Kutil (Kisah Keluarga Usil)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 2 May 2017

Tak biasanya Ibu mengajakku ke Pasar Kamis bersama Ayah seperti ini. Waktu aku masih kecil, Ibu sering menghabiskan keseharian bersolek dengan kawan lamanya. Entah apa yang dipikirkan Ibu saat ini, mungkin ia telah merasa kalau Aku dan Ayah butuh akan kasih sayang. Ayah memasang wajah yang teramat girang seakan–akan ia mendapatkan istri baru lagi. Memang Ibu bukanlah istri pertamanya, dulu ia pernah menikah dengan seorang janda kaya raya bahkan umurnya selisih 12 tahun dari Ayah. Setelah janda kaya raya itu bangkrut, Ayah meninggalkannya seorang diri. Itulah sifat Ayahku yang tak bisa hidup dalam keadaan melarat.

Sinar matahari rasanya menusuk-nusuk kulit kami. Jarak pasar ke rumah memang agak jauh sekitar 2 km-an. Ibu tak lupa menggoreskan sunblock sebab dirinya takut jadi hitam.
“Bu kutil, Pak kutil, Adik kutil kemarilah aku siapkan obat kutil untuk kalian semua. Hahahahaaaa…!” sapa hina pedagang obat kutil penduduk setempat.
Sepanjang gang kecil pasar, para pedagang tak henti-hentinya memandangi kami. Lebih parahnya lagi penjual ikan teri ikut-ikutan ngowoh bersama seekor kambing. Untung orang itu tak ompong, jika iya orang tersebut sudah jadi bahan olok-olokan Ibuku. Kebanyakan wanita dewasa yang sudah menikah lebih memilih memakai sandal jepit ke pasar dari pada high heels dikarenakan takut becek. Baginya memakai high heels merupakan kebanggaan tersendiri karena bisa dipandang tampil awet muda.

Kata Ayah, menikah dengan Ibu adalah sebuah insiden yang tak pernah ia ceritakan ke siapapun kecuali aku. Waktu itu mereka berdua bertemu di sebuah kafe dekat SPBU. Pada waktu yang bersamaan mereka berdua tubrukan lalu saling menatap wajah masing-masing. Tiba-tiba pelayan cowok tertawa terbahak-bahak saat menghampiri mereka berdua. Tau gak apa alasan pelayan cowok itu ketawa? Pasti bertanya-tanya kan. Begini, saat mereka saling bertatap muka ada sepasang kutil yang saling berhadapan. Gokilnya lagi, kutil itu tumbuh ditempat yang sama. Bukan pelayan cowok itu saja yang tertawa. Bahkan para pengunjung di kafe itu juga ikut tertawa. Wajah mereka berdua mirip kertas yang baru disobek-sobek bingung mau ditempelin di jidat atau di hidung. Kejadian ini sungguh memalukan parah tingkat maksimal.

Langkah pelan kaki kami terperanjat pada sebuah guci klasik mirip produksi jaman londo. Rupa-rupanya tersuguhkan agak kecoklatan semu keburaman. Ukirannya juga diselingi dua buah naga yang saling memadu kasih. Bau Ibu telah terkontaminasi oleh gundukan limbah-limbah sayuran di bilik pasar. Kecut bercampur pesing, Aku tak tega menengok Ayah dibalik hidung mungil nan mancung ternyata ia menyimpan aroma tak sedap yang telah disebarluaskan oleh Ibu. Dengan kain perca milik penjual ikan teri yang berhasil disrobotnya tadi, ia mengatup hidung agar kutil nyempil milik Ayah tak tumbuh menjadi lebih besar lagi.

“Hai Ibu cantik, apa kau tak menengok ekspresi nagaku setelah melirikmu?” tanya penjual guci yang hendak menyindir Ibu.
“Naga milikmu itu saling memadu kasih, apa mereka berdua masih sempat melirik body bohayku ini?” skak Ibu.
“Hai bandit tua apa kau tak kasihan melihat istrimu? Memang ia cantik sekali hanya saja kutil nyempil di hidungnya membuat nagaku jadi kaku. Hahahaha…!” bisik pedagang guci saat lirikan matanya tertuju pada kutil nyempil warna pink milik Ibu.
“Lebih baik istriku punya kutil nyempil warna pink. Dari pada dirimu punya bulu ketiak tak dicukur seabad, apakah istrimu akan terus menciumnya? Hahahahaha..!” jawab Ayah yang hendak membela Ibu agar tak jadi bahan gunjingan.
Para pedagang menorehkan senyuman palsu pada seorang penjual guci ini. Penjual yang lain sudah hafal gerak-gerik mulut garing yang ingin diceploskan oleh sepasang suami istri ini. Memang ia tak tau dengan sifat kedua orangtuaku karena baru magang di lapak milik orang teraniaya hasil ulah Ibuku. Pedagang tersebut tak disiksa ataupun digulat habis-habisan oleh Ibu melainkan ia menghina kutil nyempil milik beliau. Orang tersebut merasa terusir sebab pedagang yang lain membela Ibu. Walaupun Ibu terkadang suka mencaci maki orang lain tapi ia terkenal sangat ramah. Jadi tak lucu bila orang yang mengenal Ibu terus-terusan membelanya.

“Ibu Kunti kemarilah, ada lipen produk baru, mau mencobanya tidak? Warnanya merah darah blink-blink gitu! murah lagi,” sapa pedagang lipstick langganan Ibu.
“Benarkah! Aku ingin mencoba. Sepuluh ribu dapat tiga bolehkah?” tawar Ibu.
“Ini lipstick bukan vetsin Bu, tiga puluh ribu dapat dua gimana..? kau kan pelangganku tak pantas jika dirimu tak membelinya.”
“Baiklah akan kubeli,” kata Ibu memasang wajah terpaksa.

“Sesekali nguping, tadi aku dengar kalau suamimu dihina seperti bandit tua,” jelas suami pedagang lipstick.
“Memang perutnya buncit pengangguran pula, ya pantas kalau ia dikira bandit tua,” sambung Ibu.
“Aku punya kerjaan buat suamimu, jadi kuli bangunan di samping rumahku. Gaji lumayan mahal sekitar 2 juta per bulan.”
“Ya akan kutanyakan kepada suamiku. Kalau jadi akan kutelepon istrimu.” terka Ibu.

Ayah dan diriku cuma nguping di sebelah Ibu. Kami tak berani mendengarkan secara langsung. Karena kami tahu akibatnya jika melanggar, maka tak dikasih uang jajan selama sehari. Ayah memang menggantungkan hidupnya pada Ibu. Di rumah pun Ayah hanya cuci baju, memasak dan membenahi rumah. Tugas itu seharusnya dilakukan oleh istri bukan suami. Ayah gendut, perutnya buncit pantaslah kalau ia dijuluki bandit tua. Seharian di pasar berpanas-panasan ria bersama matahari, yang didapat cuma dua batang lipstick murahan milik Ibu. Kukira ke sana, bisa makan jajanan pasar yang selama ini aku rindukan ternyata cuma lipstick ini. Itulah Ibuku yang selalu mementingkan dirinya sendiri tanpa pikir panjang kalau Aku dan Ayah saat ini sangat kelaparan.

Pencitraan Ayah menurun drastis menurut tetangga terdekat. Setiap kali akan pergi ke kantor menghantarkan Ibu, kemeja lusuh selalu ia kenakan. Dapat diketahui kalau itu merupakan kemeja kesayangan. Kancing baju satu persatu lepas dari tempat semula. Jahitan baju Ayahku semakin rangkap terlihat, ketika kemejanya pernah tersangkut pagar besi bulan lalu.
“Ayah buatkan Aku dan Ibu sarapan!” pintaku agar secepat mungkin sarapan itu tampil di meja.
“Ayah tolong setrika baju milikku ini karena saat kerja nanti aku akan memakainya,” sahut Ibu.
“Ayah jangan lupa nanti siang nanti ada les tari, jadi tolong hantarkan aku tepat waktu.”
Dagu Ayah hanya bisa mengangguk-angguk menuruti titah kami. Sebenarnya aku juga kasihan kepada Ayah, ya itu salahnya sendiri jadi suami Ibu jangan klumbrak-klumbruk. Amarah Ayah tak dapat dilepaskan, begitu lemah lembutnya ia menuruti perintah kami. Aku takut jika setiap hari seperti ini, Ibu akan mencari pengganti Ayah. Teman-teman Ibu di kantor selalu tampil keren dan terpelajar wajarlah jika beliau jarang pulang ke rumah. Emansipasi wanita teruslah menggebu-gebu menjadikan seorang istri lupa akan kewajibannya.

Pagi ini begitu ramai, mulut Ibu tak hentinya ngomel-ngomel berniat mengubah penampilan burukku saat ini. Jerawatan dan kulit hitam salah satu penyebab kenapa ia terus ngoceh melulu. Omelannya begitu maksimal sampai-sampai air liur penghuni mulutnya bertamasya ke seluruh penjuru dunia. Menurut Ayah hitam itu seksi, hitam itu manis sebab ia tak terlalu mengidolakan wanita berkulit putih tembok alias mblejeh bahasa jawanya begitu. Helai tisu pun kugapai, ribuan embun mulut Ibu menancap pada sebuah muka lonjong milik anak kutil.

Sementara itu Ayah suruhan kami telah selesai membuatkan sarapan dan menyetrika baju. Hidangannya begitu nikmat, dua porsi nasi goreng telur mata sapi tertata rapi di meja. Aku tak pergi ke sekolah sebab alergiku terhadap udang telah merajalela. Itu gara-gara Ayahku sudah tahu anaknya punya alergi terhadap udang masih saja disajikan, yang kemarin dioalahnya. Bukan dalam bentuk semur melainkan nugget. Ibu Cuma asyik dengan handphone terbarunya, tiap hari facebookan saja. Terlalu lama jika sarapan mengajak Ibu, nasi putih nggak dimakan cuma dibolak-balik sampai pusing. Ayah telah hilang dari pandangan mata, mungkin ia ada di dapur memasak santapan nikmat untuk nanti siang.

Ketika selesai sarapan, tiba-tiba seorang sales wanita menghampiri rumah kami. Pagi-pagi buta mengetuk-ketuk pintu dengan nyaringnya membuat Ibuku semakin naik pitam saja. Kalau jualan kosmetik, sebaiknya menawari yang punya rumah mau menerima kehadirannya atau tidak. Tapi berbeda dengan orang ini, tanpa permisi langsung masuk ketika pintu dibuka oleh Ayahku. Ayah menyuruh ia untuk duduk, matanya clilang-cliling mengamati rumah antik kami. Aku heran sebenarnya dia sales atau maling jemuran sih? Gigi Ibu telah beradu tandanya beliau sudah tak sabar untuk mengusir orang ini. Sales tersebut menawari Ibu sebuah lipstick mahal, bungkusnya membuat pembeli jadi tertarik. Sekali ceplos Ibu menyuruhnya untuk pulang karena pagi ini beliau akan pergi ke kantor. Sales kosmetik bukannya pergi malah marah-marah kepada Ibu. Katanya Ibu itu cantik tapi kok pelit. Mereka berdua saling beradu mulut, serasa langit mau runtuh. Muka Ibu memerah, pertanda ia ingin menghantamkan sesuatu. Tanpa disadari high heels merah milik Ibu bersandar di kepalanya.

“Dari tadi kau hanya memandanginya, sudahlah memang kalau orang aneh bertamu di rumah kita harus diberi pelajaran,” nasehat Ibu.
“Aku tak memandanginya cuma kasihan. Aku saja suamimu tak pernah kau hajar sampai seperti itu.” jawab Ayah penuh dengan penyesalan.
“Apa kau sudah belikan obat alergi untuk Jecy?” Tanya Ibu sepertinya agak perhatian kepadaku.
“Dia tak suka minum obat, jadi tidak kubelikan,” sahut Ayah sambil menguap.
“Kau ini bodoh sekali, dimana-mana kalau ada orang sakit itu gak doyan minum obat,” lontaran kata yang sangat pedas.
“Hey, lebih baik kita diam dulu. Tengoklah, dari tadi seekor anjing nonton debat andalan kita,” canda Ayah agar suasana jadi mereda.
“Memangnya Aku artis, jadi malu. Hehehehe…!” jawaban malu-malu kucing.
“Memang kau itu artis. Dengarkan Aku, kau adalah artis kutilan. Hahahaha…!” canda Ayah agak menyindir.
Perdebatan mereka berdua ujung-ujungnya menyindir satu sama lain. Tumben mereka akrab seperti ini, terima kasih sales kosmetik karena kedatanganmu Ayah dan Ibuku jadi saling berinteraksi. Sales kosmetik jauh dari jangkauan mata. Padahal jalanan depan rumah rusak total berjalan seperti apakah orang itu cuy? Infraktustrukturnya tak memadai, maklumlah atasan kebanyakan korupsi. Terlalu lama mereka berdua berdebat menjadikan Ibu telat pergi ke tempat kerjanya.

“OMG…! Jam berapa sekarang?” Tanya Ibu alay banget.
“Masih jam 9.” sahut Ayah lupa akan tanggup jawab menghantar Ibu ke kantor.
“Hey, aku telat”
“Telat bulanan ya Bu?”
“Aku telat kerja bandit tua. Bersihkan mobil dan antar aku ke sana cepat gak pakai lama…!”

Saat sunrise nongol mobil hitam mulus telah dibersihkan oleh Ayah, jadi beliau gak terburu-buru menghantar Ibu.
“I am coming..! Naiklah sayang,” sambutan pagi termanis dari Ayah.
Sekejap mereka melaju sesuai alunan lagu Radio kesayanganku. Doa anak terlantar seperti diriku hanya kata selamat di perjalan untuk mereka berdua. Gedung-gedung pencakar langit melukiskan kejamnya metropolitan. Aksi kriminal mewabah dimana-mana. Copet, rampok gesit melakukan kerjaannya tanpa memikirkan uang yang mereka peroleh itu adalah hasil jerih payah orang lain.

“Kau tahu kan, Aku suka sekali dengan lipstsick?” tanya Ibu saat perjalanan ke kantor.
“Iya memangnya ada apa?”
“Suami langgananku lipstick menawarimu kerja di bangunan. Lumayan, gajinya 2 juta tiap bulan.”
“Memangnya kenapa aku disuruh kerja seperti itu? Tak mau lah aku, nanti tanganku kasar.”
“Sudah bandit tua banci lagi. Jika kau gak mau kerja aku minta cerai…!”
“Ya sudah Aku mau tapi,” saat Ayah sedang menyetir mobilnya.
“Gitu dong, itu namanya suami berbakti kepada istri.”

Jarum jam berputar, detik demi detik kuhitung satu per satu. Terlalu lama Ayah meninggalkanku. Aku duduk tertegun menanti kedatangannya. Pot bunga mawar hitam hasil inisiatifku sendiri telah menjamur. Aku membuat pot tersebut dari beberapa buah pelepah pohon pisang dan sekeranjang kaca pecah. Lama tak kurawat membuat pot ini bolong-bolong dimakan tungau. Mawar hitam entah hilang kemana, yang tertinggal hanya batang kering bekas sarang laba-laba. Tak lama termenung di sofa teras rumah Ayah tiba. Kebulan asap mobil miliknya membuatku terbatuk-batuk. Hari ini giliran diriku diantar Ayah ke gedung seni milik Mbah Karyo.

“Ayah ayo antarkan Aku les nari ke gedung seninya Mbak Karyo!” suruhku.
“Ayolah cepat naik, mari atret mobil dulu. Kukira kau tadi tidur. Apakah kulitmu masih gatal-gatal?”
“Sudah mereda. Jangan beri aku obat aku tak suka.”
“Nanti kau minta dijemput jam berapa?”
“Gak tau. Mungkin Ayah nanti akan ku SMS.”
“Ngomong-ngomong Ibu nanti pulang jam berapa?” tanyaku.
“Ibumu itu pulangnya ya besok subuh. Kegiatannya kan cuma meeting dan meeting,” jawabnya.
“Sepertinya kita kena macet Ayah.”

Terlalu lama kami terjebak dalam kemacetan. Bunyi klakson mobil tak henti-hentinya berdengung. Nampaknya Aku tertidur pulas air liur melumer kemana-mana. Saat membuka mata Aku telah berada di lantai gedung seni Mbah Karyo. Kata Mbah karyo Ayahku pulang dengan terburu-buru sebab ia sudah punya kerjaan baru.
“Mbah ayo kita latihan. Kok diam saja kenapa?”
“Oh iya Mbah lupa, teman-temanmu sudah ku SMS kalau hari ini latihan diliburkan. Karena anakku di desa mau kawin dan aku jadi wali nikahnya.”
“La terus Aku pulangnya gimana Mbah?”
“Jalan kaki bisa, naik ojek bisa, merangkak juga boleh.”
“Kok gitu sih? Mbah kok marah. Jangan gitu Mbah,” nyanyi lagu Kok Gitu Sih tapi liriknya diganti.
“Tutupen botolmu tutupen oplosanmu emanen nyawamu ojo mung terus-teruske mergane ora ono gunane…” nyanyi lagu Oplosan.
“Ayo Mbah joget Oplosan azekk azekkk awekk awekkk!!” berjoget ria sama Mbah Karyo.
“Cukup sudah jogetannya. Jecy pulanglah Mbah mau siap-siap.”

Ayah tadi katanya kerja, terus Aku pulang sendirian. Jalan kaki hari ini, tak dikasih uang transport kejamnya Ibuku. Mana pulsa habis nggak bisa SMS Ayah. Di pojok kompleks segerombolan preman lagi asyik pesta Oplosan. Aduh Aku takut, Ayah help me…! Langkah kaki kupercepat sedikit. Sepertinya ada seseorang yang menguntitku. Sapu tangan melambai berayun-ayun bau obat bius mendekat menghampiriku. Dekat, mendekat, lebih dekat, dan sepertinya Aku tertidur karena pengaruh obat bius yang menyambar hidung. Mereka menarik memindahkanku ke bagian belakang mobil Veroza. Tampak dari jauh, kalau Aku disekap. Aku mau diapain? Dijual, disuruh ngamen. Atau jadi pembatu tak dibayar.

“Bos Aku punya stok terbaru. Cewek usia 17 tahun-an” Tanya seorang penculik.
“Mana perlihatkan kepadaku” ketika ia membuka penutup wajah warna hitam.
“Astaga naga, Kau membawa orang atau setan. Dia itu jerawatan, bibirnya hitam, punya kutil nyempil warna pink.”
“Memangnya kenapa Bos?” bertanya kembali.
“Kalian itu apa tolol, yang jelas ia gak laku kalau kita jual. Apa ada laki-laki yang mau dengannya jika perawakannya seperti itu,” jelas Ibu Bos.
“La terus ini anak mau kita kemanain Bos? Apa kita buang saja?”
“Nggak usah kita bukan kriminal kejam. Pulangkan dia ke rumahnya” perintah Bos.

Walaupun Ayah ingin memejamkan mata sekalipun ia tetap tak bisa. Hari sudah larut malam kenapa anak semata wayangnya tak kembali pulang. SMS tidak apalagi telepon. Ayah sangat gelisah ia menghampiri rumah Mbah Karyo yang ternyata pulang kampung. Semua teman-temanku ditelepon Ayah tetapi mereka tak tahu keberadaanku. Dan akhirnya Ayah melaporkan diriku kepada polisi bahwa anak semata wayangnya hilang sampai hari ini tak pulang-pulang. Polisi menolak laporan tersebut sebab Aku menghilang belum ada 24 jam. Gundah gulana kepanikan menyelimuti hati Ayah. Sementara itu ia menelepon Ibu katanya Aku menghilang entah ke mana. Ibu saja tak percaya kalau Aku hilang menurutnya anak kutilan seperti diriku mana mungkin ada yang ingin menculik. Peristiwa hilangnya diriku didukung dengan pernyataan pada sebuah akun facebook milik temanku. Semua teman-teman mencari keberadaanku, jika seseorang menemukan cewek hitam kutilan dan jerawatan itu adalah diriku. Ibu lebih percaya facebook dari pada lontaran fakta dari mulut suaminya sendiri. Ayah dan Ibu kelabakan mencari diriku mondar-mandir dan akhirnya mereka tubrukan lagi. Disaat mereka bertatap muka tiba-tiba Aku hadir.

“Ayah Aku pulang,” kataku sampai sempoyongan.
“Siapakah kau ini, apakah kau orang gila?” melihat diriku kumel belum mandi.
“Ayah ini Aku jecy apakah kau lupa dengan anakmu sendiri?”
“Akhirnya kau pulang juga, ke mana saja kau Nak?” tanya Ayah.
“Anakku, kau menghilang kemana saja? Aku merindukanmu. Semenit tak lihat kutilmu itu dunia terasa hampa,” jelas Ibu.
“Aku diculik dan disekap. Ambilkan air Aku haus, apakah kalian ingin melihatku tewas di tempat?” berkata disaat tubuhku dehidrasi.
“Iya akan kuambilkan,” jawab Ayah.
“Siapa yang menculikmu, biar Aku beri pelajaran!” sahut Ibu.
“Gak usah, penculiknya sudah mengantarku pulang,”
“Kok aneh sih, memangnya ada apa sebenarnya?” Tanya Ayah sembari mengulurkan air putih.
“Ceritanya Aku kan diculik. Terus saat Bos Si penculik melihat wajahku ia kaget. Katanya Aku jerawatan, bibir hitam, punya kutil nyempil warna pink. Bos Si penculik berniat ingin menjualku kepada laki-laki hidung belang. Akhirnya Aku nggak jadi dijual, apa ada laki-laki yang mau denganku jika perawakanku seperti ini. Dan kemudian para kacungnya mengembalikanku ke rumah,” ngomong gak pakai spasi.
“Hahahaha lucu juga Bos Si penculik itu. Kutilmu ini memang membawa berkah,” canda Ibu.

Cerpen Karangan: Citra Yunia Wardani
Facebook: Citra Yunia Wardani
citra yunia wardani asal denpasar barat

Cerpen Kutil (Kisah Keluarga Usil) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Boyband Westlept (Antara Ada dan Tiada)

Oleh:
Merenda mimpi menjadi kenyataan adalah obsesi setiap insan yang bernyawa. Berbagai usaha pasti dilakukan untuk mencapai mimpi tersebut. Meski peluh mengering dan raga tak lagi menunjukan ketegarannya, hal itu

Odin Yang Bego

Oleh:
Ada seorang anak laki-laki bernama Odin. Odin adalah anak yang baik hati dan sangat penurut. Apapun yang disuruh ibunya selalu ia lakukan tanpa mengeluh sedikitpun. Namun Odin anaknya agak

Nyesek Bikin Nyusruk

Oleh:
2 bulan jomblo itu rasanya parah-parah ya, kalau malem gak ada yang ngucapin “selamat malam sayang, mimpi indah ya, i love you..” terus kalau pagi juga gak ada yang

To Whom May It Concern

Oleh:
Tak habis pikir aku merasakan tak enaknya menjadi pengangguran intelek. Kau tahu pengangguran intelek itu apa? Ya, seorang sarjana muda yang tidak punya pekerjaan. Peraih predikat terancam cumlaude saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kutil (Kisah Keluarga Usil)”

  1. Salma Siti Fatimah says:

    Maaf,aku bukan mau menyindir ya. Hmm, menurutku judul cerita kan Kutil, yang artinya (kisah keluarga usil), tapi kan di judul artinya ga ada huruf T, tapi judulnya ada T, kuTil. Ya kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *