Petualangan Aneh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 March 2017

Satu, dua, tiga… Cerita dimulai! Siang hari nampak terik. Satria melangkah menuju dapur. Dia lihat banyak sekali makanan enak. Bu Ratna ibu Satria memang pandai memasak. Tapi perut Satria masih kenyang, Dia tidak jadi makan.

Sore hari Satria kedapur. Dia melihat makanan enak itu masih menumpuk rapi. Wah pasti lezat nih? Tapi entar sajalah. Satria mau maen dulu ke rumah Edo dan Hasan.

Malam hari Satria benar-benar lapar. Dia menuju dapur, teringat masakan ibu yang enak-enak tadi. Tapi dia lihat meja makannya kosong. Hanya tersisa nasi segenggam di atas bakul. “Ibuuu! Dimana makanan yang enak-enak tadi? Sate ayam, Gulai kambing, Dan rendang sapi tadi lho?” Teriak Satria dari dapur. “Sudah habis! Tadi pamanmu datang rombongan bersama keluarganya. Mereka makan di sini” Jawab Bu Ratna dari depan layar televisi di ruang tamu. “Tapi Satria belum makan! Ini cuma tinggal nasi doang segenggam” Kata Satria penuh harap. “Ya itu saja makan, taburi garam di atasnya! Sudah malam ibu malas masak, ibu lagi nonton sinetron. Jangan diganggu!” Kata Bu Ratna dengan mata terus menatap ke arah layar televisi. “Huuuuu! Ibu..” Satria melangkah lunglai ke dalam kamarnya tanpa menoleh sedikitpun pada ibunya. Klik! Ditutupnya pintu kamarnya rapat-rapat dan dikunci dari dalam.

Nampak Satria, Edo, Dan Hasan sedang duduk di atas sebuah perahu tradisional bersama seorang pemandu. Matahari hampir tenggelam, senja yang indah di tengah pantai Lovina Bali. Tiga ember ikan kecil sudah ada di hadapan mereka bertiga. Ya, mereka mau melihat lumba-lumba di pantai itu. Dan ikan-ikan kecil di ember itu adalah makanan lumba-lumba. Perahu mereka melaju diikuti puluhan lumba-lumba yang saling berlompatan. Akhirnya perahu berhenti. Ketiganya menyodorkan ikan kecil ke pinggir perahu, lumba-lumba berebutan memakan ikan-ikan yang ada di tangan Satria dan Edo. Tapi tidak dengan ikan yang ada di tangan Hasan, aneh! Hingga ikan milik Satria dan Edo habis, lalu lumba-lumba itu pergi menghilang, tak satu pun ikan milik Hasan yang dimakan. “Pak! Kok ikan saya tidak ada yang mau makan? Salah saya apa?” Tanya Hasan penasaran pada pemandu perahu. “Oh itu? Kamu dikira temannya. Kamu dikira lumba-lumba juga. Kamu kan gendut! Dan mereka tidak mau merebut makanan milik teman hehehe” Jawab pemandu perahu polos. Oooooo, Satria dan Edo saling berpandangan dan tertawa cekikikan hihihi. Hasan langsung membuang ikan-ikan kecil itu ketengah laut bersama embernya. Byur!

Kali ini Satria berada di dalam pesawat terbang bersama Edo dan Hasan. Tujuannya adalah kota Sabang. Mereka bertiga sempat tertidur sejenak di kursinya. Tiba-tiba Edo membuka sabuk pengamannya dan melangkah menuju pintu keluar pesawat. Dia coba buka pintu itu berkali-kali, tapi tetap tidak terbuka. Seorang pramugari mendatanginya dan bertanya, “Mau kemana mas?”. Edo menoleh, “Ini mbak pintunya tidak bisa dibuka! Saya mau keluar sebentar, mau ke warung untuk beli makanan” Jawab Edo. “Oh pintunya tidak bisa dibuka mas! Otomatis, hanya pilot yang bisa membuka pintunya. Lagian kita sekarang lagi berada di udara, di angkasa. Entar kamu jatuh ke bawah kalau ke luar” Kata pramugari memberikan penjelasan. “Diudara? Angkasa? Maksudnya gimana mbak?” Tanya Edo penasaran. “Kita sekarang ada di langit, kita sedang terbang. Kamu balik saja kekursinya! Makanan tinggal pesan nanti saya antarkan pesanannya” Kata pramugari. Edo langsung jongkok. Langit? Terbang? Aduh tanah mana ya? Edo kembali ke kursinya dengan merangkak pelan-pelan karena takut jatuh dari langit.

Pesawat terbang mendarat. Pintu keluar terbuka, tangga turun terpasang. Ketiganya berebutan keluar pesawat karena takut ketinggian. Nampak di depan mereka rombongan penari adat menari diiringi musik tabuh menyambutnya. Nampak juga tiga orang gadis sedang membawa kalungan bunga untuk dikalungkan. Hore! Ketiga remaja itu berlari mendekati rombongan penari. Tapi rombongan itu acuh, tidak ada yang mengalungkan bunga. Ternyata mereka mau menyambut kedatangan menteri yang ada di belakang Satria dan teman-temannya. Kebetulan satu pesawat.

Sampai di luar bandara Satria terkagum-kagum dengan seseorang yang sedang mengangkat sebuah papan bertuliskan ‘Satria Edo Hasan’. Mereka kegirangan. “Hei lihat! Kita punya fans, mirip artis. Nama kita ditulis di papan sambil diangkat tinggi-tinggi!” Kata Satria. (Itu petugas taksi/travel bro!)

Dari Sabang sampai merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Setelah terbang kekota Sabang, Satria dan teman-temannya terbang ke Merauke. Lalu dari Merauke Satria dan teman-temannya pulang kerumah menumpang dengan sebuah kapal laut. Malam sangat gelap. Sebuah cipratan air laut mengenai lengan Satria. Dia baru sadar kalau kapal itu ternyata miring dan mau tenggelam. Satria meraih sebuah pelampung, Edo juga meraihnya, Hasan pun ikut-ikutan. Sebuah ombak setinggi gunung menghempaskan tiga remaja dalam satu pelampung itu ke pasir pantai sebuah pulau kosong. Mereka terpencar. Hasan ditemukan suku pedalaman pulau itu. Dia dikasih makan yang enak-enak biar tambah gendut, lalu diikat di sebuah tiang untuk dibakar dan dijadikan santapan. Aaaaaaa! Hasan berteriak ketakutan. Edo mendengarnya, dia mencari-cari jalan di hutan yang lebat itu untuk menuju suara Hasan. Tapi sial, Edo menginjak lumpur rawa penghisap. Lama kelamaan tubuh Edo tenggelam kedalam lumpur rawa penghisap itu. Dia berteriak ketakutan. Aaaaaaaa! Satria yang terdampar dipinggir pantai mendengarnya. Belum sempat Satria mencari asal suara Edo, datanglah seekor harimau loreng mendatanginya sambil mengaum auuuummm. Disusul binatang-binatang lain mengelilinginya. Ada gajah, ular, banteng, kera, burung, buaya dan lain-lainnya. Mereka terlihat sangat buas dan marah. Juga nampak ikan paus besar di tengah lautan sedang menyemburkan air dari kepalanya, dan ikan-ikan hiu yang menampakkan siripnya. ‘Jangan siksa kami! Jangan ganggu kami! Atau kamu akan kami makan… Hahahaha” Kata binatang-binatang itu pada Satria. Aaaaaaaaa! Ibuuuuuuuu! Satria berteriak sekuat tenaga. Tok tok tok! “Satria! Buka pintunya! Kenapa pintunya dikunci? Cepat bangun terus sekolah!”. Samar-samar Satria mendengar suara ibunya dari luar kamar. Dia membuka matanya. Ternyata hanya mimpi (Huft!)

Cerpen Karangan: Y. Endik Sam
Facebook: Yenva Endik Sam
Senyum ceria bisa membuat hari ini lebih bahagia :v

Cerpen Petualangan Aneh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Bersemi di Ekskul Band

Oleh:
Hay guys, Namaku Afifah Indah, aku duduk di kelas 8 F, sekolahku di SMPN 1 PRAMBON (SPENSPRA), dan ini ceritaku… Semua berawal dari perkenalan yang indah di ruang band

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Oleh:
Awalnya gak kenal beralih teman.. berujung cinta.. Malam ini hujan sebagai temanku. Aku senang malam ini buka Cuma para jomblo saja yang merasakan kesepian tapi termasuk mereka mereka yang

Gara Gara Alien

Oleh:
“Bruuugh.” Suara dentuman keras terdengar di pelataran rumahku. Tanpa melirik ke sana ke mari, segera kuambil sandal jepit yang tersandar di belakang pintu. “Kreeek, teoott.” Pintu ku buka perlahan.

Aku Harap Cinta Itu Tidak Pernah Ada

Oleh:
Siapa yang tidak kenal cinta? Semua orang pasti sudah pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta! Tanpa terkecuali! Tuhan menciptakan perasaan cinta di hati semua makhluknya. Tapi… Siapa yang bisa

Makhluk Manis Di Teras

Oleh:
“Sssst, Anna.. lihat deh cowok yang lagi main gitar itu,” bisik Anggi pada Anna yang sedang asyik menjilat ice cream cokelatnya seraya menunjuk dengan kepala ke arah rumah bercat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *