Kamar Buntu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 February 2016

Terjebak dalam ruang derita akibat naluri manusiaku yang begitu penuh dengan ketidakpastian. Ini bukanlah masalah besar jika aku tidak dalam keadaan “kebelet pipis”. Aku bisa saja kencing di kamar mandi luar, kalau aku masih di luar. Tapi kini aku sudah berada di dalam, dan untuk masuk bukanlah tidak menyakitkan, begitu pula untuk ke luar. Namun siapa sangka, siang ini, aku terkurung di kamar sendiri.

“Ayo kita ke toilet!”
“Ngapain?”
“Ya memberi setoran, jadi mau ngapain lagi?”

Entah tabiat alamiah siswa, entah pun hukum alam, rasanya aneh sekali kalau pergi ke toilet sekolah seorang diri. Apalagi perempuan. Jika kau pergi ke sekolahku, maka kau akan mendapati ada perempuan yang berdiri di depan pintu toilet perempuan. Menemani yang di dalam, kata mereka yang di luar. Lalu aku bertanya dengan sok polos, “Kenapa menemaninya nggak di dalam juga?” Aku berlalu dengan tawa, meski balasan mereka, “dasar gila!” Karena ini sudah waktunya pulang dan tak ada yang ingin menemaniku ke toilet, aku segera menuju tempat parkir. Tentu saja dengan langkah yang panjang.

“Kamu kenapa, Syah? Seperti dikejar setan begitu..” tanya Yusni bingung.
“Panggilan alam, Yus!” Jawabku tanpa menghentikan langkahku. Yusnidar mungkin melongo tak mengerti di belakangku. Maklum saja, ketika diadakan tes IQ, dia mendapatkan nilai minimal untuk remaja seusianya. Nah, aku? Hanya beda satu angka dengannya.

Mataku memperhatikan sudut-sudut kamar. Aku sedang berpikir untuk mencari cara bagaimana membuka pintu kamar ini. Ya, seharusnya aku tak menguncinya dari luar tadi pagi. Tapi apa boleh dikata, kedelai sudah menjadi tahu. Tunggu, bagaimana kalau aku menguji sekuat apa otot-otot di lenganku yang seperti ranting kayu ini? Mencoba menarik bagian sisi ujung pintu bukanlah hal yang buruk, meskipun itu bodoh. Kunci pintu ini berbentuk silinder. Mengunci dengan cara memasuki lubang yang tersedia di sisi dinding yang menghadap ke silinder itu sendiri. Letaknya di tengah. Jadi sudah dipastikan titik lemahnya berada di bagian ujung. Baiklah, kau boleh taruhan dengan temanmu apakah aku berhasil menarik pintu yang terkunci ini atau tidak.

Jarum di speedometer menunjukkan pukul.. maaf, menunjukkan angka delapan puluh lima. Memendam rasa sesak kencing lebih sakit daripada memendam rasa cintamu di hati. Di perjalanan pulang inilah, di atas motor jantanku, pikiranku jadi terpaut pada seseorang. Dia bukan pacar, tapi aku sangat mencintainya. Matanya indah, seperti ada gelombang cahaya yang terbias di matanya. Persis layaknya fatamorgana. Sungguh disayangkan, sekarang perasaan ini hanya pesan yang terkirim tanpa pulsa. Tak terbalas. Ya, andai saja aku tak menyakitinya waktu itu.

“Yansyah…” Ia menyapa dengan hangat.
“Hai, Aninda…”
“Bulu matamu jatuh.”
“Benarkah? Apa artinya nih?”
“Apa pun artinya itu nggak penting. Yang penting, itu nggak memisahkan kita.”
Lebay tapi aku suka. Kadang lebay merupakan hal yang wajar ketika kita jatuh cinta. Bukankah begitu, An?

Yang taruhan, yang yakin aku mampu menarik pintu ini, sudah saatnya kau saatnya kau menyerahkan uangmu. Karena nyatanya apa yang aku perbuat bahkan tak menggoreskan sedikit luka pada pintu kamarku. Dasar payah, pikirku. Barangkali kalau berhasil pun, pasti pintunya rusak dan hanya akan menambah susah orangtuaku. Argh! Gawat! “Bendungan” ku sepertinya sudah mau jebol. Sungguh sakit menahannya. Sepertinya aku harus membiarkannya keluar, daripada aku mati karena menahan kencing. Tolong jangan dibayangkan, itu hanya akan membuatku semakin malu. Lebih baik kau melanjutkan membaca bagian di bawah ini karena aku ingin menikmati hangatnya air… maaf, disensor.

“Assalamualaikum…” Tak ada balasan. Ku coba menempelkan wajahku ke permukaan kaca hitam yang terpasang di samping pintu depan rumahku. Mataku menelusuri setiap jenjang ruang tamu. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Pasti ibu dan adik sedang pergi entah ke mana, pikirku. “Oh ya! Biasanya pintu dapur hanya dikunci dari atas, tentu itu bukan soal!” Aku bergumam. Baiklah, ternyata dikunci dengan gembok. Tidak! Aku harus masuk. Rumahku adalah surgaku di dunia. Tak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha, dan satu-satunya jalan masuk adalah jendela kamarku yang ku buka tadi pagi. Aku sangat bersyukur sekali pada Tuhan yang telah menunjukkanku jalan.

Tuhan memang selalu membuat kejutan. Aku lupa kalau jendela kamarku yang berbentuk persegi ini telah terdapat satu belahan bambu yang sengaja dipaku oleh ayahku dengan bujur menyilang. Jika jendelaku seperti ini “| |” maka dengan ditambah bambu menjadi seperti ini “||”. Tapi aku yakin aku bisa melewatinya. Bagaimana tidak, tubuhku hanya setebal papan jungkat-jungkit. Memang selalu ada sesuatu yang dapat kita syukuri sekali pun itu kekurangan kita.

“Ngapain kamu, Syah?” Om Ris tiba-tiba melintas di depan rumahku.
“Ng… anu… ada yang mau diambil…”
“Ngambil apa?”
“Ha? Mmm… itu… helm, om…”
“Kamu mau ke mana lagi sudah siang begini?”
Andai aku boleh menamparnya dan berteriak, “sibuk amat sih lo, nyet!” pasti aku lega. Aku pun hanya menjawabnya dengan seringai yang menjijikkan. Tanpa diusir, ia pun pergi. Dasar tetangga.

Aku mulai memanjat. Telapak tanganku menopang berat badanku yang di bawah rata-rata. Ku angkat kakiku dan ku coba memijak bibir jendela ini. Sungguh, sulit sekali. Lalu, ku condongkan tubuhku ke dalam agar dapat masuk. Maka aku dalam keadaan menggantung. Jika ku paksakan masuk, maka anggota tubuhku dari perut sampai kaki akan bergesekan dengan bingkai jendela ini. Tentu itu akan menimbulkan luka dan rasa sakit. Tapi sayangnya aku bukan pengecut yang berhenti di tengah jalan. “Hiaat…!!” Akhirnya, aku bisa masuk. Sepatuku mengotori kamarku yang berukuran 3X3 ini. Aku tak peduli. Aku langsung bergegas membuka pintu kamar dan… silahkan kembali ke paragraf awal kalau kau lupa bagaimana kisah di paragraf awal.

“Bang Yansyah?” Itu suara Diyah, sepupuku. Sudah ku duga ibu dan adik berada di rumah bibi. Pasti ia ingin memberikan kunci gembok pintu dapur.
“Diyah!” Wajahku menongol di balik jendela berpalang belahan bambu. “Bang, ini kuncinya…”
“Tolong, Diyah, bukakan pintunya…” Diyah pergi ke belakang.

Akhirnya, aku dapat bebas. Walau celanaku sudah terlanjur basah. Aku merasa sangat di penjara di kamar ini. Brrmm…brrmm… Itu suara motor Diyah. Apa? Diyah pulang sebelum membuka pintu kamarku? Argh! Bodohnya aku! Seharusnya ku bilang pintu kamar ini! Pasti ia hanya membuka pintu dapur. Aku terpaku. Mataku menatap ke jendela berpalang belahan bambu tersebut. Rasa sakit karena gesekan tadi masih terasa di perut dan pahaku. Tak ku sangka aku akan menghadapinya lagi, demi kebebasan jiwa manusiaku.

Cerpen Karangan: Nanda Insadani
Facebook: Nanda Insadani
Nanda Insadani lahir di Medan, 29 Juni 1998.

Cerpen Kamar Buntu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gara Gara Angkot

Oleh:
TING! TING! TING!! Bunya bbm dari handphone gue yang langsung membuat gue terbangun dari tidur yang indah ini, karena gue abis mimpi terbang bareng superman. “Way? Lo gak sekolah”

Diary Merah Hati Tentang Dia

Oleh:
Aku tak pernah bertemu orang seperti dia. Dia terlihat bagaikan pangeran-pangeran yang ada dalam dongeng yang sering aku bayangkan. Aku melihatnya sebagai mimpi yang tiba-tiba hadir dalam relung hidupku.

Luka Ini Penyemangatku

Oleh:
Aku merasa hidupku begitu sempurna… Karena aku punya kekasih yang sangat aku sayangi dan juga menyayangiku, Indra… Dia penyemangat hidupku, tak mungkin aku bisa bayangkan bila gak ada dia.

Karya Hati

Oleh:
“kau boleh acuhkan diriku.. dan anggap ku tak ada, tapi takkan merubah perasaanku.. kepadamu..” Sepenggal kalimat itu yang kini sering berderu di telingaku. Aku Nan, seorang gadis kecil kini

Benci Jadi Cinta

Oleh:
Panggil saja aku kiki, cerita ini dimulai saat aku duduk di kelas 2 SMP, ya aku seprti anak-anak abg yang lain.. Kehidupan ku sangat menyenangkan menurut ku, sampai akhir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Kamar Buntu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *