Kota Anginku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Liburan, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 2 August 2017

Hari raya umat muslim tinggal 5 hari lagi, banyak orang-orang kota sudah melakukan mudik, tak terkecuali Septima bersama keluarga kecilnya yang bahagia, Septima tinggal di daerah Soreang, dia tinggal di sana karena pekerjaannya. Septima merupakan lulusan teknik industri Unsoed, kini dia bekerja di sebuah perusahaan sebagai Divisi Perencanaan Biaya.
Septima mepunyai seorang istri yang bernama, Azzahra Nur Hasny, mereka berdua sudah pacaran ketika masih kuliah di Unsoed, dari pernikahan mereka berdua, mereka mempunyai seorang anak yang sekarang sedang berada di bangku kelas 1 SD, dia bernama Muhammad Andres Nurhuda
Septima berasal dari Kabupaten Majalengka, tepatnya di kecamatan Sumberjaya, Bongas Kulon. Septima mudik ke kampung halamannya pada saat H-4 sebelum Idul Fitri, Septima tentu saja rindu dengan kampung halamannya, apalagi dengan kedua orangtuanya yang telah mendidik dan menyekolahkan Septima sampai menjadi sesukses sekarang.

Berangkat pukul 5 pagi dari kediamannya menggunakan mobil miliknya, Septima yang memperkirakan akan datang pada pukul 9 pagi ternyata salah. Septima datang ke Bongas pukul 1 siang, karena macet yang cukup parah di perjalan. Di rumahnya, dia disambut oleh ibu dan ayahnya dengan penuh suka cita.
Septima berencana akan mengajak liburan Istri dan anaknya pada H+3 setelah Idul Fitri untuk melihat-lihat wisata khas Majalengka yang terkenal dengan panorama alamnya yang sangat indah, beberapa tempat tujuan yang akan dituju adalah, Cadas Gantung (Kecamatan Leuwimunding), Paralayang (Majalengka), Situ Sangiang (Kecamatan Banjaran) dan Panyaweuyan (Kecamatan Argapura)

Tempat wisata yang pertama akan didatangi adalah Cadas Gantung, berangkat pukul setengah tujuh pagi, Septima beserta istri dan anaknya datang ke tempat parkir sekita pukul tujuh kurang, dari sana mereka harus berjalan untuk ke Cadas Gantung, sesampainya di sana, betapa takjubnya Andres melihat itu semua, suasana hiruk piruk kota yang penuh kepusingan hilang seketika, Septima lalu pergi batuan cadas yang menggantung ditepi tebing di atas bebatuan tersebut Septima bisa melihat Kecamatan Leuwimunding

Selesai melihat pemandangan di Cadas Gantung, mereka kembali meneruskan perjalanan ke Paralayang di Majalengka, Jika Cadas Gantung hanya melihat kecamatan Leuwimunding saja, maka Paralayang bisa melihat seluruh kota Majalengka. Melewati Rajagaluh, merupakan jalan yang paling cepat untuk ke Paralayang, Septima begitu pangling melihat jalan Rajagaluh-Majalengka begitu bagus, ya, dulu memang jalan Rajagaluh-Majalengka udah kayak ombak banyu.

Di Jalan K. H. Abdul Halim, tepat di depan alun-alun Majalengka, mobil Septima menabrak bemper belakang mobil sedan berwarna biru dongker, Septima langsung kaget, dia berpikir daripada dia yang dimarahi duluan, mendingan marah duluan.

“Woy keluar” Kata Septima sambil menutup pintu mobilnya dengan halus, sayang dong kalau dibanting, mobil baru
“Maaf mas ada apa” Ujar orang yang mobilnya ditabrak Septima dan keluar dari mobil
“Ada apa, ada apa, ada apa your head, bisa nyetir gak sih”
“Loh, kok jadi lo yang ngambek?, kan gue yang ditabrak”
“Makanya kalau mau belok pake lampu sein, gimana sih”
“Loh kan dari tadi gue lurus aja”
“Makanya belok dong, gimana sih, masa hidup mau lurus-lurus aja, sekali-sekali belok dong”
“Jadi siapa yang salah?”
“Ya gue lah, kan gue yang nabrak gimana sih” tiba-tiba seorang ibu muda yang cantik keluar dari dalam mobil sedan tersebut
“Ada apa sih ribut-ribut malu ta.., Sep septima” Lalu wanita itu menghampiri Septima, wanita tersebut adalah Keke, teman sekelas Septima ketika SMA
“Aduh lama gak ketemu yah Dis” ujar Septima dengan polosnya
“Dis?”
“Lo Disi kan?”
“********” Perkataannya kasar jadi disensor, dan jangan dibayangin gimana kalau Keke ngamuk.
“Ma maaf Ke, gue gak tau, lagian udah berapat tahun gak ketemu”
Setelah itu mereka berbincang-bincang cukup lama, karena pulangnya takut kesorean Septima lalu pamit untuk melanjutkan ke destinasi wisata selanjutnya, Paralayang.

Ketika di depan SMAN 1 Majalengka, Septima memberhentikan mobilnya sejenak, dia memandang SMA yang begitu ia rindukan, ralat, maksudnya kenangan SMA yang begitu dia rindukan, canda tawa, kisah cinta yang selalu kandas dan hal lainnya, lima menit Septima memandangi gerbang SMA 1 Majalengka sebelum melanjutkan perjalanan

Sampailah mereka di Paralayang, hamparan rerumputan hijau menghiasa bukit tersebut, Andres begitu senang meilhat orang-orang melayang di udara, pemandangan satu Kabupaten Majalengka terpotret dari atas sana, Bandara Kertajati yang kian ramai juga bisa terlihat dari Paralayang, satu kata buat tempat wisata ini “AMAZING”.
Andres terus menanyakan dan menunjuk tempat apa itu kepada septima, diiringi lagu-lagu tempo dulu, membuat nostalgia tersendiri bagi Septima. Dia, Zahra, dan Andres tidur terlentang sambil memandang langit yang berwarna biru, dengan awan yang terbang bebas tanpa aturan

Puas melihat pemandangan dari atas bukit, Septima kembali melakukan perjalanan menuju sebuah situ yang terkenal dengan kemistisannya, yaitu Situ Sangiang yang berada di Kecamatan Banjaran, perjalanan bisa dikatakan cukup jauh, kresek hitam telah disiapkan oleh Zahra, mengingat Andres sering mabuk darat, maklum buah mangga jatuh tak jauh dari pohonnya.

Perjalanan yang cukup jauh dan berkelok-kelok serta jalannya nanjak, mungkin akan segera terbayar apabila telah sampai ke tempat wisata, ketika sedang santai-santainya mengendarai mobil, dari sisi sebelah kanan, sebuah minibus menyalip mobil Septima, minibus itu begitu cepat, Septima yang kaget langsung mengejarnya.

Mobil Septima akhirnya sudah dekat dengan minibus tersebut karena di terminal Maja ada kemacetan, di belakang minibus tersebut ada sebuah tulisan yang sangat tidak asing “BUHE JAYA”. Buhe Jaya merupakan sebuah minibus dengan warna cat ungu, minibus tersebut merupakan jurusan Cikijing-Bandung, dan sudah terkenal seantero Majalengka sebagai minibus ugal-ugalan, dan mungkin ter-extrem di Majalengka.
Badan Pusat Statistik telah menyurvey bahwa naik Buhe Jaya lebih menyeramkan daripada naik Roller Coaster, kenapa?, karena ketika naik Buhe Jaya keamanan tidak sepenuhnya terjamin, sedangkan ketika naik Roller Coaster, keamanan bisa dibilang cukup terjamin. Tapi ada hal yang menarik dari Buhe Jaya, ternyata Buhe mempunyai efek magis yang sangat kuat, yaitu ngebuat orang jadi tobat.

Sampailah mereka di situ sangiang, tempat parkirnya memang sedikit sempit, beruntung Septima masih kebagian tempat parkir, sebelum memasuki kawasan situ, mereka melewati sebuah hutan yang cukup menyeramkan dengan pepohonan tua, di pepohonan tua tersebut ada sebuah tulisan “Jangan mencabut kulit pohon ini, nanti kualat”.
Peringatan itu memang sangat ampuh, tidak ada warga yang mencopot kulit pohon tersebut, begitu juga dengan larangan mengambil ikan di situ sangiang karena takut kualat. Dari peringatan di atas kita bisa tarik kesimpulan bahwa rata-rata orang Indonesia lebih takut dengan hal-hal mistis daripada undang-undang yang telah ditetapkan, mungkin suatu saat nanti bisa dicoba peringatan di jalan raya jadi seperti ini “Pakailah helmmu, kalau tidak, kualat menantimu”.

“Yah kenapa di danau ini gak boleh dipancing ikannya?” tanya Andres kepada ayahnya
“Kan ada lagunya, judulnya itu kalau gak salah bubuy bulan, kalau gak salah gini liriknya, Situ Sangiang laukna ulah dipancing”
“Oooh gitu ya”

Kabar yang beredar di situ sangiang ini, kalau ada ikan yang mati, itu dibuat sebuah pemakaman layaknya seorang manusia, karena katanya pada zaman dahulu, banyak prajurit yang ngahiang (menghilang) di sini dan menjelma menjadi ikan lele, dan itu menjadi asal mula situ sangiang yang berasal dari kata ngahiang atau menghilang.

Selesai melihat danau yang terhampar luas di Situ Sangiang, Septima akan pergi ke tempat wisata terkhir, sebuah wisata yang paling menakjubkan di Majalengka, destinasi yang akan membuat pengunjung berkata, apakah benar ini majalengka?, tempat itu adalah Panyaweuyan, spot keindahan alam di sini begitu luar biasa, terasering yang sangat indah, jaraknya juga tidak terlalu jauh sekali dengan Situ Sangiang, mungkin sekitar 25 menitan.

Suasana semakin dingin, walaupun perjalanannya pada siang hari, maklum tempat yang akan dituju merupakan kaki Gunung Ciremai, sesampainya di sana, Zahra begitu takjub melihatnya, sampai-sampai susah mendeskripsikan panorama keindahannya, suasana alam yang masih begitu sejuk juga menjadi pelengkap.
Panyaweuyan telah berbeda semenjak Bandara Kertajati telah selesai dibangun, Panyaweuyan menjadi cukup terkenal, bahkan sekarang sudah disediakannya tempat penginapan bagi turis lokal maupun turis mancanegara. Salah satu pemilik villa tersebut adalah teman satu kelas SMA septima, yaitu Sella.
Septima dan Sella bertemu ketika Septima sedang melihat-lihat villa baru yang dimiliki oleh Sella, sebenernya villa itu punya suami Sella, namun Sella mengatakan bahwa villa itu miliknya, biasa cewek.

Septima beserta keluarga kecilnya dijamu oleh Sella dan diajak makan siang di villa baru Sella.
“Haduh Septima, lama yah gak ketemu, baru punya satu”
“Iyah nih, rencananya mau nambah dua lagi” Ujar septima dengan percaya dirinya
“ehm, kayanya ada yang lupa perjanjian, bukannya di perjanjian kita sepakat punya anak cuman dua” Celetuk Zahra

KETIKA PERJANJIAN…
“Zahra kita buat perjanjian, gue pengen punya anak tiga”
“Banyak banget, satu aja ah”
“Tiga”
“Satu”
“Tiga”
“Satu”
“Tiga”
“Okeh, dua gak bisa nego deal?”
“Oke-oke dua”

KEMBALI KE CERITA…
“Oh iya, Teh Sella udah punya berapa” Tanya Zahra
“Aduh, pake teteh segala, kalau anak, udah dua, yang satu kelas 4 SD namanya Aulia Khairunnisa, satunya lagi kelas 1 SD namanya Fahlefi Fitra Jaya” kemudian Sella menghampiri Andres dan mecubit gemas pipinya lalu ngomong “Kalau ini namanya siapa?”
“Andres, Muhammad Andres Nurhuda” Jawab Andres
“Bagus banget namanya” Ujar Sella sok akrab
“Iya dong kan ibunya yang namanin”
“Ehm, ibunya, lupa ya?” kali ini giliran Septima yang ngebales kelakuan istrinya

KETIKA PENAMAAN BAYI
“Sekarang gue jadi ayah, gue namain lo Andres Nurhuda” Ujar Septima sambil menggendong Andres
“Gak boleh, namanya harus Muhammad Nurhuda” Sergah Zahra
“Enak aja, gak boleh”
“Ya udah, kalau mau adil kita suit gimana?”
“Oke”
Setelah suit sebanyak tiga kali ternyata hasilnya selalu sama.
“Pak, Bu, gimana kalau namanya diambil dari usul bapak sama usul ibu, jadi nam …” Usul seorang suster
“Diam, gak usah ikut campur, oke gini aja gimana kalau namanya diambil dari usul mamah sama ayah, jadi namanya Muhammad Andres Nurhuda, deal?”
“Deal”

KEMBALI KE CERITA…
“Sel, rumah lo di mana?”
“Argalingga”
“Suami ada di rumah?”
“Suami gue udah enam bulan gak pulang, dia ditugasin ke Kalimantan, sebenernya kontrak kerja dia di Kalimantan cuma 2 bulan, tapi sampe sekarang masih belum pulang, polisi juga gak tau di mana keberadaan suami gue” Ujar Sella sambil menahan tangis

Setelah selesai makan dan ngobrol-ngobrol, Sella lalu mencari anak bungsunya yang sedang main di luar, dia mencari ke mana-mana juga tidak ada, ketika melirik ke arah jalan rupanya ada segerombolan orang yang menaiki mobil menangkap Fahlefi, Sella kemudian mengejar, namun, mobil itu langsung pergi dengan cepat, Sella lalu meminta pertolongan dari Septima.
Septima kemudian pergi mengenkan motor milik Sella, dengan kecepatan penuh akhirnya mobil tersebut bisa disusul, dan diberhentikan oleh Septima, namun celakanya Septima memberhentikan mobil itu di tempat yang sepi, 4 orang lalu keluar, salah satu diantara mereka menyekap Fahlefi

“Lepasin dia!”
“Lepasin gak yaaa”
“Heh kampret lo jangan bercanda, kalau cuma empat orang gue bisa abisin lo semua”

Tiba-tiba dari arah jalan yang berlawanan muncul 14 orang menggunakan motor yang sepertinya satu komplotan dengan yang menculik Fahlefi, Septima akhirnya bertarung dengan mereka semua, namun karena kalah jumlah Septima berhasil dikalahkan, dia tergeletak kesakitan di tengah jalan karena dipukuli oleh orang-orang tadi.

Tak lama kemudian Sella dan para warga datang, namun sudah terlambat, Fahlefi dan gerombolan yang menculiknya sudah tidak ada, Septima juga meminta maaf pada Sella karena gagal menyelamatkan putranya, Sella jelas tak bisa menyembunyikan kesedihannya, dia menangis seadanya dengan sekuat tenaga, karena tak kuasa menahan kesedihan yang begitu mendalam dia lalu pingsan.

Setelah Sella siuman, Septima, Zahra, dan putranya Andres memohon diri untuk pulang, Sella juga meminta maaf, karena menyelamatkan Fahlefi, Septima jadi babak belur. Septima pulang ke Bongas Wetan dengan perasaan yang sedih, karen temannya, Sella, sedang dilanda musibah, dia juga berjanji akan mencoba mencari Fahlefi dengan semampunya.

Cerpen Karangan: Ibnu Fadlillah
Blog: pensil-pendek.blogspot.com

Cerpen Kota Anginku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gunung Bromo

Oleh:
Felysha terlihat sedang mengepak kopernya. dia memasukkan beberapa baju ganti, baju tidur, jaket, topi, dan kaus kaki. dia juga memasukkan smartphonenya, earphone, kamera tisu, dan sarung tangan ke dalam

Palasakti

Oleh:
Palasakti berhasil tertangkap aparat kepolisian kemarin. Warga Desa Ceboraya sangat bergembira waktu polisi datang menggrebek si ceking gondrong tersebut kala ia sedang buang air besar. Bahkan Pak Kades sampai

Boring Setelah Jalan Jalan

Oleh:
Shafira kembali mendengus kesal, ia sangat bosan hari ini. Disebabkan Orangtuanya pergi dan Kakaknya Hang out sama teman-temannya, Shafira jadi tambah bosan. “Shofie, bisakah kau datang ke kamarku?” Shafira

Setan Kerasukan Manusia

Oleh:
Suatu hari, setan yang bernama Kacung marah-marah ketika baru sampai rumah. Ia membanting segala barang yang ada di hadapannya. Menendang dan memukul segala perabotan rumah tangga. Istrinya yang baru

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *