Rencana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 11 July 2020

Dua sahabat tengah bersantai di tepi sungai kecil yang dihiasi sampah plastik warna-warni, layaknya jalanan kota yang selalu ramai dikala pagi dan sore hari. Salah satu dari mereka yang bernama Darma, angkat bicara.

“Dra! Seandainya kita nemu duit hanyut sekoper, mau lu, apain coba?” ujar Darma, kepada Indra, yang tengah menatap aliran sungai yang keruh dan penuh dengan sampah.
“Bagi dualah!” jawabnya, bersemangat, sambil menoleh ke arah wajah Darma.
“Terus, mau lu, apain duitnya?”
“Gua mau beli tanah, biar bisa wujudtin cita-cita gua.”
“Lu, punya cita-cita?”
Jawaban sekaligus pertanyaan Darma, yang ketus membuat Indra, sedikit naik darah. “Punyalah! Emangnya elu, yang idupnya kagak punya arah dan tujuan, dalam kurung, tersesat mulu.”
“Hahaha! Sembarangan lu!” sahut Darma, sambil tertawa. “Emang cita-cita lu, apa?” tambahnya.
“Jadi petani.”
“Wah, bagus dong! Kalo gitu gua mau beli tanah juga, di sebelah kebun lu.”

“Mau jadi petani juga?”
“Kagak!”
“Terus?”
“Jadi peternak! Gua mau abisin duit gua buat beli sapi sama kambing aja.”
“Loh … kok, semua?”
“Kenapa … salah?”
“Ya, iyalah! Lu, harus sisain sebagian buat bikin kandang dan pakan entuh, hewan.”
“Ogah ah!”
“Ih, kok, gitu?!”
“Kan, ada kebun elu, jadi … sapi sama kambing gua bisa makan gratis di sana. Hahaha!”
“Mana bisalah! Kan, ada peraturannya bahwa ternak kaki empat harus di kandang atau nggak diikat. Ntar, ntuh peliaraan lu, pada kelayapan di jalan, membahayakan orang, apalagi sampai masuk kebun orang, gawat, kan?” cerocos Indra.
“Bagi gua itu kagak masalah. Kita kan, temenan, jadi … kagak masalahlah kalo ternak gua nebeng makan di kebun elu!”
“Nggak bisa gitulah! Temen ya, temen, tapi kalo begini ceritanya … ngerugiin gua.”
“Bodo amat, yang penting ternak-ternak gua sehat!”

“Kalo lu, tetep ngotot, gua mau lapor ke Pak RT!”
“Laporin aja!”
“Ya udah, kalo gitu lu, ikut gua!”
“Ayo! Siapa takut?”

Darma pun menuruti keinginan Indra yang tengah emosi, untuk membahas persoalan tadi di rumah ketua RT, yang kebetulan rumahnya tak jauh dari sana.

“Permisi …! Pak RT! Pak RT! Pak RT!” panggil Indra.
“Ya, ya, ya! Ada apa ini? Ribut sekali,” ujar laki-laki berkumis yang memakai kaca mata min, ketika menghampiri Indra dan Darma di teras rumahnya.
“Boleh minta waktu sebentar, Pak?”
“Monggo, silahkan duduk!” Pak RT pun mengijinkan mereka duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. “Ini sebenarnya ada apa toh?” timpal Pak RT, langsung ke permasalahan mereka.

“Begini Pak RT, si Darma.”
“Kenapa dengan Nak Darma?”
“Dia ini mau pelihara sapi dan kambing.”
“Ya, bagus dong!”
“Tuh, kan?!” celetuk Darma.
“Diem lu!” jawab Indra sedikit emosi ke Darma.
“Loh! Loh! Loh … ini kenapa kalian ini? Bukannya selalu akur, selalu sama-sama, kayak bocah kembar botak dari negeri tetangga?”
“Si Darma, Pak RT … kambing dan sapinya, mau ia lepas liarkan di kebun gua. Parahnya, nih anak kagak mau bikin kandang dan kasih makan peliharaannya,” jelas Indra.
“Wah, mana bisa gitulah Nak Darma …”
“Tapi, Pak RT … kita kan, temenan, jadi … apa salahnya kalo ternak gua nebeng makan di kebun dia?!”
“Ya, nggak bisa gitulah Nak …!”
“Noh, kan! Denger tuh!”

Darma memandang langit-langit, seolah ia tengah berpikir keras. Beberapa saat kemudian ia akhirnya bicara. “Ya, udah Pak RT, kalo gitu gua mau jadi pengusaha arang dan ikan salai ajalah.”
Dengan cepat Indra menjawab. “Jangan!”
“Kok, jangan?”
“Asap dan uap panas dari usaha lu, itu bisa buat tanaman gua mati!”
“Itu mah, derita elu kali!”

“Tunggu dulu!” Laki-laki yang tengah menghisap cerutu itu melerai perdebatan mereka. “Sebenernya, duduk permasalahan ini gimana? Indra punya kebun di mana dan Darma punya usaha di mana?” tambah Pak RT.
“Rencananya … mau bersebelahan Pak RT,” jawab mereka serempak.
“Maksudnya … perdebatan ini cuma rencana?”
Darma dan Indra mengangguk.

Pak RT geleng kepala, lalu berkata. “Saya juga punya rencana.”
“Rencana apa Pak?” tanggap keduanya serius.
“Masukin kalian berdua ke Rumah Sakit Jiwa!” jelas Pak RT, sebelum beranjak lalu membanting pintu dengan keras.

Sementara kedua sahabat itu masih terpaku di teras rumah Pak RT, dalam perasaan amburadul.

Sekian.

Cerpen Karangan: Aslan Yakuza
Blog / Facebook: amstile[-at-]facebook.com

Cerpen Rencana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bloon (Kuburan)

Oleh:
Bugo berjalan di kuburan umum bersama gengnya beranggota Bugo, Langga, Obeh, Opik, dan Nugroho yang disingkat menjadi BLOON. “Bro mana katanya ada setan kutil beranak di sini?” tanya Opik.

Permen Ajaib

Oleh:
MY STORY (WHEN I WAS 4 YEARS OLD) Tidak banyak yang kuingat di masa-masa kecil dulu, tapi yang pasti aku tinggal bersama embah putriku karena kedua orang tuaku pergi

Online Paling Serius

Oleh:
Kebahagiaanku yang baru dimulai sejak membaca deretan huruf yang membentuk kalimat “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SBMPTN 2019”. Yeay!! seneng banget aku sampe nangis saat itu, hehe. Ohya kenalkan

Kisah Sedih di Hari Jumat

Oleh:
Hari Jumat. Hari di mana setiap muslim menjalankan ibadah shalat Jumat. Itu juga yang terjadi pada hari Jumat ini. Jumat di bulan Februari tahun 2013. Tak ada yang istimewa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *