Orangtua Ke Dua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 June 2017

Jam alarm diikuti kokokan ayam membangunkanku dari tempat tidur pagi ini, selain dari dua alarmku itu seringkali aku juga dibangunkan sama penjual ikan keliling yang bisa dikatakan alaynya tingkat internasional bukan cuma aku yang mengatakannya seperti itu, para tetanggaku dan bahkan seluruh warga di kampungku pun sependapat denganku, dia dikatakan alay karena memang dari caranya menarik pelanggan itu dengan teriak-teriak tidak jelas di depan rumah tiap pagi, nyanyi-nyanyi dangdut yang liriknya acak-acakan kayak mukanya yang kalau lagi galau kalau ikannya tidak ada yang beli, tapi para ibu-ibu, dan juga aku, suka sama orang yang kayak dia, tiap kali dia lewat depan rumah aku langsung bangun dan segera menuju jendela hanya sekedar untuk menghibur diri nontonin dia yang lagi beraksi menarik pembeli dengan suaranya yang merdu, iya saking merdunya suaranya sampai-sampai para tikus di rumahku ikut goyang, ada yang goyang ngebor, gergaji, ada juga yang goyang drible.

Kenapa jadi bahas penjual ikan, hhmmm, ok lanjut sesudah sarapan aku langsung siap-siap menuju sekolah, pada waktu itu aku masih duduk di bangku kelas sepuluh SMK, sesampainya di sekolah aku langsung menuju kelas dan menunggu guru yang mengajar sambil cerita-cerita dengan teman sebangkuku, pada saat itu kita baru seminggu lebih bersama jadi kami sekelas belum sepenuhnya saling mengenal satu sama lain begitupun guru-guru, maklum murid baru masih polos, setelah cerita-cerita sama teman, tiba-tiba, muncul seorang guru tanpa ekspresi dan sedikit kelihatan galak berjalan menuju meja guru yang ada di pojok kelas, ternyata dia adalah guru produktif yang akan mengajar kami selama dua tahun lebih kedepan, kami masih belum begitu mengenalnya karena memang baru pertama kali masuk di kelas, namanya Ibu Musaidah, ia membawakan materi yang sulit untuk dimengerti semua teman sekelasku begitupun denganku, yaitu program pascal, aku sedikit dibingunkan dengan pelajaran yang satu ini, susahnya naujubilah dan sampai sekarang saya masih belum tau apa fungsi dari program pascal itu dan apa faedahnya kita mempelajarinya.

Seiring berjalannya waktu kami sekelas pun sudah saling mengenal satu sama lain banyak hal yang kami lakukan, mulai dari bercanda tawa dalam kelas, makan bersama di kantin, sampai pasang muka yang paling polos pada saat bu musaidah mengajar dalam kelas, karena sudah beberapa kali mengajar di kelasku, kami semua sudah cukup tau bahwa bu musaidah itu orangnya galak sampai-sampai kami memberinya julukan “guru killer” ia adalah makhluk ketiga yang aku takuti setelah hantu dan juga anjing gila yang ada di kampungku yang sudah membunuh satu orang tetanggaku dengan gigitannya yang beracun.
Jika dia yang mengajar di kelasku seakan suasana yang indah dengan langit cerah berubah menjadi mendung dengan lagit yang ditutupi awan hitam, kami sekan berada dalam film horror saat itu, iya saking horornya dia, The conjuring tidak ada apa-apanya, jika dia main film dan jadi hantunya, film itu akan jadi film horror paling menakutkan sepanjang peradaban manusia di bumi.

Satelah masuk semester 2, dia masih mengajar di kelasku tetapi dengan materi yang berbeda, aku sangat suka sama pelajaran yang dibawakannya kali ini karena termasuk hobiku yaitu menggambar, aku dari dulu memang suka menggambar hanya saja yang aku tidak suka adalah guru yang membawakan mata pelajaran ini, kenapa harus dia tuhaan, apa salahku sehingga kau memberiku cobaan yang seberat ini, seperti halnya jika kamu sedang asik-asiknya makan di kantin tiba-tiba temanmu datang menjilati makananmu terus berkata “ini boleh aku makan gak?” tentunya kamu tidak akan bisa menolak kan.

Pernah suatu ketika dia mengajar di kelasku dan memberikan tugas menggambar sebuah objek yang ada di laptopnya, saat itu kami semua sibuk untuk mempersiapkan alat gambar tiba-tiba datang salah satu teman kelasku bersama anak dari kelas lain tanpa disadari oleh bu musaidah, entah apa tujuan temanku itu membawa temannya masuk di kelas pada saat pelajaran sedang berlangsung, setelah ibu musaidah menyadari bahwa ada siswa lain di dalam kelas, ia kemudian berjalan menuju siswa itu dan bertanya apa yang kamu lakukan di sini, ia tampak begitu marah pada saat itu karena merasa tidak dihargai, kemudian ia memukul temanku dan siswa dari kelas lain itu dengan buku yang ia pegang dengan begitu kerasnya dan menyuruh mereka ke luar, kemudian ia berkata bahwa ia tidak ingin melihat wajah temanku itu pada saat dia mengajar dan langsung mengambil pulpen yang tergeletak di sebelah laptopnya dan mencoret nama temanku itu dari absennya, seisi kelas pun semakin tegang begitupun dengan aku.

Beberapa waktu kemudian setelah kami naik ke kelas sebelas, otomatis semua akan mengalami perubahan mulai dari pergantian ketua kelas, perubahan jadwal pelajaran dan begitupun dengan wali kelas, dan entah kenapa yang jadi wali kelasku tu adalah ibu musaidah si guru killer itu, Oh My God, bencana besar akan dialami oleh kelasku, tetapi entah kenapa kita terima begitu saja pada waktu itu, sebenarnya dari awal setelah pengumuman pembagian wali kelas sebagian dari kami tidak setuju kalau Ibu musaidah yang jadi wali kelas kami karena dari awal memang kami tidak senang dengannya, tapi ya sudahlah bubur sudah menjadi nasi #eehh

Pertama kali ia masuk ke kelas sebagai wali kelas baru, kami semua mengalami ketegangan yang luar biasa, pada saat itu ia menyuruh kami naik ke depan kelas satu per satu untuk perkenalan padahal kita kan sudah saling kenal, biar lebih kenal lagi katanya, hari itu ia tampak sangat berbeda dari biasanya yang super galak menjadi ekstra humoris, ia berhasil membuat seisi kelas tertawa lepas dengan candaannya yang begitu lucu, muka-muka tegang kami berubah drastis 180 derajat celcius menjadi tampak lebih santai, dari situlah kami membuang jauh-jauh persepsi-persepsi buruk tentang ibu musaidah, ia ternyata tidak seperti yang kita semua duga selama ini, ia orangnya begitu baik, humoris, dan juga sangat memperhatikan kami sebagai anak walinya.

Setelah 1 tahun menjadi wali kelas kami, aku dan semua teman kelasku merasa bahwa ia memang orangnya sangat baik, mungkin karena dulu kita masih belum terlalu mengenalnya dan langsung mencapnya sebagai orang yang buruk. Banyak hal yang sudah kita lewati bersama mulai dari makan-makan di rumahnya, liburan bersama, dan masih banyak lagi story kami bersamanya, menurutku ia bahkan telah berhasil menjadi wali kelas terbaik yang pernah kutemui selama aku merasakan dunia pendidikan, bukan hanya itu ia juga telah berhasil menjadi orangtua kedua kami selama berada di SMK, mendidik, mengajarkan kami sepenuh hati, dan memberikan kami kasih sayang.

Dari semua hal-hal yang sudah kita lalui bersama julukan “guru killer” itu berubah menjadi “guruku malaikatku”, aku percaya bahwa tuhan mengirimkan kami seorang malaikat tanpa sayap yaitu guru untuk menjaga, mendidik kami menjadi yang lebih baik untuk masa depan kita kelak, jasa-jasa, ilmu mereka yang kita peroleh, dapat membawa kita menuju gerbang kesuksesan, percayalah bahwa kita akan sukses berkat kerja keras mereka, percaya bahwa kita akan sukses, maka kita akan sukses, mereka adalah pahlawan yang tidak bertempur di medan peperangan seperti layaknya pahlawan yang rela gugur memerdekakan Indonesia, tapi mereka akan berjuang sekuat tenaga untuk memerdekakan kita sebagai masa depan bangsa, mereka bukan pahlawan revolusi, maupun reformasi mereka adalah “PAHLAWAN TANPA TANDA JASA”.

Cerpen Karangan: Ikhsan Ariandi
Facebook: facebook.com/ikhsan.ariandy

Cerpen Orangtua Ke Dua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Tak Berbalas

Oleh:
“Gimana, enak gak minumannya?” tanyaku pada Sheila. “enak dong, ini kan minuman kesukaanku” jawab Sheila, sambil meminum jus dari sedotannya. “Pulang yuk, sudah kenyang nasi goreng nih” kataku. “ya

Pacar Pertama Cinta Pertama

Oleh:
Sebelumnya tak pernah aku rasakan perasaan ini. Aku nggak tahu apa yang terjadi dengan hati ini. Rasa ini begitu berbeda, aku menikmati rasa ini. Aku bahagia dengan rasa ini.

10 Tahun Lalu (Part 1)

Oleh:
Hari itu senin, hari pertamaku memakai seragam putih biru, aku berdiri cukup lama di depan cermin, aku tersenyum bangga setelah 6 tahun memakai seragam merah putih akhirnya berganti juga.

Berawal Dari Bertukar Foto

Oleh:
Namaku Adiba Anindya Putri, Aku biasa di panggil Adiba, hari ini, aku dan teman-temanku sedang melaksanakan try out kabupaten ipa. Ya mapel dari try out yang ketiga atau yang

Berawal Dari Kesedihan

Oleh:
Namaku rini, aku berumur 14 tahun. Sekarang aku dududk di bangku sekolah menengah pertama (smp), tepatnya kelas 9. Aku adalah anak yang periang, berani, percaya diri, dan aku mempunyai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *