Da Aku Mah Apa Atuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 December 2016

Namaku Aprilia Putri Handayani. Aku biasa dipanggil April. Inilah yang membuat aku bingung mengapa orangtuaku memberikan aku nama April? Sedangkan aku sendiri lahir di bulan Oktober? Ah sudahlah, da aku mah apa atuh?. Aku tinggal bersama orangtua dan juga adikku. Adikku bernama Febrianti Putri Handayani. Ya, adikku lahir tepat di bulan Februari dan inilah yang membuatku selalu iri kepadanya. Mengapa aku harus diberi nama yang tak sesuai dengan bulan lahirku? Tapi, da aku mah apa atuh?. Aku sekolah di sebuah SMK di kota Jakarta. Dan ini juga selalu membuatku bingung dengan orangtuaku. Mengapa aku selalu dipaksa masuk jurusan Tataboga? Jika keahlianku ada di bidang Otomotif? Ya, aku memang anak yang tomboy dan sering berbuat onar. Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa orangtuaku bersikeras menyekolahkan aku di jurusan Tataboga walaupun.. Da aku mah apa atuh? Nyalain kompor gas aja gemeteran, masak air aja kebablasan. Dan yang lebih membuat kepalaku berputar adalah ketika ibu bilang bahwa alasannya menyekolahkan aku di jurusan ini agar aku bisa menjadi seorang istri yang pintar menyajikan makanan untuk suamiku nanti. Apa? Suami? Umurku saja masih 15 tahun! Apa aku harus menikah sekarang? Dengan bodohnya aku bertanya kepada ibuku. Tapi.. Da aku mah apa atuh. Jangankan nanya, diem aja salah. Memang hidupku selalu salah. Huft..

“April, boleh gue duduk disini?” ucap kak Galih kakak kelasku.
“boleh a” jawabku. Kak Galih adalah kakak kelasku yang baik dan tampan. Jika ditela’ah lebih jelas, wajahnya ini mirip seperti personil CJR. iya, dia memang mirip Iqbaal CJR. kak Galih terus sibuk membaca bukunya. Entah mengapa aku terus memperhatikan ketampanannya sambil tersenyum
“pril, lo suka baca juga?” tanya dia.
“enggak a. Aku mah sukanya tidur” jawabku polos. Galih hanya tertawa kecil menanggapi jawabanku tadi. Entah karena deg-degan atau apa, tiba-tiba perutku terasa mulas. Aku segera berlari menuju kamar mandi sekolah.

“bruk!!” aku tak sengaja menabrak seorang lelaki yang sedang membawa buku sampai bukunya berceceran di lantai.
Ternyata itu adalah Arman Maulana. Bukan, bukan Arman vokalis band yang tampan itu. Arman yang ini tidak sama sekali mirip sang vokalis yang lagunya sudah melanglang buana ke seluruh Indonesia itu. Arman yang ini lebih mirip tukang lotre di sekolah SD ku dulu. “apa jangan-jangan ini anaknya tukang lotre itu ya?” gumamku dalam hati. Entah menyerah atau bagaimana, Arman melambai-lambaikan tangan padaku. “pril? Lo kenapa?” aku tersadar dari lamunanku tentang anak tukang lotre itu. Akhirnya aku membantunya membereskan buku dan mengucap maaf padanya.

Sore itu aku sangat bosan di rumah. Kuputar-putar channel tv namun tak ada juga acara yang menarik sore itu. Sampai kuputuskan saja untuk ke luar rumah sekedar untuk melihat pemandangan di luar walau hanya sebatas jemuran yang berjejer seperti baju di toko itu. “kring.. kring.” hp ku berbunyi sangat kencang. Aku mengambil hp ku di saku celanaku
“halo? Asalamualaikum” ucapku sopan.
“walaikumsalam pril. Ini gue, Galih”
“oh a Galih. Iya a ada apa?” ucapku gugup.
“anter gue yuk, cari buku buat tugas besok” katanya.
“oh iya a. Ayo” jawabku
“ya udah, gue jemput di rumah lo ya.” rasanya sangat bahagia mendengar ucapan Galih. Seperti mendapatkan hadiah pulsa dari operator seluler hatiku sangat senang kala itu.

10 menit kemudian Galih pun sampai. Aku pun pergi dibonceng motornya menuju toko buku yang Galih tuju.
“lo laper gak?” tanya Galih.
Aku hanya menganggukan kepalaku karena memang saat itu cacing-cacing di perutku sedang latihan paduan suara di dalam. Akhirnya Galih membawaku ke sebuah restoran. “ini apa a?” tanyaku ketika aku lihat makanan yang menurutku mirip dendeng sapi itu.
“ini namanya steak. Cobain deh” aku hanya terdiam sambil terus memperhatikan dendeng sapi yang tidak sedang melakukan apa-apa itu.
“a. Ini teh langsung dimakan?” tanyaku bingung.
“enggak. Sini gue potongin dulu” Galih memotong dendeng sapi itu menjadi beberapa bagian dengan sebuah pisau di sebelahnya.
Inilah yang membuatku semakin bingung mengapa orangtuaku tetap nekat menyekolahkan aku di jurusan ini sedangkan aku mah apa atuh? Liat pisau aja gemeteran apalagi harus ngiris masakan? Tapi ah sudahlah memikirkan kehidupan memang tidak pernah ada akhirnya.

“nih udah. Ayo makan” Galih menyimpan pisau itu dan menyuruhku makan adiknya dendeng sapi yang sudah dipotong kecil itu. Akhirnya aku memakan daging sapi itu. Menurutku, ini rasanya tidak seperti dendeng. Tapi lebih mirip daging qurban. Tapi.. Ah sudahlah da aku mah apa atuh? Setelah selesai memakan steake dendeng sapi itu akhirnya Galih mengantarku pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar. Dalam hati aku bergumam “kok ada ya restoran yang nyedia’in dendeng rasa daging qurban? Ah udahlah aku pusing”

hari demi hari aku dan Galih semakin dekat. Sepertinya aku mulai menyukai pria tinggi itu. Sikapnya yang perhatian dan baik justru membuatku semakin merasa ragu kepadanya. Aku semakin merasakan gejolak Albert Sebastian (Aku lelah bertahan tuk sebatas teman tanpa kepastian) ya semacam temen rasa pacar atau sejenisnya. Hari demi hari Galih terus dekat denganku sampai suatu haru aku melihat dia sedang berdua bersama seorang wanita berkulit putih dan bergigi pagar sedang duduk di taman. Aku mengendap ngendap dan bersemvunyi layaknyya detektif atau kurasa aku lebih mirip tim katakan putus. Aku memperhatikan gelagat mereka dengan seksama

“Hani, apa lo mau jadi pacar gue?” Galih menggenggam tangan wanita itu.
“lo serius gal?” Tanya wanita itu padanya
“Iya gue serius. Gue udah lama suka sama lo. Jadi apa lo mau jadi pacar gue?” Uxapnya lagi
“Tapi bukannya lo lagi deket sama si April?”
“Dia cuma temen dan gak lebih dari itu. Lagian gue gak pernah suka sama dia” tanpa kutonton kelanjutan drama yang menurutku jauh lebih sedih dari drama turki yang selalu ibuku tonton setiap sore itu, aku lebih memilih untuk berlari dari mereka. Sampai “bruk!” aku terpeleset hingga jatuh karena terlalu cepat berlari
“April?” Sepertinya Galih dan wanita bergigi pagar itu menyadari keberadaanku disini. “Sial! Siapa sih yang buang kulit pisang sembarangan!” Ucapku kesal. Aku segera bangkit dan berjalan menuju kelas. Aku menangis di dalam kelas itu teringat perlakuan manis Galih yang selalu menjanjikanku bahwa suatu hari nanti dia akan mengutarakan cintanya kepadaku. Setelah kejadian itu, aku tak pernah lagi berpapasan dengan Galih. Sampai hari itu setelah pelajaran olahraga aku melihat Galih di depan ruangan OSIS. Galih menghampiriku yang terus mencoba menghindarinya
“April dengerin gue dulu” Galih mencoba menahanku dengan cara memegangi tanganku. “udahlah a. Lepasin aku. Aku tahu tujuan aa selama ini ke aku jadi udahlah” ucapku seraya melepaskan tangan Galih. “Ini mirip drama turki episode ke 19 minggu lalu” ucapku dalam hati. Aku segera berlari ke taman sekolah untuk menghindari Galih. Kuluapkan segala rasa sakit dan kecewaku lewat air mataku ini. Kini aku tahu bahwa Galih benar tidak mencintaiku

“April, boleh gue duduk disini?” Kalimat itu? Aku menoleh ke arah sumber suara itu dan kulihat Arman duduk tepat di sampingku. Tapi kenapa dia bisa tahu kalimat yang pernah Galih ucapkan kepadaku itu? Apa jangan-jangan dia mengikutiku saat itu? Atau mungkin dia membaca cerita ini dari awal? Ah entahlah, yang jelas kini yang ada di sebelahku adalah Arman, bukanlah Galih yang selama ini aku cintai
“Pril, gue suka sama lo” ucap Arman dengan nada serius. Aku menatap Arman dan bertanya “kamu serius?”
“Iya. Gue suka sama lo dari awal kita ketemu waktu masa orientasi. tapi selama ini gue gak berani nyatain karena gue sadar, kalo gue mah apa atuh?” Aku terus menatap Arman yang kini menjadi seorang plagiat. “April, apa lo mau jadi pacar gue?” Arman memegangi tanganku. Aku hanya mengangguk tanpa ragu. akhirnya Arman memelukku dan menjatuhkan coklat yang sudah dia siapkan untukku.

sekarang aku tahu bahwa mencintai itu tidaklah lebih baik daripada dicintai. Dan aku akan memilih orang yang mencintaiku ketimbang harus mempertahankan orang yang aku cintai tapi belum tentu dia pun bisa mencintaiku. Dan aku akan menghargai setiap usaha Arman walau kini aku tahu bahwa dia bukanlah anak dari tukang lotre yang keberadaannya masih mieterius itu. Kadang aku berpikir mengapa cerita ini aku beri judul Da Aku Mah Apa Atuh? Mengapa tidak aku beri judul Misteri Hilangnya Tukang Lotre atau Dendeng Sapi Rasa Danging Qurban atau mungkin bisa saja kuberi judul Anak Tiri Yang Terbuang tapi ya sudahlah, kurasa yang terakhir itu tidak masuk akal. Tapi sekali lagi, da aku mah apa atuh? dan seperti apapun aku, aku akan tetap mensyukiri hidupku.

Cerpen Karangan: Andrea Silvana Vilim
Facebook: Andrea Silvana

Cerpen Da Aku Mah Apa Atuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Amnesia

Oleh:
Seorang gadis berjalan sendiri menyusuri jalan. Dengan membawa tas sekolahnya, Luna, nama gadis itu, berangkat menuju ke sekolahnya. Di tengah perjalanannya, dia disapa oleh seorang temannya, Sarah. Sarah menawari

Mengerti

Oleh:
“Dari dulu aku selalu penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan seperti… kenapa kita gak bisa terbang kayak burung, atau kenapa bulan berubah-ubah bentuknya, atau yang paling pingin kutanyain itu kenapa bumi berputar,”

The Secret Of My Love

Oleh:
Cinta yang dipendam sendirian memang menyakitkan. Orang yang kita cintai, orang yang kita dambakan, orang yang kita perhatikan, orang yang kita pikirkan setiap saat pun belum tentu berbalik memikirkan

Modus Tipis

Oleh:
“Nik, aku denger-denger dari temen-temenku, Arga kemarin kecelakaan lho,” beritahuku kepada Nikka, sahabatku yang menyukai Arga. “Hah? Apa? Kapan? Di mana? Kok bisa?” tanya Nikka dengan segala kekhawatirannya. “Kemarin.

Miripis Membawa Kenangan

Oleh:
Tadi 5 jam 56 menit 45 detik yang lalu. Terjadi hujan yang debitnya tidak terlalu deras atau biasanya orang-orang nyebutnya itu hujan miripis. Akibat hal itu diriku yang terbilang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *