Payung Karat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 January 2016

Halaman parkir motor itu sudah sepi sejak setengah jam yang lalu. Semua motor sudah dinaiki pemiliknya dan melaju pergi meninggalkan Hall Badminton itu. Seorang tukang parkir masih terlihat duduk menunggu. Menunggu seorang gadis berjalan melewati pagar pembatas parkiran. Ya menungguku. Aku berjalan terseok-seok dan telah melewati pagar pembatas parkiran dengan menggendong ransel serta membawa raket di tangan kiriku.

Otakku terus berputar memikirkan bagaimana caranya agar aku dapat pulang ke rumah secepatnya. Keningku berkerut dan merogoh ponsel yang ada di saku celanaku. Celana binaragaku lebih tepatnya. Aku memincingkan mata menatap lekat-lekat ponsel yang ku genggam. Aku memonyongkan bibir dan tidak habis pikir kenapa ponsel imut dengan berbagai ornamen berwarna pink itu tidak berdering, tidak bergetar, dan tidak melakukan apa pun! Aku mendengus dan berkhayal andai saja ada pangeran tampan membukakan pintu mercy untukku. Andai..

“Wi, jadi ikut?” ajak salah satu teman selepas bel selesai kelas berdering.
“Iya gue jadi ikut, nih gue udah bawa raketnya,” Selepas jam bimbel usai, aku dan teman-teman berencana untuk langsung melaju ke Hall Jampang untuk tanding badminton. Tanpa pikir panjang, kami langsung melesat ke tempat itu. Bus yang kami tumpangi melaju dengan asap hitamnya.

Aku membelalakkan kedua mataku untuk mencari kursi kosong di dalam bus itu, karena semenjak aku menginjakkan kaki di atas bus, BERDIKARI -Berdiri Diatas Kaki Sendiri- lah yang menjadi satu-satunya alasan agar aku dapat bertahan. Ya.. Berdiri di atas kaki sendiri sementara yang lain duduk manis menghadap punggung sang supir, menikmati alunan suara mesin bus yang menderu-deru mengguncangkan tubuh penumpangnya.

Tak lama kemudian, bus terhenti mendadak dan aku hampir saja hilang keseimbangan. Untung saja aku sempat berpegangan, jika tidak tubuhku pasti sudah terhempas besi kursi bus yang tepat berada di depanku. Kali ini aku beruntung. Begitu sampai di Hall badminton, aku membawa raket dengan gaya binaragaku dan di sana aku bertemu dengan sang pelatih -yang tidak lain adalah kekasih temanku.

Perlahan aku ayunkan tanganku. Perlahan aku langkahkan kakiku. Perlahan aku pukulkan raketku. Perlahan aku perhatikan gerakan lawan. Perlahan aku lupakan dirinya. Perlahan aku lupakan kenangan tentangnya. Perlahan aku lupa pemanasan.

Ya, aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Gadis yang terlahir saat satnite tepat tanggal 11 Juli dengan perawakan yang tinggi semampai, langsing serta ideal tapi berat badan sulit untuk bertambah satu kilo saja, ya itulah aku. Aku sama sekali tidak memiliki hobi bermain badminton dan itu adalah kali pertama kunjunganku ke hall indoor.

Waktu tak terasa sudah larut sore, dan waktunya membayar sewa lapangan. *deredeng.. dedeng (ceritanya backsound)*
“Kira-kira berapa ya bayarnya?” terpikir dalam benakku.
“Wi, sepuluh ribu!” tagih temanku. Terngiang di telingaku nada palakan tersebut terus menerus. Dengan tingkah tidak relanya, aku memberikan harta paling berhargaku saat itu: SEPULUH RIBU RUPIAH. Oh No! Uang itu lenyak sekejap dalam genggamanku. Uang itu telah berada di genggamannya. Dirampasnya dan dibayarkannya kepada tuan lahan.

Pulang dengan rasa haru.. “Mengapa tak ku katakan sejujurnya pada temanku kalau aku ini sedang kere?” sesalku. “Seharusnya aku pinjam uang untuk ongkos pulang,” dengusku kesal. Tapi semua sudah terlambat. Mereka telah pergi meninggalkanku. Meninggalkanku seorang diri di jalanan bak anak jalanan. Tanpa uang. Tanpa pulsa. Tanpa pacar. Tanpa air hauuuuss.
“Aku ingin berteriak!!!” Hanya otak kacauku dan nyali yang ku punya. Akankah terlintas di pikiran kalian untuk jalan kaki via Srengseng Sawah-Depok? Akankah? Jawabnya, YA! “Tuhan, tolong aku,”

Andai saja Tom Felton -pemain film Harry Potter yang berperan sebagai Draco Malfoy alias musuh bebuyutan Harry Potter- menjemputku dengan sapu ijuknya. Oh bukan.. sapu lidinya.. eh.. sapu terbangnya.. pasti saja saat itu juga aku sudah terlindas tronton molen karena aku hanya berkhayal. Dengan tekad bulatku untuk pulang berjalan kaki, tiba-tiba kakiku terhentak menuju sebuah surau untuk salat dan memohon.

“Allah, apa yang harus ku perbuat? Haruskah aku hidup di jalanan? Ataukah akan datang keajaiban padaku?”

Dengan demikian, Tuhan mengilhamiku sebuah pemikiran yang mengarahkanku untuk pergi ke stasiun Universitas Pancasila. Dengan berbekal tekad bulat, aku jalan menyusuri jalan raya melewati rumah bukde -anak dari mamahnya mamaku. “Ah apa aku mampir dan menceritakan semuanya ke bukde ya? Mereka kan saudaraku, itu artinya mereka masih keluargaku,” gumamku. “Jangan,” gubris iblis, “Kamu akan mempermalukan dirimu sendiri! Masa nggak punya uang baru mampir! Memalukan!” Sial, ternyata iblis itu memenangi pikiranku.

Tak terasa, perdebatanku dengan iblis itu di perjalanan mengantarkanku ke gerbang stasiun Universitas Pancasila. Saat ingin menyeberang ke stasiun tujuan, hujan tiba-tiba mengguyur. Cepat-cepat ku ambil payungku di dalam tas. Dan ya.. itu harta berhargaku yang lain saat ini. Setibanya di stasiun, kereta sudah berhenti di peron sontak aku berlari tanpa membeli karcis. Gerbang karcis terasa tidak begitu penting bagiku walaupun aku tak membeli karcis, karena aku disibukkan dengan payung pink ku yang sulit sekali ku tutup.

Berkali-kali ku pencet tombol penutup payung itu, tapi mustahil payung itu tak kunjung mengerucut. “Ah, tampaknya sudah karatan. Alhasil sulit ditutup,” hasil hipotesaku. “Mas, tolong tutup payung aku dong,” perintahku kepada mas penjaga karcis. “Susah Neng,” Ah sudahlah, daripada tertinggal kereta mending aku kehilangan payung. Surprisingly, mas penjaga karcis itu mendapat rejeki nompok dariku. “Ya udah buat Mas saja,” Payung Super Karat.

Cerpen Karangan: Dwiana Vanynda Rahman
Facebook: Dwiana Vanynda Rahman

Cerpen Payung Karat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dira

Oleh:
Andira Permata Sari, teman Mira yang kurang mampu, akan tetapi, Andira anak yang baik dan pintar. Suatu hari “Semuanya turun ke lapangan, untuk latihan upacara.” ujar Kak Novi, ketua

Kisah Pertama

Oleh:
Setiap manusia punya kisahnya masing masing, kisah yang membuat mereka merasakan senang dan merasa sedih. Dalam setiap kisah diperlukan perjuangan. Ya perjuangan untuk menentukan akhir dari kisah itu. Aku

Oh Ternyata

Oleh:
Sore yang begitu mengagumkan semburat jingga menghiasi langit, warna ungu dan biru pun tak mau kalah ikut terselip di antara kemerahan awan yang mengepul, sore ini aku sangat bersemangat

Mungkinkah Kau Malaikatku?

Oleh:
Suara hingar bingar memenuhi kelas seperti biasanya.. Aku dan sahabatku Herma sedang duduk di sudut kelas sambil memainkan PSP yang biasa aku bawa sembari menunggu datangnya guru. Disaat tengah

Si Pintar Versus Si Beruntung (Part 2)

Oleh:
“tok tok tok, bu aku pulang” kataku sedikit berteriak supaya ibuku dengar “ya tunggu sebentar” ibuku membukakan pintu, dan terkaget melihat aku menagis “febri, kamu kenapa menangis?” tanya ibuku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *