Liburan 5 Musafir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Liburan, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 8 August 2017

Fajar mulai menyongsong dari timur, ayam berkokok dan bersahutan ramai. Pertanda alam telah menunjukan waktu subuh. Tapi Asuka, Miko, Fuji, Sizuka, dan Sakura belum bisa terlelap tidur, karena bayang-bayang liburan esok hari ke Raja Ampat masih terngiang dalam ingatan dan tak sabar ingin melihat eksotisme salah satu tempat wisata di Papua.

“Besok kita beneran nih jadi musafir selama beberapa hari?” tanya Miko dengan keseriusan sembari mengerutkan dahinya, nyatanya dia tidak yakin bahwa mereka akan benar-benar menuju Raja Ampat
“Yakinlah! Seminggu kira-kira begitu,” tandas Asuka dengan penuh keyakinan.
“Terus kita naek apa ke sononya?” tanya Sizuka.
“Naek pesawat lah,” jawab Sakura dengan wajah seriusnya.
“Gila kali! Emang punya duit lo?” Fuji pun sangat tidak setuju dengan jawaban Sakura, mengingat saku celana mereka dalam keadaaan sekarat.
“Yah, kalau duit nggak banyak sih,” timpal Sakura
“Ya udah! Kalau gitu kita nyoba naek kereta aja hehehe,” tukas Asuka sembari tertawa terkekeh-kekeh.
Mereka pun hanya manggut-manggut mendengar tawaran Asuka yang terdengar cukup aneh dan nyeleneh. Naik kereta ke Raja Ampat, Papua.
“Emang ada ya kereta sampe Papua?” cetus Fuji dengan perasaan tidak yakin yang mulai menghantui lubuk hatinya.
“Yah, coba aja! Siapa tahu memang ada rute kereta api ke Papua.” Asuka mencoba meyakinkan sahabat-sahabatnya, di sisi lain mereka menimbang-nimbang tawarannya. Tetapi jika melihat kantong yang mulai bolong, dengan modal uang seadanya dan modal nekat akhirnya mereka setuju dengan saran Asuka untuk naik kereta ke Raja Ampat, Papua.

Terlihat Sakura sedang menyiapkan perbekalan untuk liburan ke Raja Ampat. Beberapa snack, air mineral dan makanan berat dimasukan ke dalam tas yang ukurannya tidak terlalu besar.

Keesokan harinya, mereka bergegas menuju stasiun kereta api, bermaksud memesan tiket kereta. Secara logika, mereka memiliki satu keyakinan yang sama bahwa tidak ada kereta api jurusan Raja Ampat. Tetapi, karena kebulatan tekad menuju Raja Ampat, apa salahnya jika tidak mencoba?

“Bang, tiket ke Raja Ampatnya lima yah?!” pinta Miko kepada penjaga loket tiket kereta api.
“Yakali, Neng! Salah alamat dah kayaknya. Kalau mau mesan tiket liburan ke Raja Ampat, Noh Sono ama Traveloka, bukan mari” sahut abang-abang penjaga loket dengan dialek betawinya yang kental.
Yah, namanya anak-anak bau kencur mereka tetap memaksakan kehendak memesan lima tiket kereta api jurusan Raja Ampat yang nyata-nyatanya tak ada. Akhirnya, kelima anak tersebut diusir oleh petugas keamanan karena dianggap tidak waras dan mengganggu ketertiban umum.

Karena tidak mendapatkan tiket kereta api yang diinginkan, mereka kemudian memutuskan memesan tiket menuju Tanah Abang. Sekira pukul 10.00, mereka kini tekah berada di stasiun Tanah Abang, Jakarta. Cuaca saat itu begitu terik walaupun arloji masih menunjukkan pukul 10.00.

“Habis ke Tanah Abang, kita ke mana?” tanya Fuji pada Asuka.
Asuka sejenak melipatkan tangannya, menimbang-nimbang dalam pikiran. Ke mana selanjutnya kaki mereka melangkah. “Ha…! Begini saja, kita lanjut ke Bogor aja, gimana? Yuk!”
Fuji dan lainnya hanya mengangguk, kemudian mereka menjajakan kakinya menuju kereta jurusan Jakarta – Bogor. Di dalam kereta, mereka merenungi rencana yang disusunnya untuk liburan ke Raja Ampat. Di kepalanya berkelabat tanya, apakah betul mereka akan sampai ke Raja Ampat dengan menumpang kereta? Mengingat hal tersebut sangat mustahil.
Tetapi, di keheningan itu, Fuji mulai yakin. Ia menimpali kawan-kawannya sembari berkata “Gue sekarang yakin kita bisa sampai ke Raja Ampat…!” Riuh rendah suara Fuji memenuhi seisi kereta. Belum sempat Fuji melanjutkan ucapannya, tiba tiba saja Asuka dengan nada nyinyir dan tampang yang sedikit judes menimpali Fuji.
“Ya iyalah, asalkan dengan niat dan bismillah, iya kan?!”

Sehari sudah mereka berjalan kaki di Bumi Sang Ilahi. Malam semakin gelap, hembusan angin dingin menusuki, terlihat jelas wajah Sakura yang memucat. Mereka kemudian memutuskan menginap di Masjid Adzikra Bogor.
“Mau ke mana lagi kita? Ini sudah di ujungnya Bogor!” semerawut wajah Sizuka yang mulai lelah dengan perjalanan ini.
“Tenang aja napah, sonoh gih pada sholat, minta sama Allah biar kita dikasih jalan,” sergap Asuka yang berusaha meyakinkan dengan penuh semangat.

Mereka kini memutuskan untuk menenuaikan ibadah shalat. Waktu telah menunjukkan Isya, mereka dengan khusyuknya larut dalam ibadah yang wajib dalam hukum islam. Dalam sujud Fuji, ia memohon kepada Ilahi Rabbi agar diberikan jalan menuju Raja Ampat, untuk melihat keagungan ciptaannya.

Dengan langkah gontai mereka menginjaki lelehan embun pagi yang bersemai di rerumputan. Melanjutkan perjalanan yang terbilang mustahil, menuju Raja Ampat. Dengan modal uang seadanya dan duit secukupnya akhirnya mereka memutuskan untuk menumpang bus. Siapa tahu ada bus yang akan membawa mereka menuju Raja Ampat.

Di ujung jalan beraspal, sebuah bus besar menepi, seorang pria yang umurnya terbilang muda melambaikan tangan ke arah mereka, Fuji dan kawan-kawannya tanpa babibu langsung menuju bus tersebut. Dengan langkah yang begitu berat dan mata yang serasa berat akhirnya mereka telah mengusai lima kursi penumpang di dalam bus. Seketika itu juga, mata mereka terlelap.

Baik Asuka, Miko, Fuji, Sizuka, dan Sakura terlelap selama sepekan di dalam bus. Entah bus apa yang terus berjalan selama seminggu, namun mereka merasa bahwa perjalanan itu hanyalah sehari. Ketika Asuka terbangun, ia lantas mengucek mata pandanya, kemudian menayakan seusatu kepada sang sopir.

“Abang sopir, ini di mana yah?” tanya Asuka sembari berjalan sempoyongan menuju kursi empuk abang supir.
“Di Raja Ampat, neng. Noh liat tu pantai,” sahut bang supir sembari menunjukkan pasir putih yang berombak.
Seolah sebuah keajaiban menerpa para lima musafir ini, Asuka kegirangan. Ia tak percaya atas apa yang ia lihat. Lantas supir tadi melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti.
“Kemaren-kemaren, Neng pada molor, yah abangnya kagak berani bangunin. Ya udah, abang langsung aja antar ke Raja Ampat. Hebat kan!”
“Emang berapa hari kita tidur, Bang?” Asuka mengumbar tanya dengan penuh keheranan.
“Seminggu!” jawab abang supir, singkat padat dan jelas.

Asuka lantas menyusuri sekat tempat duduk bus, ia sesegera mungkin membangunkan kawan-kawannya, sembari berteriak, “Woy! Kita udah di Raja Ampat nih! Doa kita terkabul, alhamdulillah yah! Asuka menirukan kalimat terakhir milik Syahrini.
Sayup-sayup terdengar jelas suara membangunkan mereka, Miko hanya mendengus kesal karena enggan untuk bangun, ia masih asyik menikmati tidurnya. “Aduh, jangan dibangunin dong! Kita lagi enak tidur nih,”

“Bangun Woy! Ini sudah sore,” sebuah sura kembali terdengar, kali ini bukan suara Asuka melainkan suara orang lain. Lantas terdengar kembali suara yang menerobos kuping mereka.
“Anak-anak…! Ini sudah sore, bangun-bangun!”
“Hah! Ini di mana? Kita di mana?” sahut Fuji, mereka dengan kepala dan mata yang masih berat berusaha bangkit.
“Kalian! Sudah sore masih aja tidur, lah ini peta kenapa bisa basah?” tanya seorang perempuan pardengan wajah penuh keibuan, yang rupanya ibu dari Sizuka.
“Eh, tante… hehehe, maaf nih kami tertidur di atas peta yang tante buat, jadi basah deh karena iler,” sahut Fuji sembari terkekeh, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Ya ampun, Asuka, Miko, Fuji, Sizuka, dan Sakura! Ini kan buat ibu presentasi besok!” mereka berlima kena semprot dari ibunda Sizuka. Terdengar jelas omelan perempuan itu menembus gendang telinga mereka, seperti tabuhan genderang perang yang bertalu-talu.

Cerpen Karangan: Indri stamou
Facebook: Indri Stamou
Penulis kelahiran Bogor 29 April 2000 ini bernama Indriyani. Tercatat sebagai siswi MAN 1 KOTA TANGERANG SELATAN yang saat ini menduduki kelas XI Jurusan ilmu-ilmu sosial. Penulis ini, mulai menyukai Hobi menulis sejak duduk di kelas X, sekarang ia sedang terus belajar dalam mengayomi hobi menulisnya sebagai salah satu potensi nya, ia juga ingin Tulisanya bisa memberikan manfaat untuk sesama. Kritik dan saran bisa disampaikan lewat Akun Facebook Indri Stamou , Email : Indriyanie29[-at-]gmail.com

Cerpen Liburan 5 Musafir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dikibulin Orang Dayak

Oleh:
Ketika aku bekerja di kalimantan aku bertemu seorang teman yang baik asli dari suku yang ada di kalimantan, hobinya berburu binatang yang ada di hutan, tapi aku heran dengannya,

Eksperimen Saat Libur Sekolah

Oleh:
Waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Yap libur telah tiba. Libur kali ini Sari dan teman-teman dekatnya tak pergi kemana-mana. Libur dua minggu untuk porsi liburan di rumah saja sangatlah

Dikejar Bencong

Oleh:
Hari ini Ilham dan kelima temannya yaitu Rafael, Rangga, Bisma, Dicky dan juga Reza sedang asik berjalan-jalan di kota Jakarta. Ibukota negara Indonesia. Tapi mereka bukan naik mobil atau

Cinta itu Pengakuan

Oleh:
Aku tak pernah mengagumi atau mengidolakan siapapun dalam 15 tahun perjalanan hidupku. Bahkan ibupun aku tak tahu, tak pernah bertemu. Hhhhh entahlah. Aku bahkan pernah berfikir akan lebih baik

Misteri Sebuah Gang

Oleh:
Waktu itu sebenarnya adalah hari paling indah dalam hidupku. Dari pagi sampai menjelang sore tiada hentinya perut ini mendapat makanan Gratis. Teman-temanku banyak yang mentraktirku mulai dari yang ulang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *