
“Helllooo…. Sekarang alat komunikasi sudah canggih. Kamu tetap bisa berkomunikasi dengannya lewat SMS, Line, twitter, Facebook, atau Friendster kalau kamu cukup klasik!” jawab Miss Iva.

Harus ku akui, Miss Iva ini memang cerdas. Walaupun aku agak kecewa karena kisah cintaku tidak berakhir seperti di TV. Tetapi, hidup memang tidak harus sesinetron itu, kan? Sekarang aku sering mengobrol dengan Shabrina lewat SMS, YM, FB, kecuali Friendster. Aku tahu kalau dia suka aku. Dia juga tahu kalau aku tahu bahwa dia tahu aku suka dia. Ah, ribet! Pokoknya kami tahu kalau kami saling suka (Mungkin!). Aku tidak pernah menyatakan cinta kepadanya, ku biarkan semua mengalir apa adanya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Oleg Powder
Blog: sioleg.tumblr.com
Seorang pemuda yang punya banyak waktu luang.

Cerpen Cinta Ketiga Belas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Monyet itu Tulus (Part 2)

Oleh:
Hari demi hari pun kami lalui bersama, tak hanya suka, duka pun juga kami alami bersama. Setiap hubungan pasti ada kendalanya sendiri, sebagaimana dengan hubungan kami ini, kami terkendala

Tidak Harus Memilki

Oleh:
“wooy…” suara Cintya megagetkanku. “apaan sih, ganggu aja” jawab ku dengan cuek. “gue bawa berita baru, loe pasti kaget dengernya” kata Cintya. “kabar apaan?” balasku. “Mikha sama Dinda jadian

Emang Kebetulan

Oleh:
Namaku Yurenda Ainun Khofifah. Tapi aku lebih suka dipanggil Rere Senja. Bukannya nggak menghargai orangtua. Aku seneng aja pake nama itu. Aku kelas 2 SMP di salah satu sekolah

Waktu Di Balik Senja (Part 2)

Oleh:
Saat sampai ke gedung belakang sekolah, aku ditolak sampai tubuhku terhempas ke tembok. “Aauu..” teriakku kesakitan. “Kenapa? Sakit? Hah!” Bentak kakak ketua geng tadi. Aku hanya merunduk ketakutan. “Heh!

Cinta Berlapis Permen Karet

Oleh:
Pagi itu merupakan hari yang sangat cerah untuk bersekolah, Putra pun langsung berangkat dengan motor kesayangannya ke sekolah secepat kilat seperti menantang maut. Sesampainya di parkiran sekolah, putra melepas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Cinta Ketiga Belas”

  1. ayu yuniarr says:

    bagus:D
    luccu jg:P,,

  2. Oleg Powder says:

    Terimakasiiiih. Duh jadi malu.

  3. yandi says:

    Bagus bos, saya jadi terinspirasi.. Sukses

  4. Linda says:

    Bagus Cerpen nya,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *