Makcomblang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil, Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 June 2015

Mak comblang. Dari judulnya mungkin kalian bisa nebak bahwa ini adalah cerita tentang usaha seseorang dalam menyatukan dua insan manusia yang saling mencintai (saling mencintai? Trus gimana kalau cuma salah satunya yang mau?). Yap, setiap orang pasti punya rasa suka pada lawan jenisnya, yaaah walau pun ada beberapa sih yang suka sama sesama jenisnya (tapi itu bukan gue loh, sumpah..!). Ok, gue langsung aja mulai ceritanya sebelum kalian ketiduran karena bosan.

Ini kisah tentang teman gue, namanya Ramon. Teman gue ini naksir sama cewek, namanya Dinda. Saking tergila-gilanya sama tuh cewek sampai-sampai tulisan tangannya pun dia koleksi. Kertas hasil ulangan harian dan kertas catatan milik Dinda yang dibuang di tempat sampah diambilnya dan dikoleksi.

Sungguh terlalu..! (kayak kata Bang H. Rhoma Irama)

Karena Ramon ini orangnya pemalu maka dia minta tolong ke gue untuk ngecomblangin dia.

“Siwon…” sapa Ramon padaku.

Oh, yah. Kenalin, nama gue Yossi Wonto. Nama yang aneh bukan? Tapi keren loh jika disingkat pada bagian tengahnya, jadinya Siwon, mirip nama salah satu member Super Junior itu loh (walau tampang dan body gue nggak mirip sih..).

“Loe kan udah sering gue bantu. Ngerjain tugas loe lah, apa lah, ini lah, itu lah. Sekarang, giliran gue yang minta tolong ke loe” kata Ramon ke gue.

“Mau minta tolong apa, bro? Gue sebagai sahabat loe akan siap membantu loe. Apa pun itu. Asal bukan jadiin loe sebagai pacar gue. Karena gue masih normal. Hehehe..”

“Gue, juga masih normal kali, Yoss. Loe kan tau sendiri kalau gue tuh suka banget ama Dinda. Comblangin gue dong. Gue kan pemalu. Cari tau dong tentang dia. Kesukaannya apa? Hobinya apa? Zodiaknya apa? Trus dia suka cowok yang kayak gimana…”

Beberapa menit kemudian…

“Tempat tinggalnya di mana? Makanan favoritnya apa? Minuman favoritnya apa? Warna favoritnya apa? Nomor sepatunya berapa? Film favoritnya apa? musik favoritnya apa?..”

“Stop..! Ok, gue bantuin loh cari segala informasi tentang dia” jawab gue memotong pembicarannya.

Soalnya jika nggak gue potong pembicaraannya maka sampai besok pun nggak kelar-kelar. Memang agak lebay sahabat gue itu.
Gue memang tau kalau Ramon suka sama Dinda tapi sampai sekarang gue belum tau yang mana cewek yang namanya Dinda itu, sampai Ramon pun nunjukkin ke gue cewek yang namanya Dinda.

Setelah gue lihat orangnya, ternyata memang wajar kalau Ramon suka banget sama Dinda. Dia begitu cantik, manis, cute.

Kalau dilihat lama-lama jadinya naksir juga. Tapi sebagai sahabat yang baik, gue bukan pagar makan tanaman yang suka ngembat gebetan temen sendiri. Gue harus tahan nafsu gue. Harus..!

Gue mulai nyari cara untuk bisa dekat sama Dinda agar bisa nyari tau tentang dia dan nyomblangin ke Ramon. Namun sebenarnya gue juga pemalu kayak Ramon. Cuman bedanya gue suka sembunyiin sifat gue itu dengan jaim sedikit.

Demi sahabat gue, terpaksa gue lakuin ini. Gue mulai ngedekatin si Dinda yang kebetulan duduk di kantin sama seorang temannya yang juga cewek. Ngomongin soal temannya, ternyata temannya itu nggak kalah cantiknya dengan Dinda.

Astaga….! Jantung gue berdetak kencang. Gue malah tertarik sama temannya. Seakan-akan ruangan menjadi gelap dan cahaya lampu sorot cuma tertuju padanya.

“Woy.. Bangun..!! Sadar..!!!”

Gue nyadarin diri gue sendiri yang lagi menghayalkan sosok cewek manis yang duduk di dekat Dinda itu.

“Eeee.. Maaf, Dinda yah?” sapaku ke mereka.

“Iya, aku Dinda. Ada apa yah?”

“Anu.. eeee itu..”

Gue menjadi grogi dan salah tingkah. Nggak tau mau ngomong apa, terlebih lagi sosok wanita cantik di samping Dinda itu mandangin gue.

“Ada apa sih?” tanya Dinda bingung.

Gue melihat-lihat sekeliling berharap melihat sesuatu yang dapat dijadiin sebuah inspirasi untuk topik pembicaraan. Dan gue akhirnya melihat sebuah piring.

“Itu piring yah namanya?” kataku ke mereka.

“Ya iyalah. Emang kamu ini baru pertama kali melihat piring yah?” sahut teman Dinda yang membuat gue langsung terdiam.

Gue nyesel nanyain itu. Kenapa gue sampai nanyain hal konyol itu, padahal anak kecil juga tau kalau itu namanya piring.

“Maksud gue, boleh nggak gue minta botol kecap yang ada di meja kalian ini” ucapku ngeles.

Aduuh.. lebih parah lagi. Ngapain juga gue minta botol kecap, gue kan nggak lagi makan. Sungguh ngeles spontan yang nggak nyambung.

“Oh iya. Ini!” jawab teman Dinda sambil menyodorkan botol kecap ke gue dengan tersenyum manis. Bahkan lebih manis dari kecap di dalam botol ini.

Jantungku rasanya mau copot melihat senyum manisnya.

“So sweet..!! Aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku?” ucapku dalam hati. Ya.. gue cuma berani ngucapin kata itu dalam hati saja.

Sambil menyelam minum air, sambil ngecomblangin teman, gue dapat gebetan juga. Mungkin itu peribahasa yang tepat di situasi ini.

“Hey, kok bengong..? Sebenarnya kamu ini siapa sih? Tahu namaku dari mana?” Dinda menyadarkanku dari lamunanku.

“Dari tadi” jawabku spontan saking nggak fokusnya akhirnya jawabanku nggak nyambung.

“Maksud kamu?” tanya Dinda bingung.

“Eeeeh, maksud aku dari teman. Yah dari teman..”

“Siapa?”

“Ada deh pokoknya. Nanti kamu tahu sendiri siapa”

“Trus…” teman Dinda mulai kembali angkat bicara.

“Trus apanya?” tanya gue penasaran.

Apa dia bakal bilang ‘trus kamu mau nggak jadi pacar aku?’. Gue pengen sih kalau dia ngomong gitu. Tapi mungkinkah? Betul-betul ngarep gue jadinya.

“Trus itu kecap kamu mau apain? Kok dari tadi cuma dipegang aja. Makanan kamu mana?” lanjutnya.

Oh, Men..! Gue lupa tentang itu.

“Eeee.. Nggak jadi deh. Ini aku balikin lagi kecapnya” ucapku seraya meletakkan botol kecap kembali ke mejanya.

Gue bergegas ninggalin mereka dengan wajah penuh kebingungan. Sungguh awal pertemuan yang konyol. Bahkan gue sampai lupa memperkenalkan diri. Dan yang lebih parah, gue lupa nanyai nama teman Dinda yang cantik itu. Nggak ada satu informasi pun yang gue dapet. Kacau..!

Kalau gini terus gue nggak bisa comblangin Ramon ke Dinda. Dan gue juga nggak bisa dapetin sang cewek ‘botol kecap’ eh.. maksud gue temannya Dinda itu.

Cerpen Makcomblang

“Suka sama Dinda yah?” tanya seorang cowok yang nyamperin gue yang juga salah satu siswa di sekolah ini.
Mungkin sejak tadi dia liatin gue menatap Dinda dan temannya itu. Ini sungguh mencurigakan.

“Atau sama Cindy yah?” lanjutnya.

“Cindy?” gue tambah bingung.

“Iya. Cewek yang di samping Dinda itu namanya Cindy” jawabnya.

Cindi. Ya, akhirnya gue tau nama cewek cantik itu tanpa gue minta ke dia. Cowok ini tampaknya begitu mengenal mereka. Mungkin sebaiknya gue tanya aja informasi mereka ke dia.

“Mereka itu kelas IX IPA 1. Semuanya orang tajir. Ayah mereka itu seorang pengusaha sukses. Dan semuanya juga berdarah tionghoa, tapi ada juga yang bilang mereka keturunan Korea.” lanjut sang cowok.

What? Apa cowok ini bisa membaca pikiran gue. Sampai-sampai belum gue tanyain dia udah jawab duluan.

“Tapi kalau loe suka sama salah satu dari mereka. Gue saranin loe berhenti aja berharap” sambungnya yang membuat gue semakin bingung dan penasaran.

“Maksud loe?”

“Nanti juga loe bakalan tau kok” jawab sang cowok dan langsung bergegas pergi.

Gue semakin bingung dengan perkataan cowok tadi tentang Dinda dan Cindy.

‘Dudidudidamdam dudidudidam dudidudidamdam dudidudidam’
Ponsel gue berdering. Gue sengaja pake nada dering lagu anak-anak karena memang gue suka sesuatu yang beda, dibanding pake nada dering sejuta umat.

“Halo, Mon. Kenapa?”

“Loe udah berhasil dapetin informasi tentang Dinda?”

“Iya, dong pastinya..”

“Bagus. Lanjutin kerja loe..”

“Ok, Mon”

Segera gue tutup telponnya. Gue ngerasa seperti seorang agen mata-mata yang melaporkan hasil kerja gue ke boss. Gue bingung sebenarnya gue ini jadi makcomblang atau jadi mata-mata?

Gue mulai kembali beraksi dan mungkin ini sebuah keberuntungan. Gue melihat Cindy duduk sendiri di taman.

Duduk sendirian..

Ini kesempatan besar gue untuk bisa deket sama Cindy. Urusan Ramon ke Dinda gue pending aja dulu, toh dia juga nggak tau. Lagian mungkin gue bisa dapet informasi tentang Dinda melalui Cindy.

Entah kenapa rasa canggung gue tiba-tiba hilang setelah melihat rambut indahnya, kulitnya yang mulus dan putih. Rasa canggung gue seakan-akan dimusnahkan oleh nafsu. Ini bahaya. Gue harus tetap bisa ngendalikan diri.

“Hai, Cindy. Masih ingat aku kan? Yang tadi di kantin minta botol kecap?” gue nyamperin Cindi.

“Iya, aku ingat kok. Btw, kamu tau namaku dari mana?”

“Dari seorang teman”

“Oh..” jawabnya singkat.

“Kamu lagi nungguin seseorang yah?” tanya gue

“Iya”

“Siapa? Pacar kamu yah?” tanya gue lagi

Moga aja dia ngejawab ‘nggak’. Soalnya ini masalah perasaan gue.

“Iya” jawab Cindy.

Jawabannya nggak seperti yang gue harapin. Ternyata dia memang udah punya pacar. Jawabannya bagaikan halilintar yang mensayat-sayat jantung gue. Cuma gue nya aja yang bodoh yang terlalu banyak berharap. Ternyata benar yang dikatakan sama cowok tadi. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat Ramon.

“Cindy, aku mau nanya sesuatu sama kamu. Boleh nggak?”

“Boleh. Apa?”

“Temanmu Dinda itu juga udah punya pacar yah?”

“Iya” jawab Cindy.

Dibandingkan rasa sakit yang gue alami, mungkin jauh lebih sakit yang dirasakan Ramon jika mendengar Dinda udah punya pacar. Bayangin aja, rasa cintanya itu udah lama ia pendam.

Hal yang mungkin dia lakukan jika tau Dinda udah punya pacar adalah ‘Mogok Makan’, kecuali sama makanan enak kelas restoran mewah. Jarang-jarang kita bisa nyicipin makanan gituan.

“Cindy, kalo boleh tau, siapa pacar Dinda?”

“Dia ada di sini kok” jawab Cindy tersenyum yang membuatku bingung.

Gue liatin ke segala arah taman nggak ada siapa-siapa. Atau jangan-jangan pacar Dinda itu adalah makhluk gaib yang nggak bisa diliat dengan mata kasar. Aduh, bulu kuduk gue tiba-tiba merinding.

Tiba-tiba gue ngelihat seorang gadis berambut panjang berjalan menghampiri kami. Nggak, lebih tepatnya nyamperin Cindy. Gadis itu adalah teman Cindy. Yap, dia adalah Dinda, target comblangan sahabat gue, Ramon.

“Hai, honey..! Udah lama nunggu yah?” ucap Dinda ke Cindy.
Honey? Gue bingung dengan kata yang diucapkan Dinda barusan kepada Cindy.

“Nggak kok, sayang. Gue juga ditemanin ngobrol kok sama cowok botol kecap ini. Hehehe” jawab Cindy.

Sayang? Gue bertambah bingung lagi dengan kata yang diucapin Cindy buat Dinda.

Atau jangan-jangan mereka itu..

“Hey, cowok botol kecap. Ini nih pacar gue” jawab Cindy sambil berpelukan mesra dengan Dinda.

Ternyata benar. Mereka lesb*an. OH MY GOD..!!!!

Gue seperti orang bodoh di hadapan mereka. Tanpa pamit gue langsung berlari ninggalin mereka yang sedang asyik pacaran di tempat sepi itu.

Gue nggak nyangka gadis secantik mereka ternyata adalah lesb*an. Mungkin inilah yang dikatakan cowok tadi.

Oh.. Why???

Hal yang gue pikirin sekarang adalah gimana cara nyampein hal ini ke Ramon. Sebenarnya yang gue takutin bukanlah kenekatannya bunuh diri karena patah hati. Tapi yang gue takutin adalah dia jadi nggak suka lagi sama cewek. Alias jadi h*mo, kayak Dinda dan Cindy. Dan cowok yang ia taksir pertama kali otomatis sahabat terdekatnya. Dan sahabat terdekatnya itu adalah…

GUE…

Oh Tidaaaaaak…!!! iiihh amit-amit..!!! Wueeekk..!!

“Hey..”

Gue tiba-tiba dikagetin oleh kehadiran Ramon. Tanpa perlu berpikir panjang dan dengan ceplosnya gue langsung ngungkapin informasi menyedihkan itu ke Ramon. Kalau..

“Dinda ternyata adalah seorang lesb*an..!!”

“Apa?? Tidak mungkin. Tidak mungkin..!!” ungkap Ramon yang seakan-akan nggak percaya.

“Ramon..” gue mencoba nenangin Ramon.

“Jangan sentuh aku..” ucap Ramon mendramatisir.

Ramon segera berlari ninggalin gue sambil memegang kepalanya kayak orang sakit kepala sambil berteriak kencang selama berlari.

“TIDAAAAAAAK…!!!”

Ternyata sahabat gue itu masih tetap aja lebay.

“Ramon, terserah loe mau apa. Tapi tolong loe jangan berubah jadi h*mo..!!” teriak gue ke Ramon namun entah ia dengar atau nggak.

Ramon nggak masuk sekolah selama tiga hari. Astaga, apa separah itu galaunya sampe-sampe anak itu nggak masuk selama tiga hari berturut-turut.

Hari berikutnya Ramon kembali masuk ke sekolah dengan ekspresi yang penuh ceria. Nggak seperti biasanya, dia terlihat lebih ceria.

“Siwon.. Sahabat gue yang paling ganteng..!” Ramon nyamperin gue.

Entah apa maksudnya ia menyapa gue dengan semanis itu. Nggak seperti biasanya. Apa yang terjadi sama anak itu.

Tunggu dulu..! jangan-jangan dia menjadi..

Ramon ngedekatin gue sambil tersenyum-senyum malu. Tangannya tiba-tiba sudah berada di atas telapak tangan gue yang ada di tas meja.

Aaaaaakkkhhh. Ramon jadi homo..

Gue berlari keluar kelas dan bersembunyi di dalam toilet.

“Siwon, kok kamu lari sih? Gue kangen sama kamu tau..”

Ramon masih tetap aja ngejar-ngejar gue. Tangan gue gemetaran dan keringat dingin gue mulai bercucuran. Moga aja gue nggak ditemuin sama dia dalam toilet yang kecil ini.

“Cilukbaaa..!!”

Ramon nemui gue dalam toilet.

“Ramon, please..!! Jangan gue. Gue ini sahabat dekat loe. Cari cowok lain saja. Tolong jangan perk*sa gue, bro. Please. Gue ini masih normal” gue memohon mati-matian agar Ramon ngelepasin gue.

“Woy, Yoss. Maksud loe apaan mohon-mohon gitu? Loe kira gue h*mo? Astaga, tega banget loe” kata Ramon yang membuat gue agak sedikit lega.

Ternyata gue salah sangka. Trus ngapain Ramon bertingkah kayak gitu tadi.

“hehehe, Sorry, Yoss kalau tadi buat loe merasa nggak nyaman. Gue cuma mau bilang makasih. Karena nasehat loe gue bisa ngedapetin Dinda. Sekarang dia jadi pacar gue, bro. hhahahah” ungkap Ramon kegirangan sampai-sampai kepalanya ikut bergerak kayak orang India.

“Bukannya Dinda itu seorang lesb*an. Kok bisa jadi suka sama loe sih?” tanya gue heran.

“Loe nya aja yang salah sasaran. Di sekolah ini banyak yang namanya Dinda..”

“Trus, nasehat gue yang mana yang buat loe berubah?”

“Loe pernah bilang ke gue, jadilah diri sendiri. Hargai dirimu”.

Nah, karena itu gue ngungkapin perasaan gue ke Dinda secara langsung tanpa jasa makcomblang, dengan cara gue sendiri. Dan dia akhirnya nerima gue, Yoss. Hahahaha” Ramon kembali memutar-mutar kepalanya kayak orang India.

Kalau tau begini, gue nggak perlu repot-repot jadi makcomblang deh. Udah malu, sempat patah hati, eh.. salah sasaran pula gue.

Nasib.. Nasib..!

Gue jadi penasaran pengen liat Dinda cewek idaman Ramon yang sesungguhnya.

“Ramon..!” seorang cewek berparas cantik menyapa Ramon. Cewek yang begitu terlihat menawan.

“Hai, Dinda..!” sahut Ramon kepadanya.

Ternyata cewek itu lah yang bernama Dinda. Cewek yang sudah lama ditaksir oleh sahabat gue, Ramon.

Mujur banget nasib si Ramon. Dapet cewek cantik, padahal wajahnya pas-pasan.

Dan begitulah akhir kisahnya. Itu yang pertama dan terakhir kalinya gue jadi mak comblang. Pesan gue, jadilah diri sendiri dan hargai dirimu (maksudnya bukan ngehargain kayak harga barang yang pengen dijual tapi percaya pada kemampuan diri sendiri). Gue Siwon alias Yossi Wono terima kasih udah ngebaca cerpen aneh dan nggak penting ini. Wassalam.

TAMAT

Cerpen Karangan: Muhammad Sulaiman

Cerpen Makcomblang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pos Hujan

Oleh:
Kulihat langit senja di tepi jalan ini, tak terasa hari sudah mulai berganti malam. Ku bergegas pergi menuju rumah, Aku baru saja pulang dari rumah sahabatku untuk membuat tugas

Isi Hati

Oleh:
Aku menatap gerbang sekolah baruku. Hari ini hari pertamaku di SMA ini sebagai murid pindahan kelas 2. Sekolah yang besar, luas, dan fasilitas yang lengkap. Aku tidak menyangka ayah

Don’t Judge People By Their Looks

Oleh:
Kringgg… kringgg!! alarm membangunkan Felli dari lelapnya tidur. Hari ini hari minggu, jadi tidak ada kegiatan sekolah seperti hari biasanya. Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Felli bergegas menuju kamar

This World

Oleh:
Aku berjalan memasuki kelasku, hari ini adalah hari pertamaku berada di sekolah ini, dan sekolah masih sangat ramai. Saat aku sedang asyik melihat sekeliling sekolah tanpa sengaja aku menabrak

Everything About You

Oleh:
Dear diary “perlahan aku menjadi jatuh saat melihatnya, wajahnya mengalihkan duniaku, sehari aku tak melihat wajahnya serasa hatiku tak tenang. Okey cukup sampai sini puitisku.” Namanya Diara, gadis berumur

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

10 responses to “Makcomblang”

  1. Cc says:

    hahaha. gokil!

  2. Konashiro says:

    -_-
    ya ampyuuun aku deg degan baca nih cerita kirain si Ramon **** aduh elah…

  3. Man man says:

    asli, kocak! gua ngakak baca cerpen lo. HAHAHAHAHAHA keren, keren!

  4. orgil says:

    lucu abis gila nih cepern bagus amat :,)

  5. genzo says:

    koplaxxxx kang leymann…

  6. Angga says:

    Betul2 kocak broo nih cerita ane sampe terbawa suasana alur ceritanya 😀

  7. salma says:

    lucu… kiranya begini eh malah begitu… unik… I like it… cerpennya keren… semangat terus berkarya… ya…. fighting!!!

  8. Intan ayu says:

    Wahahaha senyam senyum sendiri dibuatnya…
    Wahahahahahaha

  9. cahaya_shinichi says:

    hahaha.. kocak banget thor, meskipun panjang ceritanya bikin perut ku goyang sendiri. semangat author, di tunggu karya kocak selanjutnya.

  10. alunk says:

    Gua di bikin sakit perut sama bang temon , hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *