Puncak Gunung Single

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 February 2017

Hiks hiks hiks! Hasan sedang menangis tersedu-sedu di pojok kantin sekolah. Satria datang menghampirinya, “Kenapa kamu menangis San?”. Hasan menoleh sambil sesenggukan, “Anakku minta dibeliin pulsa!” Kata Hasan dua rius. “Anakmu? Anak dari mana?? Pacar saja tidak punya, apalagi istri..” Kata Satria keheranan. “Nih lihat! Anakku SMS..” Jawab Hasan lalu menyodorkan ponselnya. ‘Ayah! Isiin pulsa di nomer 08xx dan 08xx lima puluh ribu saja. Penting!’ Satria tersenyum. “Itu bukan anakmu San, dia penipu pulsa!” Hahaha Satria ketawa, dia baca juga balasan SMS dari Hasan: ‘Kamu jangan lahir dulu ya nak, ayah belum menikah, ayah masih sekolah. Ibumu saja aku tidak tahu yang mana. Masuk lagi aja ya.. ya.. ya..! Ciluk baa’. Nomer itu membalas, ‘Ih ayah bego!’

‘Sambalado terasa panas terasa pedas, Sambalado tidak ada nasinya tidak jadi makan. Bagi duitnya dong walau cuma recehan, kalau bisa uang kertas seratus ribuan. Buat makan! Terimakasih’, Nyanyian pengamen di atas bus kota membuat suasana jadi terhibur. Satria yang sedang duduk di dalam bus itu memberikan uang kertas, tetapi yang dua ribuan. Pengamen itu turun, dia mendekati seorang pengemis tua di dekat warung terminal, dan terlihat pengamen itu memberikan uang pada pengemis itu. Satria melihatnya dan berpikir, orang kaya yang naik mobil dan sedang makan di warung itu saja tidak ngasih uang pada pengemis itu, malah pengamen muda itu yang ngasih uang.

‘Air minum, kacang, permen!’ Teriak pedagang asongan ramah. Satria sempat membeli air minum kemasan. Pedagang Asongan itu turun, Dan lagi-lagi memberikan uang pada pengemis tua itu. Orang yang memakai perhiasan emas banyak di warung itu saja tidak ngasih, malah pedagang asongan yang ngasih uang.

Satria turun dari bus, Dia juga memberikan uang pada pengemis tua itu sebagai bukti bahwa pelajar juga peduli orang miskin dan kesusahan. Tiba-tiba bus berangkat! Drumm ngengg “Oyyy tungguuu!” Satria berlari-lari mengejar bus itu sambil melambai-lambaikan tangan. Sebab barang Satria berupa nasi kotak 40 buah yang mau dia antarkan ke kota kampus ada di bagasi bus tersebut. Pengamen dan Pedagang Asongan itu juga ikut mengejar sambil melambai-lambaikan tangannya. Bahkan tukang parkir di terminal itu juga ikut meniup peluitnya Priiiittt!!! Sambil mengangkat kartu parkir yang kebetulan berwarna merah. Tapi bus itu terus melaju, tak menghiraukan tiga orang anak muda yang berlari-lari mengejarnya. ‘Ah mungkin mereka mau ngamen dan jualan lagi! Tadi kan udah?’ Batin sopir bus sambil menirukan gaya Rio Pembalap F1.

Satria naik bus yang lain, kejar-kejaran antar bus pun terjadi. “Brooo! Ini penumpangmu tadi, barangnya ada di bagasimu!” Kata sopir bus. Akhirnya Satria bisa kembali duduk di bangku bus yang semula. Dan bisa mengantar pesanan nasi kotak ke kota kampus.
Huft capek lari!

Sore hari Satria berkemas-kemas hendak menuju Gunung Single bersama tiga orang temannya. Yaitu Edo, Hasan dan Zahra. Kenapa harus berangkat sore? Sebab untuk mendaki Gunung Single harus pada waktu jam 1 pagi, biar sampai puncak gunung bisa melihat matahari terbit. Namanya saja ‘Sunrise Of Java’, keren ya!

Mobil berhenti di lereng gunung. Satria sibuk mendirikan tenda. Edo mencari ranting kering buat kayu bakar. Hasan berkeliling melihat situasi. Zahra menata alat-alat masaknya. Kayu terkumpul, api dinyalakan, panci diisi air untuk memasak mie instan. Aneh, sudah satu jam lebih airnya tidak mendidih. Dua jam tetap saja tidak mendidih. Bahkan sampai mereka berempat ketiduran pun air dalam panci itu tidak bisa mendidih. Hangatpun tidak, apalagi panas? Mereka tidak mengetahui kalau suhu di lereng Gunung Single itu hanya 0 derajat Celcius. Pantesan tidak panas sama sekali air dalam panci itu. Mereka tertidur di dalam tenda, sambil memegangi perut mereka yang mendidih. Kruk kruk kruk kruk

Naik naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali, kiri kanan kulihat saja banyak pohon yang indah… Rombongan pendaki gunung Single memulai perjalanannya. Ada banyak juga turis asing yang ikut di dalam pendakian tersebut. Hasan tak henti-hentinya mengajak turis asing berbicara meskipun dia cuma hafal dua kata ‘Yes no yes no!’. Edo dan Zahra berjalan beriringan, sedangkan Satria ada di dekat pemandu mendengarkan arahan-arahan petunjuk pendakian. Akhirnya sampai juga mereka di puncak gunung. Kawahnya berwarna biru. Pemandangan pagi ini sangat indah. Mentari perlahan-lahan terbit dari timur. Satria menancapkan bendera merah putih yang dia bawa pada tiang kayu, Dan Berkibar ditiup angin. Di dekatnya dia tulis pada dinding batu, ‘SMA Masa Depan’ Satria Edo Hasan Zahra. (Met pagi Satria! Met menikmati indahnya Puncak Gunung)

Cerpen Karangan: Y.Endik Sam
Facebook: Yenva Endik Sam
Salah satu keindahan alam di Indonesia adalah Puncak Gunung

Cerpen Puncak Gunung Single merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Sahabat Menjadi Pengkhianat

Oleh:
Riuh angin berhembus menjatuhkan daun. Daun daun jatuh yang tak pernah menyalahkan angin. Jalan jalan dipenuhi daun. Aku bersekolah hari ini seperti biasanya. Aku memiliki seorang sahabat bernama Fanya.

Bungkusan Kertas Cokelat

Oleh:
Satria berjalan menyusuri lorong kantin sekolah, matanya tertuju pada selembar uang seratus ribu yang tengah tergeletak di lantai. Dia tengok kiri kanan (gak ada yang tahu!), lalu menghampiri uang

Jones

Oleh:
Namaku Deon, tubuhku tinggi, memiliki gigi gingsul yang membuat saya lebih menarik dari siapapun. (yaelah PD amat). Aku ganteng, yaap setidaknya aku lebih ganteng dari pemain sepak bola asal

Sudah Terlambat

Oleh:
Unas, ya esok dia datang, membawa ketegangan di antara aku dan teman-temanku, aku pun berani bersaing dengan sahabatku dalam hal ini. Namaku adalah Ametta Alejandra, temanku biasa memanggilku Metta.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *