Dimana Kolor Gue?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 31 May 2013

Gue tertidur pulas dalam alunan gelap malam di bawah genteng rumah yang sebentar lagi rubuh. Genteng rumah itu udah tua banget. Sampai-sampai gue merasa angker setiap kali ingin tidur. Kok angker, Tar? Ya emang angker. Lo pikir kata, “angker” cuma di pakai dalam dunia persetanan? Atau mungkin persepsi lo mengatakan, kalau angker itu ketika lo melihat pocong keramas di kamar mandi? Hah? Engga kan? So, jangan sembarangan menafsirkan kata angker. Masa pocong keramas lo bilang angker. Jangan aneh-aneh, deh!

Menurut gue, hal yang paling angker di dunia ini adalah ketika gue melihat para personil Cherybelle pakai kumis, berjenggot sambil menari gaya Trio Macan. Di tambah lagi, kalau ternyata mereka tumbuh jakun di lehernya. Idih… itu kan angker banget! Mereka topang dagu sembari ngedip-ngedipin mata dan membawa tongkat hansip. Haha itu tuh, sama aja kayak penghuni taman lawang yang pengen tawuran karena rebutan pelanggan. Dan gue sebagai penggemar Cherybelle ga percaya mereka akan seperti itu.

Di malam itu, iler bagaikan akses jalan penghubung antar pulau. Gue sedot iler naik dan turun seiring dengan hembusan nafas nan memburu. Pejaman mata pun seolah rekat karena belek. Yah… yah… yah, mungkin kalau boneka Hello Kitty dan Teletubies di kamar gue hidup. Hal pertama yang mereka lakukan di malam itu adalah berjalan perlahan menghampiri gue. Kaki minjinjit layaknya penari balet. Kemudian kalau sudah tepat berada di hadapan gue. Mereka berkata, “Woy…! Tidur lo tuh kayak Orang Utan yang tersesat di mall tau ga! Berisiiikkk!”. Ha ha ha

Yah, begitulah kalau gue tidur. Dari mata tertutup sampai paginya terbuka,
orokan selalu terngiang dan iler pun tiada henti keluar. Jadi, ga heran kalau dalam seminggu gue bisa menjemur tempat tidur sebanyak lima kali. Ho ho

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air… Pagi pun tiba. Dengan terpaksa gue harus manghentikan perjalanan tidur kala itu.

“Tara…!”
“Iya, Nyaaakk!”
“Lo ngapain sih? Kenapa belum keluar kamar juga?!
“Iya, Nyak, bentar lagi!”
“Tara…!”

Hadoh… Ampun deh kalau Nyak udah teriak-teriak. Sepuluh kali teriakan, bisa-bisa ancur nih rumah. Lagian sebenarnya Nyak gue makan apa sih? Kok bisa kenceng banget yaa teriaknya. Atau jangan-jangan Nyak gue mantan komandan upacara di istana negara kali ya? Wow… Suaranya bombastis cetar mebahana banget. Ha ha

“Ada apa si, Nyaaakk? Ga perlu teriak-teriak saingan sama kambingnya Mpok Hindun kali. Masa sama kambing aja ga mau ngalah.”

Mata Nyak melotot. Hembusan nafas emosi terpancar bak air mendidih penghasil asap hangat. Gue terdiam dan menunduk karena takut Nyak ngamuk. Soalnya, kalau Nyak udah ngamuk apa aja dilemparin. Kebetulan saat itu Nyak sedang berdiri tepat di samping lemari. Kan berabe kalau tuh lemari di lempar ke gue. Bisa-bisa gue modar. Terus kalau gue modar, Mpok Riri sama siapa dong? Kan kasian… Nanti cinta dia bertepuk sebelah lemari… Hi hi

“Yaaa… Ampyong… Lu tuh ya, percuma tau ga gue sekolahin tinggi-tinggi. Dasar anak jaman sekarang ga punya tata krama lo sama oranng tua! Mau jadi apa lo? Anak yang tertukar?!” Sembur Nyak panjang kali lebar.
“Kenapa lagi si Nyak? Tadi Tara dibangunin. Sekarang udah bangun malah di bilang anak yang tertukar. Emang kita lagi main sinetron apa? Jadi orang yang sabaran dikit apa, Nyak!” Timpal gue sembari menggelengkan kepala.
“Sabar… sabar! Gimana gue bisa…”
“Permisi bu, ada Nasi Uduknya?” Ucapan Nyak terpotong oleh suara Mpok Riri yang merdu kayak Dewi Berisik.

Gue ga nyangka Mpok Riri datang ke rumah sepagi itu. Padahal biasanya dia lewat doang depan rumah. Sementara gue cuma bisa menikmati kecantikannya dari kejauhan sambil gigitin jari kaki. Hm, mungkin hari ini adalah hari keburuntungan gue kali ya? Mungkin…

Tiba-tiba Nyak noleh ke gue sambil mulut dimonyongin 5 centi. Kepalanya sedikit mendangak seperti memberikan kode kepada anjing pelacak yang sedang mencari teroris. Yah, gue sama sekali ga ngerti maksud Nyak itu apa. Jadi, gue cuma kebingungan aja saat Nyak ngasih kode kayak gitu.

“Ssst… sssttt.” Nyak berdesis
“Apaan si, Nyak?” Balas gue tanya
“Sssttt…sssttt…” Nyak kembali berdesis
“Sssttt…sssttt… suit suit…” Gue malah membalas dengan desisan
“Tara…! Anak bego…! Teriak Nyak lantang.
“Lo di sekolah macul kali yak?! Nyak tuh ngasih tau kalau lo keluar cuma pake sempak doang. Emang lo kagak malu? Hah? Lo paham bahasa tubuh ga, siiihhh?!
Auuuwww!” Jerit Mpok Riri sembari nutup salah satu matanya.

Kepala gue langsung mengarah di mana Tuhan memberikan anugerah kepada gue berupa mic krofon serba guna. Karena kaget, gue pun menutup mic krofon tersebut layaknya pagar betis tendangan bebas di pertandingan sepak bola. Ha ha ha setelah itu, gue lari ngicir tersipu malu sama Mpok Riri.

Hm, kalau lo pada tau, sebenarnya setiap kali gue tidur, kolor yang gue pakai sering lepas sendiri tanpa gue sadari. Nah, tak jarang juga gue lupa memakai kolor itu kembali saat gue terbangun.

Seglek! Pantesan aja dari tadi gue ngerasain adem ayem penuh cinta di sekitar mic krofon gue. Gue kira angin surga yang di bawa Mpok Riri. Engga taunya emang gue ga pakai kolor. Hum! Parah! Keplek! Jadi tengsin kan gue sama Mpok Riri.

Cerpen Karangan: Tara Prayoga
Blog: taraprayogaipm.blogspot.com
Facebook: Tara Prayoga
Penulis bernama Tara Prayoga lahir pada 29 Agustus 1994 di Jakarta. Saat ini sedang menimba ilmu di Universitas Muhammadiyah Jakarta Jurusan Pendidikan Agama Islam. Penulis beralamat di Jalan Benda Timur 1 Blok F37 No. 5 Desa Benda Baru, Pamulang-Tangerang Selatan. Kontak person bisa melalui nomor HP di 083873379838 atau Email : ipmawan.sejati[-at-]gmail.com

Cerpen Dimana Kolor Gue? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berkah Jadi Santri

Oleh:
Nama gue Sofi, gue siswa di salah satu Mts swasta di Kediri. Gue siswa yang lumayan bandel tapi juga lumayan pinter. Eitzh… bukan bermaksud sombong. Gue hidup serba kecukupan

Karena Sering Begadang

Oleh:
Itulah sebabnya kenapa Tyo banyak dikenal oleh guru guru di sekolahnya, bukan karena prestasinya melainkan karena keburukan sifat Tyo yang selalu datang terlambat pergi ke sekolah, karena sering begadang

Hiji Tambah Hiji Baraha?

Oleh:
Suatu hari, sekolah SD penabur cerdas kedatangan murid baru yang bernama Azis, dia masuk ke kelas 1-3. Saat Azis masuk kelas, ternyata pelajaran mau dimulai, yaitu matematika. “Pagi anak-anak!”

6.25 AM

Oleh:
Aku memeluk dia. Sial benar-benar memeluk. Apa ini nyata? “Indah, kamu mau apa? Nonton, makan atau jalan-jalan?” dia bertanya sembari menatapku dengan pandangan bertanya, kerutan di keningnya seperti menandakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Dimana Kolor Gue?”

  1. ajib says:

    yang banyak lagi cerpen’nya…

  2. Hanif says:

    Waah Lucu Banget Broow 😀

Leave a Reply to ajib Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *