Melamar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 30 August 2019

Sebuah amplop coklat berisikan beberapa berkas lamaran siap meluncur ke tiga kota. Bandung, Jakarta dan Bogor. Usahanya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang dapat mengantarnya ke gerbang kesuksesan dimulai dari hari ini. Bismillaah.

“mau ke mana Mas, pagi-pagi sudah rapi?”. Tanya nina, adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMP.
“Mas mau pergi ke Kantor Pos, Dik, mau ngirim lamaran. Doakan Mas ya biar Mas bisa keterima langsung jadi karyawan” jawab Rahman penuh harap.
“iya deh Mas. Hati-hati, ya!!” ucap Nina menyemangati. Rahman pergi setelah 1 jam kemudian.

Pemandangan alam Kota mampu menghipnotis pandangan mata. Alamnya yang sejuk, hijau nan indah. Hamparan sawah yang mulai menguning, aliran sungai yang mengalir deras nan jernih, semilir angin yang dingin tapi sejuk, pohon-pohon hijau yang melambai-lambai, awan-awan putih yang menggantung di langit, senyum matahari yang muncul di ufuk timur, juga hilir mudiknya burung-burung di bawah langit menyempurnakan keindahan alam yang tiada duanya. Terlalu munafik bila diri tidak bersyukur atas nikmat yang telah Alloh berikan.

Kantor Pos tak seramai Pasar. Hanya dipenuhi dengan bising suara mesin tik manual dan percakapan antar karyawan. di sudut kanan dan kiri, di kursi tunggu hanya terlihat dua sampai tiga orang saja yang menunggu. Sekarang sudah zamannya mengirim apapun via JNE dan jasa pengiriman lainnya, sudah jarang yang mengirim lewat Kantor Pos karena prosesnya yang lumayan lama. Tapi berhubung JNE jauh dari tempat tinggalnya dan hanya ada Kantor Pos, Rahman lebih memilih Kantor Pos saja dibanding JNE, toh pada akhirnya akan sampai juga ke tempat yang dituju.

“mau ngirim apa Mas?” tanya seorang karyawan.
“ini Mba saya mau mengirim surat lamaran bekerja” jawab Rahman singkat namun jelas.
“oh surat lamaran bekerja” kata karyawan mengulang jawaban yang Rahman lontarkan. “bukannya surat lamaran ke mempelai wanita mas?” tanya karyawan sembari tersenyum cengengesan.
“wah Mba ini bisa saja, saya belum ada niat untuk masalah itu. Saya ingin melayangkan surat lamaran ini untuk satu perusahaan dulu. Kalau soal melamar yang itu nanti saja setelah saya siap” jawab Rahman menjelaskan dengan senyuman di bibirnya.
“wong saya cuman bercanda Mas. Hehe. Kalau begitu tolong isi ini dulu ya Mas” celetuk karyawan Kantor Pos sambil menyodorkan kertas administrasi.
“baik, Mba” jawab Rahman dengan tangan kanan meraih pulpen yang ada di samping kanan meja administrasi. “walahhh Mba.. Mba. Mau ngelamar dia (baca: calon pengantin wanita) gimana, bagiku dia bagaikan air yang sulit untuk digenggam, bagaikan udara yang sulit untuk dilihat. Tak hanya itu, bagiku dia bagaikan nun mati menghadapi huruf kaf (baca: salah satu huruf ikhfa haqiqi) Samar-samar” kata Rahman di dalam hati.

“mas.. mas.. hallo” geretak karyawan Kantor Pos sembari melambai-lambaikan tangannya di hadapan muka Rahman.
“ehh iya, Mba” jawab Rahman terkaget-kaget, tersadar dari lamunannya.
“ini diisi dulu Mas, kok ngelamun saja” tanya Mba karyawan sembari melanjutkan pekerjaannya.
“waduhh maaf Mba” jawab Rahman segera mengisi kertas yang diberikan Mba karyawan dengan terkekeh malu.

Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
Facebook: Ipeh Nurul

Nama: Latifah Nurul Fauziah
Email: nurulfauziahlatifah[-at-]gmail.com
TTL: Tasikmalaya, 14 Oktober 1997
Hobby: Menulis
selamat membaca untuk para pembaca, mohon maaf bila cerpen karyaku masih belum sempurna, karena akupun masih dalam proses belajar. ditunggu kritik dan sarannya tentunya dengan bahasa yang baik. Terimakasih !! 🙂

Cerpen Melamar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf Untuk Kekasih Yang Harus Kulepaskan

Oleh:
Malam indah bertabur bintang. Udara yang sejuk, nyaman, namun masih saja membuat mataku enggan untuk terpejam, padahal jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Ya, inilah malam tersulit

Perjalanan Jomblo Cilacap

Oleh:
“Mijon, mijon, mijon… Qua, qua, qua..” Teriak penjual asongan yang baru naik bis jurusan Karangpucung-Cilacap. Aku yang baru saja terlelap langsung terjaga karena suaranya yang nyaring tak ada merdunya

Dinda

Oleh:
Malam Minggu yang sangat dingin setia menemaniku yang sedang termangu menunggu bus Budiman di halte Yasmin. Aku hendak pulang ke kampung halaman karena mendapat kabar bahwa Umi sakit. Saat

Coblos No 3

Oleh:
Oke, gue bukanya ingin ikut campur urusan provinsi orang (gue orang kalsel). Tapi entah kenapa, setiap gue membuka televisi ataupun berselancar di internet, selalu ada media memuat tentang ahok

My Story

Oleh:
Dengan wajah kusut dan pakaian yang tak jelas lagi bentuknya, Andy berjalan gontai menuju kos-an. “Ngapa lu? Mukanya ditekuk gitu. Udah kaya baju belom di setrika aja” “BT gue”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Melamar”

  1. Dinbel says:

    unik cerita nya, tolong di jabarin lagi ya cerita nya biar homoris nya lebih terasa lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *