Hal Manis Yang Tak Manis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 March 2020

“Iya … Aku mau.”
Jawaban dari gadis itu benar-benar membuat hatiku berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Sekarang aku tak lagi menjadi satu-satunya jomblo di kelas. Semua cowok di kelas sudah memiliki pasangannya masing-masing, tinggal aku seorang yang masih melajang. Namun dengan diterimanya pernyataan cintaku ini. Selain melepas status jombloku, tapi juga menghilangkan ledekan teman-teman yang selalu bilang kalau aku tuh nggak laku.

Dan yang membuatku bahagia lagi. Cewek yang aku dapat ini salah satu dari tiga primadona sekolah. Ada tiga cewek yang dianggap paling cantik di sekolah ini. Mereka adalah Cita, Nita, dan Vita. Entah kenapa semua cowok di sekolah menganggap kalau mereka bertiga ini memang berbeda dari cewek lain. Dan uniknya lagi, nama mereka yang hampir mirip, mereka jadi seperti bidadari turun dari kayangan yang memang sudah ditakdirkan untuk menjadi tiga wanita tercantik di sekolahku ini.

Cewek yang menerimaku itu Cita. Menurutku dia ini yang paling cantik diantara mereka bertiga. Yang membuatku jatuh cinta pada dia itu adalah gigi kelincinya yang begitu menggemaskan. Saat dia tersenyum, gigi kelinci yang terselip diantara dua bibir mungilnya membuat hatiku cenat-cenut. Apalagi rambutnya yang pendek sebahu, semakin membuat gadis itu terlihat lucu.

“Jadi kita pacaran?” ulangku lagi.
Gadis itu mengangguk pasti sambil tersenyum memamerkan gigi kelincinya. Aku semakin terbuai dibuatnya. Bagaimana nggak. Cintaku diterima oleh salah satu primadona sekolah, ditambah lagi sekarang dia tersenyum dengan gigi kelincinya yang begitu aku sukai.

Cita lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Wajahku sontak memerah seketika. Darahku terasa mengalir lebih deras dari biasanya. Walaupun sekarang Cita memang sudah menjadi kekasihku, aku tak serta-merta bisa langsung bersikap bak gentleman sejati. Karena pada dasarnya aku memang pemalu, untung saja sekarang aku memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku pada Cita.

Namun perlahan-lahan aku mulai berani mengusap-usap rambutnya dengan lembut. Aroma alami dari tubuhnya membuat hidungku kembang-kempis keenakan. Terbayang hari-hari yang bakal kujalani akan jadi lebih indah dengan adanya Cita. Ke sekolah bareng, jalan-jalan pas malam minggu, nonton film berdua. Ahh aku jadi senyum-senyum sendiri membayangkan semua itu.

“Jadi lo udah jadian sama, Cita?” Anto begitu terkejut ketika mendengar perkataanku. Biasa, namanya juga cowok, pasti suka pamer kalau dapat cewek, apalagi salah satu dari Big 3 sekolah.
“Pake pelet apaan lo, bisa dapetin primadona sekolah?” komentar Handi kesel campur iri.
Aku hanya tersenyum bangga mendengar ocehan teman-teman. Sambil sesekali ikut bersuara disela-sela siulan sumbang mereka. Jarang-jarang mereka memujiku seperti ini. Saat aku masih jomblo, akulah yang sering menjadi bahan celaan di kelas. Tapi dengan primadona sekolah yang kini menjadi milikku, sudah jelas siapa yang jadi juaranya, ha ha ha.

Saat itu tiba-tiba Cita muncul di depan kelas. Sekarang memang sudah pulang, aku pun langsung menghampiri Cita setelah beberapa saat aku sempat mengolok teman-temanku. Cita langsung menggamit tanganku mesra. Jantungku kembali berdegup cepat, namun berhasil kukuasai. Aku sempat melirik ke teman-teman dan mendapati mereka yang tengah menatapku buas, aku hanya tertawa melihatnya.

Aku dan Cita tak langsung pulang. Kami duduk dulu di taman sekolah menikmati senja sembari merasakan kisah kasih di sekolah. Cita menyandarkan kepalanya di bahuku sambil cerita permasalahannya hari ini. Mulai dari guru di kelasnya yang nyebelin, tamu bulanannya yang terasa nyeri, adiknya yang sering buat dia kesel, dan hal seabreg lainnya. Busyeett! Aku terpana mendengarnya. Banyak bener ya permasalahan yang dihadapin cewek. Tapi meski begitu, aku tetap suka mendengarnya. Karena saat Cita bercerita, dia selalu melengkapi ceritanya itu dengan berbagai ekspresi. Apalagi saat melihat gigi kelincinya, aku semakin terbuai dengan kemanisannya. Cita memang benar-benar manis.

Sampai akhirnya gadis itu mengeluarkan jeruk dari dalam tasnya. Satu hal yang selalu melekat dengan Cita, dia selalu membawa buah-buahan dalam tasnya. Baik itu jeruk, melon, semangka, dan buah lainnya. Pokoknya dia selalu membawa satu jenis buah setiap harinya. Dan hari ini dia kedapatan membawa jeruk, dia langsung mengupas kulit jeruk itu.

Aku membuka lebar mulutku ketika Cita hendak menyuapiku memakan jeruk itu. Seumur-umur baru kali ini aku disuapi wanita lain selain ibuku waktu aku masih kecil. Hal ini tentu membuatku bahagia, momen ini seperti hal termanis dalam hidupku selama ini. Cita menyodorkan tangannya memasukkan jeruk ke mulutku. Tapi begitu jeruk itu menggelincir di lidahku, keningku mengerut seketika. Rasanya benar-benar masam! Berbeda sekali dengan bayangku. Sepintas kukira itu jeruk manis, tapi rasanya sangat masam! Aku tak suka dengan rasa itu.
Namun sekuat tenaga kujaga mimik wajahku agar tidak terlihat seperti orang yang sedang mensepah-sepah. Aku takut Cita akan kecewa dan malah ngambek kepadaku. Setelahnya dia kembali menyuapi dengan jeruk, aku hanya bisa pasrah menerimanya dengan menahan rasa masam yang teramat sangat. Hal ini memang terlihat manis, bahkan momen paling manis yang kurasakan di sekolah. Tapi rasanya itu yang membuat kemanisannya hilang.

Tak terasa aku sudah seminggu menjalin hubungan dengan Cita. Dan selama itu aku harus dijejali Cita dengan seleranya yang masam. Aku benar-benar heran sekaligus aneh dengan dia. Kenapa gadis semanis Cita malah memiliki selera yang begitu tinggi dengan rasa masam? Terlebih, dari mana dia dapat melon yang rasanya masam? Setahuku melon rasanya manis semua. Tapi gadis itu berhasil mendapatkan melon yang rasanya masam, benar-benar langka.

Aku sudah tak tahan. Jika lebih lama dari ini menerima buah yang rasanya masam semua, mulutku tak kuat lagi merasakannya. Terbesit olehku untuk memutuskan hubungan dengan Cita. Tapi masa baru satu minggu sudah putus, teman-teman pasti bakal habis-habisan meledekku. Tapi tak apalah! Yang penting mulut ini tak lagi merasakan rasa masam!

“Jangan deh, nanti lo nyesel. Lagian selemah itukah pendirianmu sampai hanya hal sekecil itu membuatmu nyerah?” celoteh Yoga begitu mendengar penuturanku.
“Bayangin aja, setiap hari gue dijejelin buah-buahan yang asem! Lo kira gue bisa tahan untuk terus ngadepin, Cita?”
“Ya lo bilang aja kalo lo nggak suka sama buah yang rasanya asem!”
Aku menghela nafas sejenak, “Dia pasti ngambek lah, Yog! Elo sih belum pernah pacaran sama primadona, jadinya nggak ngerti!”
Yoga mendengus sebal, “Heh! Meski cewek gue biasa-biasa aja nggak nge-top kayak cewek lo. Tapi dia tetep seorang primadona di hati gue …” Yoga menepuk-nepuk dadanya.
Aku mencibir.

Sesaat kemudian aku mengeluarkan buku tulis hendak menulis surat perpisahan kepada Cita. Aku tak berani memutuskannya secara langsung, takutnya saat melihat reaksi gadis itu nanti. Apalagi kalau melihat gigi kelincinya yang menggemaskan, bisa-bisa aku mengurungkan keinginan untuk mengakhiri hubungan kami.

Sepulang sekolah, aku mindik-mindik berjalan ke kelas Cita. Setelah melihat kelas itu sudah tak ada penghuninya, aku masuk ke kelas itu dan langsung menyimpan surat perpisahan untuk Cita. Aku mengelus pelan bangku itu sembari membatin, terima kasih telah menerima dan menjadi cinta pertamaku, Cit.

Namun malang bagiku. Keesokan harinya, Bezo tampil di muka kelas sambil memberikan kabar yang membuat anak-anak gembira termasuk aku. Bezo yang anaknya terkenal tajir sekelurahan dengan rambut merahnya yang tergurai berantakan memberikan pengumuman kepada anak-anak.

“Jadi seperti yang elo-elo ketahui, dua minggu lagi Taylor Swift bakal tampil di Jakarta, dan berbahagialah karena gue bakal kasih tiket nonton ke elo-elo secara gratis!!” suaranya begitu membahana menyelimuti kelas. Anak-anak pun langsung bersorak riuh dan mengelu-elukan nama Bezo, “tapi dengan syarat …” Bezo masih asyik dengan pengumumannya, “Yang dapet tiket hanya mereka yang punya pasangan alias pacar alias kekasih!!”
Sialan! Kok gitu amat? Diskriminasi ini namanya! Aku berusaha protes kepada Bezo. Bagaimanapun juga aku ingin nonton konser Taylor Swift, kapan lagi gitu dia datang ke Indonesia. Tapi Bezo tetap kuat dengan pendiriannya.
“Pokoknya gue cuman ngasih tiket sama yang udah punya pacar!” tandasnya.

Aku jelas kelimpungan sendiri. Kalau terus seperti ini bisa jadi hanya aku yang nggak nonton konsernya Mbak Taylor. Karena di kelas sudah punya pacar semua! Jika saja aku tahu seperti ini, aku tak akan mengakhiri hubunganku dengan Cita. Terbesit keinginan untuk kembali merajut hubungan dengan Cita, tapi bagaimana? Dia sudah tentu kecewa kepadaku. Atau jika memang aku kembali pacaran dengannya, apa aku akan tahan dengan selera masamnya?
Tapi tak apalah, demi Mbak Taylor, aku siap menghadapi rasa semasam apapun! Lagipula baru kemarin aku mengirim surat perpisahan itu, barangkali Cita belum melihat surat itu.

Pulang sekolah aku bergegas menuju kelas Cita dan memeriksa loker mejanya, tapi sayang surat itu sudah hilang. Mungkin Cita sudah membacanya. Tubuhku lunglai seketika, konser Taylor Swift semakin jauh kugapai.

Begitu aku berjalan di koridor, aku tak sengaja menoleh ke taman sekolah. Aku mendapati Cita yang sedang duduk sendirian disana. Dengan jantung berdebar-debar aku coba berani mendekatinya dan langsung duduk di sebelahnya.

“Hai, mantan pacar,” sindirnya lembut.
Aku tersenyum kaku, “Cit, maaf aku tak bermaksud.”
“Tak bermaksud gimana? Kamu kan udah ngirim surat, jadi kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi.”
“Cit, sebenarnya …” ujarku pelan, “yang nulis surat itu Yoga bukan aku. Dia sengaja pengen buat kamu putus sama aku.”
“Hah? Drama macam apa lagi ini?!” Cita menoleh sebal ke arahku, “kalo emang bener ini tulisan Yoga. Mana buktinya?” Cita memperlihatkan surat tepat di hadapanku.

Aku mengambil buku tulis dari dalam tas, dan langsung mencocokan tulisan dari buku dan surat. Dan ternyata tulisannya benar-benar berbeda. Cita menatap tak percaya.

“Gimana? Kamu udah percaya?” kejarku. Cita diam tak berkata apa-apa, “mau ketemu Yoga? Biar kamu lebih percaya.”
Cita mengangguk. Kami pun bergegas menghampiri Yoga yang sedang asyik main futsal di lapangan.
“Iya, Cit, itu gue yang nulis. Sorry, gue cuman iri sama si sialan ini yang bisa dapetin cewek secantik elo. Sekali lagi sorry ya, Cit.” Aku Yoga tertunduk.
Cita benar-benar tersipu, dia lalu menatapku dengan matanya yang berlinang, “Jadi bener bukan kamu?”
“Aku sayang sama kamu, Cit. Mana mungkin aku ninggalin kamu,” bisikku pelan di telinga Cita.
Cita langsung memelukku dengan erat. Aku tersenyum. Lalu memandang Yoga dan mengacungkan jempol. Cita tidak tahu kalau memang aku yang menulis surat itu, dan tulisan di buku itulah tulisan Yoga yang sebenarnya. Ini adalah rencanaku agar kembali mendapatkan Cita dengan bantuan Yoga.
Yoga mengedipkan sebelah matanya sembari memberi isyarat, jangan lupa honornya ditransfer besok.
Aku hanya mengangguk sambil cengengesan.

Misi berhasil! Akhirnya aku bisa kembali memiliki pacar dan tentu mendapat tiket untuk nonton konser Taylor Swift! Namun seperti yang sudah kuduga. Setelah aku jadian lagi dengan Cita. Gadis itu tetap menjejaliku dengan buah-buahan yang rasanya masam minta ampun! Aku benar-benar tak kuat dengan rasa masam. Tapi apa daya, aku harus menjalani.
Demi konser Mbak Taylor!

Saat waktu yang ditentukan tiba. Aku dan teman-teman yang lain menghampiri Bezo yang duduk paling belakang untuk menagih janjinya.
“Ada apaan nih? Rame bener?!” Bezo begitu kaget ketika mendapati dirinya sudah dikepung anak-anak layaknya buronan yang sudah mati kutu tertangkap aparat.
“Ayo, mana janjinya? Konsernya besok, Zo!” kata Indri.
“Cewek gue seneng banget waktu gue ajak mau nonton!” timpal Joni.
“Gue juga udah balikan sama Cita!” tambahku mencecar Bezo.
Senyum Bezo mengembang seketika, “Maksud kalian ini?” Bezo mengambil dua tiket dan mengibas-ibaskannya. Anak-anak langsung histeris dan berebut mengambil tiket itu, tapi Bezo langsung menyimpannya, “enak aja! Beli sendiri dong! Ini khusus buat gue sama bebeb.”
“Hah? Tapi lo kan udah janji mau kasih kita tiket!” Yoga heran melihat tingkah Bezo.
Bezo bangkit dari duduknya dan mengeluarkan kalender mini dari saku, “Nih kalian liat sekarang tanggal berapa.”
Anak-anak termangu seketika, dan langsung menepok jidatnya begitu menyadari ketololannya sendiri. Mereka begitu jengkel kepada dirinya sendiri karena tertipu mentah-mentah oleh Bezo. Sekarang tanggal satu april!!!
“APRIL MOP!!!” teriak Bezo girang setengah koit karena berhasil menipu anak-anak sekelas. Dia lalu ngibrit keluar kelas dengan tertawa terkekeh-kekeh, “udah kalian nonton konsernya di teve aja, biar lebih afdol, ha ha ha.” Suara Bezo terdengar samar dari luar.

Anak-anak benar-benar jengkel kepada Bezo. Harapan mereka yang sudah diajak terbang tinggi menuju langit, dihempaskan begitu saja oleh perkataan Bezo yang begitu nyelekit. Mereka lalu berlari keluar kelas mengejar Bezo hendak meluapkan kekesalannya.

Aku sendiri masih mematung di tempatku. Bezo sialan! Sudah capek-capek menghadapi Cita yang seleranya bikin lidah berkerut itu. Kini harapanku untuk bisa nonton konser Mbak Taylor secara langsung sirna sudah.
Aku melihat Cita di pintu kelas. Tapi tak apalah, setidaknya dengan kejadian ini aku bisa kembali mendapatkan Cita. Namun aku kembali terkejut ketika mendapati Cita yang membawa jeruk di tangannya.

Cerpen Karangan: Aldy Purwanto
Facebook: facebook.com/aldysibakuton
Cowok sunda asli yang baru menjajaki dunia tulis menulis

Cerpen Hal Manis Yang Tak Manis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinderella Dadakan

Oleh:
Syadza Stephanie. Itulah nama gadis berkacamata, rambut dikucir kuda, memakai seragam ala SMA, membawa beberapa lembar kertas yang dijepit pada papan ulangan, juga sebuah bolpoin hitam. Ia tampak sibuk

Kisah Gokil di SMA

Oleh:
Ku tatap nanar sebuah album foto dengan sampul hijau muda di halaman depan dan sampul hitam di belakangnya. Tampak kusam dan berdebu. Perlahan jari-jemari yang lancip meraba album ini.

Sikat Atau Setrika

Oleh:
Jumat 22 Mei 2015, seperti biasa setiap hari kami ke selokan, eh bukan. Maksudku ke sekolah naik mobil, jangan ciee ciee dulu, karena bukan mobil pribadi tapi mobil sewa.

Cinta Predator

Oleh:
Terdengar suara panggilan menyebut namaku dan aku menoleh ke luar pintu kelas. Dia tidak sendiri tapi bersama temannya sambil mengatakan, “De.. Ada yang suka sama kamu,” “Haah, suka? siapa?”

Benang Merah Penghubung

Oleh:
Jam menunjukan pukul dua siang. Pukul dimana saat-saat yang bagus untuk menikmati tidur siang. Di sebuah kelas terlihat beberapa murid melakukan rutinitas mereka yaitu tidur siang. Termasuk siswi yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hal Manis Yang Tak Manis”

  1. Fazya says:

    Ngakak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *