Jam Enam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 June 2021

Sahra terbangun dari tidurnya dengan perasaan aneh luar biasa. Dunia tiba-tiba terasa hening dan sunyi. Seperti berada di dunia lain. Dilihatnya langit dari jendela kamarnya masih agak gelap.

“Bun, sekarang jam berapa?” teriaknya pada sosok perempuan yang ia panggil bunda.
“Jam enam” terdengar sahutan bundanya yang sepertinya bersumber dari dapur.

Anak perempuan yang masih duduk di bangku kelas 5 SD itu pun buru-buru menyibak selimutnya berjalan cepat menuju kamar mandi. Takutnya ia terlambat ke Sekolah.

Usai mandi dan menggunakan seragam merah-putih khas anak SD, Sahra kemudian memasang kerudung instan merah tua yang selaras dengan warna roknya. Anak perempuan itu menatap sekilas dirinya di depan cermin, perasaan aneh itu masih saja menyelimuti hatinya. Karena takut terlambat, ia sengaja tak sarapan pagi. Sahra langsung menggendong tas ranselnya dan berjalan menuju teras rumah untuk mengenakan sepatu. Di ruang tengah, ia menemukan adik laki-lakinya yang masih berusia 3 tahun tengah menonton televisi, entah tayangan apa yang ditonton.

Sahra membuka pintu rumahnya yang masih tertutup. Ia baru sadar, sejak tadi lantunan bacaan Al-Qur’an terdengar dari toa masjid yang tak jauh dari rumahnya.
‘Tumben pagi-pagi begini toa masjid bunyi, padahal kan waktu Subuh sudah lewat’ batinnya.
Namun ia tak terlalu ambil pusing, mungkin saja akan ada pengumuman yang ingin disampaikan.

Sahra kemudian melihat ke arah rumah Rinda yang berada tepat di depan rumahnya. Rinda adalah salah satu teman sekelasnya, setiap pagi mereka berangkat bersama ke Sekolah. Namun pagi ini tak ada tanda-tanda bahwa Rinda akan keluar. Rumahnya tampak tertutup rapat. Mungkinkah Rinda sudah berangkat duluan ke Sekolah?.

Sahra akhirnya memutuskan untuk mengenakan sepatu hitam yang sehari-hari ia kenakan. Setelah semuanya beres, ia menatap sekeliling. Kenapa rasanya sangat hampa? Pagi ini tidak seperti pagi biasanya. Ternyata bukan hanya rumah Rinda saja, tetapi semua pintu rumah tetangga yang lain juga tertutup dengan lampu-lampu rumah yang masih menyala. Seolah mereka semua enggan untuk keluar rumah dan melakukan aktivitas. Bu Nir yang biasanya menyapu halaman rumahnya setiap pagi tak muncul hari ini. Juga Mang Didin yang seharusnya sudah menyiapkan gerobak bubur ayamnya untuk berjualan juga tak terlihat di depan rumahnya. Dan kemana suara kokokan ayam yang selalu menyambutnya setiap pagi? Apakah mereka semua masih tertidur?.
Bahu Sahra merosot lesu. Rasanya tak ingin ke Sekolah hari ini.

Kini ia mendongak menatap langit. Entah perasaannya saja atau ini memang nyata. Tapi sepertinya sang langit malah semakin menggelap. Sungguh, ini pagi ter-aneh yang pernah ia temui. Apa jangan-jangan ia memang tersedot ke dunia yang berbeda? Pikirnya mulai melantur.

Gadis itu mencoba menarik napas dan menghembuskannya pelan, berharap perasaannya akan membaik. Lagi dan lagi ia kembali menatap sekitar. Tunggu… Seperti ada yang tidak beres. Mata gadis itu seketika membelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat.

‘Kenapa matahari terbit dari Barat?’

Dadanya berdebar hebat dengan tungkai yang semakin melemas. Ada apa dengan dunia? Apakah dunia sedang mengajaknya bercanda? Ia sangat berharap ini mimpi, namun ini nyata. SANGAT NYATA. Sang surya dengan cahaya jingganya itu benar-benar muncul di Barat. Perasaannya semakin campur aduk. Kini ia membeku entah harus berbuat apa.

“Apakah ini…”

“Ra, kenapa kamu buka pintu rumah?” ucapan lirihnya terpotong ketika mendengar suara Ayahnya yang sudah berdiri di depan pintu.
“A-ayah…” sahutnya terbata, tak sanggup melanjutkan ucapanya
“Kamu mau kemana pakai seragam sekolah gini?” tanya sang Ayah menatapnya heran.
“A-aku mau ke Sekolah” balas Sahra apa adanya.

Seketika kening ayahnya berkerut tampak semakin heran menatap putri sulungnya. “Ngapain ke Sekolah? Kan udah Maghrib” kata Ayahnya lagi.
“Hah? Sekarang Maghrib?”
“Yaiyalah, masa’ pagi. Ayo masuk! Kamu ini aneh-aneh aja deh”

Sekarang Sahra baru ingat, tadi dia tidur siang bukan tidur malam.

-THE END-

Cerpen Karangan: Nurul Hikma Saharani
Blog / Facebook: Nurul Hikma Saharani
Jejak penulis bisa di temukan di instagram @nurulhikmasaharani_

Cerpen Jam Enam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persahabatan Keren

Oleh:
“Best Friend Forever” Seorang gadis menggumamkan kalimat itu saat memandangi sebuah foto yang terbingkai cantik dalam sebuah frame berwarna coklat muda. Ia adalah Nana, seorang gadis kelas 2 SMA

Apes

Oleh:
Pagi buta Ayumi masih setia pada ranjangnya. Sinar matahari sedang berjuang merayap di sela-sela jendela kamarnya. Ia merasakan suatu kehangatan menyelimuti wajahnya. Ayumi terbangun dengan mata masih sedikit tertutup.

Ini Bukan Ragaku

Oleh:
Seperti biasanya aku hidup dengan “Membosankan”. Kadang aku sering berimajinasi menjadi pria tampan, kaya, dan disukai banyak wanita. Tapi semua itu terhenti ketika temanku memanggil.. “Hai daffa melamun terus..”

Pemuda Di Simpang Jalan

Oleh:
Ada seorang pemuda sebut saja namanya Kalam, ia adalah seorang pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas dan seperti biasa setiap pagi ia melakukan rutinitasnya untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Jam Enam”

  1. Khaerudin says:

    Bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *