Kisah Umi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 22 May 2017

Tak pernah kusangka jika gubug reotku ini bisa menjadi terkenal. Warga kampung menamainya Gubug Bidadari. Semua itu lantaran Umi, gadis berambut kuning yang hampir setiap hari mengunjungi gubugku. Parasnya ayu, kulitnya putih, matanya kadang biru, hijau, kadang-kadang juga berwarna hitam, bajunya semuanya berwarna pink. Bulu matanya tebal, alisnya rata tak seperti gadis-gadis desa, bibirnya merah sewarna cabai, sepatunya mengkilat dan tinggi.

Tak sepertiku, aku hanya gadis kurus kecil dengan rambut potongan bob. Kulitku hitam karena sering terkena sinar matahari. Wajahku normal, mataku hanya berwarna hitam. Bajuku hanya kaos oblong gratisan dari bonus membeli obat semprot untuk kebun. Bukan sepatu, kadang aku menggunakan sandal jepit berbeda warna. Namun aku lebih sering tak beralas kaki, sudah biasa.

Karena Umi pria-pria di kampung lebih memilih nongkrong di gubugku ketimbang bekerja. Dari yang dulu menanam pisang, sekarang mereka membawa pisang untuk Umi. Dulu bekerja berternak ayam, sekarang ayam mereka dipanggang untuk menyenangkan hati Umi. Umi hanya bisa tersenyum, sikapnya yang ramah malah membuat mereka semakin sering datang ke gubugku. Aku bersyukur lantaran aku tak usah menanak nasi dan mencari lauk di pasar. Umi tak pernah memakan makanan yang dibawa mereka, diet katanya.

Umi bak artis di kampung, ada yang meminta tanda tangan di tembok rumahnya, untuk kenang-kenangan. Ada yang minta foto menggunakan pakaian pengantin yang serba berwarna putih. Ada yang minta bersalaman dan tangannya sampai rumah tak mau dicuci atau disentuh oleh siapapun.

Umi, membuat gadis desa kelimpungan. Dari yang dulu menjadi bunga desa sekarang malah pensiun gara-gara Umi. Dulu, ngebangga-banggain alisnya paling lurus sedesa, eh kalah karena jauh lebih bagus alis Umi. Umi, Umi.
Banyak ibu-ibu yang ingin anak lajangnya menikah dengan Umi. Alasannya karena bisa terkenal nanti, atau juga untuk memperbaiki keturunan.
“Kalau menikah dengan Umi, pasti cucunya rambutnya kuning loh, Cantik”.
“Bibirnya pasti merah”.
“Putih, lah putih mah paling cantik”.
“Bulu matana lentik, hirungna mancung”.
“Umi buat anak saya, si Jupri”.
“Buat Rudi, Jupri pasti kalah secara Rudi kembang desa di kampung”.
“Ula, Cecep wae”.

Umi .. Umi. Gara-gara Umi gubug reotku semakin reot lantaran tak bisa menahan tamu yang semakin banyak. Lantai kayuku dari yang bolong kecil, semakin tambah besar. Umi membuatku semakin risih.
Ketika aku pergi ke pasar, semua orang menanyakan Umi.
Di Balai menanyakan Umi.
Di kebun pun Umi.
Sampai di kali pun Umi.
Umi.
Umi.

Umi semakin betah di gubugku. Sudah 5 hari ia menginap bersamaku. Berita menyebar, dari yang dulu warga memuji-mujiku karena memiliki saudara seperti Umi. Kali ini mereka membanding-bandingkan aku dengan Umi.
“Umi mah cantik, Inez mah Jauh!”
“Kaya bukan saudara, beda pisannnn.”
Aku hanya bisa menggeleng pasrah, mau marah juga memang faktanya begitu.
‘Umi saudara saya?’ tanyaku dalam hati sembari memiring kanan kirikan tubuhku di kaca kamar.
Aku ragu jika Umi adalah saudaraku. Perbedaan aku dan dia jauh. Umi kan dari kota?. Bapa dan Ibuku ada di kampung, semua saudaraku juga ada di kampung. Lalu Umi? Anak siapa? Wa Ujang? Mang Carim? Kuwu Wawan? Batinku.

Aku masuk ke dalam ruangan yang sedang ditempati Umi. Kujumpai Umi sedang menyisir rambutnya yang kini berwarna hijau kelumutan. Dari yang Merah, Kuning, maupun Hijau paras Umi memang tetap ayu. Ya Gusti.
“Umi?” Panggilku, Umi tersenyum menunduk ramah padaku.
“Umi anak Wa Ujang?”
Umi melongo mendengar pertanyaan ku, lalu menggeleng.
“Oh, anak Mang Carim yah?” tanyaku lagi.
Menggeleng
“Berarti Kuwu Wawan desa sebelah?”
Umi menggeleng cepat, aku semakin frustasi.
“Umi katanya saudara Inez? Lalu anaknya siapa?” tanyaku mendekati Umi yang kebingungan.
Wajah Umi merah, jelas sekali. Untung Umi, malah semakin cantik.
“Daus Marcolo” ucap Umi akhirnya.
“Daus? Marcolo? Mamang saya tak ada yang bernama seperti itu. Ahhh, kalau Mang Daus mah saya kenal, yang jual baso bakar kan? Tapi Mang Daus mah bukan Mamang saya, cuman tetangga”.
Umi kembali menggeleng
“Saya cicit dari Daus Marcolo penjajah Belanda waktu jaman perang ujar Umi”.
Aku kaget, menatap Umi tak percaya.
“Lalu? Kenapa tinggal di gubug saya?”
“Biar gratis” cengenges Umi.
Aku mencelos.
“Aku mualaf, setiap orang muslim kan saudara”, jelas Umi kembali.
Aku hanya bisa melongo, ingin rasanya marah, tapi setiap muslim memang saling bersaudara, benar kata Umi.

Umi … Umi … Umi

Cerpen Karangan: Ria Rizky Darmawan
Facebook: Ria Rizky Darmawan

Cerpen Kisah Umi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Peringkat 1 (Part 1)

Oleh:
Ada satu pertanyaan yang selama ini selalu ada di benakku terus-terusan. Pertanyaanya seperti ini. Apa di usiaku yang sebentar lagi menginjak usia 18 tahun ini? Setidaknya 1 saja… Apakah

Jamrijan

Oleh:
Tubuh malam yang gelap telah meniduri bumi Rasianja. Jarum jam yang tertatih-tatih menunjukkan waktu yang tepat untuk manusia normal terlelap di atas kasur kesayangan mereka masing-masing. Benar, manusia normal.

Gigi Ompong

Oleh:
Seperti biasa, setiap pagi aku harus bersiap-siap ke sekolah. Aku dan temanku Lian namanya. Kami berangkat sekolah dengan berjalan kaki sekitar 10 menit lamanya dengan kecepatan rata-rata. Setiap di

Nineung

Oleh:
Katumbiri luhureun langit belah kulon lila kalilaan katémbongna samar. Keusik di basisir poé ayeuna baseuh ku cai hujan. Sagara nu katingali satungtung deuleu ku panon kuring warna na bodas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *