Diza Si Perfect Berkekuatan Putus Asa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 April 2017

Namaku Diza, siswa SMA tingkat pertama. Aku sangat menyukai olahraga basket sejak aku duduk di bangku SMP, para sahabatku Robby dan Zeza yang kebetulan tetap menemaniku hingga masuk SMA yang sama juga memfavoritkan olahraga yang menggunakan bola pantul dan sebuah ring tersebut.

Aku gemar sekali menonton permainan Ibor (Robby) dan Zeza (Rizandre) ketika mereka bermain di lapangan sekolah. Aku? Tidak, saat SMP, aku tidak mengikuti program ekstrakulikuler bola basket karena aku sudah terdaftar dalam program ekstrakulikuler Karya Ilmiah Remaja. Sebuah ekskul yang dicap berisi siswa siswa pandai dan nerd dengan kacamata besar dan buku buku yang menjadi cemilan setiap pagi dan setiap jam istirahat dengan tempat favorit mereka, Perpustakaan.
Seiring berjalannya waktu, Aku mulai berpikir untuk mencoba sesuatu yang sudah lama kudambakan, sudah lama sekali kugemari, dan yang selama ini hanya menjadi bakat terpendamku. Yap, Bola basket.

Tahun Pertama di SMA telah dimulai, Ibor, Zeza, dan Aku secara kebetulan masuk di SMA yang sama. SMA yang terkenal melahirkan pemain basket yang handal. SMA Van Deskundigen. Nama boleh berbahasa Belanda, tapi sekolah swasta ini terletak di Indonesia kok. Tepatnya terletak di daerah Malang, Jawa Timur. Pengelolanya juga gak ada hubungan lagi sama orang orang Belanda, menurut senior senior yang memberi informasi Van Deskundigen memiliki arti “Ahli”. Iya juga sih, fakta yang aku baca dari website resmi sekolah ini, prestasinya banyak banget. Mulai juara Karya Ilmiah Usia 16 tahun Internasional, Olimpiade MIPA juara 1 tingkat nasional, Olahraganya pun begitu. Juara sepakbola antar SMA berturut turut sampai tropi yang harusnya bergilir itu secara konstan tetap terpajang di rak Hall Of Fame. Kemudian juara basket baik kompetisi lokal, regional, maupun nasional. Sungguh sekolah yang tidak kekurangan prestasi.

“Yakin nih kamu ikut Basket Diz?” tanya si Ibor sedikit meragukanku,
“Ee..ee eeeh, yakin dong, emang kenapa? Jangan meremehkanku ya, gini gini aku bisa basket loh” Jawabku membanggakan diri.
“Hahaha, support dong temennya nih Bor, sekarang kita support, sewaktu seleksi nanti baru kita buat down dia. Hahahaha” Zeza menimpali
“Aaah, sama aja bo’ong Zez,”
“hahaha, bercanda aja sob, pastinya lah kita dukung kamu masuk tim basket ya Bor?”
“Yoi men, santai saja sudah.”
“Tapi, denger denger pelatih kita cewek dan lumayan cantik loh bakalan, kalo lolos seleksi, beruntung banget bisa ketemu” Ujarku mengganti topik pembicaraan.
“Seriusaaan?” Ibor terkejut.
“weh, serius, tapi jangan sampai salah fokus” jawabku sambil nyengir
“Ah asem, lu mah begitu Diz, haha”
“Eh.. eh… udahan ngobrolnya, yuk buruan kumpulin formnya ke tempat pendaftaran” potong Zeza.

Setelah pengumpulan formulir pendaftaran Diza mendapat kabar dari ketua kelasnya Jessie bahwa akan diadakan pre test dalam pelajaran Fisika nanti dan pada hari itu juga akan dinilai. Diza yang belum mempersiapkan segala sesuatunya untuk pre test fisika hanya bisa pasrah dan mempersalahkan gurunya yang tiba tiba memberikan shock test tersebut.

Teng… Teng…
Waktunya tiba, Pretest pertama Diza yang benar benar mengejutkan. Semua siswa nampak gelisah (terkecuali si ketua kelas dan beberapa temannya yang mungkin rajin dari sononya).
“Psst.. psst.., nomor 7 dong, hey Karin” bisik Nicky teman sebangku Diza kepada Karina yang duduk di bangku seberangnya sambil menutup i wajahnya dengan kertas soal.
“…”
“Karin, woe, ssst.. nomor 7 dong” Nicky kesal dia tidak digubris oleh Karina
“…”
(Hening)
“Karin, pliss, nomor 7,8,9, dan 10, nanti aku traktir siomay di kantin deh”
“BLETAK” tiba tiba sebuah tutup spidol mengarah ke arah Nicky
“eh? Salah sasaran ya?” Ucap Pak Billy dengan nada datar
Dag.. dig.. dag.. dig.. dug.. Jantung Nicky dan Diza berdegup kencang.
“saya nggak ngapa ngapain kan pak? Kok kena timpuk tutup spidol juga saya” protes Diza
“Bukan kamuu, itu yang sebelah kamu, si Nicky Minaj ehm, Nicky Hardian maksud saya” jawab Pak Billy lagi lagi dengan gaya bicara yang datar.
“huuuuuu” seisi kelas melolong mengolok Nicky termasuk Diza ikut menertawakan teman sebangkunya itu
“sssttt.. peringatan buat kamu juga Desa..”
“Diza pak”
“Terserah saya!! Jangan melawan ya atau nilai kamu mau mengerjakan dengan hasil yang sudah dipastikan yaitu 0!”
“Glek…” Diza terdiam menelan liur.dan kemudian mulai mengerjakan kembali.

Seisi kelas kembali sepi mengerjakan soal yang notabene cukup sulit. Hingga terdengar lagi sebuah desisan
“sst.. sssst..” kali ini Bruno, Si preman kelas mendesis meminta jawaban kepada Diza
“pa an?” Diza merasa terganggu
“bagi jawaban nomor 5–10 dong”
“demi acar tuan krab, banyak banget kamu minta, dikira aku dagangan jawaban?”
“Rese lu, bagi buruan jawabannya”
“ogah”
“gua jitak lu ntar”
“Bodo”
“BERAPA KALI HARUS SAYA BILANG?” suara pak Billy kembali menggelegar
“mampus kamu, haha” Diza menertawakan Bruno yang dia kira adalah sasaran amukan pak Billy selanjutnya
“DEESAAA, BRUNOO!,” bentak pak Billy
“aseem, kena lagi aku” gumam Diza
“MAJU KE DEPAN KELAS!”
“Hufffh.. gara gara kamu ini Bruno, asem”
“Lu juga rese gak mau bagi jawaban” Tangkis Bruno
“Robek kertas Ulangan Kalian dan silahkan mengikuti pelajaran saya di pertemuan selanjutnya saja”
“SRAAAK” robeklah kertas Ulangan Diza dan Bruno yang mengakibatkan nilai pretest mereka 0.

“Teng.. Teng..Teng..” Bel pulang sekolah pun berbunyi, dan pada hari itu diadakan seleksi peserta basket putra dimana Diza, Zeza, Ibor juga ikut. Diza yang awalnya sangat semangat dan antusias menjadi lesu, putus asa, dan kurang semangat setelah tau bahwa nilai pretest fisikanya dihias nilai 0.
“semangat bro, jangan dimasukkan hati sudah, fokus sama seleksimu sekarang” Ujar Zeza menyemangati Diza
“yoi, jangan down gitulah men, we’re here for you man” Ibor tak mau kalah menyemangati Diza yang murung. Akan tetapi, itu sia sia karena Diza semakin minder melihat skill skill hebat yang ditunjukkan peserta lain dalam sesi seleksi.

“Rizandre Fatthurrohman” Nama Zeza dipanggil, tanda dia harus mulai unjuk gigi sesuai yang diinstruksikan oleh tim penyeleksi, kemudian giliran Ibor “Robby Yudha Irwansyah”. Ibor bermain dengan baik dengan tembakan standing back lay upnya. Teknik lay up yang dia modifikasi dengan gaya akrobatik dan tanpa melihat ring mampu memikat minat tim seleksi untuk memberikan tanda tanda bahwa dia diterima. Terakhir “Dicky Reza Afifurrahman” ya, Diza yang tambah down melihat teman temannya yang telah sukses masuk tim basket terlebih dahulu. Diza minder, sangat minder dengan jumlah peserta yang ditolak yang sangat banyak dan menyisakan siswa dengan bakat yang unik dan terpilih saja.
“Swooosh” Lemparan tiga angka Diza berhasil masuk ring tanpa menyentuh board dan ring nya sama sekali, tapi dia tetap masih minder karena bisa jadi itu hanya kebetulan, meski semua berdecak kagum karena Diza melemparnya dari tengah lapangan. Diza mencobanya kembali dari jarak yang lebih dekat “masuk”. Dia masih heran, dia mencobanya dari tengah lapangan lagi. “wuush.. swoosh” “masuk lagi.
“priiit, cukup, kamu diterima Dicky Reza, selamat bergabung dengan tim basket SMA Van Deskundigen” ujar salah seorang selektor.
“yaaaay, alhamdulillah, Zez, Bor, aku juga diterima nih”
Zeza dan Ibor masih tidak percaya atas apa yang dilakukan Diza barusan. Permainan bola basket yang tidak pernah dilihat oleh Zeza dan Ibor sebelumnya.
“hei.. heii.. sadar woi” ujar Diza sambil menampar ringan pipi Zeza dan Ibor
“homina… hominaa…, eh sakit tau!” Zeza yang masih terkagum kagum kemudian sadar dari lamunannya.
“gila, konsentrasimu apik benar, ciamik dah untuk posisi Point Guard atau Shooting Guard” Puji Ibor
“Hehehe.. terima kasih” Diza terkekeh.

Hari demi hari berlalu, Diza menjalani hari harinya sebagai personil Tim B SMA Van Deskundigen dengan ceria. Lemparan supernya itulah yang memenangkan perhatian dari rekan setimnya. Dia pun tidak terlalu iri dengan masuknya kedua sahabatnya di tim utama SMA Van Deskundigen, karena dia menganggap mereka pantas mendapatkannya. Selama ini peran Diza di tim B sebagai Sixth Man yang selalu dipercaya untuk bergantian posisi dengan Guard utama, Putra si anak populer dari kelas X Bahasa A. Setiap, Putra berlatih, kira kira pasti ada cewek cewek yang menonton karena dia memiliki tinggi tubuh yang ideal dan bola mata berwarna hijau yang bersinar. Putra sedikit tidak suka dengan kehadiran si anak “kemarin sore”, Diza yang menurutnya mulai menggeser popularitasnya sebagai Guard tim B. Namun, Diza yang polos tidak mengetahui isi hati Putra sebenarnya. Ia hanya menganggap bahwa Putra adalah rekan setimnya, bukan saingan.

Hari yang sangat menentukan bagi Diza telah tiba. Hari ini dia dipercaya pelatih utama, Miss Emilia untuk menjadi starting di dua pertandingan akhir yang sangat menentukan kemenangan SMA Van Deskundigen. Di hari hari sebelumnya, Miss Emil lebih mempercayakan posisi Guard diisi oleh Hizky yang merupakan senior (kelas XI IPS C) berotasi dengan Putra. Diza hanya diperintahkan untuk duduk dan mengamati permainan dari bangku cadangan.
Hari itu, Ibor dan Zeza tidak lupa datang untuk memberikan semangat pada sahabatnya, Diza. Lagi lagi, Ibor dan Zeza melihat wajah gugup dan nervous Diza.
“eh liat deh, Diza wajahnya konyol banget begitu, kayaknya dia gugup”
“Gawat, kalau dia gak berhasil membuktikan skillnya di pertandingan ini dan pertandingan besok, It’s the end man, he’ll stay B” ujar Ibor dengan nada sok sok nge–rap

“priiiiit…”
Tip-off quarter pertama telah dilakukan. Diza bermain normal seperti pemain pemain lainnya. Pada pertengahan quarter terhitung Diza telah melakukan dua kali turnover dengan membuat passing yang kurang akurat sehingga bola dapat tercuri oleh tim lawan.
Teeeeet… quarter pertama dengan hasil 27 untuk tim SMA Taman Pendidikan, dan 16 untuk SMA Van Deskundigen.
“cuy, liat deh pemain nomor 11 SMA Deskundigen itu, katanya nih, dia bisa memasukkan bola dari tengah lapangan, tapi kok mainnya payah begitu ya?” bisik salah seorang penonton kepada sebelahnya.
“gak tau nih, padahal aku datang ingin melihat keistimewaannya itu. Kecewa banget deh kalo sampe kalah” balas seorang penonton tersebut.
Zeza terus mengamati apa yang terjadi pada Diza meninggalkan Ibor yang histeris sendiri dengan permainan Tim B SMA nya.
“Adoooh, maan, you can do better in the next quarter, yeah” lagi lagi Ibor dengan cara ngomong rap yang dibuat buat.

Quarter demi quarter pun berlalu, Pada quarter ketiga Diza semakin loyo dan kurang bagus dalam bermain sehingga jarak skor kembali menjauh. 76 – 60 untuk keunggulan SMA Taman Pendidikan.
“What the.. ketinggalan 16 poin, ayolah Diza, main yang benar!” Ibor mulai kesal dengan permainan Diza.
“ssst.. syeh, bawel aja sih, duduk diem napa bor?” Zeza kehilangan konsentrasi karena kekesalan Ibor
“Ngeselin tau Zez dia mainnya lembek begitu, skill yang kemaren kemana cobak”
“Kayaknya itu kebetulan deh”
Karena semakin banyak tekanan yang diterima Diza mulai dari “huuuu” dari penonton, tekanan batin karena merasa kurang bisa berkontribusi untuk membayar kepercayaan pelatih Emil, Diza semakin lunglai ketika memberikan passing dan terpaksa dia digantikan oleh Hizky yang mampu memperkecil ketertinggalan hingga 85 – 80 , dengan SMA Taman Pendidikan masih unggul 5 poin atas SMA Van Deskundigen.

Quarter terakhir pun dimulai. Diza kembali dipercaya mengisi posisi Point Guard menggantikan Hizky. Dalam keadaan yang serba putus asa akan takut kalah, minder dengan kemampuan tim lawan, hingga taku kepercayaan menjadi starting kembali pudar, Diza mencoba tembakan tiga angkanya dari pojok daerah lawan, mendapatkan sedikit celah karena dia akan segera diblock oleh dua orang lawan, lemparannya dilakukan asal asalan.
“Bang… Swoosh” lemparan Diza membentur ring dan masuk. 3 poin didapatkan oleh SMA Deskundigen dari lemparan Dicky ‘Diza’ Reza.
“Woaaaaa…” Penonton mulai bersorak, tapi Diza masih kurang percaya diri karena mengira itu hanya sebuah kebetulan, aura aura pesimistis masih menyelimutinya.
Kembali, Diza mendapatkan bola yang berhasil dicuri oleh Willy. Diza berada di tengah lapangan, kemudian secara mengejutkan dia menembak. “Swooosh”
“Dicky ‘Diza’ Reza, another 3 point shoot” suara komentator menyerukan nama Diza. Diza tak percaya dia membuat tembakan 3 angka yang membawa timnya mengungguli pertandingan itu dengan hasil akhir 87 – 90 untuk keunggulan SMA Van Deskundigen.
“Whoaaaaa.. ” penonton bersorak sorai karena tim tuan rumah, SMA Van Deskundigen berhasil memenangkan seri kedua dengan sangat menakjubkan. Diza langsung pulang setelah pertandingan selesai dan tidak ikut makan bersama tim karena dengan alasan kurang enak badan.

Di Rumah, Diza mengecek socmednya yang dari tadi berbunyi dan menunjukkan notifikasi lebih dari 100 mention masuk dalam twitternya.
@otakulv100
Aku hampir tidak percaya itu, kamu melempar seperti di anime anime yang kutonton @DDiz11, keren banget
@sheryL45
Lemparannya itu loh kok bisa catchy gitu ya? Nge fans deh sama dek @DDiz11
@pinthong_
mantaav banget deh pertandingan tadi, apalagi qaqa @DDiz11 nya ternyata cakep aw.. aww
@izznutz
keren bangeeeeeeeeeet @DDiz11 gak salah deh punya junior cakep dan apik skillnya
@Zza_flawless5
oi, ini Zeza, mantap pertandingan mu hari ini, beberapa celah bisa kau atasi, sepertinya kamu layak masuk Tim Utama @DDiz11
@I_bort0305
What’s app man, permainan bagus, pertandingan mantav, kita harap lu bisa kayak gitu lagi atau lebih baik lagi di next match, psst, cobalah dunk sekali sekali @DDiz11
Bahkan Akun resmi tim sekolah dan pelatih ikut mengomentari pertandingan Diza juga.
@official_vandeskundigenBasketball
That’s how the show about, terima kasih @DDiza11 yang memberikan secercah harapan untuk menang di pertandingan yang akan datang.
@emiliaizz007
cara mainmu sedikit aneh @DDiza11, tapi aku akan tetap menggali informasi mengenai dirimu, stay cool, stay focus dan semangat untuk pertandingan besok lusa. Oh ya, dan lekas sembuh.

Diza bisa tersenyum sedikit melupakan rasa sakit cedera engkel yang dirasanya, (plus dirahasiakan). Komentar para sahabatnya, dan beberapa orang yang baru ia kenal memotivasinya untuk tampil lebih baik lagi di pertandingan final nanti.

Hari dimana dilaksanakannya pertandingan final antara SMA Van Deskundigen dan SMA Taman Pendidikan telah datang, dalam hal agregat, tidak ada yang unggul karena baik SMA Taman Pendidikan maupun SMA Van Deskundigen mengantongi masing masing 1 poin. Pertandingan hari ini benar benar menjadi penentu. Siapakah yang menjadi juara turnamen regional tersebut.
Putra kini akan berotasi dengan Diza, yang sudah barang tentu ini tidak disukainya. Terbukti ketikan quarter pertama Diza yang bermain, Putra sangat gelisah dan ingin segera bermain. Pergantian pun dilakukan untuk mengistirahatkan Diza yang sepertinya kurang maksimal dalam quarter pertama. Dengan sengaja, Putra menendang engkel Diza yang sedang cedera kemudian masuk dalam lapangan. Diza hanya meringis kesakitan dan langsung duduk untuk meluruskan kakinya.

“Diza, kamu tidak apa apa?” tanya pelatih Emil
“nggak apa apa pelatih, mungkin terkilir saja”
“sini lihat, weh, sejak kapan kamu? Kenapa tidak bilang saya?”
“saya takut tidak bisa ikut pertandingan jika saya memberitahu pelatih”
“Jangan bodoh, sini biar saya tangani sebentar”
Dengan terampil Pelatih Emil mengompres dan mencoba mengurut engkel Diza
“Magic Touch, kamu harus masuk pada kuarter 4, karena ini tidak bisa bertahan lama, jadi sebaiknya kamu istirahat dulu”
“tapi pelatih sayaa…”
“tidak ada yang bisa melawan pelatih, apalagi pelatihmu ini perempuan lho, yang berarti saya selalu benar kan? hehehe”
“ta..ta..yadeh pelatih” Diza pasrah, dan mulai murung karena tidak bisa main sampai quarter 4 dimulai.
Putra tersenyum bangga melihat Diza yang tidak bisa bermain, dengan seringainya ia melakukan Slam dunk yang mengakhiri quarter ketiga dengan hasil 80 – 87 untuk keunggulan SMA Deskundigen.

Tiba saatnya Diza menggantikan Putra, dengan sedikit kaku, dia berjalan menuju lapangan. Setengah perjalanan kuarter terakhir, SMA Deskundigen malah tertinggal kembali dengan skor 100 – 97. Diza tidak dapat berlari secara efektif karena beban pada engkel cederanya. Lagi, Diza mencoba lemparan 3 angkanya, tapi tidak jauh merubah kedudukan
“Pelatih, perkenalkan kami adalah sahabat Diza, Rizandre dan Robby, kami tahu apa kunci konsentrasi Diza” Zeza dan Ibor tiba tiba muncul dengan penyamaran sebagai maskot tim SMA
“Hah? Ngomong apa kalian?” Pelatih Emil masih tidak mengerti
“jadi, Diza adalah kebalikan dari orang normal, semakin dia putus asa, dan pesimis, down, dan semacamnya, semakin akurat tembakannya, bahkan mendekati 99.99% lemparannya akan masuk” jelas Zeza sambil menari agar tidak ketahuan official.
“memang ada yang seperti itu? ” Pelatih masih tidak percaya
“Pelatih, serius, ini adalah kuncinya, percaya pada kami, ingat saat seleksi? Diza sangat minder karena kemampuan peserta lain melebihi kemampuannya, dia takut tidak diterima, di pertandingan kemarin, dia dalam keadaan serba putus asa, tapi malah beberapa tembakan 3 angkanya masuk semua, apakah bukti itu masih kurang?”
“hmm.. memang kurang ilmiah, tapi akan saya coba”
“bagus sekali jika anda mengerti maksud kami pelatih,”
“nah sebaiknya kalian pergi karena official nampaknya mulai curiga pada kalian”
“O’ow” jawab Ibor dan Zeza bersamaan sambil langsung berlari pergi tanpa menghiraukan penonton yang bingung melihat tingkah maskotnya.

“Putra, kau sangat tidak suka dengan Diza kan?”
“kok pelatih tahu?”
“saya tau segalanya dari anak didik saya, nah, sekarang olok olok dia, buat dia pesimis, dan minder!”
“eeh, y.. yakin pelatih? Apa saya boleh seperti itu?” jawab Putra ragu tapi senang diberi kesempatan
“apa lagi yang kau tunggu?”

Olokan, ejekan demi ejekan dilayangkan pada Diza oleh Putra
“Payah!, lembek!, pulang aja sanaa” kurang lebih seperti itu, sementara waktu yang tersisa tinggal sedikit untuk menggapai kemenangan, diperlukan 4 kali 3 point sehingga kemenangan mutlak bisa didapat.
Diza mulai terpicu oleh ejekan tersebut, dari tengah lapangan dia lempar “Swoosh”, dari pinggir “Swoosh”, dari tengah lagi “Swoosh”. Dan sesuatu menakjubkan terjadi, karena Diza melihat waktu yang semakin sempit, dia melempar bola dari Post timnya, semua mata terpana dengan kejadian itu dan seluruh mata tertuju pada bola yang melambung menuju ring lawan. “SWOOOOSH”
“What a miracle, Mr. Dicky ‘Diza’ Reza, lemparan yang sangat tidak bisa dipercaya, post ke post, masuk, 3 angka untuk SMA Deskundigen”

Teeeeeeeet… Tanda quarter terakhir telah selesai, dengan skor 102 – 109 untuk kemenangan SMA Van Deskundigen.
Diza langsung digendong, dan dibanggakan oleh anggota lainnya, tak terkecuali Putra yang entah bagaimana ikut senang atas kemenangan tim SMA Van Deskundigen. Semua aroma kemenangan itu, suara riuh penonton yang menyebut nama “DIZA.. DIZA” akan sangat sangat diingatnya sebagai lambang kesuksesannya.
Sebagai tanda selebrasi, Diza mengangkat tropi diikuti teman setimnya, tak lupa ia berfoto dengan piala raihan pertamanya itu. Teman temannya pun menyiramnya dengan air ledeng sebagai tanda ‘SELAMAT’ atas keberhasilannya mengangkat nama tim SMA Deskundigen.

Setelah berselebrasi ria di ruang ganti, Diza berjalan pulang bersama Ibor, dan Zeza sahabatnya.
“Kamu layak mendapatkannya Diz, selamat, kayaknya ada yang mau naik jabatan ke tim utama nih”
“haha, bisa aja kamu bor” ujar Diza malu
“eh awas ada mobil tuh”
“Splasssshh…”
Air yang menggenang itu menyiprat ke Diza, Ibor, dan Zeza akan tetapi..

“Eh.. eh.. bangun woi, udah mau giliranmu untuk seleksi Diz,”
“wuih iya nih, masa harus dua kali guyur dia baru bangun?”
“Hah, lhoh? Zez, Bor? Kalian ngapain di sini?” tanya Diza kebingungan
“Seleksi laah, habis ini giliranmu, jangan tidur aja”
“tapi tadi aku sudah memenangkan turna…men”
“turnamen pala lu, udah sono namamu dipanggil noh bro” Ibor menimpali.

Cerpen Karangan: Mohamad Aldi Wahyu
Facebook: Mohamad Aldi Wahyu
sudah menginjak usia 21 tahun, tapi cerpen masih amatir
suntuk karena skripsi di semester akhir
Jurusan Pend. B. Inggris Universitas Muhammadiyah Malang

Cerpen Diza Si Perfect Berkekuatan Putus Asa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rabu di Purnawarman

Oleh:
Besok adalah hari rabu, eumm.. aku merasa gak sabar menunggu besok itu datang. KRING! KRING! KRING! Suara jam weker itu membangunkan tidur lelapku tepat di jam 04.00 am. Hari

Mengenal Mu

Oleh:
Awal januari 2013 adalah awal kebangkitan ku dari keterpurukan di tahun sebelumnya “move on” yah inilah awal yang baru dan detik-detik menjelang ujian nasional. Emmh aku butuh semangat untuk

Terlupakan, Gak Mungkin (Part 1)

Oleh:
Namaku Els Muise Waise, aku siswa kelas 11 Sekolah Menengah Atas di sebuah kota yang sangat buruk keadaannya. Huft keadaan udara di sekitar kota semakin panas. Asap kendaraan tersebar

Deja Vu

Oleh:
Tak. Tak. Tak. Pukul 08.00. Jam dinding yang berdetak sejauh 3 meter arah Barat Daya itu sekan disambungkan dengan pengeras suara. Terasa keras sekali hingga memekakkan teligaku. Gemericik air,

Ketika Sahabat jadi Cinta

Oleh:
Dina Bergegas menyetater motor kesayanganya untuk segera melaju ke rumah Reno, sahabat dekatnya sedari duduk di bangku SD. Ia Berencana melakukan belajar Fisika bareng di rumah Reno. Belajar bersama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *