Misteri Hilangnya Luthfi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 9 January 2016

Suasana kelas kini mulai genting. Seisi sekolah gencar dengan isu hilangnya Luthfi di kelas pada jam pelajaran ketiga, pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Saroni hari ini. Apakah Luthfi bersembunyi di kolong meja? Ataukah dia mengendap di toilet? Atau menyelinap di kantin? Pertanyaan itu terngiang-ngiang penuh tanda tanya. Tapi sayang, tak ada perkiraan yang benar! Misterius…

Luthfi, manusia bertubuh gempal ini adalah orang yang pendiam tapi ia akan marah apabila tasnya dibongkar oleh orang lain, kini entah pergi ke mana dia. Pak Saroni tengah gencar menanyai setiap orang yang sekiranya tahu tentang Luthfi. Namun hingga kini, tak ada yang dapat menjelaskan misteri hilangnya Luthfi. Seperti sewaktu Pak Saroni menanyai ketua kelas. Ketua kelas yang paling mengenal seisi kelas pun kelimpungan menjawabnya. Hafizt dan Mira yang tempat duduknya berdekatan dengannya hanya menggeleng tak tahu saat Pak Saroni menanyai mereka perihal keberadaan Luthfi.

Selanjutnya, sang guru piket yang ditanyai Pak Saroni. Namun hasilnya, nihil. Hanya wajah bingung dan cemas yang didapatnya. Tinggal satu orang lagi yang belum dimintai keterangan. ‘Semoga saja Pak Satpam tahu di mana Luthfi.’ Ucap Pak Saroni dalam hati. “Luthfi izin ke luar sebentar” Kata Pak Satpam setelah mengingat-ingat apa yang dikatakan Luthfi kepadanya waktu itu. “Tapi, dia izinnya sudah sejak istirahat pertama Pak, ya sudah sekitar 30 menit yang lalu lah Pak.” Jelas Pak Satpam.

Pak Saroni masih dihantui rasa cemas. Ia kembali menatap Pak Satpam dan segera mengucap terima kasih. Dan diiringi dengan anggukan Pak satpam. ‘bagaimana bisa seseorang siswa ke luar sekolah pada jam pelajaran hingga lewat 30 menit.’ Pak Saroni kebingungan dalam pikirnya.

Dipanggilah orangtua Luthfi ke sekolah. Pihak sekolah segera menelepon ibu Luthfi setelah mengetahui Luthfi menghilang sejak 30 menit lalu. Ibu Luthfi tampak cemas saat dijelaskan bahwa Luthfi hilang dari sekolah. Saat ditanyai oleh Pak Saroni, Ibu Luthfi juga tidak tahu dimana keberadaannya. “Luthfi sama sekali tidak menghubungi saya dia mau ke mana setelah sekolah atau menghubungi saya jika dia pulang cepat.” Ibu Luthfi menjawab dengan wajah yang penuh guratan kecemasan.

“Jika di rumah saja, Luthfi sering mengurung diri di kamar. Saya tidak tahu penyebabnya.” dengan wajah cemas yang belum hilang malah semakin menjadi, Ibu Luthfi mencoba untuk menceritakan kebiasaan Luthfi di rumah, karena siapa tahu ada hubungannya dengan hilangnya Luthfi saat ini. “Anak saya pendiam dan suka mengendap di dalam kamar.”

Dengan penuh selidik, Pak Saroni bertanya kepada Ibu Luthfi perihal Luthfi yang tak senang isi tasnya dibuka orang lain. “Itulah yang membuat saya heran. Saya tak tahu kenapa Luthfi tak suka isi tasnya dilihat-lihat. Bahkan, ia pernah memarahi saya.” ibu luthfi menanggapi dengan suara serak, menahan cemas. Pak Saroni tak segera berkata, seolah sejenak berpikir dan mencari celah masalah.

“saya tak mengerti. Anak sebesar Luthfi bisa menghilang dan kabur ke luar sekolah pada jam pelajaran saya akan berlangsung dan bahkan teman-temannya sendiri tak ada yang tahu. Untuk mendapat jawaban rasa penasaran saya, perlukah kita buka isi tas Luthfi?” suara Pak Saroni seolah menunjukkan celah misteri. Tak banyak tanggap, Ibu Luthfi hanya mengangguk. Sekejap dilihat rupa tasnya, kemudian tas itu dibuka.

Dengan penasaran, Pak Saroni setengah melongok ke dalam tas dan memperhatikan baik isi tas Luthfi. Tak ada yang aneh. Seolah tak percaya, mengeluarkan apa pun yang ada di dalam tas itu. Buku, kemudian buku, buku lagi, buku berpetak Hafizt, Tempat makan Tupperware yang isinya mungkin telah ditelan si empunya. Tak ada yang aneh. Semakin membingungkan saja.

“Apa ini?!” Pekik Pak Saroni, di tangannya ada sebuah kantung plastik. Ibu Luthfi menggeleng tanda tak tahu.

Karena penasaran, langsung saja Pak Saroni melongok isinya, hati-hati Pak Saroni membukanya, takut-takut isinya petasan atau bom. Tapi ternyata saat Pak Saroni membukanya, “Haa, makanan ringan semua..” Pak Saroni menggelengkan kepala, tak mengerti. Sepertinya, Luthfi telah mendekam dalam misteri.

Kembalilah Pak Saroni ke kelas untuk memantau keadaan kelas yang barusan ia tinggalkan. Sedangkan Ibu Luthfi menunggu di ruang BK sambil mengobrol dengan guru konseling mengenai perilaku anaknya belakangan ini. Saat memasuki kelas betapa kagetnya Pak Saroni. Air mukanya yang sebelum cemas berubah tak percaya. Ia terpaku menatap siswa berbadan gempal yang tengah duduk di bangku urutan ketiga di barisan tengah.

Pak Saroni setengah menahan emosi, dan lelah karena dipusingkan dengan kasus siswa hilang yang kurang dari 24 jam. Karena hanya setengah amarahnya yang ditahan, maka tak luput setengahnya lagi ia muntahkan. “Luthfi!” tegas nama itu diucapkan Pak Saroni pada siswa hilang itu. Luthfi diliputi kebingungan, salahkah ia duduk di tempatnya dengan rapi? Dan mengapa tasnya berada di tangan Pak Saroni?

“Mengapa kamu ke luar sekolah tanpa izin dengan ketua kelas, tanpa izin dari guru piket, dan tanpa izin dari Pak Satpam?” tanya Pak Saroni geram.

Sejenak Luthfi terdiam dan sejurus kemudian dia angkat bicara. Dijelaskanlah semuanya oleh Luthfi, ia izin ke luar sebentar untuk membeli peralatan tulis, seperti pensil, pulpen, dan penghapus. Itu penting. Karena pada hari ini pelajaran jam ketiga ada ulangan Bahasa Indonesia. Jika ia tidak punya alat tulisnya sendiri, bisa jadi Pak Saroni mengusirnya. “Kalau saya tidak punya alat tulis nanti Bapak pasti meminta saya menutup pintu kelas dari luar seperti tempo hari.” Tiba-tiba gelak tawa pecah di kelas itu.

Pak Saroni terkekeh, mengingat minggu lalu ia pernah menyuruh Luthfi menutup pintu kelas dari luar karena tidak membawa alat tulis saat ujian mata pelajarannya. Soal dirinya yang tak izin dengan guru piket, Luthfi hanya menjawa santai, “Yaaa Habisnya, guru piketnya gak ada di meja piket, saya langsung aja izin sama Pak Satpam, terus diizinin, ya saya langsung cuus beli pensil” Luthfi mengakhiri penejelasannya. “Tapi.. tunggu, kenapa kamu tidak suka isi tasmu dilihat orang lain?” satu kebingungan Pak Saroni yang belum terjawab.

Sebelum menjawab, Luthfi malah ketawa-ketawa sendiri, “Saya malu Pak, kalau ada yang tahu saya suka bawa makanan banyak, takut pada minta.” Luthfi menjawabnya dengan suara yang ditipiskan di akhir kalimat. Namun, karena satu kelas masih bisa mendengarnya, maka tiba-tiba sorakan jengkel terlontar padanya. “Huuuuuu Luthfi pelit Hahaha,”
“Harusnya kalian berterimakasih padaku, hari ini kita tidak jadi ulangan Bahasa Indonesia.” Luthfi berusaha meredam sorakan yang tertuju padanya.

“Betul kan pak?” Luthfi mengerlingkan matanya ke arah Pak Saroni.
“Luthfi, tolong tutup pintunya!” pinta Pak Saroni. Luthfi bangkit dan melangkah ke arah pintu yang terbuka, namun sesampainya di ambang pintu, ia terkejut saat Pak Saroni berkata, “Tutup Pintunya dari luar, Luthfi!”

Cerpen Karangan: Elmira Fay
Blog: elmirafairuz26.blogdetik.com
Ceritanya menarik? Baca juga cerpen karya Elmira Fay yang lain, ‘Percayalah’ dan ‘Di Senja Ufuk Penghabisan Itu’

Cerpen Misteri Hilangnya Luthfi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Surat Melody

Oleh:
Hi, aku Arina. Arina Sakti. Aku mempunyai sahabat namanya Melody. Sayang dia sudah pergi jauh ke Italia. Hanya tertinggal sebuah surat dari Melody. Namun ada yang aneh dari surat

Liburan Yang Menyenangkan

Oleh:
Pagi itu adalah pagi yang sangat cerah karena kemarin-kemarin di pagi hari selalu mendung disertai hawa yang cukup dingin. Seusai sarapan aku menuju ke sekolah dengan mengenakan sepeda kesayanganku.

My Live

Oleh:
1st January 2014 (06.00 PM) Wow, aroma nasi goreng blueband (enggak tau juga sih?) tercium sampai kamar tidurku. Aku mendekati meja makan.. Yak, sepertinya 50 cm lagi aku akan

Bertapa Di Gunung Gobi

Oleh:
Ada seorang yang miskin, once namanya. Once memiliki 2 orang istri. Istri pertamanya memiliki 2 orang anak dan istri ke dua once memiliki 1 orang anak. Suatu hari istri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *