Dua Sejoli

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 April 2019

Di sebuah perkampungan di daerah Mataram, Lombok – Nusa Tenggara Barat, terdapat sebuah motor antik yang dibuat pada tahun 70-an. Motor antik tersebut adalah milik sebuah keluarga kecil di perkampuangan yang bernama desa Rembiga. Bersamaan dengan itu juga terdapat dua orang remaja yang sering sekali membuat masalah di desa. Dua orang remaja tersebut bernama Garpu dan Kurtu. Mereka adalah sahabat sejak kecil dan tidak dapat dipisahkan. Persahabatan mereka bagaikan sebuah pohon dan tanah yang harus saling melengkapi, dan akan mati jika salah satu tak ada.

Suatu hari Garpu dan Kurtu berencana untuk menuju sebuah lapangan luas di desa Rembiga yang merupakan milik Angkatan TNI di desa tersebut.

“Pu! Lapangan, yuk!” ajak Kurtu sambil menepuk pundak Garpu.
“Kita mau ngapain di sana? Males, ah!” tolak Garpu.
“Ayolah! Tuh, ada motor nganggur,” kata Kurtu seraya menunjuk ke arah motor antik yang terparkirkan dengan rapi.
“…” sementara itu, Garpu sedang berpikir.

“Apa lagi yang mau dipikirin? Ayolah!” pinta Kurtu seraya menarik-narik lengan Garpu.
“Iya, iya. Makanya jangan tarik-tarik, ah. Sakit, tau,” ujar Garpu seraya terbangun dan berdiri. “Yaudah, yuk!” lanjut Garpu.

Kemudian keduanya segera menuju ke arah motor antik yang biasa disebutnya dengan si Butut tersebut. Mereka melangkah pelan dan segera mengeluarkan si Butut dari istana peristirahatannya.

“Pu! Kamu jadi depan,” pinta Kurtu.
“Nggak, ah! Kamu aja. Aku lagi males,” tolak Garpu.
“Oke, deh kalau begitu.”

“Ngomong-ngomong kita mau ngapain di lapangan?” tanya Garpu.
“Kita belajar standing, gimana?” kata Kurtu.
“Wah! Boleh juga, tuh,” jawab Garpu tampak semangat. “Oke, deh. Tancap gas!”

Mereka-pun berlalu pergi. Setelah beberapa menit kemudian, Garpu dan Kurtu sampai sudah di tempat tujuan mereka, yaitu di sebuah lapangan luas milik Angkatan TNI.

“Pu! Aku duluan, ya yang nyoba,” kata Kurtu seraya menarik-narik gas motor si Butut sampai menghasilkan suara bising.
“Oke oke, deh,” ucap Garpu tampak pasti.

Kurtu-pun segera menancap gas dan berkeliling lapangan untuk belajar trek-trekan menggunakan si Butut. Sementara itu, Garpu duduk terpaku menunggu sambil menyaksikan aksi Kurtu yang sedang berdiri dan bergaya segala macam dengan si Butut.
Tiba-tiba saat Kurtu mengitari lapangan dan berada di dekat kantor Angkatan TNI, Kurtu meihat seorang petugas TNI menuju ke arahnya. Oleh karena itu, dengan segera Kurtu menancap gas untuk menuju ke arah Garpu yang sedang duduk diam.

“Garpu!”
“Kenapa, Kur? Sudah bosan?” tanya Garpu.
“Iya bosan aku. Nih giliran kamu,” kata Kurtu asal menjawab. Akhirnya Garpu mengambil alih si Butut dari Kurtu.

Beberapa saat Garpu mulai menyiapkan diri untuk menancap gas, tiba-tiba sebuah tangan terasa memukul kepala Garpu begitu keras.

“Setan! Kurtu! Jangan main-main,” kata Garpu seraya mengusap-usap kepalanya tanpa mennoleh ke arah belakang. Namun sekali lagi tangan tersebut memukul kepala Garpu lebih keras dari sebelumnya.
“Setan! Kur…” setelah menghadap ke belakang, Garpu terdiam seribu bahasa dengan raut wajah keterkejutannya.
Bagaimana tidak? Ternyata yang dari tadi memukul kepala Garpu bukanlah si Kurtu, melainkan seorang petugas Angkatan TNI yang sedang berpatroli di lapangan tersebut.

“Eh, kamu! Jangan belajar naik motor di sini!” bentak seorang petugas TNI tersebut.
“Ng-nggak, Pak. Saya nggak belajar naik motor. Sa-saya cuma belajar trek-trekkan, kok,” bantah Garpu dengan bodohnya.
“Trek-trekkan kamu bilang? Belajar naik motor aja tidak boleh, apalagi trek-trekkan!” ujar petugas TNI tersebut sambil melotot ke arah Garpu yang sedang berkeringat dingin karena takut.
“Tap-tapi, Pak. Yang tadi bukan saya. Itu tadi teman saya, Pak,” kata Garpu sambil menunjuk ke arah Kurtu yang sedang menatap prihatin kepada Garpu.
“Nyalahin teman lagi! Sudah, sudah! Sana pulang!” usir petugas tersebut,
“I-iya, pak.” Jawab Garpu polos.

Petugas TNI tersebut-pun segera melaju pergi meninggalkan remaja bernama Garpu tersebut. Dan akhirnya Garpu-pun kesal dengan Kurtu karena tidak berusaha membantu Garpu pada saat itu.

Cerpen Karangan: Imron Rosyadi
Blog: imrontraveling.blogspot.com

Cerpen Dua Sejoli merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menanti Hadirmu Kembali

Oleh:
Setiap sore aku ngaji, aku mempunyai teman cowok paling rusuh, namanya Ahmad, dia beda angkatan untuk sekolah walau sekolah kita beda tapi ngaji kita satu angkatan dan dia yang

Sang Pencari Sahabat Sejati

Oleh:
Sang mentari nampak enggan memperlihatkan keanggunannya, sang jangkrik masih asyik melakukan pestanya, berisik tak menenggang. Sebuah bangunan melantunkan lagu yang tak pernah luput dalam hati sang muslim. Semua orang

Salah Sasaran

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama ujian tengah semester genap untuk naik kelas 3 SMP, aku telah belajar dengan giat untuk ujian ini. Perkenalkan namaku Desy Herliana, aku datang pagi

Mr Right And Mrs Always Right

Oleh:
Tuti tetap ngeyel kalau aku memang berselingkuh. Aku bukannya tidak pernah mencoba menjelaskan yang sebenarnya. Berkali-kali dijelaskanpun, rasanya sia-sia. Dia tetap menganggapku berkhianat. Ini bermula siang tadi Tuti melihatku

True Love (Part 1)

Oleh:
Cuaca pagi yang cerah menghiasi taman sekolah SMK itu, terlihat seorang gadis yang tengah membaca buku di Taman sekolah. Gadis itu bernama Rere, tidak jauh dari tempat Rere membaca

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *