Nasi Goreng Ala Kos Kosan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 1 March 2018

“Daripada beli mending kita buat sendiri aja, bro. Hematlah duitmu itu, kumpulkan banyak-banyak buat modal nikahmu. Pokoknya buatanku gak kalah sama yang di rumah makan. Pasti enaklah!” kata Ruben sambil mengangkat ibu jarinya.
“Mau buat di mana Ben?” kata Rifki sedikit gelisah.
“Ngapai jauh-jauh, di rumahku aja.” Sikap Ruben berbeda lagi, ia kini mengangkat-angkat alisnya sambil senyum-senyum.

“Bagaimana Bro, makan siang di rumah Ruben kita?” Aku menoleh Rifki yang persis di sampingku.
Wajah Rifki sedikit menunjukkan suatu ekspresi yang jarang kulihat, memerah, sedikit takut seperti baru dikejar hantu tadi malam. Aku pikir juga begitu. “Aku lagi pengen makan di luar ini bro.”
“Kok gitu.” Kutepuk kepala sepeda motorku.
“Iya…” Ruben menepuk bahu Rifki. “Kita makan di kosanku saja. Sudah kubilangkan tadi, kau gak sayang sama uangmu, mending kau simpan saja. Mudah-mudahan kalau benar jodoh bisa kau dapatkan si Ayu.”
“Ta..”
“Sekali-kalikan gak apa-apa, bro.” Kataku lebih dulu.

“Betul itu kata Jupri, jarang-jarangkan kalian main ke kosanku. Tiga hari lagi aku mau pulang kampung. Mau nunggu berapa lama lagi kalian bisa main ke rumahku waktu ada aku. Apalagi ada nasi gorengnya, memangnya kalian gak lapar. Aku saja sudah lapar kali.”
“Ayolah Bro.” Kataku sambil pasang tampang memelas. Aku hanya berpikir kalau tidak sekarang kapan lagi bisa seperti ini.”
“Tapi nanti…”
“Nanti apa.” Aku menyela cepat. “Kalau gak enak, besok-besok kita gak usah lagi datang ke rumah Ruben. Awas kalau gak enak ya Ben?” Aku mengacungkan tinjuku kepada Ruben.

“Tenanglah kalian, aku jamin kalian nanti minta tambah terus…”
“Tapi…”
“Tapi terus, sudah ayo!” Kupukul lengan Rifki.

Kami memasuki gang sempit menuju tempat tinggal Ruben. Mungkin ada delapan rumah papan yang saling berhadapan satu sama lain. Tepat di ujungnya terletak kamar mandi umum yang biasa para penghuni di sini pakai.

“Rumahku yang paling ujung ya.” Ruben menepuk bahuku. “Kau Jup, sudah berapakali kau kemari?” Kata Ruben lagi.
“Baru sekali, itu pun karena mengantar Dodi kemari itu pun cuma sampai depan gang saja.”
“Jadi yang kemarin tengah malam itu kaunya sama Dodi?”
“Apa kau gak tahu?”
“Gak ada Dodi cerita sama aku. Aku pikir dia datang naik angkot?”
“Bodoh kali kau bah, mana ada angkot tengah malam. Angkot bodohlah itu.” Rifki yang berada di belakangku mendadak tertawa, lalu mengulangi kata-kataku barusan.
“Kau Ki, bisa juga ngejek ya.” Ruben melirik ke belakang.
“Ya, ya, ya mana tahu ada angkot bodoh yang mengantarnya.” Kata Ruben lalu turun dari atas motorku. Rifki tertawa lagi. “Belum pernah kalian masuk ke rumahku, kan?” Kata Ruben lagi sambil membuka pintunya.

Benar-benarlah si Ruben, isi rumahnya benar-benar berantakan. Tumpukan pakaian di ruang tamu beberapa memang sudah disetrika, tapi cuma beberapa. Bungkusan kacang dan kopi sachet di dalam asbak yang sudah kepenuhan beberapa malah berserakan di sekitarnya. Gelas-gelas terletak begitu saja di sudut-sudut ruangan dan beberapa masih ada sisanya.

“Sorilah kalau rumahku agak berantakan. Tadi malam ada kawan datang waktu aku lagi menggosok pakaian. Kurang sempat aku membereskannya.” Kata Ruben sambil menggeser tumpukan pakaian ke sudut.
“Sebentar ya?” Kata Rifki menuju kamar mandi yang tepat di samping tempat tinggal Ruben.
“Satu kamar. Siapa yang tidur di dalam Ben?”
“Aku saja. Sutikno lebih suka tidur di sini katanya.” Ruben mengumpulkan gelas-gelasnya menuju dapur lalu muncul lagi.

“Rajin juga kalian masak ya?”
“Aku yang masak, kalau Sutikno selalu beli terus di luar.” Ruben mengambil sapu di belakang pintu kemudian memindahkan semua sampah itu ke tempat yang semestinya. Sampah yang membuat mataku tadi sedikit sakit kini satu persatu dibereskan Ruben.

“Sebulan berapa Ben?”
“Dua ratus lima puluh Jup.”
“Air lampu sudah semuanya?”
“Lampunya bayar. Kalau airnya ya tidaklah. Sebulan paling-paling kena lima puluh ribu. Sebentar ya keluar dulu…”
“Ke mana?”
“Sebentar sajanya.” Katanya lalu meletakkan kembali sapunya kemudian pergi.

Tidak lama setelah Ruben pergi muncul Rifki. “Leganya…” Rifki masuk namun dengan langkah mengendap-endap menuju dapur, kupikir ia hendak mengagetkan Ruben padahal yang mau dikerjai itu sedang keluar.
Rifki muncul kembali dari dapur dengan wajah bingung. “Mana Rubennya, Bro?”
“Keluar katanya sebentar.”
“Bro, kau sajalah nanti yang makan nasi gorengnya, aku sudah kenyang.” Kata Rifki memegangi perut seolah-olah dia kekenyangan.
Aku mendelik karena melihat sikapnya itu. “Makan apa kau tadi di kamar mandi, kok mendadak kenyang pula.”
“Kata Tikno…”
Baru saja Rifki hendak melanjutkan kata-katanya muncul Ruben membawa batu sekepalan tangannya. “Kalau ini mungkin sudah bisa…” Ruben tersenyum kepada kami.
“Untuk apa batunya Ben?” Kataku agak penasaran.
“Menggiling cabelah. Payah itu Sutikno, sudah kusembunyikan pun masih tahu juga dia. Batu gilingku selalu dibuangnya entah ke mana.” Ruben menggeleng-geleng kesal seperti orang yang sedang kehilangan benda yang amat menentukan kehidupannya.
“Sebentar ya kucuci dulu. Kalian kalau mau menonton tipi pasang saja, sambil menunggukan bisa sekalian santai. “Ruben meninggalkan kami berdua yang masih terlihat agak bingung, ragu, lucu, mungkin juga merasa aneh saja mengenai sikap yang ditunjukkan Ruben barusan. Masa batu gilingan saja harus dicari dulu. Benar-benar manusia praktis.

“Praktis kali dia ya Ki.” Kataku menggeleng karena tidak habis pikir.
“Gila.” Jawab Rifki sambil melengketkan telunjuknya ke keningnya sendiri.
“Ya sudah bro pasang tipinya. Siang-siang begini enaknya nonton sidang kasus Mirna. Cepat pasang, ini sidang kalau gak salah sudah yang ke delapan belas.”
Rifki menuruti perintahku. Begitu televisinya hidup siarannya dipindah dan benar sidang kasus Mirna sedang berlangsung. Tampak wajah Jesika di layar kaca agak sendu.

“Jup, aku pulang dulu ya?” kata Rifki pelan.
“Loh kenapa kau pulang, gak mau makan dulu kita di sini.” Terdengar suara Ruben sedang menggiling cabe dari dapur. Suara gilingannya terhenti sejenak berganti dengan suara minyak panas yang dimasuki sesuatu yang ternyata adalah bawang goreng karena baunya langsung menyeruak setelah beberapa detik dimasukkan.
“Harumnya Bro.” Kataku sambil menarik napas dalam-dalam.
“Aku pulang ya Jup.” Wajahnya berubah seperti orang yang akan terserang demam.
“Tunggu.” Aku menarik lengan Rifki. Kenapa kau, kok kayak orang ketakutan gitu?”
“Tikno bilang kalau Ruben…” Rifki tidak meneruskan ceritanya, ia malah menaikkan volume televisinya. “Kalau mau lihat yang dibilang Sutikno ayo kita intip.” Rifki yang berbalik menarik lenganku. Kami berjalan seperti pencuri saja, mengendap-endap mendekati dapur. “Lihat..” Bisik Rifki menarik lenganku sambil mengeluarkan kepalanya sedikit.

Astaga, aku melihat Ruben dengan penuh semangat menggiling cabe di lantai. Dengan cekatan tangannya menaburkan garam lalu tomat yang telah dipotong menjadi dua.
Cepat-cepat kutarik lengan Rifki menuju keluar rumah. “Jadi itu yang kau takutkan dari tadi Bro?”
“Yaiyalah, siapa yang gak jijik masa menggilingnya di lantai begitu. Sutikno pernah bilang sama aku juga, makanya dia gak mau lagi masak di rumah, mending beli di luar. Begitu katanya.”
“Ya udah, kita pulang diam-diam saja.” Kami bergegas mendorong sepeda motor sampai ke jalan besar. “Kita makan di luar saja Bro.”
“Kalau begini aku mau.” Wajah Rifki benar-benar berbeda sekali daripada tadi sewaktu di rumah Ruben. Kami langsung tancap gas.

Tiga hari kemudian aku terlihat sibuk mengecek mesin mobil mencoba memastikan kalau baik-baik saja nantinya saat dibawa jualan.
“Jup, kau dipanggil ke kantor.” Dodi memukul pundakku. “Laporan penjualanmu yang kemarin ditanya sama Monik. Mobilmu menghalangi jalan ini.”
“Tapi udah beres semua kubuat.” Kataku menepuk pahaku.
“Gak tahulah aku, pokoknya kau disuruh cepat. Hari ini katanya laporan itu mau dikirim. Jangan lupa nanti kau geser mobilmu.”
“Ya.” Aku langsung bergegas menuju kantor dengan perasaan yang agak kesal. Gara-gara laporan itu aku harus tidur jam dua malam. Ruben yang seharusnya mengerjakan itu semua, berhubung karena masa kerjanya habis malah jadi aku yang dikorbankan atasan untuk mengerjakannya.

“Ada apa sih bu?”
“Oh maaf Jup, ibu pikir tadi laporan sama uang setorannya berbeda. Ibu cuma salah menjumlahkannya. Jangan marah ya.”
Dasar. “Ya, maklum sajakan Bu, namanya juga manusia.” Kataku mencoba mengurangi kedongkolan di dalam hatiku. Wanita yang satu ini memang sering begini, entah kenapa mesti laporanku yang kerap kali ada salahnya padahal semuanya omong kosong. “Jadi gak ada masalahkan Bu?”
“Gak ada Jup. Sekali lagi maaf ya.”
Aku bergegas kembali, baru saja langkahku hendak menapak keluar pintu, “Jup.” Suara panggilan lagi.
“Ada apa lagi Bu?” Aku menoleh berbalik. Eh ternyata Ayu yang baru muncul dari ruangannya. Monik tersenyum saat kulirik ke mejanya.
“Ini ada makan siang untuk kamu dan Rifki.” Siapa yang menolak kalau yang memberi ini Ayu, gadis Jawa tulen berwajah Cina yang kini menjadi primadona para sales lajang seperti kami di sini.
“Pintar masak juga.” Aku membuka tutup bekalnya. “Nasi goreng.”
“Iya, tapi ini…”
“Jup!” Dodi muncul di depan pintu. “Mobil kamu itu tolong dong. Kami mau cepat hari ini soalnya aku mau ijin. Cepat kau geser mobilmu.”
“Oh ya.” Aku langsung bergegas pergi. “Terimakasih ya, Yu.”
“Eh tunggu dulu!” Aku tidak menggubris kata-kata Ayu barusan. Cepat-cepat aku berlari menuju mobil. Rifki muncul dari dalam gudang dengan wajah berpeluh keringat hendak ke kamar mandi di dekat kantor. Kuturunkan cepat-cepat kepala mobil. “Pegang dulu makan siang kita.” Aku langsung melompat ke dalam mobil setelah Rifki menerimanya.
Klakson terdengar dari mobil Dodi setelah kuberi jalan. “Sori bro mau cepat.” Ia tersenyum padaku sambil mengeluarkan kepalanya.

Tidak terasa tengah hari tiba karena begitu asyiknya aku mengotak-atik mesin mobil karena ada beberapa yang harus diperbaiki dan kini sudah beres.
Aku melangkah menuju gudang melihat Rifki dan teman-teman yang lainnya baru selesai memuat barang.

“Memangnya kau dapat dari mana makanan ini Bro?” Rifki menatapku agak heran karena selama ini kami makan selalu di rumah makan.
“Ayu yang memberikannya untuk kita.” Kataku tersenyum bangga.
“Kita.” Wajah Rifki belum berubah sama sekali. “Tumben Ayu mau memberikan yang seperti ini. Ada apa ya?”
“Ya sudah jelaslah kalau Ayu itu suka sama kita.” Aku bersemangat sekali sambil membayangkan wajah Ayu yang begitu menawan.
“Kok kita?” Rifki masih nampak bingung.
“Iya, kok kita?” aku pun baru menyadari kata-kata itu. “Seharusnya cuma salah satu di antara kita saja, tapi gak apa-apalah Bro berarti ilmu buayamu tembus juga. Selama ini ternyata kata-kata gombal kita ada hasilnya, kan.” Rifki langsung tertawa mendengarnya.

“Tunggu apa lagi Jup, mari kita sikat.” Kata Rifki yang langsung membuka bungkusannya. “Ada dua Bro.”
“Hebat kalian, tempatnya ada gambar elo kitinya pula itu terus satu lagi gambar miki mos, mirip yang di rumah.” Kata Sutikno yang hendak keluar gudang mencari makan siang. “Beruntung kalian ya. Benar-benar sayang kalilah yang memberi ini.”
“Hoi, hoi, hoi. Kataku kepada rekan-rekan yang sedang berkumpul makan tidak jauh dari kami. “Enaknya dapat makan siang dari Ayu.” Mendengar ocehanku seketika semuanya berseru iri.
“Benar-benar enak.” Rifki mengakui hingga kami makan tanpa tersisa secuil pun nasi di dalamnya. Setelah dicuci bersih kami bergegas menuju kantor bermaksud mengembalikan tempat bekalnya kepada Ayu.

“Sudah kenyang makannya?” Kata Ayu sambil mengulurkan tangannya menerima bekal kami dari tempat duduknya.
“Lagi makan juga Yu?” Kataku melirik bekalnya yang berisi nasi putih, sambal kentang campur teri, ditambah sayur kangkung tumis.
“Ya.” Ia tersenyum sampai cabe di bagian bawah giginya kelihatan.
“Benar-benar enaklah.” Kataku sambil mengacungkan kedua ibu jari.
“Sering-sering saja Yu.” Sahut Rifki.
Ayu kembali tersenyum. Cabenya kelihatan lagi. “Kalau boleh jujur sebenarnya Ayu gak pandai masak loh.” Wajahnya memerah menahan malu.
“Tapi nasinya enak kok.” Jawabku semangat.
“Benar, Ayu kok ngomong gitu, rasanya gak kalah sama yang di restoran besar.”

“Memang kalian pernah makan di restoran besar?”
Kami saling memandang kemudian memalingkan wajah kami kepada Ayu sambil menggeleng.
“Nah, kok katanya enak?”
“Kata orang gitu sih.” Kataku agak malu.
“Biasanya kami makan di emperan. Pokoknya enaklah yang kamu buat ini.” Sahut Rifki terdengar gugup.
“Tadi pagi Ruben datang mau pamit sekalian dia nitip nasi goreng untuk kalian. Katanya kemarin kalian gak sempat menyicip nasi gorengnya. Jadi…”

Sebelum Ayu melanjutkan kata-katanya lagi, aku dan Rifki langsung berlari ke luar kantor menuju kamar mandi yang terletak di samping. “Bro, harus dimuntahkan ini.” Kataku benar-benar takut sekali sambil membayangkan bagaimana Ruben menggiling sambalnya.

Cerpen Karangan: Koko Andrian
Facebook: Kokoandrian[-at-]ymail.com

Cerpen Nasi Goreng Ala Kos Kosan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Burung Api Phoenix

Oleh:
Phoenix!!. Begitu setiap orang memanggilku, aku adalah seekor Burung Abadi yang legendaris. Sekujur tubuhku diselimuti oleh Api yang panas dari kaki, kepala, kedua sayapku, dan juga ekorku. Hehe… Hebat

Gue Mimpi Aneh

Oleh:
Nama gue Bella, dan loe bisa manggil gue Bell atau Abel. Biasanya sih, gue lebih sering dipanggil Abel dari pada Bell. Dan kalau kalian mau manggil gue Bell kek,

Gara Gara

Oleh:
Baru hari pertama masuk sekolah setelah MOS selama 3 hari aku sudah terlambat. Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa ataupun memberi banyak alasan kenapa hari ini aku terlambat karena memang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Nasi Goreng Ala Kos Kosan”

  1. Ojan says:

    I LIKE THIS…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *